Monday, January 23, 2006
Jangan Salahkan "Pengaruh Barat"!!!
Yang lucu, isu pornografi selalu berujung pada masalah moral bangsa. Ikut kontes Miss World dianggap tidak mencerminkan moral bangsa karena ada adegan tampil dengan bikini. Memajang pose bugil adalah merusak moral bangsa. Ada lagi komentar tokoh sok alim, “Itu pengaruh budaya barat yang merusak nilai timur.”
Pengaruh barat?? Saya jadi bertanya. Tradisi tayuban dimana penari bisa pamer payudara setengah melalui kemben yang melorot dan bebas dicoleki lelaki itu pengaruh baratkah? Budaya selir, istri simpanan, piaraan, kawin kontrak di banyak daerah pelosok Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun sejak jaman Gajah Mada, pengaruh baratkah?
Memakai kemben yang mempertontonkan setengah buah dada, tradisi mandi bareng cewek-cowok di pedalaman Bali, bahkan tradisi bugil saudara kita di Papua. Pengaruh baratkah?
Saya berpikir. Kalau mencermati budaya, maka budaya paling maju dan beradab justru budaya barat. Ingat, di era 1800-an, di saat bangsa kita masih bertelanjang dada dengan payudara kemana-mana, orang di benua Eropa para perempuannya sudah pakai gaun panjang ala Cinderella yang menyapu tanah. Bagian atasnya pun kerah rapat.
Lucu kalau menyalahkan pengaruh barat. Apa para pejabat, tokoh alim ulama dan kaum cerdik cendekia negeri ini tidak berkaca diri. Kawin mawin, peselingkuhan, pergumulan seks sok alim dengan dalih kawin siri, dianggap biasa. Eh giliran foto bugil malah dianggap merusak moral bangsa.
Kesimpulannya adalah: praktek seks munafik lebih dihalalkan di negeri ini ketimbang sekadar berfoto bugil. Luarrrrr biasssaaa!!!
Mestinya mereka para tokoh negeri ini memajang spanduk besar bertuliskan: "Ayo rame-rame menganut seks bebas dengan wajah sok alim!"
Friday, January 20, 2006
Confessions of A Bloody Playboy

Kenapa seseorang bisa dijuluki playboy atau playgirl? Karena mereka identik dengan perilaku gonta ganti pasangan. Lalu apa salahnya dengan gonta ganti pasangan? Bukankah hidup memang mencari yang terbaik?
Pagi ini secara tidak sengaja saya mendapatkan pengakuan dari seorang lelaki yang populer sebagai playboy. Dia bukan "playboy" pertama yang saya kenal. Sudah ke-10 atau entah ke-20, mengingat sejak sekolah teman saya mayoritas adalah cowok. Prestasinya pun masih biasa saja, sebab masih banyak playboy lain dengan jam terbang jauh lebih tinggi.
Ternyata nyaris sama dengan playboy lain, si teman ini menyimpan satu misteri. Kenapa ia jadi playboy? Sebab ia punya satu obsesi yang belum jua terwujudkan, yakni menggapai hati si perempuan pujaan. Jadi kisahnya, ada satu perempuan yang membuatnya luluh lantak berdarah-darah sampai hari ini sejak lebih dari 10 tahun lampau. Karena tak berhasil menggapai hatinya, maka ia pun mencetak aneka petualangan dengan banyak perempuan. Tujuannya? Berusaha melupakan si pujaan hati itu.
Tapi tak satupun perempuan yang digandengnya bisa membuat sang playboy bertekuk lutut. Dan cinta terpendam pada sang pujaan hati kian membara saja.
"Mungkin dia males liat kelakuan playboy elu," kataku.
"Iya, tapi kan dia semestinya melihat gue dari dua sisi berbeda," ujar si playboy.
Sisi berbeda? Apakah seorang perempuan untuk menilai lelaki harus menggunakan indera ke-6? Apakah ada sisi lain dari seorang lelaki playboy? Kegombalannya? Kenarsisannya?
Tapi asli, sebagai teman saya selalu bisa menilai lelaki dari banyak sisi. Beda dengan terhadap seseorang yang kita suka atau cintai. Hanya ada satu sisi dari dirinya, yaitu yang tampak dan yang ingin kita lihat darinya.
Kalau saya ada di posisi satu dari korban ke-playboy-an teman tadi, tentu saja akan membencinya. Menyumpahinya. Mengutuki setengah mati. Tapi untung tidak. Saya adalah temannya, maka saya bisa menilai secara arif.
Bagaimana kalau posisi saya ada pada si perempuan pujaan yang dicintainya selama 10 tahun lebih? Mungkin saya akan muak. Atau mungkin sebenarnya saya cinta juga sama playboy ini. Hanya terlalu gengsi atau jaga image untuk mengakuinya. Jadi lebih baik cari cowok lain saja dengan "curriculum vitae" yang lebih meyakinkan.
Mungkin...mungkin....
Thursday, January 19, 2006
Kenapa Lebih Banyak Politisi Cowok Daripada Cewek?
Apakah itu???
Dikecewakan mahluk-mahluk lelaki kalau terlibat dalam suatu janji. Bukan janji sehidup semati atau apa. Hanya janji sepele untuk makan bareng, nonton bareng atau sekedar cari buku bareng. Mereka ini bukan saja pacar atau kekasih atau selingkuhan , tapi sekedar teman saja.
Pengalaman yang berulangkali terjadi ini sederhana memang. Jadi kita berjanji untuk makan siang bareng misalnya. Saya sudah stand by di tempat pertemuan. Menunggu dengan sabar. Satu menit, dua , tiga empat menit...setengah jam...si cowok tak kunjung muncul. Saya SMS, tak dibalas. Pas ditelepon, jawaban di sana "Hah??? Janjian sama elu??? Kok, gue lupa ya?? Hari ini ya?? Bukan besok???" Begitu suara cowok idiot di seberang sana.
Lalu satu jam kemudian dia pun muncul. Dan satu kata yang saya tunggu keluar dari mulutnya tak kunjung keluar. Apa itu??? Kata MAAF.
Para cowok ini walau salah, sangat gengsi untuk mengucap kata maaf.
Saya kira kejadian sial yang menimpa bertahun-tahun silam itu takkan terulang. Tapi tidak. Pada cowok yang berbeda, peristiwa itu berulang lagi dengan berbagai versi berbeda.
