Thursday, August 03, 2006

Aik, Asisten Saya






Masih ingat, sekitar setahun lalu, mungkin lebih. Di teras sebuah rumah sakit swasta bilangan Cikini. “Itu siapa, Mer? Tanya seorang sahabat.
“Oh, Aik, asisten gue,” jawabku.
“wah lu dapet asisten dari kantor? Keren amat.”
Aku hanya tersenyum geli.

Saat lain, menjemput Libby di tempat kursus bergengsi, EF. Aik dikira akan mendaftar kursus, padahal ia hanya mengantar Libby. Aik cerita dengan geli pada saya.

Kali lain, di sela meeting saya mendadak ingat bahwa Libby siang itu pulang sekolah lebih awal. Saya menelepon Aik dari ponsel. Teman bertanya, “Ada apa Mer?”
“Hubungi asisten gue nih, penting.”

Lain waktu lagi, dalam sebuah acara larut malam di kantor teman, saya bergegas pulang lebih dulu. “Kasihan, Libby cuma sama berdua asisten saya di rumah,” jelas saya pada teman.

Siapakah Aik?

Seorang perempuan 33 tahun dengan penampilan resik, tubuh kurus mungil, rambut keriting panjang. Tutur katanya halus, khas Sunda. Sabar. Saya tak pernah tega memarahinya walau ada kesalahan. Ia pernah menikah ketika sudah tinggal setahun lagi lulus SMA. Suaminya selingkuh, kawin lagi. Padahal Aik sudah keguguran tiga kali demi menganugerahkan anak buat suami tercinta. Akhirnya mereka bercerai.

Dan di Depok saya bertemu perempuan bersahaja itu. Aik membantu saya. Meng-asisten-i kehidupan saya yang super sibuk. Telaten menghadapi kenakalan Libby. Mencuci dan menyetrika baju-baju kami dengan rapi. Menjaga kebersihan rumah kami. Memasak hidangan lezat setiap hari. Rela berpanas-panasan menjemput Libby pulang sekolah.

“Mama Libby, saya minta dua bulan gaji. Biar deh dipotong. Bulan depan ngga usah gajian.” Saya tak pernah tega menolak permohonannya.

Aik, asisten saya yang cantik, penyabar, rajin. Saya tidak pernah tega menyebut kamu "pembantu". Kata "asisten" lebih tepat dan terdengar manusiawi.

Aik, bisa apa saya tanpa kamu?

Wednesday, August 02, 2006

Age Doesn't Matter????

Makin bertambah usia, yang namanya perbedaan umur itu kian tak kentara ya? Pertanyaan itu menggantung di benakku. Zaman kecil dulu, malas banget bergaul sama yang umurnya satu-dua tahun di atas kita. Itu zaman SD kayaknya. Lalu pas sudah SMP, masih OK deh bertemen sama yang dua-tiga tahun di atas kita. Tapi kalau sudah lima tahun ke atas, rasanya risih. Ngga level.

Kelamaan pas sudah kuliah, rasanya ngga masalah berteman dengan yang enam-tujuh tahun di atas kita. Justru bangga. Sebab membuktikan kita sudah menyamai pemikiran mereka.

Belakangan ini, bersama seorang teman, saya baru sadar. Terlalu banyak bergaul dengan orang yang usianya jauh di atas kita. Sepuluh, lima belas….oops!

“Gimana mau dapet cowok ya, gaulnya ama om-om molo! Yang ada dikira kita peliharaan om-om!”

Whoaaaaa.. tidak! Mereka adalah teman-teman yang berasal dari komunitas nara sumber. Kebetulan kami adalah jurnalis. Jadi kami banyak berhubungan dengan nara sumber atau tokoh-tokoh yang jelas saja usianya jauh di atas angkatan kami. Menyenangkan sesungguhnya berteman dengan mereka. Memperluas wawasan, menambah ilmu, memperkaya pengetahuan tentang aneka ragam karakter dan gaya hidup manusia. Dan yang jelas menambah koneksi dimana-mana.

Ya, sangat menarik memang. Tapi kembali ke problem semula, kami jadi merasa “tua” sebelum waktunya. Bukan tua di pemikiran atau gaya, melainkan jadi dianggap tua oleh sekitar. Mungkin cara bicara kami terpengaruh. Atau pola pikir kami? Nevermind sih, kami jadi merasa dewasa dan makin matang...

Kadang saya kangen juga bertemu dengan teman sebaya, seusia. Hanya sayang teman-teman saya saat ini kebanyakan sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Ditambah Jakarta adalah kota yang macet, dimana jarak yang dekat saja membutuhkan waktu cukup lama untuk dijangkau. Alhasil, pertemanan kami lebih banyak berlangsung di SMS, chatting di YM atau email dan telepon. Untuk bertatap muka langsung harus disusun jadwal yang tepat dulu, itu pun dengan risiko mendadak batal karena ada urusan lain :(.

