Monday, January 23, 2006

Jangan Salahkan "Pengaruh Barat"!!!

Belakangan isu pornoaksi dan pornografi kembali marak. Berkaitan dengan RUU porno-pornoan yang sedang digodok di DPR. Ini juga membahas soal terbitnya majalah Playboy Indonesia yang kabarnya akan memajang pose bugil seperti Playboy luar sana. Ya jelas harus bugil, itu kan sudah trade merk majalah itu. Kalau pakai kebaya nanti disangka majalah sinden.

Yang lucu, isu pornografi selalu berujung pada masalah moral bangsa. Ikut kontes Miss World dianggap tidak mencerminkan moral bangsa karena ada adegan tampil dengan bikini. Memajang pose bugil adalah merusak moral bangsa. Ada lagi komentar tokoh sok alim, “Itu pengaruh budaya barat yang merusak nilai timur.”

Pengaruh barat?? Saya jadi bertanya. Tradisi tayuban dimana penari bisa pamer payudara setengah melalui kemben yang melorot dan bebas dicoleki lelaki itu pengaruh baratkah? Budaya selir, istri simpanan, piaraan, kawin kontrak di banyak daerah pelosok Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun sejak jaman Gajah Mada, pengaruh baratkah?

Memakai kemben yang mempertontonkan setengah buah dada, tradisi mandi bareng cewek-cowok di pedalaman Bali, bahkan tradisi bugil saudara kita di Papua. Pengaruh baratkah?

Saya berpikir. Kalau mencermati budaya, maka budaya paling maju dan beradab justru budaya barat. Ingat, di era 1800-an, di saat bangsa kita masih bertelanjang dada dengan payudara kemana-mana, orang di benua Eropa para perempuannya sudah pakai gaun panjang ala Cinderella yang menyapu tanah. Bagian atasnya pun kerah rapat.

Lucu kalau menyalahkan pengaruh barat. Apa para pejabat, tokoh alim ulama dan kaum cerdik cendekia negeri ini tidak berkaca diri. Kawin mawin, peselingkuhan, pergumulan seks sok alim dengan dalih kawin siri, dianggap biasa. Eh giliran foto bugil malah dianggap merusak moral bangsa.

Kesimpulannya adalah: praktek seks munafik lebih dihalalkan di negeri ini ketimbang sekadar berfoto bugil. Luarrrrr biasssaaa!!!
Mestinya mereka para tokoh negeri ini memajang spanduk besar bertuliskan: "Ayo rame-rame menganut seks bebas dengan wajah sok alim!"

Friday, January 20, 2006

Confessions of A Bloody Playboy



Kenapa seseorang bisa dijuluki playboy atau playgirl? Karena mereka identik dengan perilaku gonta ganti pasangan. Lalu apa salahnya dengan gonta ganti pasangan? Bukankah hidup memang mencari yang terbaik?

Pagi ini secara tidak sengaja saya mendapatkan pengakuan dari seorang lelaki yang populer sebagai playboy. Dia bukan "playboy" pertama yang saya kenal. Sudah ke-10 atau entah ke-20, mengingat sejak sekolah teman saya mayoritas adalah cowok. Prestasinya pun masih biasa saja, sebab masih banyak playboy lain dengan jam terbang jauh lebih tinggi.

Ternyata nyaris sama dengan playboy lain, si teman ini menyimpan satu misteri. Kenapa ia jadi playboy? Sebab ia punya satu obsesi yang belum jua terwujudkan, yakni menggapai hati si perempuan pujaan. Jadi kisahnya, ada satu perempuan yang membuatnya luluh lantak berdarah-darah sampai hari ini sejak lebih dari 10 tahun lampau. Karena tak berhasil menggapai hatinya, maka ia pun mencetak aneka petualangan dengan banyak perempuan. Tujuannya? Berusaha melupakan si pujaan hati itu.

Tapi tak satupun perempuan yang digandengnya bisa membuat sang playboy bertekuk lutut. Dan cinta terpendam pada sang pujaan hati kian membara saja.
"Mungkin dia males liat kelakuan playboy elu," kataku.
"Iya, tapi kan dia semestinya melihat gue dari dua sisi berbeda," ujar si playboy.

Sisi berbeda? Apakah seorang perempuan untuk menilai lelaki harus menggunakan indera ke-6? Apakah ada sisi lain dari seorang lelaki playboy? Kegombalannya? Kenarsisannya?
Tapi asli, sebagai teman saya selalu bisa menilai lelaki dari banyak sisi. Beda dengan terhadap seseorang yang kita suka atau cintai. Hanya ada satu sisi dari dirinya, yaitu yang tampak dan yang ingin kita lihat darinya.

Kalau saya ada di posisi satu dari korban ke-playboy-an teman tadi, tentu saja akan membencinya. Menyumpahinya. Mengutuki setengah mati. Tapi untung tidak. Saya adalah temannya, maka saya bisa menilai secara arif.

Bagaimana kalau posisi saya ada pada si perempuan pujaan yang dicintainya selama 10 tahun lebih? Mungkin saya akan muak. Atau mungkin sebenarnya saya cinta juga sama playboy ini. Hanya terlalu gengsi atau jaga image untuk mengakuinya. Jadi lebih baik cari cowok lain saja dengan "curriculum vitae" yang lebih meyakinkan.

Mungkin...mungkin....

Thursday, January 19, 2006

Kenapa Lebih Banyak Politisi Cowok Daripada Cewek?

Ternyata bukan hanya saya. Tapi teman-teman, sahabat, saudara, kenalan, teman dari teman saya, saudaranya teman, temannya saudara, juga mengalami. Bahkan seorang teman chating yang baru kukenal juga mengalami. Kita semua para perempuan memang punya banyak kesamaan dalam hal satu ini.

Apakah itu???

Dikecewakan mahluk-mahluk lelaki kalau terlibat dalam suatu janji. Bukan janji sehidup semati atau apa. Hanya janji sepele untuk makan bareng, nonton bareng atau sekedar cari buku bareng. Mereka ini bukan saja pacar atau kekasih atau selingkuhan , tapi sekedar teman saja.

Pengalaman yang berulangkali terjadi ini sederhana memang. Jadi kita berjanji untuk makan siang bareng misalnya. Saya sudah stand by di tempat pertemuan. Menunggu dengan sabar. Satu menit, dua , tiga empat menit...setengah jam...si cowok tak kunjung muncul. Saya SMS, tak dibalas. Pas ditelepon, jawaban di sana "Hah??? Janjian sama elu??? Kok, gue lupa ya?? Hari ini ya?? Bukan besok???" Begitu suara cowok idiot di seberang sana.

Lalu satu jam kemudian dia pun muncul. Dan satu kata yang saya tunggu keluar dari mulutnya tak kunjung keluar. Apa itu??? Kata MAAF.
Para cowok ini walau salah, sangat gengsi untuk mengucap kata maaf.

Saya kira kejadian sial yang menimpa bertahun-tahun silam itu takkan terulang. Tapi tidak. Pada cowok yang berbeda, peristiwa itu berulang lagi dengan berbagai versi berbeda.

Saya kira hanya saya seorang yang mengalaminya. Oh, tidak. Hampir semua teman perempuan mengalaminya juga. Sepertinya semua kaum Hawa di muka bumi juga bernasib serupa. Tidak percaya? Tanya saja teman perempuan anda. Apa pernah kecewa karena janji gombal cowok?? Jawabnya pasti pernah. Apa pernah ada cowok yang super gengsi minta maaf walau sudah salah. Pasti jawabnya YA.

Ada apa ya dengan kaum Adam sedunia? Memori otak yang sangat terbatas? Tingkat intelejensia yang begitu rendah?? Atau moral dan etika yang sangat minim?? Please, tell me!!!
Sekarang saya tahu kenapa politisi cowok lebih banyak ketimbang cewek. Sebab cowok lebih pintar umbar janji lalu melupakannya.

Ini petikan chat saya dengan seorang teman. Tentang gombalnya cowok.

platypus_aora: soal kebiasaan cowok yg hobi lupa ama janji
platypus_aora: eh lu sering ngalamin ngga seh
platypus_aora: janjian ama temen cowok, eh dia lupa
just_lucee: ngalamin apa?
platypus_aora: pdhal kita udah stand by
platypus_aora: gw sering banget
platypus_aora: temen2 gw yg cewek juga
just_lucee: sering...
platypus_aora: kata mereka, cowok itu kayak menderita serangan lupa mendadak
platypus_aora: alias pikun alias bego
platypus_aora: jadi kalo janjian
platypus_aora: kita ngga ngingetin
platypus_aora: pasti mereka lupa
platypus_aora: jadi suka ngga nepatin ato telat parah abis2an
platypus_aora: n yg nyakitin, sukagengsi minta maaf
just_lucee: tapi sekarang kalo gw janjian ma cowo... ga akan gw peduliin kalo dia ga ngingetin... biarpun gw inget gw ga akan ngingetin mreka
just_lucee: makanya... sekarang kita balik aja
platypus_aora: ngga semua cowok seh
platypus_aora: ada juga beberapa yg on time
platypus_aora: banyak cowok yg gengsi minta maap ya
platypus_aora: gw paling seneng maksa mereka minta maap
platypus_aora: kalo akhirnya kluar kata maap, rasanya puasssss
platypus_aora: hehehe
just_lucee: sama!
platypus_aora:
just_lucee: tapi sekarang, kalo ke cowo gw seneng bersikap kaya mreka rata rata!
platypus_aora: emang kudu gitu
just_lucee: kalo janjian kudu mreka yang ngingetin...
platypus_aora: masalahnya mereka jangankan mau ngingetin, inget aja kagak
platypus_aora: memori otaknya minim banget
platypus_aora: kayak HP zaman doeloe
just_lucee: kalo janjian ma cowo.. kita kudu punya plan b, c, d, e etc
just_lucee: hehehe
platypus_aora: memorinya cuma bisa nyimpen 50 phone book
platypus_aora: ember
platypus_aora: jadi kalo janjian ama co, kudu bikin janji serep
platypus_aora: kalo perlu janjian ama 10 cowok sekaligus
platypus_aora: 5 idiot, masih ada 5 lainnya

Monday, January 16, 2006

Ya, Saya Sangat Bahagia




Am I happy???
Seorang teman dalam blognya mengatakan, "Life is too short to be sad."
Seorang teman lain mengatakan padaku, "Kebahagiaan itu tidak tergantung orang lain."
Ia bahkan menolak alasan bahwa aku bahagia karena Libby-ku.
Dan kutemukan di sebuah majalah bahwa, "Bahagia adalah ingin berada dimana kini kita berada."

For all that reason, I decide: "Yes I am trully happy."
I love my life just the way it is...with or without couple
Saya masih punya begitu banyak sahabat baik
Minimal ketika dalam kesulitan, cukup kirim SMS dan mereka siap membantu
Jam 12 malam saat Libby demam, saya meng-SMS teman dan minta support
"Kompres pakai air dingin, Mer. Pagi-pagi langsung ke dokter."
"Jangan lupa periksa darah, musim DBD lho.."
dan aneka pesan baik lainnya.

Saat PC ngadat karena petir, belasan SMS pun masuk memberi petunjuk.
Tidak sedikit yang menawarkan bantuan servis gratis.
Ada yang siap datang ke rumah kapan saja dibutuhkan...

Saat Libby harus operasi usus buntu, bahkan teman di Jerman nun jauh di sana menyempatkan menelepon, menanyakan kabar Libby.
Teman lain di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, tak kalah sibuk menelepon dan SMS
Semua mendoakan malaikat kecilku...
Tentu saja yang menemani proses operasi pun bahkan sahabat dan ibunya yang jauh-jauh datang dari Bogor.

Ketika BT karena kerja menumpuk dan aneka masalah ada, selalu ada teman yang berkirim SMS lucu. Sangat menghibur. Kita bisa curhat 24 jam penuh walau hanya via telpon.
Untuk bersua pun bisa kita atur janji lalu curhat sepuasnya sampai muntah...
Dan jangan lupa pesona Libby Si Tomat Kacil Manisku. Dengan gaya celotehnya, sungguh menghibur tiap detik hidupku.

Dengan begitu banyak teman baik
Tomat kecil manisku
Anugerah hidup sehat
Rahmat atas kemampuan hidup mandiri
Juga rejeki yang tiada habisnya dari MY GOD
Alangkah berdosanya jika aku mengaku tidak bahagia
Alangkah tidak tahu dirinya aku

Dan apakah atas semua kebahagiaan itu, aku masih butuh pasangan hidup lelaki???
Thanks berat deh, itu nomor ke sejuta sekian saja.
Sorry ya para lelaki, untuk saat ini saya hanya butuh kalian sebagai teman dan sahabat. Tidak lebih.

Sunday, January 15, 2006

Jangan Merendahkan Kekuatan Cewek








Lagi BT eh nemu kartun kocak nan gila ini...lumayan buat hiburan.

sumber: http://www.mistletoebeltbuckle.com/images/t-powerwoman-big.gif

I Will Survive!!!