Saya kira hanya saya seorang yang mengalaminya. Oh, tidak. Hampir semua teman perempuan mengalaminya juga. Sepertinya semua kaum Hawa di muka bumi juga bernasib serupa. Tidak percaya? Tanya saja teman perempuan anda. Apa pernah kecewa karena janji gombal cowok?? Jawabnya pasti pernah. Apa pernah ada cowok yang super gengsi minta maaf walau sudah salah. Pasti jawabnya YA.
Ada apa ya dengan kaum Adam sedunia? Memori otak yang sangat terbatas? Tingkat intelejensia yang begitu rendah?? Atau moral dan etika yang sangat minim?? Please, tell me!!!
Sekarang saya tahu kenapa politisi cowok lebih banyak ketimbang cewek. Sebab cowok lebih pintar umbar janji lalu melupakannya.
Ini petikan chat saya dengan seorang teman. Tentang gombalnya cowok.
platypus_aora: soal kebiasaan cowok yg hobi lupa ama janji
platypus_aora: eh lu sering ngalamin ngga seh
platypus_aora: janjian ama temen cowok, eh dia lupa
just_lucee: ngalamin apa?
platypus_aora: pdhal kita udah stand by
platypus_aora: gw sering banget
platypus_aora: temen2 gw yg cewek juga
just_lucee: sering...
platypus_aora: kata mereka, cowok itu kayak menderita serangan lupa mendadak
platypus_aora: alias pikun alias bego
platypus_aora: jadi kalo janjian
platypus_aora: kita ngga ngingetin
platypus_aora: pasti mereka lupa
platypus_aora: jadi suka ngga nepatin ato telat parah abis2an
platypus_aora: n yg nyakitin, sukagengsi minta maaf
just_lucee: tapi sekarang kalo gw janjian ma cowo... ga akan gw peduliin kalo dia ga ngingetin... biarpun gw inget gw ga akan ngingetin mreka
just_lucee: makanya... sekarang kita balik aja
platypus_aora: ngga semua cowok seh
platypus_aora: ada juga beberapa yg on time
platypus_aora: banyak cowok yg gengsi minta maap ya
platypus_aora: gw paling seneng maksa mereka minta maap
platypus_aora: kalo akhirnya kluar kata maap, rasanya puasssss
platypus_aora: hehehe
just_lucee: sama!
platypus_aora:
just_lucee: tapi sekarang, kalo ke cowo gw seneng bersikap kaya mreka rata rata!
platypus_aora: emang kudu gitu
just_lucee: kalo janjian kudu mreka yang ngingetin...
platypus_aora: masalahnya mereka jangankan mau ngingetin, inget aja kagak
platypus_aora: memori otaknya minim banget
platypus_aora: kayak HP zaman doeloe
just_lucee: kalo janjian ma cowo.. kita kudu punya plan b, c, d, e etc
just_lucee: hehehe
platypus_aora: memorinya cuma bisa nyimpen 50 phone book
platypus_aora: ember
platypus_aora: jadi kalo janjian ama co, kudu bikin janji serep
platypus_aora: kalo perlu janjian ama 10 cowok sekaligus
platypus_aora: 5 idiot, masih ada 5 lainnya
Monday, January 16, 2006
Ya, Saya Sangat Bahagia

Am I happy???
Seorang teman dalam blognya mengatakan, "Life is too short to be sad."
Seorang teman lain mengatakan padaku, "Kebahagiaan itu tidak tergantung orang lain."
Ia bahkan menolak alasan bahwa aku bahagia karena Libby-ku.
Dan kutemukan di sebuah majalah bahwa, "Bahagia adalah ingin berada dimana kini kita berada."
For all that reason, I decide: "Yes I am trully happy."
I love my life just the way it is...with or without couple
Saya masih punya begitu banyak sahabat baik
Minimal ketika dalam kesulitan, cukup kirim SMS dan mereka siap membantu
Jam 12 malam saat Libby demam, saya meng-SMS teman dan minta support
"Kompres pakai air dingin, Mer. Pagi-pagi langsung ke dokter."
"Jangan lupa periksa darah, musim DBD lho.."
dan aneka pesan baik lainnya.
Saat PC ngadat karena petir, belasan SMS pun masuk memberi petunjuk.
Tidak sedikit yang menawarkan bantuan servis gratis.
Ada yang siap datang ke rumah kapan saja dibutuhkan...
Saat Libby harus operasi usus buntu, bahkan teman di Jerman nun jauh di sana menyempatkan menelepon, menanyakan kabar Libby.
Teman lain di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, tak kalah sibuk menelepon dan SMS
Semua mendoakan malaikat kecilku...
Tentu saja yang menemani proses operasi pun bahkan sahabat dan ibunya yang jauh-jauh datang dari Bogor.
Ketika BT karena kerja menumpuk dan aneka masalah ada, selalu ada teman yang berkirim SMS lucu. Sangat menghibur. Kita bisa curhat 24 jam penuh walau hanya via telpon.
Untuk bersua pun bisa kita atur janji lalu curhat sepuasnya sampai muntah...
Dan jangan lupa pesona Libby Si Tomat Kacil Manisku. Dengan gaya celotehnya, sungguh menghibur tiap detik hidupku.
Dengan begitu banyak teman baik
Tomat kecil manisku
Anugerah hidup sehat
Rahmat atas kemampuan hidup mandiri
Juga rejeki yang tiada habisnya dari MY GOD
Alangkah berdosanya jika aku mengaku tidak bahagia
Alangkah tidak tahu dirinya aku
Dan apakah atas semua kebahagiaan itu, aku masih butuh pasangan hidup lelaki???
Thanks berat deh, itu nomor ke sejuta sekian saja.
Sorry ya para lelaki, untuk saat ini saya hanya butuh kalian sebagai teman dan sahabat. Tidak lebih.
Sunday, January 15, 2006
Jangan Merendahkan Kekuatan Cewek
I Will Survive!!!
Itu secara fisik saja. Dari sisi psikis harus survive dengan ide-ide tulisan yang tidak boleh habis stok, menghadapi anak yang rewel minta Barbie, komik baru atau minta jajan junk food alias makanan sampah. Atau keluhan anak yang habis berantem dengan teman sekelas, nilai ulangan pas-pasan, semangat belajar nol, et cetera et cetera. Belum lagi masalah kerjaan dan personal.
Dan penderitaan pun lengkap sudah dengan PC rumah yang ngadat ngga mau nyala. Prediksi terkuat adalah disebabkan amukan petir yang luar biasa dua hari lalu. Apa semua data akan lost? Harus beli HDD dan motherboard baru????
God, please makes me strong to survive with all these chalenges..