So, teman yang selalu siap "bergaul" bersama saya justru kalangan om-om nara sumber tadi. Sebab kami bisa bikin jadwal yang lebih seirama. Mengingat saya adalah jurnalis dan mereka adalah para tokoh. Jadi kesempatan bertemu itu selalu saja ada.

Maka jadilah saya dan sahabat tadi banyak berteman dengan orang-orang yang usianya jauh di atas kami. Hmmmmm....

Jadi terbayang, saat saya sudah nenek-nenek nanti, bergaulnya sama siapa ya? Masak sama mayat??? Whoaaaa!!!!

PS: Coba ya para Om-om nara sumber yang baik hati. Tolong kami dikenalkan dengan keponakan atau sepupu atau siapalah yang usianya sepantaran kami. Hitung-itung bonus atas pertemanan kita, gitu lhooo. Hihihi!

Tuesday, July 25, 2006

Become A Commander of My Self


A long long time a go
There was a girl who crazy about a book tittled "Interview with The History" written by Oriana Fallaci. That's a book contained by several interviews made by Fallaci with some big figures at the time as Gorbachev, Golda Meier, Yasser Arafat, Henri Kissinger...etc. That book she borrowed from the school' library. But now she never find that precious book that inspired her to become a journalist.
The girl is me :)
And Oriana Fallaci is a great great journalist woman from Italy that I admire so much!
Pitty, my boss never took me at politic post as her...
But no problem...to fight the right things for my country, my people, we always could do in many fields...science and tech just one of them..

Hmm terlalu mengada-ada ya? Klise ya? Setidaknya lebih baik daripada harus bermenyek-menyek dengan Kisah Cinta Saphira, postingan terdulu yang menjijikan itu.
Belakangan ini saya merasa sedang berdiri di atas tanah genting. Mungkin karena efek gempa di Jakarta beberapa waktu lalu. Juga berita-berita gempa sana sini , ditambah isu gempa bohongan.

Kita selalu butuh waktu untuk berpikir, merenung, berintrospeksi. Celakanya, saya terlalu banyak melakukannya belakangan ini. Bisa jadi efek PMS, kondisi tidak menguntungkan bagi kaum Hawa. Membuat emosi meletup seaktu-waktu mirip gunung Merapi.

Menjadi jurnalis adalah mimpi saya sejak lama. Mimpi dan cita-cita yang membuat saya dipojokan kerabat dan keluarga. Saya terlahir dari ayah seniman dan ibu serba bisa. Mereka berpisah sejak saya masih jadi janin. Dan beginilah saya, hidup tanpa komando siapapun kecuali diri sendiri. Hari ini, saya menjadi komandan rumah tangga saya sekaligus diri saya sendiri. Berusaha menjadi komandan revolusi seksual yang sementara masih berlaku di dunia virtual, blog ini.

“Lu mau jadi Che Guevara-nya cewek Mer?” Tanya seorang teman.
“Pengan kayak Oriana Fallaci?” Tanya yang lain.
Tidak. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri. Bukan perempuan menyek-menyek yang dikendalikan PMS dan hormon estrogen.

Actually, I very very hate and proud and love and hate and love and hate myself this time!!! Aaaarrgghh!!!

Sunday, July 23, 2006

Kisah Cinta Saphira


Romantic mode is on***

Tersebutlah seekor naga betina nan cantik, Saphira. Sisiknya berwarna biru gemerlap, kemilau saat ditimpa cahaya. Ia hidup di zaman naga sudah menjadi spesies langka di muka bumi. Sejak lahir, ia sangat jarang bertemu sesamanya.

Kemudian ia bertemu Glaedr, naga lelaki yang perkasa. Walau jauh di atas usianya, Saphira terpesona oleh Glaedr. Sayang, Glaerd tidak suka pada Saphira. Mungkin ia punya cinta lain. Mungkin ia sudah tak berminat dengan naga betina lagi.

Dan akhirnya Saphira kembali sendiri. Melanglangbuana kemana-mana. Entah kapan menemukan spesiesnya kembali. 10, 100 atau 1000 tahun lagi. Atau bahkan tidak akan pernah?

Saphira adalah naga Eragon dalam buku karya Christoper Paolini. Sudah kubaca sampai buku kedua beberapa bulan silam. Kisah epik nan unik semodel dengan Lord of The Ring. Dan peratianku justru terpusat pada kisah cinta Saphira. Sebab belakangan ini sedang mellow. Merasa aku adalah Saphira! Hiks!