Whoa...seminggu ini Asisten Rumah Tangga (ART) mudik. Jatah cuti saya baru aja diambil dua minggu lalu. Karena tidak enak hati, tentu saja ngga ambil cuti lagi. Terbayang kan betapa ribetnya bekerja sambil tetap antar jemput anak sekolah. Nulis artikel, nulis buku, cari data, riset, sambil tetap mencuci, memasak, cuci piring, menyapu, mengepel, bersih-bersih.

Itu secara fisik saja. Dari sisi psikis harus survive dengan ide-ide tulisan yang tidak boleh habis stok, menghadapi anak yang rewel minta Barbie, komik baru atau minta jajan junk food alias makanan sampah. Atau keluhan anak yang habis berantem dengan teman sekelas, nilai ulangan pas-pasan, semangat belajar nol, et cetera et cetera. Belum lagi masalah kerjaan dan personal.

Dan penderitaan pun lengkap sudah dengan PC rumah yang ngadat ngga mau nyala. Prediksi terkuat adalah disebabkan amukan petir yang luar biasa dua hari lalu. Apa semua data akan lost? Harus beli HDD dan motherboard baru????

God, please makes me strong to survive with all these chalenges..

I will survive
As long as I know how to love I know I'll be alive
I've got all my life to live
I've got all my love to give
I will survive
I will survive
Yeah, yeah


(I will Survive, Gloria Gaynor)

Saya pun menyapu sembari menunggu air mendidih sambil menyeandungkan lagu di atas...

Thursday, January 12, 2006

Dearset Libby My Sweety Angel...

Malaikat kacilku
Tomat manisku
Maafkan mama harus sering meninggalkan kamu pergi demi cari uang
Sebab "papa"-mu bukan lelaki, tapi cuma banci kaleng yang habis ngecret bikin kamu terus enak-enakan cari perempuan lagi...

Malaikat kecilku,
maaf kalau mama males cari "papa" baru
sebab takut kamu diperkosa oleh ayah tiri
bukankah lelaki cuma mikirin selangkangan??




Denger berita 2 anak dibakar ortunya, satu sampe mati...
Baca berita ada anak perempuan disodomi pamannya dan dibunuh ibu tirinya...
Nonton di tivi, anak perempuan diperkosa ayah kandungnya sampai hamil...
Ada lagi anak perempuan kakinya disetrika bapaknya...
Anak perempuan dibunuh di hotel...
Anak perempuan diperkosa ayah tiri berkali-kali..

Go To HELL manusia macam itu semua!!! Bahkan neraka pun masih terlalu indah bagi kalian!!!

Are U The Lucky One?




*Perempuan super duper beruntung di dunia ini adalah yang mampu berbahagia tanpa harus punya pasangan.*

*Yang beruntung adalah yang punya pasangan cowok ganteng, pinter dan kaya.*

*Yang sedikit beruntung adalah yang dapat pasangan cowok ganteng dan kaya tapi bego.*

*Yang agak beruntung adalah yang cowoknya ganteng, pinter tapi miskin.*

*Yang biasa aja adalah yang cowoknya jelek,bego tapi kaya.*

*Yang rada sial adalah yang cowoknya jelek, miskin tapi pinter*

*Yang sial, apes, mendingan mampus aja, adalah yang cowoknya udah jelek, miskin bego lagi.* (Tenggelemin aja di kali penuh limbah beracun dah cowok kayak gitu atau jejelin borax dan formalin campur bakso tikus!)

Tergolong yang manakah anda? Saya jelas yang nomor 1! Super duper beruntung!

Tuesday, January 10, 2006

Stop Jadi Manusia Pengeroyok


Ini sudah terjadi berkali-kali. Hanya baru sekarang saja saya punya kepedulian untuk menulis. Tiap jam makan siang, saya ditanya teman, “Sudah makan?” Kebetulan saya setelah liputan sempat mampir di sebuah gerai restoran waralaba. Jadi saya jawab sudah. “Dimana? Sama siapa?” Saya sebutkan nama restoran itu sambil menjawab bahwa saya makan sendiri.

“Ih, apa enaknya sih makan sendirian? Ngga iseng? Ngga takut digodain cowok?” Teman tadi gusar. Komentar serupa sudah sering saya dapat kalau memang kebetulan saya habis makan sendirian. Dan selalu saja pemberi komentar itu teman perempuan, entah itu teman sekerja, teman (dulu) kost, teman (dulu) kuliah atau teman gaul.

Atau misalnya jam makan tiba, para teman ini sibuk mencari “teman” untuk makan. Bukan hanya makan, aktivitas lain pun seolah diwajibkan untuk dilakukan bersama-sama. “Temenin gue beli buku yuk, temenin gue ke salon yuk, temenin gue nonton,” dan sejenisnya. Kalau saya jawab, “Sana aja sendiri, emang kenapa sih?” Maka jawabannya hamper seragam,” Nggak enak sendirian. Iseng.”

Bahkan ketika saya melakukan beragam aktivitas seorang diri, maka saya akan dikritik. “Seneng amat sih jalan-jalan sendirian. Nggak punya temen?” Atau dikomentari cowok usil, “Sendirian aja Neng? Mau abang temenin?”

Semua sikap untuk selalu melakukan kegiatan bersama-sama itu justru tidak masuk logika saya. Aneh. Gila. Di zaman serba sibuk, di masa dimana setiap manusia punya tuntutan untuk mencari pendapatan ekstra, pencarian arti diri dan kerja lebih keras, serta lalu lintas sedemikian macet hingga menyulitkan kita untuk bertemu dengan sahabat karib, sudah selayaknya kita menjadi manusia mandiri. Bukan indvidual, tapi mandiri.
Anehnya, sikap mandiri ini diidentikan dengan tidak mau bergaul.

Come on guys, bergaul itu ada masanya. Saya sudah puas bergaul di masa sekolah dan kuliah dulu. Sampai studi berantakan akibat begadang melulu tiap malam demi bergaul. Saya juga punya jadwal khusus untuk bergaul, hang out dengan teman-teman gila-gilaan. Tapi apakah itu berarti setiap aktivitas harus dilakukan bersama-sama? Apa salahnya duduk di kafe sendirian menikmati secangkir kopi nikmat? Takut diganggung cowok? Ganggu aja lagi. Apa salahnya jalan-jalan ke mall sendirian? Bahkan dulu selagi kuliah saya sering hiking sendirian dan justru mendapat kenalan baru.

Ayolah cewek-cewek sekalian, jangan puas diri menjadi manusia keroyokan. Nengok teman sakit rame-rame. Nonton harus rame-rame. Ada saatnya kita melakukan aktivitas bersama-sama, tapi itu sangat in case. Banggalah menjadi manusia mandiri. Nikmati kesendirianmu. Ada kalanya kesendirian itu sangat berharga.

Sunday, January 08, 2006

Green Day, Makes My Day So Green


Sudah dua week end ini MTV Indonesia menayangkan konser Green Day. Yang sialnya, saya selalu telat nonton. Jadi tidak sempat menyimak itu konser dimana dan kapan. Jelasnya sih, promo album American Idiot.

Pertama kenal Green Day adalah 1994 dari video klip "When I am Come Around". Billie Joe Armstrong di situ masih imut sekali. Belum pakai eyeliner. Lalu tambah kesengsem setelah melihat klip "Basket Case" yang setingnya rumah sakit jiwa. Billie memang gila kalau nyanyi,pakai ekspresi psikopat nggak keruan.

Saya sempat memprediksikan group ini tak beda dengan kebanyakan kelompok musik alternatif lain pada masanya. Sekedar bikin kehebohan, musik sok nge-punk, takkan bertahan lama. Ternyata tidak. 2005 kemarin ketiga lelaki asal Oakland ini sukses menyabet Grammy Award dan MTV Music Award.

Billi, Mike dan Tre, tiga personil Green Day memang tak lagi tergolong musisi ABG. Usia mereka yang sudah di atas 30 tahun membuat mereka masuk kategori musisi dewasa. Seiring dengan kedewasaan usia, lirik musik mereka pun ikut terbawa. Album "American Idiot" sendiri menegaskan sikap politik mereka atas kebenciannya pada pemerintahan George W. Bush terhadap invasi ke Irak.
Simak saja betapa beraninya Billie bernyanyi:

Don't wanna be an American idiot.
Don't want a nation under the new mania.
And can you hear the sound of hysteria?
The subliminal mind fuck America.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alienation.
Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.

Well maybe I'm the faggot America.
I'm not a part of a redneck agenda.
Now everybody do the propaganda.
And sing along in the age of paranoia.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alienation.
Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.

Don't wanna be an American idiot.
One nation controlled by the media.
Information age of hysteria.
It's calling out to idiot America.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alienation.
Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.

Kalau di Indonesia ada yang bikin lirik sejenis itu dengan judul Indonesian Idiot,dicekal nggak ya? Keberanian macam inilah yang tak dimiliki musisi kita.
Simak juga lirik sedih mereka dalam "Wake Me Up When September Ends" yang bikin saya mau nangis kalau melihat video klipnya.

Oh Green Day, walau kalian dan saya tak lagi hijau, kalian sungguh selalu membuat saya merasa hijau alias muda. Yeah, Green Day Always Makes Me Green!

Friday, January 06, 2006

I-N-T-E-R-M-E-Z-Z-O P-E-N-U-L-I-S

Waduh, ngga disangka ya entry-entry blog saya mendapat komentar rame. Herannya, entry yang disambut dengan komentar seru adalah yang memojokan lelaki. Sedangkan entry yang "bersahabat" dengan lelaki malah cenderung sepi komentar.

Ini mengingatkan saya pada mitos jurnalistik yang berbunyi: "bad news is a good news". Jadi apa saya harus menulis hal-hal negatif terus supaya dapat komentar rame? Hihihi. Kata temen sih, "Iya Mer, lu kudu nulis yang ancur-ancuran biar yang baca rame. Sebab kalo nulis yang datar aja, kagak seru."

Pantes ya koran Lampu Merah dan Pos Kota yang kata Ruri "Kalo diperes itu koran yang tersisa cuma darah dan sperma." laku bak kacang goreng. Juga buku esek-esek model Jakarta Undercover-nya Moamar Emka selalu jadi besteller.

Saya jadi bertanya-tanya, apa iya pembaca kita sudah sedemikian parahnya? Hanya mencari kehebohan dan kontroversial belaka? Okay deh, ngga mau pusing soal itu. Saya cuma mau mengklarifikasi berbagai komentar yang masuk di entry-entry blog ini. Thanks berat sudah mau capek-capek berkomentar dan membaca blog saya.

Pertama, blog ini saya buat sekadar mengisi waktu luang di tengah kesibukan saya sebagai jurnalis. Awalnya bukan blog, melainkan kumpulan tulisan di PC rumah. Saya memperlihatkannya pada teman. Katanya bagus dan kenapa ngga dipublikasikan. Jadi ya saya iseng aja bikin blog ini. Eh, keterusan di-update terus.

Kedua, kenapa isinya melulu soal cewek-cowok? Sebab tulisan ini saya buat untuk kompensasi aja. Curhat, curahan kejahatan. Jadi pikiran jahat yang nggak mungkin terealisasi di dunia nyata, saya curahkan ke sini semua. Hehehe.

Ketiga, apa saya benci lelaki? Buat yang kenal saya tentu akan heran. Sebab mayoritas teman saya sejak zaman sekolah dulu adalah lelaki. Saya baru punya teman baik perempuan sejak bekerja saja. Yang saya kritik bukan semua lelaki, melainkan sebagian lelaki yang masuk kategori tidak menyenangkan. Jadi kalau ada lelaki baik yang membaca blog ini ya nggak perlu tersinggung lah. Ibaratnya saya bilang : monyet itu jelek. Kalau anda bukan monyet ya jangan marah. Biar monyetnya yang baca aja yang merasa tersindir. Dan semoga memperbaiki wajahnya dengan operasi plastik. Wakakakak!

Keempat, tidak semua entry saya diangkat dari kisah nyata walau sebagian memang ada. Banyak juga yang cuma fantasi. Yang terakhir, Sexyna Comedia malah cuma olok-olok iseng. Jadi ya nggak usah diambil hati. Anggap saja sebagai hiburan.

Kelima, apa benar tulisan saya mencerminkan siapa saya? Ah belum tentu. Apakah Nawal el Saadawi yang buku-bukunya begitu "kejam" terhadap lelaki adalah pembenci lelaki? Tidak. Dia punya suami yang sangat mencintainya. Apa iya Agatha Christie adalah detektif karena semua bukunya adalah buku detektif? Tidak juga kan?

Keenam, apakah saya menyiksa diri? Kan sudah dibilang, blog ini hanya pengisi waktu senggang. Masak mengisi waktu sengang dengan menyiksa diri? Duh, saya bukan penganut sado masokis deh. Menulis adalah salah satu hobi saya selain membaca, makan, nonton, denger musik, dan jalan-jalan. Yang saya masukan kategori menyiksa diri adalah bengong tanpa berbuat apapun. Hehehe. Sebab saya memang orangnya ngga bisa diam.