I will survive
As long as I know how to love I know I'll be alive
I've got all my life to live
I've got all my love to give
I will survive
I will survive
Yeah, yeah
(I will Survive, Gloria Gaynor)
Saya pun menyapu sembari menunggu air mendidih sambil menyeandungkan lagu di atas...
Thursday, January 12, 2006
Dearset Libby My Sweety Angel...
Tomat manisku
Maafkan mama harus sering meninggalkan kamu pergi demi cari uang
Sebab "papa"-mu bukan lelaki, tapi cuma banci kaleng yang habis ngecret bikin kamu terus enak-enakan cari perempuan lagi...
Malaikat kecilku,
maaf kalau mama males cari "papa" baru
sebab takut kamu diperkosa oleh ayah tiri
bukankah lelaki cuma mikirin selangkangan??

Denger berita 2 anak dibakar ortunya, satu sampe mati...
Baca berita ada anak perempuan disodomi pamannya dan dibunuh ibu tirinya...
Nonton di tivi, anak perempuan diperkosa ayah kandungnya sampai hamil...
Ada lagi anak perempuan kakinya disetrika bapaknya...
Anak perempuan dibunuh di hotel...
Anak perempuan diperkosa ayah tiri berkali-kali..
Go To HELL manusia macam itu semua!!! Bahkan neraka pun masih terlalu indah bagi kalian!!!
Are U The Lucky One?

*Perempuan super duper beruntung di dunia ini adalah yang mampu berbahagia tanpa harus punya pasangan.*
*Yang beruntung adalah yang punya pasangan cowok ganteng, pinter dan kaya.*
*Yang sedikit beruntung adalah yang dapat pasangan cowok ganteng dan kaya tapi bego.*
*Yang agak beruntung adalah yang cowoknya ganteng, pinter tapi miskin.*
*Yang biasa aja adalah yang cowoknya jelek,bego tapi kaya.*
*Yang rada sial adalah yang cowoknya jelek, miskin tapi pinter*
*Yang sial, apes, mendingan mampus aja, adalah yang cowoknya udah jelek, miskin bego lagi.* (Tenggelemin aja di kali penuh limbah beracun dah cowok kayak gitu atau jejelin borax dan formalin campur bakso tikus!)
Tergolong yang manakah anda? Saya jelas yang nomor 1! Super duper beruntung!
Tuesday, January 10, 2006
Stop Jadi Manusia Pengeroyok

Ini sudah terjadi berkali-kali. Hanya baru sekarang saja saya punya kepedulian untuk menulis. Tiap jam makan siang, saya ditanya teman, “Sudah makan?” Kebetulan saya setelah liputan sempat mampir di sebuah gerai restoran waralaba. Jadi saya jawab sudah. “Dimana? Sama siapa?” Saya sebutkan nama restoran itu sambil menjawab bahwa saya makan sendiri.
“Ih, apa enaknya sih makan sendirian? Ngga iseng? Ngga takut digodain cowok?” Teman tadi gusar. Komentar serupa sudah sering saya dapat kalau memang kebetulan saya habis makan sendirian. Dan selalu saja pemberi komentar itu teman perempuan, entah itu teman sekerja, teman (dulu) kost, teman (dulu) kuliah atau teman gaul.
Atau misalnya jam makan tiba, para teman ini sibuk mencari “teman” untuk makan. Bukan hanya makan, aktivitas lain pun seolah diwajibkan untuk dilakukan bersama-sama. “Temenin gue beli buku yuk, temenin gue ke salon yuk, temenin gue nonton,” dan sejenisnya. Kalau saya jawab, “Sana aja sendiri, emang kenapa sih?” Maka jawabannya hamper seragam,” Nggak enak sendirian. Iseng.”
Bahkan ketika saya melakukan beragam aktivitas seorang diri, maka saya akan dikritik. “Seneng amat sih jalan-jalan sendirian. Nggak punya temen?” Atau dikomentari cowok usil, “Sendirian aja Neng? Mau abang temenin?”
Semua sikap untuk selalu melakukan kegiatan bersama-sama itu justru tidak masuk logika saya. Aneh. Gila. Di zaman serba sibuk, di masa dimana setiap manusia punya tuntutan untuk mencari pendapatan ekstra, pencarian arti diri dan kerja lebih keras, serta lalu lintas sedemikian macet hingga menyulitkan kita untuk bertemu dengan sahabat karib, sudah selayaknya kita menjadi manusia mandiri. Bukan indvidual, tapi mandiri.
Anehnya, sikap mandiri ini diidentikan dengan tidak mau bergaul.
Come on guys, bergaul itu ada masanya. Saya sudah puas bergaul di masa sekolah dan kuliah dulu. Sampai studi berantakan akibat begadang melulu tiap malam demi bergaul. Saya juga punya jadwal khusus untuk bergaul, hang out dengan teman-teman gila-gilaan. Tapi apakah itu berarti setiap aktivitas harus dilakukan bersama-sama? Apa salahnya duduk di kafe sendirian menikmati secangkir kopi nikmat? Takut diganggung cowok? Ganggu aja lagi. Apa salahnya jalan-jalan ke mall sendirian? Bahkan dulu selagi kuliah saya sering hiking sendirian dan justru mendapat kenalan baru.
Ayolah cewek-cewek sekalian, jangan puas diri menjadi manusia keroyokan. Nengok teman sakit rame-rame. Nonton harus rame-rame. Ada saatnya kita melakukan aktivitas bersama-sama, tapi itu sangat in case. Banggalah menjadi manusia mandiri. Nikmati kesendirianmu. Ada kalanya kesendirian itu sangat berharga.
Sunday, January 08, 2006
Green Day, Makes My Day So Green

Sudah dua week end ini MTV Indonesia menayangkan konser Green Day. Yang sialnya, saya selalu telat nonton. Jadi tidak sempat menyimak itu konser dimana dan kapan. Jelasnya sih, promo album American Idiot.
Pertama kenal Green Day adalah 1994 dari video klip "When I am Come Around". Billie Joe Armstrong di situ masih imut sekali. Belum pakai eyeliner. Lalu tambah kesengsem setelah melihat klip "Basket Case" yang setingnya rumah sakit jiwa. Billie memang gila kalau nyanyi,pakai ekspresi psikopat nggak keruan.
Saya sempat memprediksikan group ini tak beda dengan kebanyakan kelompok musik alternatif lain pada masanya. Sekedar bikin kehebohan, musik sok nge-punk, takkan bertahan lama. Ternyata tidak. 2005 kemarin ketiga lelaki asal Oakland ini sukses menyabet Grammy Award dan MTV Music Award.