Wednesday, July 19, 2006

Indahnya Persahabatan

This summary is not available. Please click here to view the post.

Sunday, July 16, 2006

Nadine dan Saya


Nadine dan saya adalah 180 derajad. Nadine 100 persen cantik. Saya 100 persen tidak. Walau nenek saya bilang saya adalah cucunya yang tercantik. Walau masih selalu digoda cowok iseng setiap melintas di jalan. Walau kata cowok pertama saya dulu saya adalah pemerpuan tercantik yang pernah dilihatnya. Yang jelas, sampai detik ini saya tidak pernah mengandalkan kecantikan saya untuk bertahan hidup.

Nadine dan saya adalah bumi dan langit. Tapi pekan kemarin kami sama-sama sial. Dan kesialan itu sama-sama kami alami di depan layar TV. Dan saya benci kamera TV! Sangat benci!

Kisahnya simple saja. Belum lama berselang menerima SMS dari seorang host. Diundang menjadi narasumber acara talkshow Teknologi Informasi (TI) di sebuah TV. Okelah, walau bukan pakarnya saya masih merasa bisa.

Hari H rekaman pun tiba. Menjelang mengudara, saya digiring ke ruang make up. Padahal saya sudah yakin wajah saya baik-baik saja tanpa tambahan coreng moreng itu. Namun demi menghormati si empunya acara.saya pasrah saja. Muka dipermak habis-habisan.

Hidung dibuat sedemikian rupa jadi mirip hidung Krisdayanti. Rambut di-hair spray. Kalau tak salah terakhir kali saya di-hair spray adalah 10 tahun lalu saat dipaksa pakai kebaya. Kulit wajah saya entah diapakan jadi rata, mulus, bak aspal arena Formula One Monte Carlo. Bagus sih, jerawat jadi tak kasat mata. Tapi kok rasanya wajah saya tambah tebal 10 cm ya??? Dan yang paling parah, alis! Ohmygoodness! Alis saya lebih mirip Jembatan Semanggi!

Begitu bercermin.Oh, no!!! Itu bukan wajah saya! Entah wajah siapa yang ditempelkan ke muka saya.

Semua kepercayaan diri yang saya himpun sekuat tenaga dari rumah, musnah sudah. Bagaimana mungkin saya tampil percaya diri dengan wajah yang bukan wajah saya? Di depan kamera TV pula. Akan disaksikan orang sekian banyak pula.

Dan terjadilah tragedy Nadine ke-2 itu! Walau tak sebodoh dan sememalukan polah kandidat Miss Universe itu, saya tetap merasa luar biasa tolol, idiot, goblok, moron , embisil dan sebagainya. Saya gugup, bicara terlalu cepat, dan ada satu kata yang sangat fatal saya ucapkan. Biarpun itu rekaman, tidak ada "cut" pada kesalahan kata. Luar biasa. Apa bedanya dengan tayangan "live"?

Nadine dan saya bagai kondominium mewah dengan kost-kostan alakadarnya. Ibarat kapal pesiar glamour dengan perahu sekoci. Tapi kami sama-sama dipermalukan di depan pesawat TV. Dan itu terjadi di pekan yang sama.

Thursday, June 29, 2006

Pelipur Lara itu Bernama Embroideries


Iya! Aku punya sepupu laki-laki yang selalu bilang dia hanya mau menikah dengan gadis yang masih perawan. Kemarin dia meneleponku, katanya dia mau berubah pikiran. Waktu aku mengucap selamat karena kupikir dia sudah sadar, dia bilang “Marji, aku berubah pikiran karena tidak ada lagi gadis-gadis yang masih perawan.”Itu petikan percakapan Marji, tokoh dalam buku Embroideries karya Marjanne Satrapi. Sebuah buku komik dewasa tentang percakapan khas perempuan. Gambarnya sederhana tapi lucu, mampu menggambarkan semua adegan secara pas.

Buku itu sudah menarik hati sejak pertama melihatnya di toko. Dan akhirnya seorang sahabat memberikannya sebagai kado pelipur lara setelah saya kena musibah seminggu silam. Dan manjur! Saya betul-betul terhibur karenanya!

Ada kisah tentang istri yang takut suaminya selingkuh. Ia menjalani operasi memindahkan daging di pantatnya yang besar ke payudaranya. Sang suami jadi tergila-gila padanya lagi. “Si tolol itu tidak sadar bahwa tiap kali ia mencium payudaraku sesungguhnya ia mencium pantatku!”

Tidak ketinggalan kisah sarkas perempuan-perempuan Iran yang dipaksa kawin muda dengan lelaki tua kaya raya berkedudukan tinggi. “Begitu aku melihat punggungnya yang berkerut, aku baru sadar aku tak mau menikah dengannya,”ungkap seorang tokoh tentang kisahnya yang menikah pada usia 13 tahun dengan lelaki yang 56 tahun lebih tua.

Selintas komik dewasa ini hanya hiburan pelepas stress. Tapi bagi saya, ada banyak hal tersirat dalam goresan tangan perempuan Iran yang menetap di Paris ini. Semua berkutat seputar perbincangan kaum Hawa tentang cinta, lelaki, uang dan seks. Tentang betapa hidup dan masyarakat serta tradisi seringkali tidak berpihak pada mereka.

Satu lagi adegan favorit saya: ketika sang nenek mengacungkan jari berteriak ,” BRAVO!” saat berkomentar tentang kebodohan suami yang menciumi pantat istrinya yang berpindah ke payudara tadi!

Hahaha!
Thanks berat, Ajeng!

Tuesday, June 20, 2006

Tamara sebagai Manusia

Wajah cantik yang biasanya tampil cool tersebut mendadak saja penuh ekspresi. Tidak biasanya seorang Tamara Blezinsky tampil emosionil di depan umum. Bahkan pada saat kasus perceraiannya, perempuan indo Cheko itu masih mampu “jaga image”.

“Kalau untuk urusan lain, saya masih bisa tahan. Tapi untuk urusan anak, saya tak tahan lagi,” ungkap Tamara diiringi isak tangis di sebuah acara infotainmen. Kemudian ia mengisahkan bagaimana kronologi pengusiran dirinya oleh mantan mertua saat ingin menemui anaknya Rasya.

Melihat Tamara saat itu, saya baru melihat artis sebagai manusia biasa. Tamara bukan sosok cantik nan ayu dengan peran-peran menawannya di sinetron. Ia hanya perempuan biasa. Ibu dari seorang anak yang coba dipisahkan. Saya seperti melihat diri saya sendiri beberapa tahun lalu, ketika Libby coba dipisahkan dari saya. Kisah yang saya alami mirip sekali dengan Tamara. Dilarang menemui anak kandung. Itu merupakan sisi terkelam dari hidup saya. Rasanya lebih baik mati daripada harus terpisah dari darah daging sendiri. Serasa kiamat dunia akherat.

Jadi ketika saya menyaksikan Tamara yang cantik itu tersedu sedan di layar televisi, saya amat sangat dapat paham sekali posisinya. Hal serupa terjadi ketika saya melihat Zarima yang anaknya diculik oleh lelaki yang bukan ayahnya.

Pembaca yang belum pernah memiliki anak, tentu menganggap tulisan ini terlalu mendramatisir, berlebihan, norak, kampungan, cengeng. Namun bagi para ibu sejati, tentu dapat memahami.

Memisahkan seorang ibu dari anaknya adalah perbuatan paling biadab di muka bumi. Lebih dari fitnah atau pembunuhan.

Para lelaki bisa saja dengan mudah tidak mengakui anak kandungnya. Lelaki gampang saja menelantarkan darah dagingnya. Lelaki silakan saja menyuruh pasangannya melakukan aborsi demi menjaga nama baik. Atau bahkan menjual atau membunuh bayinya. Bisa juga pelakunya perempuan.

Tapi bagi seorang ibu sejati, lebih baik mati ketimbang harus berpisah dengan anaknya!

Saturday, June 10, 2006

My "Weird" Point of View about Handsome Guy



Setiap orang mengalami perubahan cara pandang. Bahkan dalam hitungan menit dan detik. Demikian pula saya.

Cara pandang saya terhadap seseorang atau sesuatu selalu berubah dari waktu ke waktu. Berikut adalah cara pandang saya mengenai cowok ganteng, keren, kaya lagi pintar. Tipikal cowok idola sepanjang masa. Dan sayangnya, ternyata my point of view terhadap spesies ini sangat berbeda dengan mayoritas perempuan di muka bumi. Mungkin itu yang bikin saya "aneh".

Usia 10-15: Huh, Si Aji, cowok idola sekolah itu selalu cari perhatian dimana-mana. Gue juga dijadiin ajang TP (tebar pesona). Menjijikan. Memang keren sih, cuma kalo centilnya ngalahin cewek, mending gue pacaran sama tukang ojek kali!

Usia 16-20: Wow, tuh cowok keren abis. Pinter, ganteng, tajir, ngga ada matinya. Tapi malah makan hati kali ya kalo pacaran ama dia. Yang ada gue malah jadi “public relation” dia kali. Rugi!

Usia 21-25: Lumayan buat cuci mata, dijadiin temen buat dongkrak popularitas gue, sekalian bisa nebeng mobilnya, plus nyontek tugas-tugas kuliah. Sempet sih “ditembak” sama cowok model begituan, tapi kok gue malah ngeri ya. Jangan-jangan gue cuma mau dijadiin salah satu “piaraannya”.

Usia 25-30: Cowok ganteng, pinter dan tajir? Nggak penting banget deh. Yang penting sekarang adalah gimana gue dapat hidup tenang, tenteram, tanpa perlu merisaukan banyak hal, termasuk urusan cowok.

Sunday, June 04, 2006

Si Miskin Menyantuni Si Kaya?

“Saya adalah bandit. Saya hidup dari merampok orang kaya.”
“Saya seorang jentelmen, Saya hidup dari merampok orang miskin.”
(Man and Superman, A Comedy and Philosophy, Bernard Shaw)


Sadarkah anda bahwa orang kaya bisa hidup berkat orang miskin? Fakta menyakitkan itu saya alami baru-baru ini.

Akhir pekan kemarin saya mendapat SMS menyedihkan. Seorang bos side job saya menghentikan kontrak kerja. Alasannya tidak kuat lagi meng-hire saya. Telusur punya telusur, kebutuhannya membengkak karena seorang anaknya akan bersekolah di luar negeri. Hebat.

Di satu sisi saya bangga karena anak bos saya bisa sekolah di luar, sebuah kemampuan yang tak dapat dinikmati sembarang orang. Tapi di lain sisi, saya miris. Kenapa? Pendapatan yang saya dapat dari side job saya itu sangat membantu kepulan periuk nasi rumah saya. Berkat income tambahan tersebut, saya dapat sedikit menabung untuk kuliah anak saya kelak. Apa daya, income itu akan segera terputus.

Di obrolan dengan seorang teman saya mengeluh, “Demi anak bos sekolah di luar negeri, anak gue terancam ngga bisa kuliah..hiks!”
Si teman tertawa. Saya juga. Tawa sarkastis.

Orang miskin menyantuni orang kaya? Itulah yang terjadi di muka bumi ini. Rakyat kelaparan demi anak pejabat bisa belanja-belanji di Eropa. Pegawai kecil mengencangkan ikat pinggang agar istri bos besar dapat ke butik memborong gaun mahal dan emas berlian. Jadi ingat kasus Raja Louis ke berapa entah yang memaksa rakyatnya puasa agar ia selalu punya persediaan tepung buat dijadikan bedak.

Maaf, kali ini postingan saya bukan soal gender.

Friday, June 02, 2006

Proficiat, Halimah!


Saya pernah mencintai atau jatuh cinta dengan suami orang, pacar orang, kekasih orang, tunangan orang. Teman saya juga. Beberapa kawan pun demikian. Bahkan saudara saya demikian halnya. Yakin sekali, nyaris semua perempuan pernah mencintai lelaki beristri atau bertunangan.

Apakah dilarang mencintai, jatuh cinta, mengagumi lelaki yang sudah menjadi suami, kekasih, pacar, tunangan perempuan lain? Tidak. Sebab perasaan tak mampu dibendung. Cinta itu sama dengan benci. Bisa muncul tanpa alasan logis. Menghilangkan rasa cinta sama susahnya dengan menghapus rasa benci. Tidak ada perasaan yang salah.

Yang menjadi pokok masalah adalah, apakah kita akan melanjutkan perasaan itu ke tahap selanjutnya: mewujudkanya. Pada kasus Mayang Sari, ia mencintai Bambang Tri yang jelas sudah berkeluarga. Itu tidak salah. Yang salah adalah ketika Mayang tidak berusaha "tahu diri" menahan diri, menahan perasaannya dan berusaha mewujudkan rasa cinta itu. Kelamaan rasa itu berkobar, menjelma jadi rasa ingin memiliki. Muncullah niat buruk itu : merebut si lelaki dari empunya yang syah.

Sekali lagi saya ulangi, saya pernah mencintai lelaki beristri. Lucky me, saya tidak kebablasan seperti Mayang Sari. Saya tahu diri, bisa mengendalikan rasa itu dengan logika. Bayangkan saja kalau saya ada di posisi Halimah.

Kini yang menjadi masalah adalah apakah si empunya lelaki yang syah akan mempertahankan si lelaki atau tidak. Bukan tentang cemburu, otoritas dan sejenisnya, namun lebih kepada mempertahankan apa yang sudah dimiliki.

Walau saya pernah mencintai lelaki beristri, saya tetap menyerukan : PROFICIAT, HALIMAH! Pertahankan apa yang sudah kau miliki!

Thursday, May 25, 2006

Buku Bodoh dari Penulis Lelaki Bodoh



Belakangan ini saya sering menemukan buku aneh-aneh di toko buku. Saya lupa judul pastinya, yang jelas buku aneh itu misalnya berjudul "Kesalahan yang Banyak Dilakukan Perempuan dalam Berbisnis", atau "Bagaimana mengetahui Lelaki itu Tidak Benar-benar Mencintai".

Yang membuat saya geli adalah, judul-judul itu bodoh sekali. Mungkin yang bodoh memang penulisnya, atau penerbitnya, atau justru mereka sengaja ingin membuat perempuan terkesan sebagai mahluk bodoh. Sedemikian bodohnya sampai harus ada buku khusus tentang melakukan sesuatu atau menanggapi sesuatu.

Karena penasaran, saya membaca selintas salah satunya. Di satu buku dikatakan perempuan sering gagal dalam berbisnis karena jarang mengucapkan istilah-istilah ekonomi yang berkesan keren seperti "revenue", "BEP" dan sejenisnya. Dinasihatkan agar perempuan lebih banyak mempelajari istilah-istilah itu dan mengucapkannya pada even tertentu agar lawan bicara merasa terkesan.

Buku lain sangat remeh sekali isinya, yakni bagaimana perempuan mengetahui apakah seorang lelaki benar-benar mencintainya atau tidak. Hmm, kalau tak salah penulisnya adalah penulis Sex and The City. Di buku itu dibeberkan tanya jawab antara beberapa perempuan yang bingung mengartikan respon lawan jenis mengenai perasaan cintanya dengan sang penulis. Misalnya, "Mengapa dia tidak meneleponku?" atau "Mengapa dia tidak mengajakku menikah?". Yang menjengkelkan, penulis lelaki menjawab semua pertanyaan itu dengan nada yang merendahkan si penanya. Padahal jelas penanya adalah tokoh rekaan si penulis sendiri. Menggelikan!

Lalu kembali saya merenung. Kenapa para lelaki membuat buku-buku khusus untuk perempuan dan mengajari mereka bagaimana seharusnya berbuat atau bersikap. Apakah para lelaki itu sudah pernah menjadi perempuan? Atau justru mereka sesungguhnya perempuan?

Come on, tidak ada yang bisa memahami perempuan kecuali perempuan itu sendiri. Berhentilah menulis buku-buku bodoh dengan judul bodoh dan isi bodoh untuk perempuan. Kami sudah tahu apa yang harus kami perbuat tanpa harus membaca buku-buku bodoh yang dibuat oleh penulis lelaki bodoh.

Thursday, May 18, 2006

Tak Berjudul

..dan aku tak lagi mau berpuisi
tapi apa daya hidup begitu indah
sampai-sampai kunikmati debu jalanan menerpa wajah
dari jendela metro mini dan bajay
nyaris setiap hari

..dan aku pernah bersumpah, tak mau lagi bersastra
namun apa daya hari-hari teramat merdu
semerdu kaleng rombeng pengamen cilik yang dipukulkan ke tangannya yang kapalan
memekakan gendang telinga
sementara bau tengik bajunya merangsek ke lubang hidung

kurasa ini bukan puisi
sebab aku benci puisi
bukan pula sastra
sebab dunia sastra penuh pura-pura
jadi apa?
timbunan kata saja, barangkali

Thursday, May 11, 2006

The Strong Lady Behind A Man

Pagi tadi, pukul 6.15 pagi, aku melihat seorang ibu setengah baya sibuk mengangkati botol dan jirigen bensin. Banyak dan berat. Dari rumahnya menuju ke lapak penjualan bensin eceran di pinggir jalan. Itu bukan yang pertama kali, tapi setiap hari, setiap pagi.
Lapak bensin eceran itu milik suaminya. Pagi tadi aku iseng bertanya pada ibu kurus, agak tua tapi perkasa tersebut.

“Kok ibu yang ngangkuti bensin-bensinnya? Suami ibu kemana?”
“Masih tidur, neng. Jadi saya yang ngisiin jirigen, sekalian ngangkatin kesini. Ntar agak siang dia baru yang jualan.”
“Ibu bangun jam brapa tadi?”
“Wah, jam 3 juga udah bangun, neng. Masak, ngisiin bensin, bebenah. Bentar lagi mau nyuci ama ke pasar,” ia menjawab dengan senyum sumringah.
“Suami ibu kerjanya hanya jualan bensin aja kan? Ngga ada kerjaan lain?”
“Ngga neng. Itu juga cuma sampe siang. Udahnya ngaso di rumah. Saya jadi tukang cuci di tempat kos mahasiswa.”


Perbincangan sederhana itu membuat saya berpikir rumit sekali. Kalau saya tidak salah, penjaga lapak bensin itu seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Saya hapal karena tiap hari melalui jalan itu. Alangkah mirisnya, lelaki tinggi besar gagah kerjanya hanya jaga bensin eceran dan ngaso di rumah. Sementara istrinya yang kurus kering kerja keras mengurus rumah, mengangkuti jirigen berat, bangun jam 3 pagi. Belum urusan anak-anak.

Saya sangat salut pada ibu kurus itu. Betapa semangat dan tenaga luar biasa tersimpan di tubuhnya yang renta. Dan suaminya di mata saya tak lebih dari MONYET TOLOL PEMALAS TAK PUNYA OTAK DAN PERASAAN.

Jadi ingat kisah seorang teman lelaki yang berprestasi di kantornya. Dipuji atasan sebagai orang pintar membuat surat perjanjian dalam bahasa Inggris. Usut punya usut ternyata istrinya di rumah yang membuatkan surat itu. Istrinya waktu kuliah jurusan sastra Inggris dan langganan dapat IP 3,8. Si suami yang dulu hanya mahasiswa tolol jadi naik pangkat berkat jasa sang istri membantu pekerjaannya.

Hmmm mau tak mau ingat almarhumah Bu Tien, ex ibu negara kita. Setelah beliau wafat, karir politik suaminya, ex presiden Soeharto, terus merosot. Sudah banyak yang tahu bahwa di balik kejayaan Soeharto dulu, ada jasa Bu Tien yang sangat luar biasa membantu. Ibu manis berlesung pipit itulah yang sesungguhnya The Strong Lady Behind a Man. Tabik buat para perempuan luar biasa di seluruh dunia!

Thursday, May 04, 2006

Don't Hate Me Because I am Pretty!


Seorang teman menulis dalam blognya, “Apakah cantik itu menguntungkan?” Hmmm. Jadi ingat cerita nenek saya almarhum. Nenek yang saya panggil “mama” sejak kecil itu bertutur begini kira-kira: “Kalau ada dua gadis yang sama-sama pintar, satu cantik dan satu jelek maka yang akan sukses justru yang jelek.”

Saya yang waktu itu masih sangat belia nengerutkan kening karena heran. “Kenapa bisa begitu?”

Beliau menjawab, “Sebab yang cantik akan banyak mengalami godaan dari lelaki dan terganggu perjalanan karirnya. Sementara yang bermuka jelek tidak akan mengalami banyak godaan, sehingga pelajaran sekolah dan pekerjaannya akan berhasil.”

Saat itu saya mungkin masih berusia 10 atau 11 tahun. Tidak tahu apa yang dimaksud dengan “godaan lelaki”. Jadi saya hanya terdiam dalam kebodohan. Mengiyakan saja tanpa tahu pasti apa maknanya.

Selang beberapa tahun kemudian, ketika menginjak masa remaja, saya mengalami juga yang namanya “godaan lelaki”. Mulai banyak teman lelaki yang menawarkan jadi teman dekat. Melihat lelaki tampan pun saya terpesona. Konsentrasi ke pelajaran mulai terganggu. Itu terus berlangsung berulang-ulang sampai kuliah. Sebaliknya, teman perempuan saya yang tidak terlalu banyak “dilirik” lelaki tidak sebegitu terganggu seperti saya. Sekolah dan kuliahnya berjalan lancar tanpa banyak gangguan lawan jenis.

Bukan saya mengkategorikan bahwa saya cantik dan teman saya itu jelek. Sama sekali bukan. Mungkin saya beruntung mewarisi senyum manis mendiang nenek dan ibu saya. Mungkin itu yang membuat saya mengalami banyak “godaan lelaki” seperti yang dikatakan nenek saya tercinta dulu.

Hari ini, saya sudah berhasil melalui saat-saat sulit dimana “godaan lelaki” begitu berat rasanya. Sudah bisa bangkit dari keterpurukan akibat “godaan lelaki”. Thanks God!
Tapi kadang saya masih mengalaminya juga. Namun berkat kedewasaan dan kebijakan yang tumbuh seiring usia, godaan itu dapat saya netralisir sendiri.

So, apakah cantik itu menguntungkan? Kadang ya, kadang tidak. Tak heran kalau Eka Kurniawan menulis buku “Cantik Itu Luka”. Dan ada juga T-shirt bertulis, “Don’t hate me because I am Pretty!”.

Saya bilang cantik lho, bukan sexy. Hmm para penentang pornoaksi dan pornografi tidak membenci perempuan cantik kan? Hehehe.

Thursday, April 27, 2006

Pelecehan Seks Model Baru?

Kisah ini didapat dari seorang teman. Sebuah pengalaman memilukan . Kadang membuat saya menyesal dilahirkan sebagai perempuan.

Kemarin, 27 Maret 2006, seperti biasa saya pulang dari kerja di RSCM naik bus patas pulang ke kota. Kebetulan duduk agak depan kanan. Kira2 di dekat Kwitang, saya yang lagi ngantuk2 kaget mendengar kegaduhan di baris belakang. Semua penumpang
menengok ke belakang. Ternyata ada 2 orang bapak2 yang sedang
marah2 dan ngamuk terhadap 3 orang wanita yang duduk bersama di belakang.

Ketiga wanita ini masih muda, sekitar 25 tahun, duduk bertiga dengan dandanan mahasiswi, berkaus lengan pendek dengan celana jeans. Kedua orang yang ngamuk ini berusia sekitar 40 dan 50 tahun, berbaju jubah putih panjang bercelana kain longgar, berkumis dan berjenggot lebat dan menggunakan pici dan surban.

Mereka marah besar dan menuduh ketiga wanita yang duduk ini melakukan pornoaksi dan membuka aurat mereka, menyebabkan banyak pria melakukan dosa, dll. Sambil memarah mereka dengan campuran bahasa Indonesia, Arab dll dengan amat kasar
dan tak pantas. Terus menerus mengatakan murtad muted dan pujian pada Yang Di Atas.

Mereka akhirnya mengusir ketiga wanita ini di sekitar tugu tani ke luar bus. Sampai mereka turun di gang Petasan ke arah Mesjid Kebun Jeruk , mereka terus marah2 berdua, saling berdiskusi dengan suara garang dan keras sehingga terdengar ke seluruh bis, betapa sudah murtad dan tak bermoralnya Indonesia, betapa bangsa ini harus dicuci bersih, betapa semua orang sudah tak bermoral dan harus dikembalikan pada hakikatnya, dll.

Saya dan penumpang lain terus terang ketakutanjuga melihat kegarangan dua pendekar moral ini. Sesudah mereka turun, ramai kita bicara, rupanya kata penumpang ibu2 di
sekitarnya, 3 wanita tadi tak melakukan apa2, hanya masuk di Salemba dari
depan , melewati kedua bapak itu dan duduk ngobrol bersama, seperti biasa yang dilakukan orang2 di bus bersama rekan2nya. Tiba2 kedua bapak ini dari duduk di
depan bergegas ke belakang marah2.

Ibu2 di bis hampir semua merasa aneh, mereka semua rata2 berdandan sama, kaos lengan pendek, rok atau celana jeans namun mungkin karena sudah tua dan tak menggugah lagi, shingga dilepaskan oleh kedua bapak ini. Ini hanya kesaksian saya yang kebetulan
menyaksikan saja Bayangkan seperti biasa di Patas ke kota ini, yang naik bisa ber 5- 15 orang yang akan ke mesjid kebun jeruk itu, bagaimana bila mereka terus melakukan hal ini terhadap setiap perempuan yang menggugah mereka dan dianggap mereka membuka aurat dan tak bermoral. Tak lama pasti akan terjadi tindakan main hakim
sendiri
Kemarin itu ke3 wanita itu diusir dari bis, kalau para penegak moral itu, katakanlah ber 5-10, yang dimarahi itu sendiri atau berdua, dianggap sengaja merangsang siapa yang dapat menjamin tak terjadi tindakan kekerasan atau malah pelecehan seksual misalnya. Toh logika saya, para wanita itu sudah dipersepsikan sebagai perempuan bukan baik2, pasti tak ada salahnya dong di"apa apa kan"

Friday, April 21, 2006

Saya Perempuan dan Saya Bangga Karenanya!!!



A long long time a go, there's a girl who felt so shy to be a female. But nowadays, that girl became a lady who feel so proud for being a female.


Sore itu merambat malam. Baru aku melangkahkan kaki dari terminal Blok M yang semerawut, ke arah sebuah metro mini. Hari yang lelah setelah nonngkrong bareng teman-teman pengamen berambut gondrong. Aku bersepatu nike junggle, celana jeans ketat, kaos gombrong bergambar daun ganja dan tengkorak pemberian seorang teman. Rambut cepak dan gaya jalan sangat gagah.
Baru saja mendudukan pantat di bangku bis paling belakang, seorang cowok mencolek.
"Ada rokok?" Ia sok akrab.
Aku melengos ke arah jendela, berusaha tak peduli.
"Woi, ada rokok ngga?" Ia penasaran.
Aku masih cuek.
Kelamaan ia dongkol dan berujar, "Belagu amat, preman mana sih lu?"
Kehilangan kesabaran, aku berteriak dengan suara cempreng khas cewek, "Apa lu, beraninya lawan cewek?!"
Seisi bis menengok ke arah kami. Si cowok jelek tadi kaget karena tak menyangka aku perempuan. Dan ia langsung cabut menahan malu.

Itu kisahku beberapa tahun lampau, saat masih kuliah. Dan aku bangga kalau orang mengiraku sebagai cowok. