Thursday, December 14, 2006

Nightmare Dates




Seperti apa nightmare date itu?

Seorang teman lelaki berkisah bahwa kencan mimpi buruk adalah ketika bercakap-cakap dengan seorang perempuan selama dua jam lebih tapi si perempuan tak jua tahu apa pekerjaan si lelaki. Ini akibat si cewek terus menerus bicara soal diri sendiri. “Self centered,” begitu teman saya menyebut sifat negatif itu.

Hmm, ya saya juga pernah mengalami.
Berjam-jam bersama seorang lelaki tapi sebanyak 1 jam 50 menit topik obrolan berputar-putar mengenai dirinya, obsesinya, masa lalunya, pekerjaannya, hobinya, makanan kesukaannya, dan segala tetek bengek yang berpusat pada dirinya semata. Nyaris tak pernah bertanya balik tentang diri saya. Ya, itu bisa jadi sebuah kencan mimpi buruk yang saya harap takkan terulang lagi seumur hidup.

Jangan salah ada lagi yang jauh lebih buruk. Seorang karib mengalaminya. Dan saya sangat bersedih karenanya! Seburuk apa itu?

Pernah terbayang si cewek menjadi si pihak yang mentraktir makan pada 1st date? Padahal itu sebuah kencan pertama, dan kesepakatan kedua belah pihak. Lain cerita kalau si cewek yang nguber-nguber, Sama sekali tidak. Entah si cowok memang blangsak tak tahu diri atau memang super kikir pelit menyaingi Paman Gober atau memang dia cowok matre yang hanya niat memoroti cewek…entah. Yang pasti saya masih shock dengan teman saya yang bertutur betapa ia kecewa saat ia mengeluarkan dompet untuk membayar makan, si cowok sama sekali tak bereaksi.

Oke, mungkin itu sebuah “kecelakaan”. Bisa jadi cowok itu lupa mampir ke ATM. Teman saya itu memang bukan tipe cewek perhitungan dalam hal materi. Maka kencan sial itu tak menjadi masalah yang terlalu berarti. Hubungan dengan si cowok blangsak masih terus berjalan walau sebatas SMS dan telpon.

Dan suatu ketika si karib saya berbasa-basi minta diantar ke Bandung oleh si cowok yang sudah ditraktirnya makan di kencan pertama tadi. Mau tahu apa jawaban si blangsak? “Boleh, asal lu ya yang bayar bensinnya,”. Astaganaga! Apa memang dunia ini sudah kehabisan stok lelaki gentleman? Apa semua lelaki gentleman dan tahu sopan santun sudah musnah terbang ke surga, sehingga di muka bumi ini hanya tersisa para lelaki serba perhitungan, tak tahu etika dan mau hidupnya dibiayai perempuan?

Akhirnya sang karib memutuskan ke Bandung sendiri. Lebih baik naik travel elit sekalian daripada harus menanggung biaya bensin dan semobil bersama cowok matre. Biarkan saja si cowok matre blangsak tak tahu malu itu terjungkal ke neraka bersama semua harta bendanya.

Friday, December 01, 2006

Cinta dan Seks?

Email itu dikirim seorang sobat. Subyeknya, “Love is Unseen”. Ketika aku mencoba membahas isi email itu dengan seorang teman lelaki, dia mengeluh. “Belum makan siang, lu udah ngajak diskusi soal cinta!”

Belum lama berselang, kepada seorang teman lelaki lain, aku sempat menanyakan kehidupan cintanya. Dia menjawab, “Pertanyaanmu terlalu casual,” dan dia tak mau menjawabnya.

Aneh, kenapa lelaki cenderung malas membahas soal cinta? Tidak semua memang. Sebagian kecil teman lelaki saya masih mau mendiskusikan obyek satu itu walau tidak terlalu betah berlama-lama.

Waktu saya tanyakan kepada salah satu kaum Adam, dia menjawab, “Lu mau ngomong soal seks?”
Saya terkejut. Lho kok jadi melenceng kesana? “Itu dia. Cowok males ngomongin soal cinta, sama kayak cewek males ngomongin soal seks. Jelas kan?”

Masih belum jelas. Sebab cinta dan seks adalah dua hal berbeda. Karena ingin membuka misteri satu kata itu, maka saya coba mendiskusikanya dengan teman, baik lelaki maupun perempuan. Dan hasilnya, selalu saja teman lelaki merasa enggan membahas soal satu itu. So, kalian para kaum Adam lebih suka membahas seks? Wah, misteri baru lagi.

Sunday, November 19, 2006

Hidup Tak Semudah Masak Indomie

Hidup itu susah. Yang gampang ya masak Indomie.

Kalimat kocak itu bertengger di status Yahoo Messenger (YM) seorang teman. Menandakan bahwa memang menjalani hidup itu susah. Tidak ada yang mudah. Salah satunya adalah masalah perjodohan.

Saya pribadi bukan orang yang menganut paham bahwa menikah adalah di atas segalanya. Pada perbincangan ringan dengan seorang teman lelaki di SMS tadi pagi, kami sepakat bahwa menikah bukan hal urgen dalam hidup. Argumennya segudang. Mulai dari masalah kepadatan penduduk Indonesia yang menjadi sumber krisis ekonomi sampai ke alangkah indahnya kalau orang mengkompensasikan energi hidupnya ke hal-hal kemanusiaan.

Pernah juga saya menulis bahwa menikah alias kawin mawin yang dianut orang Indonesia merupakan salah satu faktor pemicu egoistis. Masyarakat Indonesia memuja institusi pernikahan sampai menyalahgunakannya. Lihat saja bagaimana pejabat berlomba-lomba korupsi demi agar anak-anaknya yang segudang dari istri yang juga segudang bisa hidup makmur. Orang Indonesia terutama lelakinya, mengiolakan poligami. Kalau kaya raya, maka yang dipikir bukan bagaimana beramal demi kemanusiaan, tapi bagaimana agar bisa koleksi istri cantik, koleksi mobil mewah, mencetak anak sebanyaknya demi membangun dinasti keluarga yang berkuasa. Edan. Tapi fakta.

Nah, soal kawin mawin ini erat kaitannya dengan jodoh. Bagusnya, generasi sekarang makin sulit cari jodoh. Kenapa bagus? Ya, hitung-hitung mengurangi laju kepadatan penduduk. Problemnya, masyarakat kita masih menabukan hidup melajang. Lelaki atau perempuan yang sudah di atas 30 tahun akan menuai tanya sekitar : "Kapan merit neh?".
Dalam hati orang yang ditanya akan mengutuk setengah mati, "Lu kira merit sama kayak masak Indomie? Gampang?".

Hahaha. Saya pun tertawa dan makin sering menggodai teman-teman yang masih lajang.
"Kapan nyebar undangan neh?"
"So, mana calonnya?"

Nanti kalau sudah dapat istri atau suami, pertanyaannya di-upgrade menjadi:
"Kapan dapet momongan neh?"
"Juniornya belum ada?"

Dan akan dijawab dengen gerutu kesal dalam hati, "Emang gampang punya anak? Kayak masak Indomie? Lu ngga mikir biaya kuliahnya? Emangnya Indonesia itu Finlandia yang setiap bayi lahir akan dihadiahi duit beserta perlengkapan bayi sama pemerintah? Woi, Setiap bayi yang lahir di Indonesia justru langsung nanggung hutang negara, Mas!"

Hahaha! Ada yang lebih gampang dari masak Indomie. Seduh aja Popmie!

Wednesday, November 15, 2006

Cantik yang Tidak Luka






Suatu siang menjelang sore. Sogo, Plaza Senayan.
“Kok, sakit, sih?”
“Memang sakit, Mer.”
“Wah, ngga jadi ah. Semua sepatu lancip emang sakit ya? Sepatu lu itu juga sakit, Jeng?”
”Iya, pertama dulu sakit banget. Sampe lecet-lecet. Sekarang ngga.”

Percakapan tadi terjadi saat aku menjajal sepatu yang ujungnya runcing, sepatu yang lagi trend sekarang. Banyak dipakai perempuan. Kota sampai ke desa. Sepatu berujung runcing yang cantik, dengan berbagai warna. Ada yang berhak tinggi atau pendek saja.

Secara saya sedang bermetamorfosa menjadi perempuan yang ingin tampil cantik, saya terpikir untuk membeli sepasang sepatu runcing itu. Selama ini saya cukup nyaman memakai sepatu kets, sepatu fantovel ceper, atau sepatu gagah Kickers. Ternyata sepatu runcing itu menyakitkan waktu dicoba. Saya urungkan niat membelinya. Lebih baik saya beli sepatu gagah lain atau fantovel ceper kalau memang sedang ingin kelihatan ”cute”.

Tadi pagi, saya melihat beberapa perempuan dengan sepatu runcing, hak tinggi sekitar 10 cm. Roknya pendek. Ketat. Naik Metro Mini 62, Manggarai-Senen. Terlihat tersiksa sekali dengan sepatu dan roknya. Sebentar-sebentar membetulkan rok yang tersibak angin. Sepatunya tidak kalah menyiksa, menjepit dua telapaknya dengan erat, terseok-seok saat naik turun bis.

Asli, saya tak akan bisa tahan dengan kondisi seperti itu. Mampu bertahan sampai satu jam saja sudah hebat. Tapi para perempuan bersepatu runcing hak tinggi dan rok pendek ketat tadi jelas akan mengenakan benda-benda penyiksa jasmaninya itu seharian penuh.. Bisa jadi setiap hari benda-benda penyiksa itu dikenakannya setiap hari. Pagi sampai sore.

Arif Budiman pernah menulis kira-kira begini, ”Perempuan sering terperangkap dalam standar kecantikan yang diciptakan para lelaki. Mereka berusaha memenuhi standar itu tanpa peduli apakah dirinya nyaman atau tidak.”

Arif sangat benar dalam hal ini. Untungnya saya tidak tergolong perempuan penyiksa diri yang terperangkap dalam standar kecantikan ciptaan lelaki itu. Untung sekali. Dan inilah saya dengan kenyamanan diri saya. Celana jeans. Kemeja. Sepatu fantovel. Dan tetap merasa sangat cantik. Melebihi cantiknya perempuan bersepatu runcing hak tinggi dan rok pendek ketat yang menyiksa.

Monday, November 13, 2006

Swimming on My Ability



Belakangan ini aku serasa terlontar jauh ke masa silam oleh mesin waktu. Seandainya memang mesin waktu itu ada, aku sungguh ingin mengulang semua kenangan dari awal lagi. Dari….masa SD mungkin? Masa dimana kita masih begitu cute dan innocent layaknya anak sebelum puber. Masih murni dengan segala kebersahajaannya.

Salah satu masa silam yang kembali kutemukan adalah seorang Hilman Hariwidjaya. Dia pencipta karakter Lupus yang beken saat aku SD-SMP-SMA. Pertemuanku pertama dan terakhir dengan Hilman itu lebih dari 15 tahun lampau. Saat lelaki bertubuh begeng itu bermain gitar menyanyikan Save A Prayer-nya Duran Duran. Bersama dengan Anto, Boim dan Gusur dia berbagi ilmu menulis kepada kami yang berseragam putih-biru. Dan itu manjur. Tidak lama aku menciptakan karakter Si Pion, cewek SMP lucu yang dimuat di majalah Hai sebagai cerita bersambung. Sejak itulah aku tergila-gila menulis.

“Lucky me swimming in my ability,” tulis Hilman mendekskripsikan dirinya sendiri. Berenang dalam kemampuannya. Yang dimaksud adalah menjalani hidup dengan bermodal kemampuannya, menulis. Sama seperti dia, itu juga yang kulakukan saat ini. Jelas aku belum berarti apapun dibanding seorang Hilman. Namun aku cukup bahagia dengan duniaku saat ini. Tidak semua orang dapat mencari nafkah sesuai dengan bidang yang diingininya. Dan aku menjadi bagian dari orang yang dapat menekuni bidang yang memang disukainya.

Yeah, lucky me. Lucky us.

Sekitar tiga hari silam, aku bersua lagi dengan sosok itu. Kami berkirim pesan singkat tentang masa lalu. Sedikit saja. Sama-sama menyadari bahwa waktu telah merubah segalanya. Hilman sudah tidak begeng lagi. Dia tembem. Rambutnya tidak gondrong. Justru aku yang berubah jadi begeng dan gondrong. Satu hal yang tidak berubah, kami tetap berenang dengan kemampuan kami. Di pikuk jagat yang kian gaduh ini....Lucky us...

Friday, November 10, 2006

Girls Will Be Girls


Segala yang berbau keperempuanan, pernah aku benci. Kosmetik, rok, masak memasak, obrolan tentang cowok, segala jenis pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya. Sampai berteman pun aku memilih dengan lelaki. Mendengarkan musik khas cowok, rock, heavymetal, grunge, trash, asal yang vokalisnya cowok. Aku benci kerumunan teman perempuan yang identik dengan ngerumpi. Aku benci ibu-ibu ngumpul. Aku sebal konde, sasak, kebaya, sepatu hak tinggi, selop, tas cantik, bunga-bunga.

Belum lama berselang, seorang teman lawas bersua. Teman kuliah yang dulu pernah nonton konser Metallica bareng di Lebak Bulus. Teman nongkrong di kos bareng gerombolan cowok-cowok gondrong bercelana ketat, kaus gambar tengkorak. Teman dimana jam 12 malam kami main ke rel kereta depan kampus untuk menyalakan petasan roket. Teman yang tertawa-tawa saat aku datang menangis karena dikecewakan pacar pertama di semester 1 zaman bahuela.

“Lu sekarang agak kalem, feminim, dan dandan,” komentarnya melihat tampilanku teranyar.
“Ya iyalah. Secara udah tambah tua gitu, lho,” aku mengangkat bahu sambil ngakak.
“Tapi cewek gue dulu ngga gitu. Dia udah berpenampilan dewasa sejak lama, tapi kelakuannya masih kayak anak kecil. Hura-hura, pokoknya ngga banget deh..” Teman itu berkisah soal mantan pacar yang diputuskan karena kelakuannya yang childish.
“Ya, orang kan beda-beda. Tapi seiring waktu dia akan dewasa kelak,” aku menenangkan.

Teman lain lagi baru bersua lagi setelah tiga tahun berpisah. Ini teman kerja di tempat lama dulu. “Gue tadi pangling, ini elu apa bukan,” ujarnya mengomentari aku yang sekarang. Bukan tampang atau apa elu yang berubah, tapi aura elu.”

Aku bingung. “Maksud lu?”

“Lu terkesan lebih dewasa. Lebih bias menerima hidup.”

Aku tersenyum. Apa iya perubahan itu sedemikian terlihat? Yang pasti, belakangan ini aku memang mengalami metamorfosa. Dari perempuan yang membenci keperempuanannya, perlahan menjadi perempua yang menerima keperempuanannya. Dengan segala cara. Aku memang sudah lumayan bisa masak. Bisa berdandan. Lumayan telaten merapikan rumah. Tidak benci pada kumpulan cewek-cewek. Dan yang jelas setelah kurenungkan, teman-teman terdekatku sekarang kebanyakan berjenis kelamin perempuan.

Yeah, girls will be girls.

Thursday, October 26, 2006

Confession of A Bloody Playboy Part II

Kali lain. Orang yang lain. Waktu yang lain. Di tempat lain. Dengan pembicaraan lain.
“Eh gue udah sampe nih.” SMS itu sedikit mengagetkan. Jam menunjukkan pukul 13.14. Kami janjian jam 13.30. Sedikit tergesa aku menuju ke kafe yang disebutkan.

Wajahnya masih sama dengan 15 tahun silam. Tetap tampan dengan senyum simpatik. Hanya sekarang chubby. Air muka dan sorot matanya jauh berbeda. Dulu mata itu bersinar nakal, jahil, dengan kerlingan dimana-mana. Air muka yang dulu cemerlang , kini nampak kuyu. Lalu ia memamerkan deretan giginya. ”Gigi gue ancur,” tanpa malu ia membuka mulut lebar-lebar.

Dan pengakuan seorang playboy veteran pun dimulai. Ia mengaku dulu jadi playboy, tukang tebar pesona dan cari perhatian cewek-cewek karena di rumah kurang perhatian. Ia membantah dibilang playboy, sebab tak pernah memacari lebih dari satu cewek pada waktu bersamaan. ”Kalo gue udah punya cewek, ya gue ngaku. Terserah cewek lain mau jalan ama gue apa ngga.,”.
Kemudian ia berkisah tentang kepribadiannya yang sudah berubah 180 derajad sejak bercerai 2 tahun silam. ”Gue ngga gaul. Gue diem aja di rumah. Sekarang gue berenti kerja, mau buka usaha,” ia terus-menerus mengepulkan asap rokoknya tiada henti.

Lelaki tampan itu kadang masih jahil melontarkan canda menggoda. Ia mengaku sempat suka padaku. Aku hanya melengos, sebab dia memang playboy, ex playboy tepatnya. ”Kambing dilipstikin juga lu suka kan,” selorohku.

15 tahun lebih berselang sudah. Seorang kakak kelas SD-SMP yang dulu terkenal pintar, jago basket, bintang sekolah, penggoda cewek kelas wahid. Belum lama berselang duduk tepekur di hadapanku dengan sorot mata kosong. ”Gue ngga percaya cinta lagi. Bullshit. Hati gue udah beku,” ia menyerocos. Sesekali kami mengenang masa kecil nan indah, penuh canda tawa tanpa beban. Ia masih mengingatkanku waktu kami berdarmawisata ke Yogyakarta. Ia masih ingat pernah mencuri cium pipiku. Dan saat itu perasaanku hanya kebencian luar biasa pada playboy tengil nan centil. Ia berkisah legenda cinta pertamanya dengan cewek berkepang dua.

”Elu sih ganjeng, pacaran sejak SD. Sekarang lu udah mati rasa kan ama cinta? Rasain!” Ledekan itu terluncur begitu saja dari mulutku.

Hari itu aku menjadi pendengar setia kesaksian seorang mantan playboy...

Thursday, October 19, 2006

Kali ini, tentang Soulmate



“Percaya soulmate?”
“Ngga!”
“Hmm, aku masih percaya.”
“Udah deh, ngga ada itu soulmate. Kamu mana pernah tahu siapa soulmate-mu. Kalau ternyata tukang ojek ujung gang itu adalah soulmate-mu, kamu mau nikah ama dia?”
“Ah, ya ngga lah. Soulmate itu mestinya ya sepadan sama kita. Orang yang cocok, pas sama kita, sejiwa.”
“Lho, emang kamu pernah tahu tukang ojek itu cocok ngga sama kamu, wong belum pernah ngobrol. Siapa tau kalau ngobrol dan pendekatan, cocok.”
“Ah ngga deh. Ngga mungkin.”
“Nah, berarti soulmate itu ngga ada. Yang ada adalah kecocokan, nyambung. Soulmate hanya mitos.”
“Ngga, aku masih tetap percaya soulmate.”
“Ya silakan aja nunggu soulmate-mu jatuh dari langit.”

Itu percakapan aku dan kakak perempuanku beberapa bulan lalu. Aku pihak yang kontra teori soulmate, sedangkan ia yang berkeras bahwa soulmate memang ada. Kakakku sudah 38 tahun, masih lajang. Dia cantik. Waktu kecil dulu, aku selalu berpikir bahwa ia mirip sekali dengan Melissa Gilbert dalam film Litttle House on The Praire, tepatnya peran Laura Ingalls Wilder (apa bener ya spellingnya?) kecil. Apalagi pada adegan pembukaan film dimana semua anak perempuan keluarga Ingalls berlari-lari di rerumputan.

Selain rambutnya sama-sama panjang bergelombang , kakakku dan Laura juga berkulit putih, kulit muka mulus, mata bentuk almon. Puncak kemiripan mereka terletak pada rambut panjangnya yang dikepang dua dan senyum lebarnya. Pendek kata, kalau kau berpikir bahwa ia belum menemukan pasangan hidup karena fisiknya buruk, kau salah besar. Lebih tepat barangkali karena ia terlalu independen, mandiri dan tentu saja pintar.

Dia tipikal perempuan sangat mandiri, suka petualangan dan keras hati. Sejumlah kota dan negara sudah dilintasinya. Hari ini, kakakku tetap cantik walau rambutnya dipangkas pendek. Terakhir kudengar kabar dari ponselnya ia sudah di Ubud, Bali. Bekerja di sana. Saat menelepon beberapa hari lalu, suaranya masih ceria dan renyah. Aku hanya berharap semoga ia segera menemukan soulmate-nya, kendati aku sama sekali tidak percaya mitos itu.

Friday, October 13, 2006

I Prefer Platonic Than Eros

Sampai hari ini, aku masih bingung kenapa manusia begitu mengagungkan pernikahan. Sementara dari pengalaman pribadi dan orang sekitar, sudah membuktikan bahwa pernikahan bukan hal yang teramat sangat agung…

Masih ingat betul, itu malam minggu. Aku nongkrong bersama beberapa teman cowok. Remember, I noticed that I was a tomboy girl? Sebagai para jomblo, kami melakukan apa saja mengusir malam minggu tanpa pacar. Main billiard, nonton konser musik, sampai sekadar main gaplek di kos-kosan. Malam itu kami sudah mati gaya tak tahu mau apalagi. Bana, seorang teman dari ISTN memamerkan foto cewek cantik dari dompetnya.
“Namanya Cika, lagi kuliah di Belanda. Gue cinta banget sama dia,” cowok gondrong itu mendadak sentimental.
“Oh, dia cewek lu?”
Bana menggeleng.
“Kalau dia cewek gue, gue pasti akan married sama dia. Gue malah ngga mau married sama dia.”
Aku yang masih semester pertama dan lugu soal cinta hanya menggarung kepala, bingung mendengar jawaban Bana yang sudah mau skripsi. “Aneh lu, masak ngga mau nikah sama cewek secantik itu?”
“Kalau gue married sama dia, berarti gue mesti “anuan” ama dia? Wah, ngga tega deh. Gue terlalu cinta sama dia sampe gue ngga tega begitu.”

Saat itu aku belum “ngeh” banget sama jawaban Bana yang lima tahun lebih tua dariku itu. Sampai kemudian beberapa tahun kemudian aku membaca “Catatan Seorang Demonstran” yang waktu itu masih dalam kemasan lama, belum bersampul foto Nicolas Saputra seperti sekarang. Dikisahkan Gie tidak terlalu bersemangat mengejar perempuan yang dicintainya, Maria. Ia tidak mau Maria jadi objek dalam pernikahan kelak. “Pernikahan adalah pelacuran yang dilegalkan.”. Gie tak bisa menerima terlibatnya nafsu seks dalam sebuah ikatan cinta yang suci. Baginya, jika kita mencintai seseorang maka sebaiknya kita menghormati orang itu. Menghormati berarti tidak berbuat kurang ajar, termasuk tidak menidurinya.

Ketika membaca buku itu aku masih semester dua. Masih belum sadar juga apa yang dimaksud Gie.

Hari ini, aku sudah bertemu begitu banyak jenis manusia dengan segudang pengalaman hidupnya. Ada yang menikah dan bahagia. Menikah dan tidak bahagia. Tidak menikah dan bahagia. Tidak menikah dan tidak bahagia. Pernah menikah dan bahagia. Pernah menikah dan tidak bahagia. Dan sebagainya. Begitu rupa-rupa. Dan yang memprihatinkan, banyak pernikahan yang tetap dipertahankan sekuat tenaga dengan alas an menjaga nama baik keluarga. Padahal banyak kasus pasangan itu sudah tidak lagi bahagia satu sama lain. Begitu majemuk.

Lalu aku kembali dihadapkan pada fakta, mecintai seseorang memang sebaiknya tetap menghormatinya. Tidak melibatkan nafsu jasmani. Jika nafsu sudah terlibat, maka cinta dapat pergi kapan saja.

Saat seorang sahabat lelaki berkata, “Gue kangen elu”, berarti dia memang kangen dengan kehadiran sahabatnya. Kangen canda tawa dan keluh kesah. Tapi ketika seorang pacar berkata, “Gue kangen elu”, dapat berarti dia kangen untuk sekadar ciuman, belaian, atau bahkan lebih.

Itu yang bikin saya lebih percaya dengan cinta platonis daripada cinta eros.

Wednesday, September 27, 2006

Man Prefers Blonde 'Cuz Blonde Is Stupid? (So The Man is Stupid Either?)


Beberapa testimoni di Friendster-ku mengatakan bahwa aku harus sedikit feminim agar dilirik lelaki. Puih!

Bukan, bukan feminim berupa penampilan atau sebangsanya. Namun dalam bersikap. Kata teman, “Kamu harus sedikit terkesan lemah, lembut dan mengalah biar cowok terkesan sama kamu.” Huek!
Sahabat lain pernah mengatakan dalam SMS : “Kita terlalu pintar, Mer. Pintar dan berani mengutarakan pendapat. Makanya cowok takut.”

Jadi ingat istilah “Man prefers blonde because blonde are stupid.”

So, para lelaki lebih memilih perempuan bodoh sebagai pasangannya daripada yang pintar? Karena takut tersaingi? Bisa jadi!!!

Kemarin habis debat dengan seorang teman . Dia bilang: “Women are strong creature.” Karena lagi kumat pengen debat ditambah PMS, aku berargumen bahwa definisi itu hanya diciptakan kaum lelaki agar pemerpuan ngga manja.

He though he is the 1st man wo said that women are strong creature. No way.
Sudah banyak yang bilang begitu. Dan beberapa cowok bilang bahwa aku superwoman. But see where are all guys who has that statement?
THEY DECIDED TO CHOOSE THE WEAK ONE AS THEIR WOMEN!

Cowok bilang: cewek itu mahluk kuat. "Kamu superwoman, hebat!" dengan menciptakan idiom itu maka dia berpikir : "Ah lu kan cewek kuat, tangguh, hebat, kagak butuh gua. Lu tanggung aja semua sendiri."

And then they walk away from their responsibility as a MAN.
Dan mereka akan mencari cewek lemah, manja dan stupid buat dinikahi atau dipacari. MENGAPA? Sebab ide women are strong creature sangat INCOMPATIBLE dengan MAN-EGO mereka.

Yeah, I've been there and I know how the feeling as a woman called SUPERWOMAN by any guys she love, but those guys just runaway to prefer the weak-spoiled-stupid woman as their couple.
So...

Ide bahwa cewek itu mahluk kuat mungkin benar. Tapi ngga semua. Pada akhirnya cowok prefer cewek lemah-manja-bodoh sebagai pasangan hidupnya agar mereka tidak merasa ditandingi.

Sunday, September 24, 2006

Power Puff Girls Are in Luv


Dulu, kami sempat menyetarakan diri dengan para tokoh film seri Sex and The City. Kelamaan, setelah diamati, justru bertolak belakang. Benar, kami adalah para perempuan pekerja, berusaha menjadi perempuan karir.

Hmm, ada beda ya antara perempuan pekerja dan perempuan karir? Jelas. Kalau pekerja itu sekadar mencari nafkah. Sedangkan karir, ya mengejar karir setinggi mungkin. Berkaca dari kondisi kami, saat ini kami adalah pekerja yang tengah merintis karir. Mencoba bekerja bukan sekadar mencari uang, melainkan juga mencintai, bangga, sekaligus juga mencari kesuksesan.

Ah ribet membicarakan pekerjaan. Apa mau dikata, itulah topic utama obrolan kami tiap kali bertemu. Kontras dengan empat perempuan dalam Sex and The City yang justru nyaris tak penah membicarakan karir mereka. Ya, topik utama obrolan mereka adalah seks dan cinta. Sesuai dengan judul serial itu tentunya.

Setiap acara makan siang atau makan malam bersama, Miranda, Samantha, ….dan …. Tak pernah absent dengan gelak tawa atau sedu sedan seputar kisah kencannya. Bagaimana dengan kami?

Biasanya pertemuan akan diawali dengan membicarakan “Sedang sibuk apa sekarang?”. Lantas “Ada film bagus apa? Kapan nonton bareng? (ini nyaris tak terealisasi, sebab akhirnya kami akan sibuk sendiri-sendiri). Lantas memilih menu makanan secara heboh, lama, dan akurat. Kemudian topic berlanjut ke kabar “pacar” kami. Sssttt,”pacar” yang dimaksud di sini adalah notebook alias komputer jinjing kami! Akan ada bahasan agak techie seputar “Kenapa batere gue ngga bisa pol?” atau “Dimana beliin cover keyboard Acer yang melengkung antik itu?” atau juga keluhan Ajeng tentang MacBook-nya yang pesolek, dan sejenisnya.

Lalu akan ada selingan sedikit tentang bos yang menyebalkan, pekerjaan tak kunjung habis, model baju baby doll yang in, apakah lipgloss masih dibutuhkan, sepatu ceper murahan itu bisa awetkah, dan sebagainya, dan sebagainya.
Kemudian, kembali membangkitkan obsesi lama ihwal membentuk sindikat atau konsultan, blab la bla…..

Dan ketika ada salah satu yang keceplosan bertanya tentang cowok, maka suasana mendadak…………………………hening! Seolah ada “setan” lewat,semua langsung terdiam. Itu pertanda kami tengah mengheningkan cipta bagi kisah cinta kami yang sudah lama gugur ibarat pahlawan di tapal batas.

Apa pasal? Ya, kehidupan asmara kami dapat dikatakan nol besar, bahkan minus, dalam beberapa tahun ini. Topik tentang cowok selalu mengundang hati yang luka (duh, kayak lagu cengeng jadul!).

Eh, jangan salah. Secara tak sengaja saat ini kami tengah sama-sama dirundung asmara lho. Masih belum apa-apa. Masih sebuah pre-fall-in-love. Istilah Ajeng, baru “jatuh suka”, belum jatuh sayang atau cinta. Uniknya, kami bertiga bisa mengalaminya secara bersamaan. Padahal selama ini kesibukan telah menenggelamkan aku, Eno dan Ajeng sampai sulit saling bersua. *Untung ada Yahoo Messenger dan SMS*.

“Jadi Power Puff Girls are in luv? Wah, The Luv Episode og PPGs!” Itu SMS kami akhir pecan kemarin. Blossom, Bubble dan Buttercup tengah dilanda romantika. Akankah kami kecewa dan terluka? Ah, persetan saja.

Tapi jangan salah, obrolan kami tetap tidak seheboh serial Sex and The City. Selain kisah kasih kami sangat sepi, kami juga bukan penganut seks bebas. Jadi tidak akan pernah ada ketawa heboh ala Samantha yang berkisah tentang kencan panasnya! Obrolan kami justru lebih mirip dengan curhatan anak SMP di meja kantin sekolah. Ya, mungkin kami tidak pernah merasa tua dalam hal yang satu itu 

Friday, September 22, 2006

SBY, Sang Menteri dan Gelandangan Pemakan Kulit Jeruk

Tiga hari lalu. Di dekat terminal bus Manggarai, Jakarta, aku melihat seorang gelandangan mengorek-ngorek timbunan sampah. Kebetulan aku ada di atas Metro Mini 62 yang berjalan lambat menunggu penumpang. Lekat-lekat kuamati, lelaki gelandangan itu berasyik masyuk dengan sesuatu. Ternyata ia menemukan kulit jeruk dalam tas kresek hitam. Dan ia memakannya dengan lahap!

Pemandangan yang sama pernah aku saksikan di adegan film Gie yang dibintangi Nicholas Saputra. Film yang diangkat dari catatan harian Soe Hok Gie itu bersetting tahun 1960-an. Dikisahkan bagaimana Gie muda bertemu lelaki yang memakan kulit jeruk. Lalu ia jatuh iba dan memberikan semua uangnya pada lelaki itu.

Aku buka Gie yang memberikan uangku pada gelandangan tadi. Dan hari itu adalah 20 September 2006. Sudah berapa tahun lamanya Indonesia merdeka dan membangun? Kenapa masih ada orang kelaparan sampai mengoreki sampah, memakan kulit jeruk? Lantas apa yang rakyat dapatkan dari pembangunan selama ini? Kulit jeruk dan sampah?

Malamnya, aku berkirim SMS yang berkisah tentang si pemakan kulit jeruk tadi. Fakta bahwa sejak 1960-an sampai 2006 ini, rakyat Indonesia tidak mendapat kemajuan berarti dari pembangunan. SMS pertama aku kirim ke seorang teman, kebetulan pegawai negeri di sebuah instansi bergengsi. Jawabannya: "Say that to the minister (sudah diedit) dan semua kalangan pejabat tinggi setingkat dia. Mungkin mereka lupa, abis fasilitasnya enak terus. Gimana kita bisa cinta RI?"

Kuturuti sarannya, aku kirim SMS serupa ke seorang menteri yang biasanya rajin membalas SMS-ku. Sayang, si menteri tidak menjawab. Mungkin ia terusik dengan kisah duka menjijikan tentang kalangan bawah. Barangkali ia malas dengar cerita orang susah. Mungkin juga ia sedang menikmati jamuan makan malam lezat yang terganggu oleh SMS tentang gelandangan pengorek sampah.

SBY, JK, beserta gank kabinet plus semua anggota DPR yang bergaji puluhan juta mestinya menyempatkan diri berjalan-jalan ke lokasi pembuangan sampah. Biar mereka melhat, masih banyak rakyatnya yang hidup dari mengoreki sampah. Seperti anjing. Sepeti kucing. Bertahan hidup dengan mencari sesuatu untuk dimakan di antara bau busuk itu.
Oh Indonesia!

Wednesday, September 20, 2006

Hidup dan Lamaran

Malam Senin kemarin, di TV7 atau Global TV (saya lupa, maklum bukan penggila TV), ada satu adegan dalam film yang juga saya tak tahu judulnya.

Adegan itu sangat menyentuh!
Seorang nenek tua (80-an) bertemu seorang gadis cantik. Kira2 begini dialognya:

Nenek: Mana suamimu?
Gadis: Saya belum menikah.
Nenek: Ah, sayang sekali. Kamu cantik sekali padahal.
Si Gadis tersipu dan serba salah.
Nenek: Saya juga tidak pernah menikah.
Si Gadis terkejut.
Nenek: Ya, sebab tidak ada yang melamar saya...
Si Gadis masih terkejut.
Nenek: Saya dulu sangat mencintai Irvin saat usia 21. Tapi ibunya tidak setuju. Dia meninggalkan saya. Sejak itu saya tidak ada yang melamar...

Miris sekali!
Apa iya garis hidup seorang perempuan ditakdirkan oelh DILAMAR atau TIDAK DILAMAR?
Kalau tidak dilamar, maka ia akan kesepian seumur hidup seperti nenek tadi??????????????????

Dunia yang sangat tidak adil bagi kaumku tercinta!!!

Tuesday, September 19, 2006

Suatu Hari Nanti, Oriana...






“Oriana Fallaci meninggal di Florence.”



SMS itu datang dari Natalia, rekan jurnalis desk Internasional di mediaku. Singkat namun menyentak. Kebetulan aku sedang di luar kantor, belum sempat mengakses dunia maya.
Lalu kubalas, “Duh, belum sempet ketemu kok meninggal? Huhuhuhuhu!”

Siapa Oriana? Bagi orang Indonesia kebanyakan, nama perempuan Italia itu tidak banyak berarti. Buatku, amat sangat berarti!

Pertama mengenalnya melalui sebuah buku yang kupinjam dari perpustakaan SMP. “Wawancara dengan Sejarah” judulnya. Berisi kumpulan interviu perempuan kelahiran 29 Juni 1929 ini dengan sejumlah tokoh politik dunia terkemuka. Henry Kissinger, the Shah of Iran, Ayatollah Khomeini, Lech Wałęsa, Willy Brandt, Zulfikar Ali Bhutto, Walter Cronkite, Omar Khadafi, Federico Fellini, Sammy Davis Jr, Deng Xiaoping, Nguyen Cao Ky, Yasir Arafat, Indira Gandhi, Alexandros Panagoulis, Archbishop Makarios, Golda Meir. Luar biasa.

Sejak membaca buku itu, aku terinspirasi menjadi jurnalis. Sampai ketika lulus SMA aku tidak ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri ), tapi langsung mendaftar di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta yang memiliki Fakultas Jurnalistik. Target hidupku saat itu hanya satu, jadi jurnalis. Titik. Tak bisa ditawar lagi.

Hari ini, aku menjadi jurnalis. Sebuah cita-cita yang tercapai. Bukan pada media besar, melainkan media biasa saja. Yang pasti aku bangga dengan profesi dan mediaku, sebab memiliki independensi luar biasa dalam menulis. Tidak ada campur tangan siapapun. Tidak ada intimidasi. Aku bebas menulis apa yang kusuka sesuai dengan ideologiku. Kebetulan aku membidangi halaman Ilmu dan Pengetahuan, bidang yang sesungguhnya sempat kucintai waktu sekolah lewat pelajaran biologi.

Memang jauh dari bidang Oriana, politik. Hmmm…itu juga sempat jadi obsesi terpendam: menjadi jurnalis politik. Bahkan wartawan perang. Tapi ternyata takdir menentukan lain. Nevermind. Aku tetap bisa hidup dengan menulis.

Oriana meninggal 15 September 2006 kemarin di Florence, Italia, kampung halamannya. Ia menderita kanker payudara selam 15 tahun. Tidak pernah menikah. Adakah penderitaa terpancar dari sorot matanya? Tidak.

Suatu hari nanti, aku akan kutebar bunga di pusaran makammu, Oriana.
Suatu hari nanti.

Friday, September 08, 2006

Jadi Harimau di Sarang Harimau



Being a pretty tiger among the tigers



Kembali, beberapa teman perempuan menanyakan keminoritasanku sebagai perempuan. Pekan kemarin aku kembali untuk ke sekian kalinya (sudah tak terhitung) menjadi mahluk paling cantik di rombongan. Maksudnya, saya satu-satunya perempuan, wanita, kaum Hawa, cewek, ibu, dalam satu tim perjalanan jauh.

Sesungguhnya ini suatu kondisi yang biasa. Selama gender tidak menjadi masalah, menjadi satu-satunya perempuan dalam 100 batalion tentara pun sebenarnya hal biasa. Problemnya adalah bagaimana kita sebagai pemilik jenis kelamin paling berbeda dapat menyetarakan diri dengan mereka.

“Gue males, abis ngga ada ceweknya,” ungkap teman cewekku yang merasa risih harus bergaul dengan rekan seprofesinya yang lelaki semua dalam sebuah perjalanan jauh. Akhirnya ia harus menikmati kesendirian, kesepian, di suatu tempat yang sesungghnya sangat mengasyikan kalau dilewati bersama kawan-kawan.

Bagi saya, sikap seperti itu adalah rugi besar. Kebetulan sejak kecil saya tomboy, lebih suka gaul dengan cowok. Sejak SMP sudah biasa yang namanya kemping dengan cowok-cowok. Sampai hari ini pun ketika usia sudah dewasa hal itu tak menjadi problem berarti. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perempuan yang menjadi minoritas gender di kelompoknya.

Pertama, jangan bersikap rewel dan terlalu menonjolkan kelemahan fisik serta emosi. Cowok paling sebel kalau di kelompoknya ada cewek rewel, bawel, rese. Terlalu banyak nuntut macem-macem. Yang ada kehadirannya justru akan disesali.

Kedua, jangan minta keistimewaan karena kita perempuan. Mereka sudah tahu kita perempuan, punya beberapa kelemahan dibanding mereka. Dari sisi fisik misalnya, kita tak mampu melakkan hal-hal yang setara dengan cowok. Mereka sadar betul itu tanpa harus kita mengingatkannya. Otomatis teman-teman cowok kita akan memahami kondisi itu sehingga secara sukarela akan memberi keistimewaan. Namun bukan berarti kita menuntut terlalu banyak privilege hanya karena kita perempuan.

Ketiga, karena sadar bahwa kita memiliki kelemahan fisik dan emosi yang dominan, cobalah berusaha meminimalkannya. Maksudnya, ada banyak situasi dimana mau tak mau kita harus berusaha keras mengikuti alur mereka. Contoh paling anyar saya alami saat kami berjalan kaki putar-putar KL. Akan memuakkan kalau saya merengek-rengek kecapean. Mau tak mau saya harus memiliki fisik kuat agar dapat mengikuti irama aktivitas itu. Kalau saya sudah kelelahan dan tak kuat lagi, saya akan menyampaikannya baik-baik, bukan dengan cara merengek mirip bayi. Kaum Adam akan menghargai sikap itu.

Keempat, hindari perilaku yang mengundang pelecehan seks. Ada di tengah kelompok pria dengan memakai baju sexy? Itu sama saja dengan minta diperkosa! Pakai logikamu. Berada di satu gerombolan harimau, maka sebaiknya kita ikut berperilaku dan berpenampilan seperti harimau. Itu langkah paling aman. Kalau kau berpenampilan dengan kulit domba di tengah harimau-harimau ganas, sama saja kau minta dimangsa.

Itu saja kiat yang bisa saya bagikan pada teman-teman perempuan. Jangan pernah meng-underestimate diri sendiri hanya karena perbedaan gender. Tapi juga jangan menganggap dirimu istimewa di antara mereka. Seperti saya bilang, jadilah harimau di sarang harimau.

Wednesday, September 06, 2006

Cari yang Cantik dan Ganteng? Ya Indonesia!



Ngga GR, gue yang paling cute di sini! Hahaha! Suwer!

“Sejauh mata memandang, kok ngga ada yang cakep, sih?” Pertanyaan itu kuajukan ke Rully, teman jurnalisku senasib sepenanggungan di Kuala Lumpur. Kami tengah berbaur dalam kerumunan di ajang Micosoft Tech.Ed South East Asia (SEA) 2006 di KL Convention Center (KLCC).

Bukan mau sok, tapi ini fakta. Sejak kedatangan kami di ibukota negeri jiran ini, nyaris tak pernah aku bertemu wajah-wajah cantik dan ganteng. Justru lebih banyak wajah cantik dan ganteng di Indonesia. Suatu misteri yang akhirnya terpecahkan setelah kami berpapasan dengan serombongan anak sekolah.

Mereka anak-anak usia SD dibagi atas tiga kelompok. Satu kelompok terdiri atas yang bermata sipir, kulit kuning. Kelompok lain mata besar, kulit sawo matang. Kelompok lain adalah mata lebih besar dan kulit agak kelam. Ya, mereka adalah kelompok etnis Cina, Melayu dan India. Ternyata di sini, sejak kecil ketiga etnis tersebut sudah dipisah-pisahkan pergaulannya. Maka tak heran setelah dewasa maka pergaulan mereka juga dibatasi berdasar etnis.

Jadi ingat, seorang teman dulu pernah cerita pas dia kerja di KL jadi bingung mau gaul sama siapa. Dia Indonesa keturunan Cina. Di Jakarta sih gaulannya bebas. Tapi begitu di KL, dia bingung mau gaul sama kelompok etnis mana. Secara jiwa, dia cocok sama orang Melayu. Sayangnya orang Melayu di sana tak bisa dengan mudah menerima pertemanan dekat dengan orang berwajah Cina. Jadi temanku itu mencoba bergaul dengan kelompok Cina. Masalahnya, dia tak bisa bahasa Cina, dan secara selera dan gaya hidup, ia sama sekali “ngga nyambung” sama mereka. Yang ada temanku jadi bingung mau bergaul sama siapa. Ujung-ujungnya ia harus mencari sesame orang Indonesia di sana! Duh, susah amat ya hidup??!!!

Gaya hidup “rasialis” macam itu akhirnya yang menyebabkan warga KL tidak secantik dan seganteng warga Jakarta. Apa sebab? Yah, kalau gaul aja dibatasi secara etnis, bagaimana bisa terjadi kawin campur atau asimilasi seperti di Indonesia? Orang Cina akan kawin dengan sesame Cina. Melayu dengan Melayu. India dengan India. Tidak ada perpaduan. Hasilnya adalah keturunan yang berwajah “itu-itu aja”. Yang Cina yang super sipit. Yang India ya super hitam. Yang Melayu yang tetap saja standar.
Indonesia? Wow, cantik dan ganteng semua dong! Sebab kita adalah negara yang tak mengenal rasialisme! Kawin campur Jawa-Sunda-Ambon-Batak-Padang-Cina-Arab-Makassar dan sebagainya, SUDAH BIASA! Jadilah kita bangsa yang wajahnya gunteng-guanteng dan cuantik-cuantik! Banggalah jadi orang Indonesia!

Mau cuci mata cari yang ganteng? Ngga usah ke KL! Jakarta jawabannya!

Tuesday, August 29, 2006

Dunia Patriarki

Kalau seorang ayah berbuat “sedikit” saja kebaikan bagi keluarganya, maka seluruh dunia akan memujanya. Padahal setiap detik, miliaran ibu di dunia mengorbankan waktu, keringat, doa dan tenaganya bagi keluarganya tanpa pamrih sedikit pun. Tak ada pujian sama sekali.

Kalau seorang lelaki meninggalkan rapat demi anak yang sakit di rumah, seisi ruangan rapat akan terpesona. “Oh, dia sungguh ayah yang sayang anak.”
Giliran seorang ibu bekerja minta izin pulang cepat sebab anaknya demam, maka seisi kantor akan mengomel, “Dasar perempuan karir ngga becus ngatur waktu.”

Kalau seorang suami berselingkuh, maka orang akan berkomentar, “Pasti istrinya ngga becus ngelayanin suami. Wajar aja dia selingkuh. Namanya aja lelaki.”
Ketika seorang istri selingkuh, orang akan mencaci, “Dasar pelacur ngga tau diri, perempuan najis, amit-amit jabang bayi! Jangan sampe laki gue diembat dia! Perek!”

Kalau seorang cowok belum menikah di usia 35, sekitarnya akan berkata, “Pasti dia sibuk mikirin karir. Belum nemu cewek yang pas buat jadi istrinya. Hebat, pandangannya jauh ke depan.”
Tapi jika perempuan masih melajang di usia 30, orang berujar, “Wah, perawan tua kagak laku. Kasian amat. Pasti karena terlalu pemilih, sok sempurna. Apa dia dikutuk ya? Dosa apa dia?”


Oh dunia patriarkis!

Wednesday, August 23, 2006

"Who are You?" or "Who Are Your Parents?"

Apakah hanya orang-orang yang berasal dari keluarga terpandang saja yang bisa memiliki kepercayaan diri (PD) tinggi?

Pertanyaan itu menggantung di benakku cukup lama. Sejak tiga-empat tahun lalu barangkali. Suatu pagi di acara bertema lingkungan di Kafe Dedaunan, Kebun Raya Bogor. Salah satu tokohnya adalah putri seorang figur publik di bidang politik, Des Alwi. Saya lupa nama putrinya. Ia tampil begitu PD, berani berhadapan dengan siapa saja, akrab dengan siapa saja. Mungkin semua yang hadir di situ mengenalnya sebagai anak seorang tokoh terkenal yang berpengaruh di zamannya.

Mas Sapto, seorang teman jurnalis senior berujar padaku, “Kadang gue mikir, sebagai bukan anak siapa-siapa, gue suka minder. Sejak jadi jurnalis sering ketemu orang-orang gedean, pejabat, orang pinter. Padahal gue dari keluarga biasa aja.”

Jurnalis yang sudah cukup kawakan itu merasakan bagaimana mengobrol dengan Habibie, Akbar Tanjung, dan beragam tokoh top negeri ini. Ia mengaku hanya sok PD saja. Padahal kalau diingat-ingat bahwa ia dari keluarga biasa, timbul rasa minder.
Hal yang sama juga terjadi padaku. Bertemu orang-orang hebat adalah keuntungan menjadi jurnalis. Namun apakah kita dapat tampil PD saat berahdapan dengan mereka? Mengobrol? Bertukar pikiran? Harus. Harus dipaksakan!

Di kantorku juga sempat ada kerabat “bos” yang bekerja seatap dengan pamannya yang bos. Ya, dia sangat PD sekali dalam pergaulan. Berani seenak hati menghadapi siapa saja di kantor, entah itu kelas reporter sampai kelas manajer. Ceplas-ceplos bahasa Inggris demi pamer ia pernah kuliah di Amrik. Tiap acara kantor selalu jadi MC. Singkatnya, ia merasa kantor itu miliknya. Yah, kerabat bos gitu loh!

Mungkin kondisi yang sama berlaku bagi anak-anak para orang terkenal di negeri ini. Mereka merasa negeri ini “milik” orangtuanya. Jadi merasa PD banget untuk tampil dimana saja dan kapan saja, berhadapan dengan siapa saja. Toh semua orang tahu siapa dia, setidaknya siapa orangtuanya.

Bagaimana dengan kami, para anak dari keluarga biasa saja? Kepercayaan diri itu harus diempos ekstra kuat. Orang tidak akan langsung respek hanya karena mendengar nama dan melihat wajah kita. Sebab kita bukan siapa-siapa dan bukan anak siapa-siapa. Maka kita harus memiliki kelebihan khusus agar dapat diperhitungkan. Kepercayaan diri ekstra kuat yang dipaksakan. Dan itu tidak mudah. Sungguh.

Saya pernah hadir di satu acara dimana pengunjungnya rata-rata orang hebat semua. Pejabat, penulis terkenal, ilmuwan, selebriti. Mungkin hanya saya dan sebagian kecil orang saja yang bukan siapa-siapa. Thanks God, obrolan saya dengan para orang hebat tadi masih bisa nyambung. Walau dengan PD yang dipaksakan. PD yang dikeluarkan dengan ekstra tenaga dan mental baja.

Kalau sudah begini, saya jadi berpikir. Saya harus menjadi “sesuatu” agar kelak anak saya punya PD alami yang tak perlu dipaksakan. Saya harus menjadi seseorang yang minimal diakui keberadaannya. Agar anak saya kelak punya kepercayaan diri tinggi untuk tampil berhadapan dengan orang-orang hebat. Tidak perlu setenar Habibie atau Akbar Tanjung atau Soeharto. Cukup menjadi diri saya sendiri.

Tapi yang lebih penting, kelak anak saya harus bangga pada dirinya sendiri, bukan karena dia anak saya. Kita harus mempertanyakan "siapa kamu dan apa yang kamu bisa", bukan "siapa ortu kamu?".

Friday, August 18, 2006

LIMITED EDITION: True Love


True love is a limited edition. Only the lucky few man and woman who found it.
Kalimat itu mencelos dari lubuk hati, sepekan silam. Ketika seorang teman yang jauh lebih tua, dan sudah kuanggap ayah sendiri, berkisah tentang love story-nya. Tahun 1972, ia mengejar seorang gadis cantik, idaman banyak lelaki, terkenal, atlit dan penyanyi. Hari ini, gadis itu menjadi ibu dari tiga anak dan dua cucunya.

What a great love story!

Seorang teman lain, berkisah bahwa suaminya sekarang adalah pacar pertamanya di semester pertama, sekaligus juga first love-nya. Ia sendiri juga pacar pertama dan cinta pertama sang kekasih. Reiny dan Aryo. Hari ini sudah menimang bayi mungil.

Another great love story.

Sayangnya, kisah-kisah mengagumkan seperti itu tidak banyak ditemui di sekitar kita. Jauh lebih banyak kisah cinta berakhir tragis, pahit, pilu, mengenaskan bahkan berakhir dengan kematian dan dendam.

Maka jangan salah kalau saya nyatakan: true love is limited edition!

Sudahkah anda mendapatkannya?

Wednesday, August 16, 2006

The Real Power Puff Girls



Attention! Trio Power Puff Girls, Ajeng, Merry dan Eno sekarang sudah ngga jomblo lagi. Mereka punya pacar baru: Macbook, Acer dan Compaq. Kalau malam minggu sudah ngga lonely lagi..


Itu SMS yang kukirim ke beberapa teman sejak kami bertiga sudah mendapatkan komputer jinjing idaman. (PS:Kami penulis, jadi memilk computer jinjing alias notebook adalah impian utama di atas segalanya. Agar bisa menulis dimana saja, kapan saja).

Balasan dari SMS tadi pun tidak kalah lucu. Salah satunya : Merdi juga udah ngga jomblo lagi. Udah pacaran sama Adidas dan Nike. Itu berasal dari sobat kami Merdi yang jurnalis olah raga.

Ya, kami adalah The Power Puff Girls. Tiga sobat cewek dari tiga media berbeda. Kenal di liputan, lalu keterusan jadi lengket sebab sama-sama jomblo. Sama-sama agak trauma sama yang namanya cowok. Sama-sama hobi makan, nonton dan nulis.


Tadinya mau menamakan diri sebagai Charlie’s Angels. Tapi behubung karakter The Power Puff Girls lebih imut dan sesuai dengan sifat kami yang sering kekanakan, maka kami memilih alternative kedua itu.

Dua tahun lalu, Ajeng, Eno dan saya merintis sebuah milis unik dan keren, Technomedia .Dulu membernya terbatas pada jurnalis Teknologi Informasi (TI)cewek-cewek yang kebetulan agak gaptek. Milis ini sengaja dibuat agar kami bias berkonsultasi gratis dengan seorang pakar TI yang lucu dan baik hati, I Made Wiryana, dosen Gunadarma, pakar Open Source yang sedang mengambil S3 di Bielefeld University, Jerman. Kelamaan membernya bertambah, para jurnalis cowok. Tak lama Kang Onno W Purbo juga gabung. Technomedia jadi ramai, penuh tawa, canda, juga saling berbagi informasi menarik seputar TI.

Kelamaan member membengkak. Ternyata gaung milis ini cukup seru di komunitas dunia maya. Kami terpaksa menolak calon-calon member yang tidak jelas asal muasalnya. Sampai milis kami dituduh ekslusif, menutup diri dan sebagainya. Habis bagaimana, kami ingin Technomedia berbeda dengan milis TI lain. Di sini jurnalis lebih diutamakan sebab memang para foundernya adalah jurnalis.

Dan milis pun kian ramai dari hari ke hari. Ada Mas Roy Suryo yang memancing kontroversi saat baru bergabung. Belum lagi perdebatan seru ketika ada kasus hacker KPU, kasus penyelewengan dana TI KPU, dan banyak lagi. Semua isu heboh dibahas di sini langsung oleh para pihak yang terlibat.

Sampai akhirnya sejak Mei kemarin milis kami mendapat member antik, Menristek Kusmayanto Kadiman. Hahaha! Yang ini ceritanya juga seru. Lewat SMS saya iseng menawarinya untuk gabung di milis. Eh, ternyata Pak Mentri yang akrab dipanggil KK ini langsung mau gabung. Beda dengan mentri lain yang gaptek, KK rajin posting di milis. Postingannya juga kadang lucu-lucu.

Ribetnya, Technomedia jadi tambah popular berkat promosi KK. Sejumlah vendor TI pun ingin bergabung. Kami terpaksa membatasinya sebab sesuai kesepakatan awal, milis ini tertutup bagi vendor dan PR. Sorry!

Oya, kami juga sudah beberapa kali mengadakan gathering kecil-kecilan. Kalau gathering akbar baru sekali, sekitar Mei tahun lalu. Sukses berat, sebab nyaris semua selebriti TI hadir. Mulai dari pakar-pakar TI, komunitas ISP, hacker, blogger, juga pihak yang saling berseteru.

Tahun ini kami sedang berencana untuk bikin gathering akbar. Kalau gathering kecil-kecilan sudah pernah beberapa kali dilakukan dalam bentuk diskusi bersama KK, sampai yang santai, berkaraoke di Sky Light Café-nya. Mungkin buka puasa bersama di rumah KK? Hehehe. Itu baru rencana.

Ya, kami bertiga bangga sekali dengan milis ini. Siapa sangka ide yang muncul dari ketawa-ketiwi perjalanan Jakarta-Bandung para Power Puff Girls ini bisa jadi seramai sekarang? Stt, sampai hari ini kami masih terus menolak calon member lho. Ohya, sekarang kami dibantu Wandi dan Iwan, dua anggota ModSquad yang ikut menyeleksi member baru. Dulu Merdi sempat jadi Mod juga, tapi tidak lagi karena sudah pindah ke desk oleh raga.

Itu saja sekilas kisah sepak terjang The Power Puff Girls versi Indonesia: Ajeng Bubble , Merry Blossom dan Eno Buttercup dengan Technomedia-nya. So, jangan pernah meremehkan kekuatan cewek-cewek. Ketawa-ketiwi iseng para cewek kadang mampu mengubah dunia lho. Hahaha! Bravo!