Billi, Mike dan Tre, tiga personil Green Day memang tak lagi tergolong musisi ABG. Usia mereka yang sudah di atas 30 tahun membuat mereka masuk kategori musisi dewasa. Seiring dengan kedewasaan usia, lirik musik mereka pun ikut terbawa. Album "American Idiot" sendiri menegaskan sikap politik mereka atas kebenciannya pada pemerintahan George W. Bush terhadap invasi ke Irak.
Simak saja betapa beraninya Billie bernyanyi:
Don't wanna be an American idiot.
Don't want a nation under the new mania.
And can you hear the sound of hysteria?
The subliminal mind fuck America.
Welcome to a new kind of tension.
All across the alienation.
Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.
Well maybe I'm the faggot America.
I'm not a part of a redneck agenda.
Now everybody do the propaganda.
And sing along in the age of paranoia.
Welcome to a new kind of tension.
All across the alienation.
Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.
Don't wanna be an American idiot.
One nation controlled by the media.
Information age of hysteria.
It's calling out to idiot America.
Welcome to a new kind of tension.
All across the alienation.
Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.
Kalau di Indonesia ada yang bikin lirik sejenis itu dengan judul Indonesian Idiot,dicekal nggak ya? Keberanian macam inilah yang tak dimiliki musisi kita.
Simak juga lirik sedih mereka dalam "Wake Me Up When September Ends" yang bikin saya mau nangis kalau melihat video klipnya.
Oh Green Day, walau kalian dan saya tak lagi hijau, kalian sungguh selalu membuat saya merasa hijau alias muda. Yeah, Green Day Always Makes Me Green!
Friday, January 06, 2006
I-N-T-E-R-M-E-Z-Z-O P-E-N-U-L-I-S
Waduh, ngga disangka ya entry-entry blog saya mendapat komentar rame. Herannya, entry yang disambut dengan komentar seru adalah yang memojokan lelaki. Sedangkan entry yang "bersahabat" dengan lelaki malah cenderung sepi komentar.Ini mengingatkan saya pada mitos jurnalistik yang berbunyi: "bad news is a good news". Jadi apa saya harus menulis hal-hal negatif terus supaya dapat komentar rame? Hihihi. Kata temen sih, "Iya Mer, lu kudu nulis yang ancur-ancuran biar yang baca rame. Sebab kalo nulis yang datar aja, kagak seru."
Pantes ya koran Lampu Merah dan Pos Kota yang kata Ruri "Kalo diperes itu koran yang tersisa cuma darah dan sperma." laku bak kacang goreng. Juga buku esek-esek model Jakarta Undercover-nya Moamar Emka selalu jadi besteller.
Saya jadi bertanya-tanya, apa iya pembaca kita sudah sedemikian parahnya? Hanya mencari kehebohan dan kontroversial belaka? Okay deh, ngga mau pusing soal itu. Saya cuma mau mengklarifikasi berbagai komentar yang masuk di entry-entry blog ini. Thanks berat sudah mau capek-capek berkomentar dan membaca blog saya.
Pertama, blog ini saya buat sekadar mengisi waktu luang di tengah kesibukan saya sebagai jurnalis. Awalnya bukan blog, melainkan kumpulan tulisan di PC rumah. Saya memperlihatkannya pada teman. Katanya bagus dan kenapa ngga dipublikasikan. Jadi ya saya iseng aja bikin blog ini. Eh, keterusan di-update terus.
Kedua, kenapa isinya melulu soal cewek-cowok? Sebab tulisan ini saya buat untuk kompensasi aja. Curhat, curahan kejahatan. Jadi pikiran jahat yang nggak mungkin terealisasi di dunia nyata, saya curahkan ke sini semua. Hehehe.
Ketiga, apa saya benci lelaki? Buat yang kenal saya tentu akan heran. Sebab mayoritas teman saya sejak zaman sekolah dulu adalah lelaki. Saya baru punya teman baik perempuan sejak bekerja saja. Yang saya kritik bukan semua lelaki, melainkan sebagian lelaki yang masuk kategori tidak menyenangkan. Jadi kalau ada lelaki baik yang membaca blog ini ya nggak perlu tersinggung lah. Ibaratnya saya bilang : monyet itu jelek. Kalau anda bukan monyet ya jangan marah. Biar monyetnya yang baca aja yang merasa tersindir. Dan semoga memperbaiki wajahnya dengan operasi plastik. Wakakakak!
Keempat, tidak semua entry saya diangkat dari kisah nyata walau sebagian memang ada. Banyak juga yang cuma fantasi. Yang terakhir, Sexyna Comedia malah cuma olok-olok iseng. Jadi ya nggak usah diambil hati. Anggap saja sebagai hiburan.
Kelima, apa benar tulisan saya mencerminkan siapa saya? Ah belum tentu. Apakah Nawal el Saadawi yang buku-bukunya begitu "kejam" terhadap lelaki adalah pembenci lelaki? Tidak. Dia punya suami yang sangat mencintainya. Apa iya Agatha Christie adalah detektif karena semua bukunya adalah buku detektif? Tidak juga kan?
Keenam, apakah saya menyiksa diri? Kan sudah dibilang, blog ini hanya pengisi waktu senggang. Masak mengisi waktu sengang dengan menyiksa diri? Duh, saya bukan penganut sado masokis deh. Menulis adalah salah satu hobi saya selain membaca, makan, nonton, denger musik, dan jalan-jalan. Yang saya masukan kategori menyiksa diri adalah bengong tanpa berbuat apapun. Hehehe. Sebab saya memang orangnya ngga bisa diam.
Ketujuh, tulisan ini semuanya subyektif? Ya namanya juga blog. Apa bedanya dengan buku harian? Masak harus wawancara sama para pakar untuk nulis blog? Saya jurnalis, jadi sudah bosan wawancara melulu sama menteri, pakar IT, pakar sains, orang LSM, pakar politik dan banyak lagi. Biarlah di blog ini saya bebas mencurahkan semua unek-unek baik yang positif maupun negatif. Kalau mau baca tulisan saya yang obyektif, beli saja harian Sinar Harapan. Di halaman Iptek, Lingkungan dan IT ada tulisan saya yang sangat jauh dari subyektif. Atau klik saja panel "My Features" di bagian "link" blog ini. Itu ada kumpulan tulisan saya di media massa.
Nah, temans semua, sudah jelas kan? Silakan lanjut membaca dan berkomentar. Tanpa perlu menuduh saya penyiksa diri, pembenci lelaki, dan macem-macem yang aneh. Saya masih normal. Mana mungkin saya membenci lelaki kalau faktanya saya masih nge-fans sama Eminem dan Bono U2???
Ciao!
Thursday, January 05, 2006
Sexyna Comedia*

*Plesetan dari Divina Comedia-nya Dante Aligieri, penulis Italia.
POLIGAMI
*Saya sangat setuju dengan poligami, selama poliandri juga disyahkan oleh agama dan negara. So...kapan nih poligami dan poliandri bisa sama-sama ngetrend???*
PERNIKAHAN
*Desakan untuk cepat menikah oleh mereka yang sudah menikah dilakukan dengan motivasi utama: mencari teman sependeritaan.*
*Jika desakan itu dilakukan oleh mereka yang belum menikah, maka modus operandinya adalah untuk mengurangi saingan mencari TTM.*
GAY dan LESBI
*Mari kita hargai para gay dan lesbi, sebab mereka sangat bermanfaat dalam pengurangan kepadatan populasi dunia. Bisa dibayangkan kalau sedunia ini isinya kaum heteroseksual semua, maka jumlah penduduk bisa dua kali lipat dari sekarang!!!*
LELAKI
*Benar kata Lucee, bahwa bagian tubuh lelaki yang penting itu hanya spermanya saja. Mari kita suruh mereka ke bank sperma, lalu hidangkan makanan lezat mengandung racun pada mereka. Setelah kaum lelaki tiada, maka bumi damai sentosa. Bebas dari kasus perkosaan.*
LABA-LABA
*Alangkah indahnya jika perempuan sedunia punya kemampuan seperti laba-laba jenis black widdow. Mereka langsung membunuh suaminya setelah berhubungan intim. Lalu cari suami lain. Ini untuk mengimbangi begitu banyak kasus dimana para lelaki kerap tega menghabisi istrinya setelah making love.*
Sunday, January 01, 2006
Revolusi Seksual 2006
1.Belahan jiwa alias soulmate tidak perlu dicari. Jiwa kita adalah milik kita seutuhnya. Jadi hentikan buang waktu menunggu prince charming yang diyakini sebagai belahan jiwamu. Our state of mind and soul is absolutely OURS!!!
2.Hapus pemikiran bahwa lelaki buruk rupa, miskin atau bodoh bisa menjadi lelaki setia, jujur dan sehidup semati. Ingat teori “Membeli Anjing”. Maka jangan percayai pasanganmu yang buruk rupa, miskin dan bodoh. Mereka tetap berpotensi selingkuh atau meninggalkan dirimu.
3.Setiap perempuan adalah Superwoman. Jangan mengandalkan lelaki untuk mengambil keputusan apapun dalam hidup. Kita mampu memilih yang terbaik bagi diri kita. Hentikan ketergantungan terhadap lawan jenis.
4.Kebahagiaan itu diciptakan, bukan dicari. Stop melalangbuana tak tentu arah mencari kebahagiaan. Kebahagiaan juga tidak tergantung oleh siapapun, tapi diri sendiri.
5.Jika tak ingin mengalami pelecehan seksual, jangan sesekali membuat dirimu terkesan gampangan. Bahkan demi kebaikan kaummu, jangan bersikap demikian. Perempuan centil, genit dan berbaju sexy cenderung membuat perempuan lain menjadi sasaran pelampiasan pelecehan seksual oleh lelaki. Jadi imbasnya meluas.
6.Stop berharap berkomitmen dengan lelaki. Mereka mahluk yang paling takut dengan komitmen walau bersikap seolah berani. Komitmen juga berpotensi menyakitkan bagi siapaun yang terlibat di dalamnya. Mulai dari yang kelas teri sampai kakap,pernikahan yang dikuatkan oleh hukum, agama, bahkan perjanjian pra nikah sekalipun.
7.Jangan menikah karena desakan orang lain, demi status sosial, gengsi takut dibilang ngga laku, takut kesepian, atau demi harta. Fatal akibatnya.
8.Penganiayaan fisik dan mental tidak bisa dianulir. Istri atau pacar dari lelaki yang suka menyiksa harus tegas, memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Jangan termakan perasaan sentimentil “demi cinta”, “demi anak” dan sejenisnya. Ingat, tiap perempuan adalah Superwoman. Kita mampu berdiri sendiri tanpa kehadiran lelaki. Lebih baik sendiri ketimbang hidup dengan lelaki psikopat!
9.Tanggalkan segala jenis perasaan cengeng, rendah diri, lemah, hanya karena kita perempuan.
10.Selalu memperkirakan hal terburuk akan terjadi dalam segala hal. Dengan demikian mental kita akan selalu siap atas apapun.
Thursday, December 29, 2005
Bridget Jones Syndrome (BJS)

Masih seputar SMS. Hanya kali ini khusus SMS antar teman perempuan. Apa yang dilakukan para perempuan lajang di kala senggang? SMS! Dengan dua syarat tentu: pulsa masih banyak dan full baterry. Apa yang diketikkan di SMS-SMS tak berguna itu? Semua kegiatan sedetail-detailnya. Sampai ke urusan makanan yang merangsek ke dalam perut.
“Gue selama cuti makan mulu. Ini baru aja nambah piring kedua. Abis sambel terasinya enak banget.”
“Gue tadi bikin makaroni schotel, setengah loyang dimakan sendiri. Barusan makan nuget sama kentang goreng. Ngga sehat banget ya?”
“Wah, rasanya badan gue ndut banget. Kulit gue sampe putih gara2 melar.”
Begitu kira-kira SMS gila tak keruan. Wahai para provider selular, berterimakasihlah pada kami para perempuan lajang, sebab SMS sampah kami membuat income kalian meningkat! Hahaha!
Bukan SMS yang saya fokuskan di sini. Tapi masalah makanan. Sejak menjomblo, saya beserta dua sobat perempuan merasakan makanan adalah surga dunia. Kami punya jadwal kusus sejak dua bulan lalu untuk melakukan rendezvous di arena makanan lezat. Alasannya, “Otak kita jenuh sama kerjaan, butuh refreshing, makanan enak dan saling curhat. Girltalk!”
Memang, kumpul bersama teman karib saat ini adalah kebutuhan yang mahal. Selain sama-sama sibuk, kita juga kerap terjebak dalam aneka jadwal skedul, rutinitas yang membuat waktu luang nyaris tak ada. Ditambah macet Jakarta yang memakan waktu.
Maka makanan lezat dan kehadiran sahabat adalah dua hal berharga yang tak bisa dinilai dengan uang. Lebih manjur ketimbang harus membayar psikiater.
“Ayo kita berburu makanan enak. Asiiiik...gue jadi semangat!” Itu SMS seorang karib semalam.
Kalau yang dipikir hanya makanan enak, jangan heran kalau sekarang ada jerawat mirip anak Krakatau yang siap meletus di pipi kanan saya. Sepertinya harus mengumumkan kondisi SIAGA I, sebab gunung ini siap meletus kapan saja.
Dengan tak semangat saya pun mengetik SMS ini untuk membalasnya, “Apa karena kita jomblo, makanya ngga peduli penampilan lagi? Ndut dan jerawatan, cuek aja. Kita terkena Bridget Jones Syndrome (BJS)?”
Siapa sih tak kenal Brigdet Jones? Tokoh yang diangkat dari novel karya Hellen Fielding itu dengan sukses diangkat ke film. Diperankan oleh Renne Zellweger, Jones adalah perempuan lajang usia 30-an. Tubuhnya agak gemuk walau sesungguhnya masih ideal. Tapi ia merasa gemuk (tentu saja jika dibandingkan dengan Barbie).
Sekelilingnya juga menganggapnya gemuk. Makanan menjadi pelampiasan karena tak ada lelaki yang mencintainya. Saat hendak berkencan , ia setengah mati memakai korset agar terlihat langsing. Tapi ketergantungannya pada makanan susah dilepas.
Hmm... apakah BJS mulai menyerang aku dan sobat-sobat perempuanku? Memang masih banyak perempuan bertubuh lebih gemuk dan jerawat lebih parah dari kami. Jujur saja, di mata umum, tubuh dan penampilan kami masih sangat ideal. Maka...persetan dengan BJS. Kalau memang terserang BJS, kami asik-asik saja. Dan bahagia tentunya! Toh kami tak bernafsu menjadi perempuan kerempeng ala Barbie!
Sunday, December 25, 2005
SMS dan…ehm.. Lelaki

SMS itu lumayan mengejutkan. “GUE NGGA TAU. GUE BENCI SAMA MAHLUK YANG NAMANYA CEWEK. Kecuali nyokab sama nenek gue dink. Eh, tante sama sepupu gue pengecualian juga.” Kaget dan geli. Kaget karena teman saya yang lelaki juga bisa emosionil menghadapi masalah percintrongan. Geli sebab SMS yang emosionil itu masih ditambah embel-embel pengecualian.
Saya pun mem-forward SMS itu ke teman perempuan. Disertai keterangan, “Lucu ya dia, cowok tapi kayak kita kalo lagi stress. Marah-marah di SMS sama YM”.
Memang tidak semua kaum Adam bisa menumpahkan perasaan melalui SMS. Teknologi murah lagi simple itu tak selalu bisa diterima sebagai media komunikasi oleh tiap orang. Lelaki terkenal sebagai mahluk verbal yang lebih suka mengungkap pikiran dan perasaan secara lisan, bukan tulisan. Maka jangan heran kalau SMS dari teman lelaki cenderung pendek-pendek, hanya seperlunya saja. Sedangkan SMS yang ditulis kaum Hawa lebih padat, panjang dan mengungkap curahan hati.
Tapi teman lelaki satu ini memang beda. Ia tergolong “banci SMS”, begitu aku menjulukinya di testimony Friendster. Sebab ia memang doyan sekali berkirim SMS, entah hal penting atau tidak. Seru juga punya teman seperti ini. Di kala stress tiba-tiba saja datang SMS lucu darinya seperti, “Tadi pagi gue ngaca, kok uban nambah banyak ya?Ngga papa, jadi mirip Iwan Fals gue.”
Dan kemarin, SMS marah-marah mengutuki perempuan itu datang darinya. Padahal beberapa hari lalu ia masih berkirim SMS manis, “Gue mau kencan nih. Duh pake baju apa ya..”
Ada lagi teman lelaki lain yang tak kalah rajin ber-SMS. Bukan sekadar SMS biasa, lebih condong ke curahan hati. Para pehobi SMS ini biasanya akan berupaya membalas SMS kita juga dimanapun dan kapanpun. Pernah saya iseng meng-SMS teman pada pukul 12 malam. Ia membalasnya! Bahkan jam 2 dini hari pun kadang ada saja yang rajin ber-SMS-ria. Luar biasa.
Cowok-cowok sejenis ini memang bisa dihitung dengan jari. Tak semua lelaki senang memencet keypad ponsel untuk mengekspresikan dirinya. “Ribet, Mer. Mending kalo ketemu aja diomongin langsung. Atau nelpon sekalian,” begitu alasan seorang teman saat ditanya kenapa tidak suka ber-SMS.
Maka, pada teman-teman lelaki yang suka ber-SMS, kuucapkan thanks from the deepest of my heart. Kalian sungguh memahami jiwa kami. Dan SMS-SMS lucu serta kocak kalian akan selalu menghiasi Inbox ponsel kami. Maaf, ini bukan pesan sponsor salah satu provider ponsel lho.
Thursday, December 22, 2005
Ibu, Sini Kutonjok Wajahmu, Kata Anak Lelaki Itu

Di Hari Ibu, saya hanya bisa membeberkan fakta ini.
Sebuah kisah yang saya petik dari blog seorang teman. Teman ini adalah lelaki yang sadar bahwa tidak semua kaumnya bisa menjadi pelindung kaum perempuan. Justru sebaliknya, lelaki yang “gagah perkasa” bisa jadi boomerang bagi pasangan hidupnya. Bahkan menular ke anak lelaki yang berisiko bisa tumbuh jadi lelaki yang mencintai kekerasan terhadap lawan jenis.
Salut buat Iwan, si penulis . Sengaja saya copy paste di sini agar lelaki lain sudi membuka matanya.
(Sori Wan, gue edit ya tulisannya, abis puanjang buanget).
Jelang tengah hari itu (23/10/2005) di seputaran jalan gatsu bandung, saya, my queen, dan temennya my queen Intan baru mau masuk ke sebuah toko busana.
begitu pintu toko dibuka, keluar seorang bapak menggendong anak laki2nya yang nangis. tangisan anak itu kenceng sekali.
oleh sebab apa anak itu menangis? bila mengingat pengalaman sendiri, kemungkinan karena permintaan yang tidak dikabulkan, atau paling tidak kesel ama orang tuanya.
karena yang menggendong keluar toko si Bapak, kemungkinan anak itu lagi kesel sama ibunya. Anak laki2 itu berusia sekitar empat tahun. kakak laki2nya sekitar 7-8 tahun. Saat menghambur ke ibunya, Bapaknya bilang anak itu pengen digendong. Ibunya pun menggendong anak itu sambil berujar,"tapi jangan nonjok ya A?"
Anak kecil itu malah memekik, tangan kirinya yang kecil dan ringkih tapi sudah siap terkepal itu ia ayunkan ke belakang tubuh, dan berusaha menonjok ibunya di wajah.
Ibunya beberapa kali berusaha menangkis tonjokkan tangan terkepal yang kecil dan ringkih itu. berkali pula sia anak semakin memekik. karena upayanya terhalangi.
Kakak perempuannya yang menyaksikan terpana dan pilu hanya bisa meratap,"Udah atuh A, jangan..."
Si Ibu kemudian dengan setengah paksa menurunkan anak itu. dan menolak menggendongnya lagi. dan si Bapak yang sama sekali tak berusaha melerai upaya penonjokkan itu, membawa kembali anak itu ke luar toko.
Ada satu lagi saudara dari keluarga itu. Perempuan dewasa. Dia juga terlihat tidak ikut campur dengan keadaan tersebut. Sepertinya dia tidak tinggal serumah dengan keluarga itu
Saya yang hanya beberapa sentimeter ikut terpana. dan sempat mau ikut campur untuk menahan tangan yang kecil dan ringkih dari anak itu untuk menonjok ibunya. sedikit geram melihat si Bapak yang tak berusaha menahan anak laki2nya itu. malah jadi terkesan membiarkan. atau apakah karena adegan itu sudah biasa terjadi, di rumah mereka? Atau di mana saja ada pemantiknya hingga adegan seperti itu harus berulang?
Masih jadi misteri sebenarnya, apa yang menyebabkan anak itu menangis keras. dan tumpahan kekesalannya adalah harus menonjok ibunya, di wajah.
Belum berapa lama, masih dalam keadaan menangis anak laki2 itu kembali masuk toko. Rupanya si Bapak tak mampu menenangkan anak itu di luar. Si Ibu dan kakak perempuannya tengah berada di kamar pas. Si Bapak mengetuk pintu kamar pas, dan anak kecil itu pun ikut masuk ke kamar pas. Si Bapak kemudian kembali ke luar toko. Saat membuka pintu, ntah kenapa matanya sempat beradu pandang dengan saya.
Sorot matanya ke saya susah saya jelaskan. Yang jelas sosoknya tinggi besar. Biasa saja. Saya hanya bisa berujar dalam hati Bapak itu termasuk beruntung bisa mendapatkan istri yang cantik. Anak perempuannya juga cantik, mirip ibunya. Sedang anak laki2 itu mirip bapaknya. Biasa. Jadi terlihat menyebalkan meski masih anak-anak, karena menyaksikan gesturnya saat hendak menonjok ibunya.
Sambil jongkok Ibu itu bilang dengan pasrah, dengan wajah setengah disodorkan ke anak laki2nya yang berdiri di hadapannya,”Ya sok atuh A, tonjok.”
Dan Bukk!! Ternyata tangan yang kecil dan ringkih itu sangat cukup membuat si Ibu kesakitan. Sambil mengaduh serta merta si Ibu kedua tangan si ibu menutup wajahnya. Kakak perempuan anak laki2 itu kembali bilang,”Sudah atuh A, jangan.”
Si anak laki2, dia terdiam dan tangisnya terhenti karena objek tonjokannya tertutup. Tapi gesturnya tetap siap untuk menonjok. Sesaat kemudian si Ibu itu menghambur keluar kamar pas dengan wajah menahan nyeri dan tangis. “Sudah ah, moal bener.”
Dan saat itu juga si anak laki2 itu kembali memekik keras-keras. Saya yang terpana hanya bisa menduga-duga. Si anak laki2 itu kembali menangis karena dia belum puas menonjok ibunya. Si anak laki2 itu kembali menangis karena ibunya pergi dari hadapannya.
Dugaan saya, terdiamnya si anak laki2 itu tapi dengan gestur masih siap menonjok, hanya karena Ibunya langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Andai si Ibu tidak kesakitan seperti itu, apa yang akan saya saksikan sepertinya si anak laki2 itu akan menonjoki ibunya. Tidak hanya menonjok.
Di mobil, setelah saya, my queen, dan Intan juga selesai berbelanja di toko itu dan menuju ke tempat lain, saya ceritakan apa yang saya saksikan tadi. Terutama kejadian di kamar pas itu ke my queen. My queen percaya, anak sekecil itu tidak mungkin bisa berbuat demikian tanpa ada yang mengajari. Atau paling tidak mendapat contoh yang ia saksikan sendiri.
Kalau pun ada yang mengajari, siapa? Kakak perempuannya seperti tidak mungkin. Karena dia dengan semampunya berusaha menghindarkan aksi penonjokkan itu. Dengan usaha hanya melalui ucapan, itu pun dengan nada yang terdengar meratap, selama ini pun (andai memang aksi itu kerap atau cukup sering terjadi), kakak perempaun itu memang juga tersiksa secara batin sebagai penyaksi aksi tersebut.
Kalau pun anak laki2 itu mendapat contoh (untuk menonjok dan menonjokki ibunya) dari contoh buruk teramat kejam yang ia saksikan sendiri, lalu siapa yang suka ia saksikan menonjok atau menonjokki ibunya itu?
Ingatan saya kembali ke detik2 ketika dua sorot mata itu beradu pandang dengan saya. saat sosok badan tinggi besarnya membuka pintu hendak keluar toko.
Wallahualam bisshawab. Ya Allah, tolong Ibu itu. selamatkan dirinya dari kehinaan manusia. Semoga keselamatan selalu menyertai Ibu itu. Semoga tidak lagi tonjokkan2 yang menerpa wajahnya. Semoga kekerasan (dan sudah mengakar itu) enyah dari raga dan batinnya. Amien.
Teori Emansisapi
Jika ada ibu-ibu menggendong anak bayi dengan tas gembol berat di pundak,berdiri berdesakan di kereta atau bis, maka kaum lelaki bisa bebas terus tidur dengan nyaman di kursinya. Alasannya: "Kan emansipasi."
Kalau ada perempuan yang terjebak menikahi lelaki pengangguran, maka si perempuan banting tulang menafkahi keluarga sementara si lelaki makan tidur dan bikin anak melulu. Alasannya: "Kan emansipasi, udah zamannya perempuan cari duit."
Dan seterusnya..dan seterusnya...Emansisapi? Huek!
Monday, December 19, 2005
Are You an Undomestic Goddes?

Hari minggu kemarin seharian menghabiskan waktu di rumah. Jadi orang rumahan. Melalap habis satu buku, Undomestic Goddes karangan Sophie Kinsella. Kisahnya simpel tapi menohok. Samantha, seorang lawyer hebat dengan kesibukan luar biasa. Tak pernah sempat bersantai karena selalu memikirkan karir. Sejak kecil ditempa oleh ibunya untuk jadi wanita karir sukses. Tak bisa masak, mencuci, menyetrika apalagi menisik.
Mendadak saja karirnya hancur dan ia terperangkap menjadi pelayan sebuah keluarga kaya. Ternyata...abrakadabra, dengan kemauan keras, ia bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sama cemerlangnya dengan karirnya sebagai lawyer!
Selesai membaca buku itu, saya bertanya: apakah saya undomestic goddes? Bukan orang rumahan? Tak berbakat mengerjakan tuga-tugas rumah? Jawabannya adalah: tidak. Walau sejak kecil tak pernah diajari memasak, menjahit, mencuci piring, menyapu, menyetrika, faktanya saya tetap bisa melakukan semuanya dengan mulus. Minimal masakan itu dibilang lezat oleh anak saya seorang.
Saya yakin, hampir setiap orang punya kemampuan untuk melakukan tugas domestik. Sehebat apapun karirnya, sejarang apapun mereka menginjakkan kaki ke dapur. Lelaki atau perempuan. Sebab tugas domestik adalah pekerjaan alami setiap manusia. Apa yang dilakukan manusia saat lapar dan tidak ada makanan di rumah atau rumah makan yang buka? Membuat makanan sendiri.
Sayangnya, kaum lelaki banyak yang merasa gengsi atau harga dirinya terinjak jika harus melakukan tugas domestik. Jadi begitu sampai di rumah, mereka mengandalkan anggota keluarga lain yang berjenis kelamin perempuan untuk melakukannya. Memang tidak semua. Namun mayoritas. Apalagi lelaki Indonesia yang biasa menganut azaz patriarki. Merasa dirinya hebat karena bergender lelaki. Merasa sudah melindungi keluarga, mencari nafkah, jadi beranggapan dirinya bisa terhina oleh tugas domestik.
Kalau sudah begini, saya merasa amat sangat bangga menjadi perempuan. Bisa mencari nafkah sendiri, melindungi keluarga sendiri, tapi juga mampu melakukan semua tugas domestik dengan baik. Apalagi seorang single parent, menjadi ayah sekaligus ibu bagi anaknya. Menjadi bos sekaligus babu di rumahnya sendiri. Alangkah hebatnya perempuan!!!Go to hell laki-laki sok gangsi!!!
Thursday, December 15, 2005
Sepotong Kisah Sobat Perempuanku

Masih ingat betul bagaimana nada suaranya begitu panik dari seberang sana. Sobatku selama bertahun-tahun itu setengah berteriak dari ujung gagang teleponnya. "Alamatnya palsu, Mer. Dia ngasih alamat palsu. Ngga ada yang kenal nama dia di sini," begitu ia terisak. Padahal perempuan itu sudah menempuh jarak Jakarta-Bali dengan uang pas-pasan. Kondisi fisiknya pun lemah. Hamil 5 bulan.
Siapa gerangan yang dicarinya di Bali, pulau dimana ia tak punya kenalan seorang pun itu? Ayah dari bayi yang dikandungnya. Tak lama kemudian telepon tadi terputus. Pesanku terakhir saat itu adalah, "Buruan balik ke Jakarta!! Buruan!"
Beberapa hari kemudian aku bertemu dengannya di Jakarta dalam kondisi mengenaskan. Kurus, pucat, mata cekung kebanyakan menangis. Dia berkisah setelah meneleponku dirinya langsung jatuh pingsan. Beruntung ditolong penjaga wartel yang baik hati.
Hari ini, bayinya sudah berusia 2 tahun. Mengidap kelainan paru-paru. Temanku harus menanggung biaya pengobatannya seumur hidup. Dengan gaji pas-pasan. Tanpa suami yang mengirim uang sepeserpun. Bahkan menengok si bayi pun tidak.
Sobatku tadi hanya satu dari jutaan perempuan yang harus menanggung beban atas kebebalannya mempercayai cinta. Mempercayai lelaki. Kalau sudah begini, layakkah kita percaya cinta itu ada???
Sunday, December 11, 2005
Depok, Perancis, dan Bis Patas Reguler 43
Pagi ini, di atas bis patas reguler 43 Depok-Pasar Baru, mendadak ingatan saya terbawa ke Perancis. Mungkin karena saya duduk depan pintu, sehingga hawa dingin pagi Depok menggugah kenangan ke negeri nun jauh itu.
Saya hanya tersenyum geli mengingat perjalanan Nice-Cannes saat meliput GSM World Forum 2005 Februari lalu. Cornel, rekan dari Jakarta Post menebak kira-kira apakah kita masih sempat mampir ke Monaco sebelum ke airport untuk terbang ke Singapura. Ia menggunakan perkiraan waktu orang Jakarta yang terbiasa berlangganan macet. “Di Jakarta, jarak yang sama Cannes-Monaco bisa makan waktu 2 jam karena macet!” Sang supir yang asli Perancis pun bingung. Sebab dari cannes-Monaco hanya ditempuh kurang dari 30 menit saja olehnya.
Syarifah, rekan jurnalis dari Malaysia ikut tercengang. Ia bertanya, berapa lama waktu yang saya butuhkan dari rumah ke kantor setiap pagi. Saya jawab, “Dua jam dengan macet.” Ia juga tercengang. Lalu ia bertanya, “What kind of car do you have?” Saya tegaskan apa adanya bahwa saya naik bis, tidak punya mobil. Dan ia kembali tercengang. Mungkin di benaknya ia pikir jurnalis di Indonesia memiliki penghasilan cukup untuk beli mobil, bahkan rumah. Saya hanya tersenyum getir saat itu.
Pagi ini, di atas patas non AC yang penuh sesak di tengah kemacetan Pasar Minggu yang bau sampah pasar, ingatan saya melayang ke Perancis. Saya pikir, Syarifah dan supir Perancis dulu pasti akan lebih tercengang andai mereka tahu betapa rongsoknya bis yang saya tumpangi saat ini. Hohoho!