Ketujuh, tulisan ini semuanya subyektif? Ya namanya juga blog. Apa bedanya dengan buku harian? Masak harus wawancara sama para pakar untuk nulis blog? Saya jurnalis, jadi sudah bosan wawancara melulu sama menteri, pakar IT, pakar sains, orang LSM, pakar politik dan banyak lagi. Biarlah di blog ini saya bebas mencurahkan semua unek-unek baik yang positif maupun negatif. Kalau mau baca tulisan saya yang obyektif, beli saja harian Sinar Harapan. Di halaman Iptek, Lingkungan dan IT ada tulisan saya yang sangat jauh dari subyektif. Atau klik saja panel "My Features" di bagian "link" blog ini. Itu ada kumpulan tulisan saya di media massa.


Nah, temans semua, sudah jelas kan? Silakan lanjut membaca dan berkomentar. Tanpa perlu menuduh saya penyiksa diri, pembenci lelaki, dan macem-macem yang aneh. Saya masih normal. Mana mungkin saya membenci lelaki kalau faktanya saya masih nge-fans sama Eminem dan Bono U2???
Ciao!

Thursday, January 05, 2006

Sexyna Comedia*



*Plesetan dari Divina Comedia-nya Dante Aligieri, penulis Italia.


POLIGAMI

*Saya sangat setuju dengan poligami, selama poliandri juga disyahkan oleh agama dan negara. So...kapan nih poligami dan poliandri bisa sama-sama ngetrend???*


PERNIKAHAN

*Desakan untuk cepat menikah oleh mereka yang sudah menikah dilakukan dengan motivasi utama: mencari teman sependeritaan.*
*Jika desakan itu dilakukan oleh mereka yang belum menikah, maka modus operandinya adalah untuk mengurangi saingan mencari TTM.*


GAY dan LESBI
*Mari kita hargai para gay dan lesbi, sebab mereka sangat bermanfaat dalam pengurangan kepadatan populasi dunia. Bisa dibayangkan kalau sedunia ini isinya kaum heteroseksual semua, maka jumlah penduduk bisa dua kali lipat dari sekarang!!!*

LELAKI
*Benar kata Lucee, bahwa bagian tubuh lelaki yang penting itu hanya spermanya saja. Mari kita suruh mereka ke bank sperma, lalu hidangkan makanan lezat mengandung racun pada mereka. Setelah kaum lelaki tiada, maka bumi damai sentosa. Bebas dari kasus perkosaan.*


LABA-LABA

*Alangkah indahnya jika perempuan sedunia punya kemampuan seperti laba-laba jenis black widdow. Mereka langsung membunuh suaminya setelah berhubungan intim. Lalu cari suami lain. Ini untuk mengimbangi begitu banyak kasus dimana para lelaki kerap tega menghabisi istrinya setelah making love.*

Sunday, January 01, 2006

Revolusi Seksual 2006

Berikut pemikiran-pemikiran yang harus direvolusi pada setiap kepala perempuan pada 2006 ini. Didasari atas refleksi 2005.

1.Belahan jiwa alias soulmate tidak perlu dicari. Jiwa kita adalah milik kita seutuhnya. Jadi hentikan buang waktu menunggu prince charming yang diyakini sebagai belahan jiwamu. Our state of mind and soul is absolutely OURS!!!

2.Hapus pemikiran bahwa lelaki buruk rupa, miskin atau bodoh bisa menjadi lelaki setia, jujur dan sehidup semati. Ingat teori “Membeli Anjing”. Maka jangan percayai pasanganmu yang buruk rupa, miskin dan bodoh. Mereka tetap berpotensi selingkuh atau meninggalkan dirimu.

3.Setiap perempuan adalah Superwoman. Jangan mengandalkan lelaki untuk mengambil keputusan apapun dalam hidup. Kita mampu memilih yang terbaik bagi diri kita. Hentikan ketergantungan terhadap lawan jenis.

4.Kebahagiaan itu diciptakan, bukan dicari. Stop melalangbuana tak tentu arah mencari kebahagiaan. Kebahagiaan juga tidak tergantung oleh siapapun, tapi diri sendiri.

5.Jika tak ingin mengalami pelecehan seksual, jangan sesekali membuat dirimu terkesan gampangan. Bahkan demi kebaikan kaummu, jangan bersikap demikian. Perempuan centil, genit dan berbaju sexy cenderung membuat perempuan lain menjadi sasaran pelampiasan pelecehan seksual oleh lelaki. Jadi imbasnya meluas.

6.Stop berharap berkomitmen dengan lelaki. Mereka mahluk yang paling takut dengan komitmen walau bersikap seolah berani. Komitmen juga berpotensi menyakitkan bagi siapaun yang terlibat di dalamnya. Mulai dari yang kelas teri sampai kakap,pernikahan yang dikuatkan oleh hukum, agama, bahkan perjanjian pra nikah sekalipun.

7.Jangan menikah karena desakan orang lain, demi status sosial, gengsi takut dibilang ngga laku, takut kesepian, atau demi harta. Fatal akibatnya.

8.Penganiayaan fisik dan mental tidak bisa dianulir. Istri atau pacar dari lelaki yang suka menyiksa harus tegas, memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Jangan termakan perasaan sentimentil “demi cinta”, “demi anak” dan sejenisnya. Ingat, tiap perempuan adalah Superwoman. Kita mampu berdiri sendiri tanpa kehadiran lelaki. Lebih baik sendiri ketimbang hidup dengan lelaki psikopat!

9.Tanggalkan segala jenis perasaan cengeng, rendah diri, lemah, hanya karena kita perempuan.

10.Selalu memperkirakan hal terburuk akan terjadi dalam segala hal. Dengan demikian mental kita akan selalu siap atas apapun.

Thursday, December 29, 2005

Bridget Jones Syndrome (BJS)


Masih seputar SMS. Hanya kali ini khusus SMS antar teman perempuan. Apa yang dilakukan para perempuan lajang di kala senggang? SMS! Dengan dua syarat tentu: pulsa masih banyak dan full baterry. Apa yang diketikkan di SMS-SMS tak berguna itu? Semua kegiatan sedetail-detailnya. Sampai ke urusan makanan yang merangsek ke dalam perut.

“Gue selama cuti makan mulu. Ini baru aja nambah piring kedua. Abis sambel terasinya enak banget.”
“Gue tadi bikin makaroni schotel, setengah loyang dimakan sendiri. Barusan makan nuget sama kentang goreng. Ngga sehat banget ya?”
“Wah, rasanya badan gue ndut banget. Kulit gue sampe putih gara2 melar.”


Begitu kira-kira SMS gila tak keruan. Wahai para provider selular, berterimakasihlah pada kami para perempuan lajang, sebab SMS sampah kami membuat income kalian meningkat! Hahaha!

Bukan SMS yang saya fokuskan di sini. Tapi masalah makanan. Sejak menjomblo, saya beserta dua sobat perempuan merasakan makanan adalah surga dunia. Kami punya jadwal kusus sejak dua bulan lalu untuk melakukan rendezvous di arena makanan lezat. Alasannya, “Otak kita jenuh sama kerjaan, butuh refreshing, makanan enak dan saling curhat. Girltalk!”

Memang, kumpul bersama teman karib saat ini adalah kebutuhan yang mahal. Selain sama-sama sibuk, kita juga kerap terjebak dalam aneka jadwal skedul, rutinitas yang membuat waktu luang nyaris tak ada. Ditambah macet Jakarta yang memakan waktu.
Maka makanan lezat dan kehadiran sahabat adalah dua hal berharga yang tak bisa dinilai dengan uang. Lebih manjur ketimbang harus membayar psikiater.
“Ayo kita berburu makanan enak. Asiiiik...gue jadi semangat!” Itu SMS seorang karib semalam.

Kalau yang dipikir hanya makanan enak, jangan heran kalau sekarang ada jerawat mirip anak Krakatau yang siap meletus di pipi kanan saya. Sepertinya harus mengumumkan kondisi SIAGA I, sebab gunung ini siap meletus kapan saja.

Dengan tak semangat saya pun mengetik SMS ini untuk membalasnya, “Apa karena kita jomblo, makanya ngga peduli penampilan lagi? Ndut dan jerawatan, cuek aja. Kita terkena Bridget Jones Syndrome (BJS)?”

Siapa sih tak kenal Brigdet Jones? Tokoh yang diangkat dari novel karya Hellen Fielding itu dengan sukses diangkat ke film. Diperankan oleh Renne Zellweger, Jones adalah perempuan lajang usia 30-an. Tubuhnya agak gemuk walau sesungguhnya masih ideal. Tapi ia merasa gemuk (tentu saja jika dibandingkan dengan Barbie).

Sekelilingnya juga menganggapnya gemuk. Makanan menjadi pelampiasan karena tak ada lelaki yang mencintainya. Saat hendak berkencan , ia setengah mati memakai korset agar terlihat langsing. Tapi ketergantungannya pada makanan susah dilepas.

Hmm... apakah BJS mulai menyerang aku dan sobat-sobat perempuanku? Memang masih banyak perempuan bertubuh lebih gemuk dan jerawat lebih parah dari kami. Jujur saja, di mata umum, tubuh dan penampilan kami masih sangat ideal. Maka...persetan dengan BJS. Kalau memang terserang BJS, kami asik-asik saja. Dan bahagia tentunya! Toh kami tak bernafsu menjadi perempuan kerempeng ala Barbie!

Sunday, December 25, 2005

SMS dan…ehm.. Lelaki


SMS itu lumayan mengejutkan. “GUE NGGA TAU. GUE BENCI SAMA MAHLUK YANG NAMANYA CEWEK. Kecuali nyokab sama nenek gue dink. Eh, tante sama sepupu gue pengecualian juga.” Kaget dan geli. Kaget karena teman saya yang lelaki juga bisa emosionil menghadapi masalah percintrongan. Geli sebab SMS yang emosionil itu masih ditambah embel-embel pengecualian.

Saya pun mem-forward SMS itu ke teman perempuan. Disertai keterangan, “Lucu ya dia, cowok tapi kayak kita kalo lagi stress. Marah-marah di SMS sama YM”.
Memang tidak semua kaum Adam bisa menumpahkan perasaan melalui SMS. Teknologi murah lagi simple itu tak selalu bisa diterima sebagai media komunikasi oleh tiap orang. Lelaki terkenal sebagai mahluk verbal yang lebih suka mengungkap pikiran dan perasaan secara lisan, bukan tulisan. Maka jangan heran kalau SMS dari teman lelaki cenderung pendek-pendek, hanya seperlunya saja. Sedangkan SMS yang ditulis kaum Hawa lebih padat, panjang dan mengungkap curahan hati.

Tapi teman lelaki satu ini memang beda. Ia tergolong “banci SMS”, begitu aku menjulukinya di testimony Friendster. Sebab ia memang doyan sekali berkirim SMS, entah hal penting atau tidak. Seru juga punya teman seperti ini. Di kala stress tiba-tiba saja datang SMS lucu darinya seperti, “Tadi pagi gue ngaca, kok uban nambah banyak ya?Ngga papa, jadi mirip Iwan Fals gue.”

Dan kemarin, SMS marah-marah mengutuki perempuan itu datang darinya. Padahal beberapa hari lalu ia masih berkirim SMS manis, “Gue mau kencan nih. Duh pake baju apa ya..”

Ada lagi teman lelaki lain yang tak kalah rajin ber-SMS. Bukan sekadar SMS biasa, lebih condong ke curahan hati. Para pehobi SMS ini biasanya akan berupaya membalas SMS kita juga dimanapun dan kapanpun. Pernah saya iseng meng-SMS teman pada pukul 12 malam. Ia membalasnya! Bahkan jam 2 dini hari pun kadang ada saja yang rajin ber-SMS-ria. Luar biasa.

Cowok-cowok sejenis ini memang bisa dihitung dengan jari. Tak semua lelaki senang memencet keypad ponsel untuk mengekspresikan dirinya. “Ribet, Mer. Mending kalo ketemu aja diomongin langsung. Atau nelpon sekalian,” begitu alasan seorang teman saat ditanya kenapa tidak suka ber-SMS.

Maka, pada teman-teman lelaki yang suka ber-SMS, kuucapkan thanks from the deepest of my heart. Kalian sungguh memahami jiwa kami. Dan SMS-SMS lucu serta kocak kalian akan selalu menghiasi Inbox ponsel kami. Maaf, ini bukan pesan sponsor salah satu provider ponsel lho.

Thursday, December 22, 2005

Ibu, Sini Kutonjok Wajahmu, Kata Anak Lelaki Itu


Di Hari Ibu, saya hanya bisa membeberkan fakta ini.
Sebuah kisah yang saya petik dari blog seorang teman. Teman ini adalah lelaki yang sadar bahwa tidak semua kaumnya bisa menjadi pelindung kaum perempuan. Justru sebaliknya, lelaki yang “gagah perkasa” bisa jadi boomerang bagi pasangan hidupnya. Bahkan menular ke anak lelaki yang berisiko bisa tumbuh jadi lelaki yang mencintai kekerasan terhadap lawan jenis.
Salut buat Iwan, si penulis . Sengaja saya copy paste di sini agar lelaki lain sudi membuka matanya.


(Sori Wan, gue edit ya tulisannya, abis puanjang buanget).

Jelang tengah hari itu (23/10/2005) di seputaran jalan gatsu bandung, saya, my queen, dan temennya my queen Intan baru mau masuk ke sebuah toko busana.

begitu pintu toko dibuka, keluar seorang bapak menggendong anak laki2nya yang nangis. tangisan anak itu kenceng sekali.

oleh sebab apa anak itu menangis? bila mengingat pengalaman sendiri, kemungkinan karena permintaan yang tidak dikabulkan, atau paling tidak kesel ama orang tuanya.

karena yang menggendong keluar toko si Bapak, kemungkinan anak itu lagi kesel sama ibunya. Anak laki2 itu berusia sekitar empat tahun. kakak laki2nya sekitar 7-8 tahun. Saat menghambur ke ibunya, Bapaknya bilang anak itu pengen digendong. Ibunya pun menggendong anak itu sambil berujar,"tapi jangan nonjok ya A?"

Anak kecil itu malah memekik, tangan kirinya yang kecil dan ringkih tapi sudah siap terkepal itu ia ayunkan ke belakang tubuh, dan berusaha menonjok ibunya di wajah.
Ibunya beberapa kali berusaha menangkis tonjokkan tangan terkepal yang kecil dan ringkih itu. berkali pula sia anak semakin memekik. karena upayanya terhalangi.

Kakak perempuannya yang menyaksikan terpana dan pilu hanya bisa meratap,"Udah atuh A, jangan..."

Si Ibu kemudian dengan setengah paksa menurunkan anak itu. dan menolak menggendongnya lagi. dan si Bapak yang sama sekali tak berusaha melerai upaya penonjokkan itu, membawa kembali anak itu ke luar toko.
Ada satu lagi saudara dari keluarga itu. Perempuan dewasa. Dia juga terlihat tidak ikut campur dengan keadaan tersebut. Sepertinya dia tidak tinggal serumah dengan keluarga itu
Saya yang hanya beberapa sentimeter ikut terpana. dan sempat mau ikut campur untuk menahan tangan yang kecil dan ringkih dari anak itu untuk menonjok ibunya. sedikit geram melihat si Bapak yang tak berusaha menahan anak laki2nya itu. malah jadi terkesan membiarkan. atau apakah karena adegan itu sudah biasa terjadi, di rumah mereka? Atau di mana saja ada pemantiknya hingga adegan seperti itu harus berulang?
Masih jadi misteri sebenarnya, apa yang menyebabkan anak itu menangis keras. dan tumpahan kekesalannya adalah harus menonjok ibunya, di wajah.

Belum berapa lama, masih dalam keadaan menangis anak laki2 itu kembali masuk toko. Rupanya si Bapak tak mampu menenangkan anak itu di luar. Si Ibu dan kakak perempuannya tengah berada di kamar pas. Si Bapak mengetuk pintu kamar pas, dan anak kecil itu pun ikut masuk ke kamar pas. Si Bapak kemudian kembali ke luar toko. Saat membuka pintu, ntah kenapa matanya sempat beradu pandang dengan saya.
Sorot matanya ke saya susah saya jelaskan. Yang jelas sosoknya tinggi besar. Biasa saja. Saya hanya bisa berujar dalam hati Bapak itu termasuk beruntung bisa mendapatkan istri yang cantik. Anak perempuannya juga cantik, mirip ibunya. Sedang anak laki2 itu mirip bapaknya. Biasa. Jadi terlihat menyebalkan meski masih anak-anak, karena menyaksikan gesturnya saat hendak menonjok ibunya.
Sambil jongkok Ibu itu bilang dengan pasrah, dengan wajah setengah disodorkan ke anak laki2nya yang berdiri di hadapannya,”Ya sok atuh A, tonjok.”
Dan Bukk!! Ternyata tangan yang kecil dan ringkih itu sangat cukup membuat si Ibu kesakitan. Sambil mengaduh serta merta si Ibu kedua tangan si ibu menutup wajahnya. Kakak perempuan anak laki2 itu kembali bilang,”Sudah atuh A, jangan.”
Si anak laki2, dia terdiam dan tangisnya terhenti karena objek tonjokannya tertutup. Tapi gesturnya tetap siap untuk menonjok. Sesaat kemudian si Ibu itu menghambur keluar kamar pas dengan wajah menahan nyeri dan tangis. “Sudah ah, moal bener.”
Dan saat itu juga si anak laki2 itu kembali memekik keras-keras. Saya yang terpana hanya bisa menduga-duga. Si anak laki2 itu kembali menangis karena dia belum puas menonjok ibunya. Si anak laki2 itu kembali menangis karena ibunya pergi dari hadapannya.
Dugaan saya, terdiamnya si anak laki2 itu tapi dengan gestur masih siap menonjok, hanya karena Ibunya langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Andai si Ibu tidak kesakitan seperti itu, apa yang akan saya saksikan sepertinya si anak laki2 itu akan menonjoki ibunya. Tidak hanya menonjok.
Di mobil, setelah saya, my queen, dan Intan juga selesai berbelanja di toko itu dan menuju ke tempat lain, saya ceritakan apa yang saya saksikan tadi. Terutama kejadian di kamar pas itu ke my queen. My queen percaya, anak sekecil itu tidak mungkin bisa berbuat demikian tanpa ada yang mengajari. Atau paling tidak mendapat contoh yang ia saksikan sendiri.
Kalau pun ada yang mengajari, siapa? Kakak perempuannya seperti tidak mungkin. Karena dia dengan semampunya berusaha menghindarkan aksi penonjokkan itu. Dengan usaha hanya melalui ucapan, itu pun dengan nada yang terdengar meratap, selama ini pun (andai memang aksi itu kerap atau cukup sering terjadi), kakak perempaun itu memang juga tersiksa secara batin sebagai penyaksi aksi tersebut.

Kalau pun anak laki2 itu mendapat contoh (untuk menonjok dan menonjokki ibunya) dari contoh buruk teramat kejam yang ia saksikan sendiri, lalu siapa yang suka ia saksikan menonjok atau menonjokki ibunya itu?
Ingatan saya kembali ke detik2 ketika dua sorot mata itu beradu pandang dengan saya. saat sosok badan tinggi besarnya membuka pintu hendak keluar toko.
Wallahualam bisshawab. Ya Allah, tolong Ibu itu. selamatkan dirinya dari kehinaan manusia. Semoga keselamatan selalu menyertai Ibu itu. Semoga tidak lagi tonjokkan2 yang menerpa wajahnya. Semoga kekerasan (dan sudah mengakar itu) enyah dari raga dan batinnya. Amien.

Teori Emansisapi

Emansisapi (sengaja bukan emansipasi, sebab saya muak dengan satu kata itu) adalah persamaan hak lelaki dan perempuan yang dihembuskan oleh kaum lelaki ke telinga perempuan dengan janji muluk.

Jika ada ibu-ibu menggendong anak bayi dengan tas gembol berat di pundak,berdiri berdesakan di kereta atau bis, maka kaum lelaki bisa bebas terus tidur dengan nyaman di kursinya. Alasannya: "Kan emansipasi."

Kalau ada perempuan yang terjebak menikahi lelaki pengangguran, maka si perempuan banting tulang menafkahi keluarga sementara si lelaki makan tidur dan bikin anak melulu. Alasannya: "Kan emansipasi, udah zamannya perempuan cari duit."
Dan seterusnya..dan seterusnya...Emansisapi? Huek!

Monday, December 19, 2005

Are You an Undomestic Goddes?


Hari minggu kemarin seharian menghabiskan waktu di rumah. Jadi orang rumahan. Melalap habis satu buku, Undomestic Goddes karangan Sophie Kinsella. Kisahnya simpel tapi menohok. Samantha, seorang lawyer hebat dengan kesibukan luar biasa. Tak pernah sempat bersantai karena selalu memikirkan karir. Sejak kecil ditempa oleh ibunya untuk jadi wanita karir sukses. Tak bisa masak, mencuci, menyetrika apalagi menisik.

Mendadak saja karirnya hancur dan ia terperangkap menjadi pelayan sebuah keluarga kaya. Ternyata...abrakadabra, dengan kemauan keras, ia bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sama cemerlangnya dengan karirnya sebagai lawyer!

Selesai membaca buku itu, saya bertanya: apakah saya undomestic goddes? Bukan orang rumahan? Tak berbakat mengerjakan tuga-tugas rumah? Jawabannya adalah: tidak. Walau sejak kecil tak pernah diajari memasak, menjahit, mencuci piring, menyapu, menyetrika, faktanya saya tetap bisa melakukan semuanya dengan mulus. Minimal masakan itu dibilang lezat oleh anak saya seorang.

Saya yakin, hampir setiap orang punya kemampuan untuk melakukan tugas domestik. Sehebat apapun karirnya, sejarang apapun mereka menginjakkan kaki ke dapur. Lelaki atau perempuan. Sebab tugas domestik adalah pekerjaan alami setiap manusia. Apa yang dilakukan manusia saat lapar dan tidak ada makanan di rumah atau rumah makan yang buka? Membuat makanan sendiri.

Sayangnya, kaum lelaki banyak yang merasa gengsi atau harga dirinya terinjak jika harus melakukan tugas domestik. Jadi begitu sampai di rumah, mereka mengandalkan anggota keluarga lain yang berjenis kelamin perempuan untuk melakukannya. Memang tidak semua. Namun mayoritas. Apalagi lelaki Indonesia yang biasa menganut azaz patriarki. Merasa dirinya hebat karena bergender lelaki. Merasa sudah melindungi keluarga, mencari nafkah, jadi beranggapan dirinya bisa terhina oleh tugas domestik.

Kalau sudah begini, saya merasa amat sangat bangga menjadi perempuan. Bisa mencari nafkah sendiri, melindungi keluarga sendiri, tapi juga mampu melakukan semua tugas domestik dengan baik. Apalagi seorang single parent, menjadi ayah sekaligus ibu bagi anaknya. Menjadi bos sekaligus babu di rumahnya sendiri. Alangkah hebatnya perempuan!!!Go to hell laki-laki sok gangsi!!!

Thursday, December 15, 2005

Sepotong Kisah Sobat Perempuanku


Masih ingat betul bagaimana nada suaranya begitu panik dari seberang sana. Sobatku selama bertahun-tahun itu setengah berteriak dari ujung gagang teleponnya. "Alamatnya palsu, Mer. Dia ngasih alamat palsu. Ngga ada yang kenal nama dia di sini," begitu ia terisak. Padahal perempuan itu sudah menempuh jarak Jakarta-Bali dengan uang pas-pasan. Kondisi fisiknya pun lemah. Hamil 5 bulan.

Siapa gerangan yang dicarinya di Bali, pulau dimana ia tak punya kenalan seorang pun itu? Ayah dari bayi yang dikandungnya. Tak lama kemudian telepon tadi terputus. Pesanku terakhir saat itu adalah, "Buruan balik ke Jakarta!! Buruan!"

Beberapa hari kemudian aku bertemu dengannya di Jakarta dalam kondisi mengenaskan. Kurus, pucat, mata cekung kebanyakan menangis. Dia berkisah setelah meneleponku dirinya langsung jatuh pingsan. Beruntung ditolong penjaga wartel yang baik hati.

Hari ini, bayinya sudah berusia 2 tahun. Mengidap kelainan paru-paru. Temanku harus menanggung biaya pengobatannya seumur hidup. Dengan gaji pas-pasan. Tanpa suami yang mengirim uang sepeserpun. Bahkan menengok si bayi pun tidak.

Sobatku tadi hanya satu dari jutaan perempuan yang harus menanggung beban atas kebebalannya mempercayai cinta. Mempercayai lelaki. Kalau sudah begini, layakkah kita percaya cinta itu ada???

Sunday, December 11, 2005

Depok, Perancis, dan Bis Patas Reguler 43

Pagi ini, di atas bis patas reguler 43 Depok-Pasar Baru, mendadak ingatan saya terbawa ke Perancis. Mungkin karena saya duduk depan pintu, sehingga hawa dingin pagi Depok menggugah kenangan ke negeri nun jauh itu.

Saya hanya tersenyum geli mengingat perjalanan Nice-Cannes saat meliput GSM World Forum 2005 Februari lalu. Cornel, rekan dari Jakarta Post menebak kira-kira apakah kita masih sempat mampir ke Monaco sebelum ke airport untuk terbang ke Singapura. Ia menggunakan perkiraan waktu orang Jakarta yang terbiasa berlangganan macet. “Di Jakarta, jarak yang sama Cannes-Monaco bisa makan waktu 2 jam karena macet!” Sang supir yang asli Perancis pun bingung. Sebab dari cannes-Monaco hanya ditempuh kurang dari 30 menit saja olehnya.

Syarifah, rekan jurnalis dari Malaysia ikut tercengang. Ia bertanya, berapa lama waktu yang saya butuhkan dari rumah ke kantor setiap pagi. Saya jawab, “Dua jam dengan macet.” Ia juga tercengang. Lalu ia bertanya, “What kind of car do you have?” Saya tegaskan apa adanya bahwa saya naik bis, tidak punya mobil. Dan ia kembali tercengang. Mungkin di benaknya ia pikir jurnalis di Indonesia memiliki penghasilan cukup untuk beli mobil, bahkan rumah. Saya hanya tersenyum getir saat itu.

Pagi ini, di atas patas non AC yang penuh sesak di tengah kemacetan Pasar Minggu yang bau sampah pasar, ingatan saya melayang ke Perancis. Saya pikir, Syarifah dan supir Perancis dulu pasti akan lebih tercengang andai mereka tahu betapa rongsoknya bis yang saya tumpangi saat ini. Hohoho!

Friday, December 09, 2005

I am Beautiful, Smart and Strong!

Ya, saya adalah robot. Diprogram agar mendapatkan apa yang saya inginkan. Memecahkan masalah. Meruntuhkan aral yang ada di depan. Membunuh rasa semudah membunuh cicak di telapan tangan. Kalau saya robot, maka saya robot cantik, perkasa, kuat, pintar, berani dan tindak cengeng atau pengecut seperti kebanyakan lelaki yang saya temui.
Yes, I am beautiful, no matter what they say! (Christina Aquilera's song)

Dicari: Cowok Kayak Eminem!



Setiap kali melihat aksi Eminem di TV, saya serasa bercermin. Mengapa?
Inisial namanya sama dengan saya, MM. Marshall Mathers.
Sama-sama single parent (hmm apa dia jadi rujuk ama istrinya?)
Suka nulis juga, walau dia larinya ke lirik lagu.
Minoritas di dunianya, rapper kulit putih.
Tulisannya kontroversial
Video klipnya juga kontroversial.
Suka mengkritik secara terang-terangan
Gayanya yang casual juga mirip saya!
Sangat sayang dengan anak sematawayangnya, Hailie.

Beda dengan kebanyakan musik rap lain, musik Eminem masih bisa didendangkan. Itu yang membuat saya selalu menyimak lelaki tampan ini di setiap video klip terbarunya. Sejak Slim Shady sampai Mockingbird. Juga aksinya di film 8 Mile yang kata banyak orang jelek. Memang dia bukan aktr yang baik. Walau saya tak ngefans banget sama Eminem, dia sungguh pribadi unik di mata saya.

Kecintaannya pada Hailie sang buah hati adalah pesonanya yang ibarat magnet buat saya. Walau urakan, liar, kontroversial, Eminem tetap sosok ayah yang baik. Itu yang membuat hati ini trenyuh. Padahal di luar sana banyak lelaki sok alim, berbaju rapi, berkelakuan ala malaikat tapi tak peduli dengan nasib darah dagingnya.

Eminem juga sering menulis lagu buat Hailie. Ini salah satunya yang saya suka, Mockingbird.

Yeah I know sometimes things may not always make sense to you right now But hey, what daddy always tell you? Straighten up little soldier Stiffen up that upper lip What you crying about? You got me

Hailie I know you miss your mom and I know you miss your dad When I'm gone but I'm trying to give you the life that I never had I can see you're sad, even when you smile, even when you laugh I can see it in your eyes, deep inside you want to cry ...

Siapa sangka lirik semanis itu dibuat oleh lelaki urakan yang terkenal pedas mencerca orang???
I love Eminem!!!

Wednesday, December 07, 2005

Membeli Barang di Etalase


Sebuah percakapan di Yahoo Messenger:
F-->Teman
M-->Aku


M: "Si Anu itu perfect banget ya. Ganteng, pinter, sukses di karir, sayang keluarga. Seandainya kita dapet cowok kayak gitu..."
F: "Hmmm..gue ngga yakin deh, Mer. Segala sesuatu yang kita liat baik, belom tentu sebaik aslinya. Ingat pepatah rumput tetangga.."


Dulu sekali, pernah ada pandangan yang meremehkan kata-kata “cinta tak selamanya memiliki”. Seorang berpendapat, “Kalau tidak bisa dimiliki, untuk apa dicintai?” Dulu juga, saya sangat setuju dengan pendapat barusan. Dalam usia relatif belia saya punya pikiran bahwa kita harus selalu bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, termasuk cinta. Dan nyaris itu terealisasikan selalu.

Kemudian, apakah setelah cinta itu didapat, kita bahagia? Jawabannya adalah the big NO. Mari kita samakan lelaki itu dengan benda di etalase toko. Sekali kita ingin memiliki, maka benda itu terlihat indah, luar biasa, hebat, menakjubkan, membuat penasaran. Makin tak bisa dipunyai karena satu dan lain hal, makin benda itu mempesona.

Begitu kita punya kemampuan untuk membeli, membawanya pulang, ada rasa terpuaskan. Kelamaan benda itu kita kenakan, kita pandangi setiap hari. Rasa bosan mulai menyerang. Apalagi begiu disadari benda tadi mulai jelek, buruk, bahkan rusak. Musnah sudah pesona, daya tarik serta kehebatan benda itu. Tak ada lagi penasaran, hilang sudah antusiasme.

Bayangkan apabila benda tadi masih terpajang di etalase tanpa pernah bisa kita miliki. Tentu pesona itu akan selalu ada tiap kali memandangnya. Kendati benda itu dibeli lalu dimiliki orang lain, tetap saja rasa suka itu bersemayam di hati. Bisa ada rasa sakit hati, mengapa orang lain bisa mempunyai sedangkan kita tidak. Tapi itulah seninya.

Hal sama persis berlaku pada lelaki. Saat kita mengagumi seorang lelaki maka rasa kagum itu akan kekal selama kita tidak memilikinya. Sebab begitu kita berhasil mendapatkan si lelaki dalam genggaman, maka terkuaklah semua sisi buruk yang selama ini tak pernah kita lihat. Singkatnya, semua itu sama saja dengan benda di etalase tadi.

Itulah yang pernah saya alami. Selama bertahun-tahun mencintai lelaki yang sama, yang akhirnya menikah dengan perempuan lain. Tapi cinta itu tetap indah saja. Apalagi si lelaki tak menjauh, tetap menganggap teman baik. Dan makin indah saja rasa cinta itu. Kini saya benar-benar memahami bagaimana kalimat konyol “mencintai tak selamanya memiliki” bisa ada.

Itu pula yang berlaku pada kegilaan para perempuan kepada Brad Pitt, Tom Cruise, Vigo Mortensen dan sederet bintang pujaan lain. Mereka begitu diidolakan karena kita tak mampu menggapainya. Sedangkan fakta berkata bahwa pasangan hidup mereka pun tidak betah berlama-lama dengannya. Ingat lho, Brad Pitt, Tom Cruise dan Vigo Mortensen adalah duda cerai. Berarti mereka pun tidak sempurna. Nobody's perfect.

Monday, December 05, 2005

Beauty and The Beast


Ide ini muncul dari obrolan santai dengan seorang kawan. Kami duduk di sebuah gerai kafe di suatu mall. Kafe itu menghadap ke lorong mall yang sarat dengan orang lalu lalang. Dari sekian banyak orang berseliweran, tak kalah banyak yang berpasangan. Saat itu saya ajukan suatu pertanyaan, “Kenapa lebih banyak lelaki buruk rupa yang berpasangan dengan perempuan cantik. Sebaliknya, jarang sekali perempuan buruk rupa yang jalan dengan lelaki tampan.”

Si teman menjawab, “Sebab perempuan lebih mampu membuat dirinya cantik. Mereka bisa ke salon atau operasi plastik untuk menjadi cantik.” Dengan cepat saya menukas,”Apakah lelaki tak bisa? Salon dan dokter bedah plastik terbuka juga bagi lelaki!” Dan si teman terdiam.

Jawaban yang tepat adalah, sebab perempuan lebih bisa menerima kondisi fisik pasangannya. Mereka tidak melihat orang lain dari sisi fisik semata, melainkan hati. Jadi jangan heran banyak perempuan dengan tubuh sexy, wajah cantik mulus berbalut baju menarik yang menggandeng lelaki berperut buncit, wajah jerawatan, kepala botak dengan baju seadanya.

Tidak jarang kita bertemu dengan pasangan sejenis itu. Yang lebih mengesalkan adalah ketika melihat si perempuan berdandan rapi jail, full make up dan perhiasan lengkap, sementara lelakinya hanya bercelana jeans dekil, kaos buluk dan rambut tak tersisir. Seolah si lelaki sama sekali tak menghargai usaha sang kekasih yang ingin tampil sempurna. Pasangan macam ini teramat sangat sering kita jumpa di keseharian.

Saya pribadi bukanlah perempuan pesolek dengan dandanan rapi jail. Namun terus terang saya akan sangat menghargai lelaki yang sudi mengimbangi penampilan pasangannya. Kalau si perempuan tampil casual dan santai, silakan saja si lelaki ikut santai. Tapi sungguh kasihan kalau si perempuan sudah tampil habis-habisan dengan busana top hanya dihargai dengan celana buntung dan rambut awut-awutan.
Kondisi fisik seseorang memang bukan hal yang bisa dikutak-katik. Walau demikian apa salahnya memperbaiki penampilan dengan suatu kebersihan dan sedikit kerapihan. Maka jangan salah kalau saya sering menjuluki pasangan yang dijumpa di jalan sebagai Beauty and The Beast.

Kembali ke masalah hati, pada dasarnya kaum perempuan tidak mengincar wajah tampan dan tubuh wangi. Itu terbukti dengan banyaknya perempuan cantik yang mendapat pasangan lelaki buruk rupa. Buruk rupa yang saya maksud di sini adalah kondisi fisik wajah dan tubuh yang sama sekali jauh dari gambaran ideal.

Bukan saya ingin mencerca keburukrupaan manusia, melainkan membeberkan fakta bahwa perempuan bukanlah mahluk materialistis seperti yang dituduhkan banyak orang. Justru kaum lelaki lah yang super duper materialistis, kendati tidak 100 persen. Itu terbukti dengan fakta bahwa lelaki dengan wajah dan fisik paling hancur sekalipun tetap saja mendambakan perempuan cantik lagi sexy sebagai pasangannya.

Thursday, December 01, 2005

Buruk Muka Cermin Dibelah


Cerca dan puja menghiasi kolomm komentar di blog ini. Wajar, sebab blog ini beruntung diulas dalam Resensi Blog www.detikinet.com. Itu sudah saya prediksikan sejak awal membuat blog ini.

Setelah ditilik, mayoritas komentar posotif justru datang dari lelaki dengan tingkat intelektual tinggi dan wawasan luas. Hanya lelaki anonim yang tak saya kenal lah yang mencerca dan merasa tersinggung dengan sebagian besar tulisan di blog ini.
Seorang teman, Sulung Prasetyo, pendaki gunung sejati dari MAPALA UI yang sangat macho dan jantan sama sekali tak terusik dengan aneka kritik pedas blog ini. "Kapan dibukuin, Mer?" Begitu ia pernah bertanya.

Teman lain lagi, Romi Satrio Wahono, penggagas www.ilmukomputer.com seide dengan Wicak, sesama teman jurnalis, bahwa blog ini bisa jadi semacam pemantik introspeksi kaum Adam. "Apa iya ada kaum Adam sejahat itu sampai ada kaum Hawa yang menulis seperti ini? Semoga saya ngga termasuk," komentar Romi langsung pada saya.
Iwan, teman jurnalis lain, menyebut blog ini mencerminkan betapa banyak hal yang tak diketahui lelaki tentang perempuan dan "pemberontakannya".

Solehudin alias Didin, lelaki "garang" di persilatan dunia IT sempat merasa kebakaran jenggot membaca blog ini dulu, namun kelamaan ia justru me-link blog ini ke blognya. "Gue kan fans elo," celetuknya di Yahoo Messenger.

Sengaja semua komentar saya quote dari kaum lelaki. Sebab memang sebagian besar kritik di blog ini ditujukan pada mereka. Terbukti, sebagian besar yang mengamini kritik saya adalah para Adam yang berwawasan luas, tingkat pendidikan tinggi, dan cukup fleksibel. Sedangkan komentar negatif saya dapat dari entah siapa yang mengeklik "comment" dan tak berani menyebut jati diri.

Ibarat kata blog ini adalah cermin, maka para lelaki bisa bercermin. Yang merasa dirinya tampan bisa tetap tersenyum tenang. Sedangkan yang melihat wajahnya sedemikian buruk, dibelahnya cermin itu. Silakan memaki semua tulisan di sini, sebab itu sama saja dengan wajah anda buruk dan anda mengamuk lalu menghancurkan cermin. Dan saya pun tertawa, hahaha!

Thursday, November 24, 2005

Katakan TIDAK pada Mode Keparat!


Iklan krim pemutih kulit selalu saja menohok para perempuan berkulit sawo matang di negeri ini. Kenapa? Mayoritas tayangan komersial di televisi, selalu digambarkan bahwa putih itu cantik, hitam atau sawo matang itu buruk.

Yang terbaru adalah produk pemutih Pond's. Ada adegan dua perempuan berjalan di kerumunan. Saling berpapasan. Sama-sama pakai baju sexy. Yang satu berkulit putih, satu lagi sawo matang yang menurut saya sih hitam manis. Saat keduanya saling melihat, yang hitam manis merengut karena iri melihat kulit putih perempuan itu. Di akhir adegan, si kulit putih memberikan kemasan krim pemutih Pond's kepada si hitam. Pesan yang tersirat, "Pakailah Pond's kalau mau seputih saya."

Iklan lain tentu masih lekat di ingatan kita. Kali ini krim Citra White. Sepasang perempuan kembar. Satu kulitnya hitam, satu putih. Waktu mau difoto bareng, si hitam sembunyi karena malu.

Itu hanya sedikit dari sekian banyak iklan produk pemutih yang membuat perempuan Indonesia berlomba-lomba ingin jadi putih. Mengundang kesan bahwa kulit hitam atau sawo matang itu jelek, tidak trend, tak pantas dilirik. Saya pribadi berkulit kuning langsat yang condong ke putih. Melihat iklan-iklan tadi rasanya mau muntah saja.

Alangkah bodohnya perempuan yang langsung tertarik membeli produk pemutih itu. Mulai dari sabun, krim, bedak dan sejenisnya. Semuanya diborong. Demi jadi putih. Gilanya, ternyata teman-teman saya banyak yang berlaku begitu. Sadar ngga sih mereka itu cuma jadi korban produsen saja? Korban bombardir iklan tak bertanggungjawab. Juga korban mode. Mode yang kian hari kian menjijikan saja. Menetapkan mitos bahwa perempuan cantik adalah yang berkulit putih, bertubuh kurus tinggi, langsing, rambut panjang.

Padahal jauh di benua barat, perempuan bule berlomba ingin punya kulit coklat. Kabarnya krim yang laku di sana justru krim pencoklat. Mereka juga berjemur mirip dendeng setiap ada sinar matahari. Tapi tentu saja mereka tidak terlalu bodoh untuk membeli aneka produk pencoklat kulit dari benua timur. Mereka lebih suka semua berjalan secara alamiah.

Sampai kapan perempuan Indonesia jadi korban bombardir iklan dan mode? Mengecat rambut jadi pirang, setengah mati diet demi langsing seramping Barbie. Menghabiskan uang agar kulitnya putih cemerlang. Sampai kalau kita ke mall sekarang yang tampak adalah perempuan dengan penampilan nyaris seragam semua: langsing, putih, rambut panjang dipirang. Kalau yang masih SMU mungkin rambutnya tetap hitam karena dilarang mengecat rambut oleh guru. Benar-benar produk Barbie minded yang patut dikasihani!

Tuesday, November 15, 2005

Ada Apa dengan 1st Love?


First love never die.
Kenapa bisa ada kalimat itu? Apakah karena cinta pertama sangat indah? Lebih indah dari cinta-cinta selanjutnya? Apa cinta terakhir sudah tak indah lagi?
Jawabannya adalah, karena cinta pertama adalah cinta paling murni dalam sejarah perjalanan lelaki dan perempuan.

Cinta pertama bukan pacar pertama. Firts love adalah saat kita jatuh cinta pertama kali pada seseorang. Biasanya pada usia belia. Bisa 10 , 12, 13 bahkan 8 tahun!
Pada usia sehijau itu, kita bahkan tidak tahu apa itu cinta yang sesungghnya atau bukan. Yang jelas kita kasmaran pada seseorang. Tak bisa tidur. Lagu First Love-nya Nikka Costa sangat mewakili perasaan itu. “Everyone can see...there’s a change in me...bla bla bla”.

Di usia sebelia itu, bayangan kita tentang cinta sangatlah indah dan mulia. Tidak ada bumbu seks. Boro-boro deh. Tepat sekali kalau diibaratkan cinta masa itu sebagai domba yang cute dan innocent. Lembut, polos, kekanakan dan menggemaskan. Bebas dari dosa. Sungguh definisi cinta dalam arti paling murni.

Seiring waktu, usia tambah dewasa. Cinta pertama terlupakan sejenak. Menyusul cinta kedua, ketiga, kesebelas..ke sekian puluh...ke seratus..dan seterusnya. Kian angka itu bertambah, kian jauh dari gambaran indah. Ada seks, nafsu, obsesi materi, dan sejenisnya.

Kalau 1st love adalah domba yang imut, maka semua hal buruk-buruk yang menyelingi cinta berikut-berikutnya adalah serigala. Katakanlah seks itu serigala. Maka sekarang, di usia yang tak lagi belia, maka yang beredar adalah serigala berbulu domba. Tambah sulit saja mengenali mana domba sejati. Bahkan mungkin tidak ada lagi.

Itulah mengapa dikatakan first love never die. Sebab memang 1st love adalah cinta paling agung dalam hubungan lelaki-perempuan. Tidak ada nafsu seks, obsesi kecantikan, ketampanan, kekayaan dan sebagainya. Dan kini yang kita jumpai dimana-mana adalah serigala berbulu domba. Sungguh ironis.

Monday, October 31, 2005

Love and Sex

Lelaki memberikan cinta untuk mendapatkan seks. Perempuan memberikan seks untuk mendapatkan cinta.

Ironis? Itulah fakta. Dalam "Perempuan di Titik Nol", Nawal El Saadawi beropini bahwa lebih baik menjadi pelacur yang menukar seks dengan uang daripada harus menjadi istri yang menukar seks dengan cinta yang belum tentu ada.

Menjadi pelacur, seorang perempuan bisa mendapatkan harta berlimpah, kemewahan, sekaligus perhatian dan sanjung puja dari "penggemarnya". Harta itu bisa ditabung, diinvestasikan, dipakai untuk merawat diri hingga masa tua. Harta itu bisa dimanfaatkan untuk membantu orang kesusahan, diamalkan. Tak peduli kata orang itu uang haram atau apalah.

Menjadi istri, maka seorang perempuan hanya akan mendapat sedikit perhatian dari seorang lelaki yang belum tentu setia, sekian banyak anak-anak yang berlahiran dari selangkangannya, menyusu di payudaranya. Itu kalau mujur. Jika sial, maka seorang istri akan ditinggalkan suaminya dengan anak-anak yang bergelayut di pundaknya untuk diberi makan seorang diri.

Membuat anda mengernyitkan dahi membaca tulisan ini? Itulah fakta. Perempuan yang menjadi istri atau kekasih yang bernasib sial di muka bumi ini tak terhitung banyaknya. Atas nama cinta, mengabdikan diri pada lelaki yang disayanginya. Memberi seks, kasih sayang, perhatian, bahkan juga harta. Apakah mereka mendapat bayaran setimpal? Belum tentu.

Tapi dengan menjadi pelacur maka seorang perempuan bisa mendapat imbalan selayaknya. Seks dan nafsu berbalut cinta ditukar dengan uang atau harta yang setimpal. Itu baru adil.

Saya tidak pernah menjustifikasi pelacuran. Tidak. Apapun itu di mata etika dan moral tetaplah salah. Namun apakah pernah terpikir bahwa secara etika dan moral: menyelingkuhi istri, menelantarkan istri dan anak, meninabobokan perempuan dengan rayuan cinta demi mendapat seks adalah perilaku wajar?

Tidakkah perilaku semacam itu hanya setimpal jika dibalas dengan transaksi seks dan cinta oleh para pelacur?
Sekarang mari kita bandingkan, mana yang lebih pantas dari sisi etika dan moral.
A. Seorang pelacur yang mencari nafkah demi keluarganya.
B. Lelaki hidung belang yang menikahi banyak perempuan demi nafsu syahwatnya lalu pergi berlenggang dari tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah.

Keduanya sama-sama dikutuk moral dan etika, juga agama. Tapi A mendapat kecaman jauh lebih banyak dari B. Mengapa? Sebab kita adalah bangsa munafik yang memandang pernikahan atau status suami lebih luhur dari seorang perempuan tak menikah. Menjijikan?Itulah faktanya!

Friday, October 21, 2005

Institusi itu Bernama HTS, HTI, TTM...



Kalau kamu 'click' dengan seseorang, katanya jangan lagi tunda sampai malam menjelang.
Saya rindu rumah untuk bersarang.
Bersama dia yang menyejukkan.

Apakah dia sadar bahwa saya merasa dia adalah 'mentari pagi-ku'?


Puisi itu dibuat seorang teman yang tengah kasmaran. Menantikan belahan jiwa alias soulmate. Betapa indah kata-katanya. Saya sendiri terhanyut di dalamnya. Cinta memang membuat siapa saja menjadi pujangga.

Teman itu sangat merindukan komitmen, sebuah barang langka di masa kini. Suatu hal yang membuat para lelaki berpikir sejuta kali dan sebagian perempuan seribu kali. Apa pasal?

Komitmen memang pernah mengalami masa jaya, yakni zaman dulu kala saat saya masih pakai seragam putih abu-abu. Tambah kesini, komitmen hanya sebuah bingkai emas yang menghiasi potret pernikahan atau pertunangan atau perpacaran yang penuh pengkhianatan.

Kisah tentang dekadensi komitmen terlalu banyak beredar. Saya dan sejumlah teman pernah mengalaminya. Cinta setengah mampus, komitmen sehidup semati. Apapun itu namanya. Semua berakhir pengkhianatan. Sangat menyakitkan. Dan semua berlindung di balik kedok komitmen.

Dulu, saya pikir hanya perempuan bodoh yang mau terlibat dengan Hubungan Tanpa Status (HTS) atau Hubungan Tanpa Ikatan (HTI) atau istilah terbarunya Teman Tapi Mesra (TTM). Tapi seiring waktu berlalu, saya pikir justru sebaliknya. HTS atau HTI or whatever you name it, selama masih dalam batas wajar akan lebih baik daripada komitmen. Ibarat kata seperti orang menjalani hubungan tanpa janji-janji manis. Jadi saat semua tak berhasil maka kecewa tidak terlalu dalam. Bayangkan kalau kita terikat dalam komitmen sehidup semati, sepiring berdua (huek) dan sejenisnya namun hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Bayangkan betapa sakitnya itu.

So...memang sebaiknya semua dibiarkan berjalan apa adanya. Mengalir seperti air. Tanpa komitmen. Tanpa sumpah setia. Saya tidak melarang orang berkomitmen. Kalau memang siap sedia menanggung risiko, silakan saja.

Saya pribadi lebih berprinsip, nikmati saja yang ada. Puisi teman tadi, "Kalau kamu click dengan seseorang,katanya jangan lagi tunda sampai malam menjelang." maka versi saya adalah "Kalau memang kita click dengan seseorang, biar saja semuanya berjalan. Dan kita lihat bagaimana hasilnya."

Thursday, October 20, 2005

Membeli Anjing


Masih seputar buruk rupa kaum lelaki, saya punya cerita lain. Ada seorang teman seniman yang tak bisa disebut tampan (untuk tidak menyebutnya jelek). Ditambah lagi kondisi fisiknya tak sempurna. Saya sama sekali tidak menghina kondisi fisik manusia, begitu saya tegaskan sekali lagi. Tapi ini sebuah fakta. Teman tadi selalu didampingi seorang perempuan cantik di setiap momen ia tampil di publik. Begitu mesranya. Saya pikir pastilah perempuan itu kekasihnya.

Suatu ketika si teman lelaki buruk rupa tadi jatuh sakit. Saya dan beberapa teman menjenguknya di rumah sakit. Agak terkejut, saya melihat seorang perempuan mendampinginya, merawatnya dengan setia. Perempuan itu bukanlah perempuan cantik yang biasa mendampinginya. Itu perempuan lain. Bertambah terkejut, ternyata perempuan yang ini adalah istrinya.

Pulangnya saya terus berpikir. Alangkah hebatnya lelaki itu. Walau wajah jelek dan fisik tak sempurna, masih sedemikian percaya diri untuk berselingkuh, mempermainkan perempuan. Tidak tanggung-tanggung, perempuan yang dipermainkannya adalah yang berwajah cantik dengan fisik sempurna.

Kisah lain adalah seorang perempuan yang mengetahui di belakang hari bahwa pacarnya yang tidak tampan telah berselingkuh dengan banyak perempuan. Sungguh mengagumkan mahluk bernama lelaki. Mereka punya rasa percaya diri begitu tinggi sehingga wajah buruknya tak berpengaruh pada rasa percaya diri untuk mempermainkan lawan jenis.
Kesimpulan yang bisa diambil dari serangkaian kisah ini adalah, lelaki dengan wajah tampan atau jelek sama-sama berpotensi mempermainkan perempuan.

Wajah buruk bukanlah jaminan mereka akan setia. Sebagai perempuan saya sarankan kepada sesama kaumku, dengan risiko dipermainkan, lebih baik kita memilih lelaki berwajah tampan ketimbang yang buruk rupa. Toh keduanya sama-sama berpotensi mempermainkan perempuan. Ini sama saja membeli anjing peliharaan. Kalau ada anjing yang bertampang buruk dan bertampang manis, sebaiknya kita pilih yang manis saja. Sebab keduanya tetap saja anjing, sama-sama berpotensi mengencingi perabotan kesayangan kita. Atau bahkan buang air besar di atas spring bed mahal kita.

Menikah, Demi Status



Sebuah SMS datang. “PAKABAR? ADA GOSIP APA? KAPAN SEBAR UNDANGAN?” Lalu saya balas, “UNDANGAN SUNAT APA UNDANGAN PESTA ULTAH?” Dibalas lagi dari seberang sana, “UNDANGAN MARRIED LAH. BELAGAK BEGO LU!”

Pertanyaan “kapan married”, “kapan sebar undangan”, selalu menghantui perempuan usia menjelang 30 ke atas. Seorang teman sedemikian stresnya setiap kali menghadapi Lebaran. Bukan karena tak punya uang, tapi sebab dia akan bingung menjawab pertanyaan sanak famili yang bertandang ke rumah. Pernyataannya ya itu tadi, “kapan nikah”. “Boro-boro nikah, pacar aja ngga ada. Mau nikah ama kuda apa,” dengus si teman.

Sedemikian frustasinya sampai-sampai si teman minta saya menjadi mak comblang agar cepat dapat suami. Ada sekitar empat lelaki sudah saya perkenalkan dengannya, semua tereliminasi dengan suksesnya. Belum lagi calon-calon yang dinominasikan para kerabat. Tak ada yang masuk hitungan. Padahal teman saya itu tergolong good looking. Wajah manis, kulit putih mulus, porsi badan ideal, rambut hitam kelam lebat alami. Tipe idaman lelaki pokoknya. Lantas saya bertanya, apa iya dia sudah sebegitu kebelet kawin? Apa beul dia sudah bosan berkarir dan ingin jadi ibu rumah tangga? Apa ia dia rela menjadi istri dan ibu dari lelaki yang belum tentu ia cintai dan menikahinya hanya karena tuntutan keluarga? Ia hanya diam kemudian menggeleng perlahan.

Teman itu mengaku cukup bahagia dengan statusnya saat ini, melajang dengan karir dan penghasilan lebih dari cukup. Ia bisa bebas ingin makan di restoran mana saja, pergi nonton dengan siapa saja, membeli pakaian jenis apapun itu tanpa kekangan lelaki. Kehidupan sebagai anak kost cukup memuaskan sebab ia bisa langsung tertidur pulas begitu pulang kerja tanpa harus pusing melayani orang lain. Ia juga merdeka melangkahkan kaki kemana hati suka. Hanya satu yang membuatnya risi, pertanyaan kerabat dan teman-teman yang berbunyi sejenis, “kapan married?”.

Teman tadi hanya satu di antara begitu banyak perempuan usia menjelang 30 yang dihantui rasa takut. Sungguh rasa takut dibuat-buat yang timbul dari pandangan publik sekitar. Pandangan usang yang menganggap usia kepala 3 sudah harus nikah, hamil dan punya anak. Jangan terkejut, walau kita sudah pernah punya presiden perempuan dan banyak menteri perempuan, tetap saja pandangan macam itu menjadi momok menakutkan bagi mayoritas perempuan.

Akhirnya saya datangi teman tadi. Dengan tegas saya katakana padanya, “Apa kamu mau menikah demi status lalu kemudian merasa menyesal seumur hidup karena ternyata kamu menikah dengan orang yang salah? Ibarat naik bus, lebih baik duduk seorang diri di bus daripada harus bersebelahan dengan orang yang tak tahu diri, bau keringat, memonopoli tempat duduk dan kentut seenaknya.”

Sesobek Notes Perempuan Belia



Sesobek notes itu saya temukan di lantai sebuah kampus. Masih bisa terbaca jelas walau sudah ada bekas injakan kaki. Ditulis denggan pulpen merah, huruf berantakan. Sepertinya ditulis dengan emosi membara. Beginilah bunyinya.

Dulu, saya selalu menyesal mengapa terlahir sebagai perempuan. Terlebih ketika mulai memasuki masa puber, saat dimana fisik kita bermetamorfosa menjadi perempuan dewasa. Padahal masa itu saya tengah berada pada kondisi dimana ingin menunjukan diri bahwa perempuan sama hebatnya dengan lelaki. Tapi tiba-tiba saja dihadapkan pada fakta menyedihkan:
Harus mengalami menstruasi yang disertai kram perut setiap bulan.
.Terpaksa mengenakan mini-set demi menutupi buah dada yang baru tumbuh.
Lebih sadar kalau tenaga kita tak ada apa-apanya dibanding teman lelaki.
Ditekankan bahwa kita berbeda dari lawan jenis dan harus berhati-hati bergaul dengan mereka.

Tumbuh perasaan grogi kalau berhadapan dengan mahluk bernama lelaki.
Mendadak muncul kondisi “moody” yang cengeng dan mengesalkan.
Perlahan bertambah tahu tentang kisah-kisah kekuranajaran kaum Adam terhadap kaum Hawa, seperti kasus perkosaan, pelecehan dan penganiayaan.
Mulai merasakan sendiri apa itu pelecehan seks, seperti diraba-raba dalam kereta yang penuh sesak, dicolek kondektur bis atau digodai, disiuli oleh preman pinggir jalan.
Timbul larangan-larangan orang tua antara lain tak boleh keluar malam bersama teman lelaki, tak boleh bercelana pendek ke luar rumah dan sebagainya.
Kerap dianggap rendah hanya karena kita perempuan. Dicap wajib mencuci piring, mengepel, mencuci baju, memasak, menyiapkan minuman untuk tamu. Sementara saudara laki-laki kita boleh enak-enakan duduk santai.

Yah, sepuluh hal di atas tadi membuat saya geram dan tidak terima karena dilahirkan sebagai mahluk perempuan, wanita, cewek, putri, kaum hawa, dan berbagai sebutan lain. Saya benci diri sendiri yang kenyataannya adalah perempuan, identik dengan ketidakberdayaan. Sudah bertenaga lebih lemah dari laki-laki, masih dikaruniai perasaan cengeng , mudah menangis.

Ditambah lagi aneka norma-norma yang hanya berlaku bagi perempuan. Tak boleh keluyuran malam, bisa dianggap murahan. Jangan merokok, sebab identik dengan perempuan nakal. Dilarang terlalu sering bergaul dengan teman lelaki, bisa dicap sebagai perek. Saya marah sekali dengan kondisi seperti itu dan mencoba melanggar semuanya. Saat itu semester satu di bangku kuliah. Dengan berpakaian ala lelaki, T-shirt dan jeans belel, sepatu kets dan rambut pendek, saya selalu berteman dengan laki-laki. Hampir bisa dikatakan semua teman baik saya adalah cowok. Semuanya berlatar tak lain dari keinginan dari lubuk hati yang paling dalam untuk membuktikan bahwa walaupun saya perempuan tetap mampu disamakan dengan lelaki.

Sesaat saya enjoy dan puas dengan keadaan tersebut. Tapi tak bertahan lama. Sebab tetap saja sekitar kami mencap saya adalah peempuan nakal yang dijadikan piala bergilir oleh teman laki-laki itu. Gila bukan? Padahal hubunganku dengan semua teman cowok tadi 100 persen dilatari persahabatan murni tanpa pamrih apapun. Saya betul-betul frustasi, marah, kesal namun tak bisa berbuat apapun. Akhirnya semua teman cowok tadi pergi satu-satu karena merasa tak enak hati menjadi penyebab kehancuran reputasi saya sebagai perempuan.

Lalu sejak itu saya mulai belajar menerima fakta bahwa perempuan haruslah bersahabat dengan perempuan. Kalau ada teman cowok istimewa maka dia harsu dijadikan pacar. Sungguh tidak enak hidup dalam norma macam itu. Tapi itulah kenyataan yang ada. Dan kita harus menerimanya. Terpenjara atau dicap sebagai cewek murahan. Oh my God! Kenapa saya harus dilahirkan ke planet macam ini?

Menjadi Perempuan: Kehormatan atau Kehinaan?


Dan mulailah saya membuat judul-judul penuh pertanyaan yang menjijikan. Tidak juga, sebab dunia ini sendiri sarat dengan pertanyaan. Kontroversi tiada habis. Ironi yang tak kunjung usai. Judul di atas sendiri merupakan kalimat Tanya yang hingga etik ini belum terjawab dengan pasti oleh masyarakat kita.

Menurut Nawal El Saadawi, kalau di Mesir seorang anak perempuan lahir, maka si bapak akan pergi tidur setelah memukuli istrinya dengan penyesalan. Sedang kalau anak lelaki yang lahir, si bapak akan tersenyum bahagia dan pergi tidur dengan tenang. Pramoedya Ananta Toer mengisahkan dalam Gadis Pantai, para suami ningrat Jawa tak sudi melihat anaknya yang baru lahir kalau si anak berkelamin perempuan. Bahkan sampai berhari-hari atau selamanya sang bapak ningrat tadi tidak akan menjenguk anaknya walau tetap memberi nafkah materi. Dua contoh di atas berasal dari budaya berbeda, bahkan jutaan mil jauhnya terpisah. Namun ada satu garis lurus yang bisa ditarik persamaannya, sejak lahir perempuan tak dihargai.

Beranjak besar, seorang perempuan di keluarga Indonesia umumnya lebih banyak punya beban dibanding lelaki. Harus membantu ibu di dapur. Menghidangkan minuman untuk tamu yang datang. Menyapu, mengepel, cuci baju, cuci piring, beres-beres rumah, semuanya dianggap pekerjaan layak bagi anak perempuan. Anak lelaki bisa bebas tugas dari itu semua. Boleh pergi main hingga larut malam, makan, tidur, tanpa dibebani kerja apapun. Itulah potret mayoritas keluarga di Indonesia.

Setelah dewasa, seorang perempuan dilegalkan menjadi istri kedua, ketiga dan keempat bahkan juga simpanan. Acara berita kriminil di televisi selalu menyiarkan berita penggrebekan terhadap Wanitas Tuna Susila (WTS), tapi tak pernah mengekspos kinerja para Pria Tuna Susila alias gigolo. Iklan di media massa lebih kerap menyorot kecantikan dan tubuh sexy para perempuan, tapi pemandangan lelaki tampan sangatlah langka dijadikan nilai jual komersil. Seorang lelaki yang pulang kerja larut malam akan dipuji sebagai pekerja keras yang hebat dan cinta keluarga. Sedangkan perempuan yang pulang kerja malam hari akan dicap sebagai penjaja seks, cewek murahan, tak tahu waktu dan sejenisnya.

Dari semua fakta di atas, saya jadi bertanya-tanya, apakah menjadi perempuan itu sedemikian hina? Tapi ironisnya, kalau ada ilmuwan perempuan yang meraih penghargaan seperti Inez Loedin dengan beras transgeniknya, maka seluruh media massa akan bertempik sorak. Memuji-muji bahwa perempuan tak kalah dengan lelaki. Presiden perempuan awalnya sangat dihargai karena keperempuanannya. Bahkan Miss World yang jelas mengandalkan kelebihan fisikpun dipuja-puja seantero jagat raya.

Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan. Semua pujian dan sanjungan media massa terhadap prestasi perempuan hanya sekadar kecap dapur belaka. Mengapa seseorang harus disanjung berdasar prestasi plus jenis kelaminnya? Kenapa seorang Inez Loedin tidak dipuji sebagai ilmuwan penemu beras transgenik saja. Mengapa harus ada embel-embel “ilmuwan perempuan”? Opini saya adalah, sanjungan dengan mengikutkan predikat gender bagi perempuan justru merupakan penghinaan. Menjadi presiden bagi seorang lelaki dianggap wajar saja, tapi luar biasa ketika presiden itu berkelamin perempuan. Berarti di mata dunia, perempuan tetap mahluk lemah yang patut mendapat tepukan tangan kalau sedikit berprestasi. Hinaan itu adalah dengan memberi embel-embel predikat “presiden perempuan”, “ilmuwan perempuan”, “penulis perempuan” dan seterusnya.

Uniknya, kaum perempuan sendiri kerap kali tidak menghargai kaumnya sendiri. Mereka terbawa arus patriarkis yang menganggap perempuan selalu lemah dan rendah dibanding lelaki. Mereka adalah perempuan yang ikut menyalahkan sesama kaumnya ketika menjadi korban chauvinisme lelaki. Mereka bisa saja seorang ibu yang mencibir anak peempuannya yang hamil di luar nikah dengan mengatainya “perempuan murahan”. Atau seorang ibu yang berusaha sekuat tenaga memenuhi keinginan suaminya untuk memiliki anak lelaki.

Kembali ke judul di atas, sebuah kehinaan atau kehormatankah menjadi perempuan? Bagi seseorang yang sangat menghargai harkat manusia, saya dengan tegas menjawab, menjadi apapun kita adalah sebuah kehormatan. Bahkan kalau ingin meminjam rasa chauvinisme kaum lelaki, saya ingin tegaskan perempuan jauh lebih terhormat daripada lelaki.

Perlakuan budaya yang mengharuskan kaum perempuan menjaga keperawanannya sebelum menikah adalah bukti dari kehormatan itu sendiri. Lelaki boleh saja meniduri jutaan perempuan sebelum beristri. Tapi kaum ortodok menginginkan darah perawan di malam pertama. Bagi sebagian orang itu adalah pelecehan perempuan, tapi tidak bagi saya. Kita balik saja pandangannya. Bukankah itu berarti harga diri lelaki jauh lebih murah ketimbang perempuan? Lelaki dilegalkan mengobral seks pada siapa saja, tapi tidak perempuan. Tidakkah itu sebuah budaya penghormatan bagi perempuan?

Perempuan Perayu: Hebat atau Murahan?



Kalau lelaki pandai merayu, mereka dibilang hebat. Don Juan, Cassanova, playboy jempolan, pantas dipuja-puji. Kalau perempuan pandai merayu, maka ia adalah perek, pelacur, cewek matre, tak punya harga diri dan pantas dicibiri.

Itu fakta. Sama tuanya dengan fakta lelaki pengejar cinta itu Romeo sejati, gentleman, pujaan hati dan pangeran perkasa. Perempuan pengejar cinta adalah tak punya harga diri, murahan, bodoh dan menjijikan. Saya menggelengkan kepala terus menerus tak bisa berhenti.

Rasanya sudah basi kalau kita baca dalam sebuah rubrik konsultasi cinta remaja kalimat yang kurang lebih begini, “Kak, apa pantas perempuan menyatakan cinta lebih dulu?” Kenyataannya pertanyaan semacam itu terus menggema di seantero jagat percintaan Indonesia. Lalu biasanya akan dijawab, “Wah, sekarang sudah modern. Cewek sudah bisa menyatakan cinta,kok.” Namun teori tinggalah teori. Walau prakteknya mulai banyak perempuan yang berani menyatakan cinta, tetap saja berlaku hukum purba tadi bahwa perempuan perayu adalah pelacur.

Selamat datang di dunia laki-laki! Itulah kalimat yang pantas kita luncurkan kepada setiap remaja putri yang mulai mengenal cinta. Boleh saja ribuan atau jutaan perempuan meninjakkan kaki di bulan. Silakan saja perempuan menjadi jendral atau perdana menteri atau presiden.

Namun tetap saja untuk urusan cinta, lelaki yang pegang kuasa. Pepatah “kejarlah maka kau kan dapatkan” tak berlaku bagi Kaum Hawa. Sebab sekali kau mengejar lelaki yang kau cinta dan menyatakan cionta padanya, maka kau akan direndahkan sebagai perempuan tak punya harga diri. Perek. Pelacur. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika si lelaki memanfaatkan kesempatan dengan berbohong bilang cinta, lalu hanya butuh seks saja. Selamat datang di dunia penuh kemunafikan, wahai anak-anak Hawa!

Hati-hati, Sedang PMS


Hati-hati, Sedang PMS


“Kau ingin jadi apa?” Tanya ibu peri.
“Aku ingin jadi orang yang easy going,” jawabku.
“Apa itu easy going?” Ibu peri melongo.
“Hmm..apa ya? Itu lho, orang yang selalu menganggap mudah segala hal. Selalu menerima keadaan tanpa stress,” jawabku.
Ibu peri mendesah. “Andaikan aku bisa, Nak.”
Ia berlalu.

Bukannya ibu peri yang tak bisa, melainkan aku. Karakter manusia memang sulit diubah. Sekali kita terlahir maka ada bersama kita kromosom yang membawa sifat genetik. Itu semacam cetak biru yang sudah digariskan. Sulit diubah dengan cara apapun.
Berdasar tes kepribadian yang pernah kuikuti, aku tergolong manusia melankolis. Jenis manusia yang sering terbawa perasaan, moody. Barangkali tes itu betul mengingat situasi perasaanku mudah sekali berubah-ubah. Seperti ombak laut bergelombang. Kadang tenang, kadang bergejolak.
Aku membenci diriku sendiri. Diri yang sungguh cengeng, emosionil, sentimental. Menurut tes kepribadian Cosmopolitan, aku masuk kategori pribadi Ally Mc Beal. Perempuan yang di saat suka akan ceria sekali mengekspresikan perasaan senangnya. Tapi di kala duka akan sungguh tercermin di wajah. Oh God, kenapa aku tercipta seperti ini?
Berkirim SMS tak dibalas, maka aku akan marah, merasa dicampakan, sedih dan sebagainya. Terikat janji pada seseorang namun dikecewakan, maka aku akan tidak keruan seperti kucing tersiram air panas. Atasan sedikit cerewet membuatku merasa hidup seperti di neraka. Sampai terpikir untuk berhenti kerja. Menggilai seorang lelaki tampan sampai seperti sapi berahi. Dan masih banyak lagi ketololan lain sebagai mahluk manusia tanpa otak dan rasio.
Yang paling memprihatinkan adalah semuanya sangat memuncak ketika mendekat pada tanggal-tanggal tertentu. PMS! Tiga huruf yang sudah jauh lebih popular sebelum ada SMS dan MMS. Sayangnya tiga huruf tadi sudah mulai dilupa banyak orang, baik perempuan maupun lelaki. Jangankan lelaki, kaum yang mengalaminya sendiri pun sudah lupa apa itu PMS. Tapi herannya aku masih amat mengingatnya, baik kepanjangan maupun arti harfiahnya.
PMS itu singkatan dari Pre-Menstrual Syndrome. Sebuah keadaan yang dialami kaum perempuan pada awal, sedang atau setelah menstruasi. Dalam kondisi ini biasanya hormon dalam tubuh perempuan mengalami ketidakseimbangan. Paparan ilmiahnya saya tak bisa menjelaskan. Yang pasti sebagian besar perempuan yang mengalami PMS akan menjadi emosionil lebih dari normal, rasa nyeri di sekitar perut, buah dada membengkak. Tentu saja keadaan ini sangat tidak nyaman sehingga yang bersangkutan bisa terganggu produktivitasnya.
Tidak semua perempuan mengalami PMS. Ada yang tetap normal saja walau ada badai sekalipun. Itu di luar kebiasaan dan kami menyebutnya perempuan super. Tapi sepengetahuanku, sejak mengalami menstruasi pertamakali sampai hari ini, sebagian besar teman perempuanku selalu menderita akibat PMS.
Sedemikian ingat dan cintanya aku pada tiga huruf tadi, sampai-sampai menulisnya dalam statusku di Yahoo Messenger (YM). Maksudnya agar setiap orang yang chatting denganku bisa sedikit waspada. Bahkan kalau perlu aku ingin mencetak kaos bertulis, “Hati-hati, sedang PMS!” dan dalam bahasa Inggris juga, “Beware, PMS Woman!”. Bukan karena ingin menarik perhatian atau membanggakan ke-PMS-anku. Sekadar peringatan terhadap sekeliling bahwa aku sedang dalam emosi tak terkendali yang bisa meledak kapan saja. Maka itu jangan sesekali mencari gara-gara dengan perempuan yang sedang PMS.
Jangankan saat PMS, saat tidak PMS saja saya sudah tergolong sebagai perempuan emosionil. Bagaimana saat PMS? Oh, itu penderitaan luar biasa. Bukan saya ingin menggarisbawahi kelemahan kaum Hawa satu ini. Bukan. Hanya saya mengakui amat teramat tak menyenangkan menjadi mahluk emosionil dengan tubuh lemah dan setiap bulan harus menanggung derita PMS. Sama sekali tidak menyenangkan. Jadi sebagai laki-laki, harap sedikit lebih simpati atau empati pada kami yang mengalami PMS. Bukan malah menyiuli atau melirik nakal kalau bertemu di jalan.

*suatu malam sehabis PMS usai*

Kali Ini, Tentang Cinta Platonis



Sahabat itu bisa lelaki, bisa perempuan. Alangkah indahnya kalau persahabatan sejati bisa terjalin antara lelaki dan perempuan. Tanpa ada kisah kasih menyek-menyek. Tanpa ada kecemburuan. Tanpa ada nafsu seks. Apapun itu.

Itu yang kata orang namanya cinta platonis. Cinta antar teman. Beda dengan cinta kepada kekasih alias cinta eros yang penuh nafsu, kecemburuan dan otoritas. Cinta platonis jauh lebih suci ketimbang cinta eros.

Perempuan butuh sahabat lelaki. Agar bisa mem-balancing pola pandangnya yang terlalu emosionil. Di saat tertentu kita perlu teman bicara yang tak melulu didominasi perasaan. Saya pribadi kalau ada masalah kerap curhat dengan teman lelaki. Mereka bisa memberi masukan yang rasional, logis, ketimbang teman perempuan. Tentu saja kita tetap butuh teman curhat perempuan kalau dalam keadaan luar biasa rapuh, memerlukan teman “senasib seperjuangan”.

Sejak SMA sampai kuliah, teman dekat saya mayoritas adalah lelaki. Berteman dengan mereka seolah menyuntikkan kekuatan tersendiri. Mereka seperti menulari saya dengan semangat untuk survive yang luar biasa. Tapi seiring dengan beranjaknya waktu, akhirnya saya lebih dekat dengan teman perempuan. Bukan berarti saya tak punya sahabat lelaki. Selalu saja ada.

Sahabat lelaki adalah teman kita yang bikin kita tak sungkan berkeluhkesah. Mereka juga tak dikotori pikiran kotor penuh nafsu. Tak ada kecemburuan.

Sahabat adalah orang yang bisa kita ganggu kapan saja, dimana saja. Tidak membuat kita sungkan untuk menyatakan GUE KANGEN ELU atau GUE BENCI ELU. Tidak malas membalas SMS. Tidak sayang membuang pulsa demi menelepon. Tidak ada kata CAPEK untuk membantu saat kesusahan. Juga bebas dari rasa gengsi demi menolong teman.
What a lovely friendship we have!!!

Wednesday, October 19, 2005

Sinonim Kata Janda: KUNTILANAK


F: Status kita mengerikan ya Mer?
M: Banget!
M: Janda…punya anak lagi…orang dengernya sama kayak denger kata KUNTILANAK..hahaha!

Itu tadi adalah petikan chatting antara aku dan seorang teman yang sama-sama single parent. Entah kenapa aku lebih suka disebut sebagai single parent ketimbang janda. Mungkin karena kata “janda” identik dengan istilah “janda kembang”, “janda penggoda”, “janda genit”, “janda gatel” dan sederetan panjang makian buat predikat satu itu.
Anehnya, duda justru tidak pernah mendapat “makian” yang sama. Justru duda dianugerahi gelar-gelar hebat seperti “duda keren”, “duda kaya” dan banyak lagi.
Ada apa dengan janda??? (bisa jadi sekuel film Ada Apa dengan Cinta..wakakakakak!)
Mari kita bikin studi kasus kecil-kecilan.

Saya dan teman sesama janda dengan anak tadi punya pengalaman mirip. Kami sama-sama pernah mencoba membina hubungan dengan lawan jenis setelah bergelar janda. Hubungan itu ke arah serius. Dan kami sama-sama terpuruk. Alasannya hanya simple saja: orang tua cowok tidak setuju anaknya menikah dengan janda. Punya anak lagi. Secara harfiah katakana saja begini: tidak ada orang tua yang rela anaknya menikah dengan cewek yang notabene BARANG BEKAS. Apalagi barang bekas itu punya momongan yang pasti akan jadi beban bagi si cowok.

Aneh? Itulah fakta. Jika digeber, maka akan lahir fakta bahwa memang nyaris semua orang tua tidak akan rela kalau anak lelakinya menikah dengan janda. Ada semacam gengsi atau arogansi yang terganggu seolah anaknya tidak laku atau tidak sanggup dapat jodoh perawan ting-ting.

Beda dengan para duda. Tau kenapa ada istilah “duren” alias duda keren? Karena lelaki walau berstatus duda tetap dipandang bagus. Orang tua yang punya anak gadis akan rela saja kalau dilamar duda asal duda itu kaya da keren. Jadi masalah status kedudaan tidaklah sehancur status janda.
Itu kasus pertama.

Kasus berikut. Apabila seorang janda memiliki anak yang kebetulan tidak sukses, maka semua orang akan menyalahkan si ibu yang janda. Akan ada kata-kata “Pantes anaknya rusak, ibunya janda sih. Ngga becus ngurus anak. Keluyuran mulu!”
Sebaliknya kalau seorang duda punya anak yang salah asuh, maka komentar yang muncul adalah,”Wajar deh anaknya begitu, kan bapaknya repot cari duit. Yang salah ya ibunya, kenapa mau cerai.”

Stereotip semacam ini sudah mendarah daging. Susah dilawan. Tidak mungkin malah. So..what we could do as a god damned widow??
Lawanlah dengan perbuatan. Buktikan bahwa janda juga bisa mandiri, tidak hanya menggantungkan hidup dari belas kasihan orang lain. Mampu mengukir prestasi dengan otak dan bakatnya. Ingat, revolusi ini hanya bisa berjalan dari diri kita sendiri, bukan orang lain. Maka kalau ada yang bilang status janda itu menyeramkan seperti kuntilanak, benarkan saja dan ucapkan saja: YA, SAYA KUNTILANAK DAN AKAN KUCEKIK KAMU SAMPE MATI, SEBAB AKU MEMANG TIDAK BUTUH UANG DAN RASA KASIHANMU!!!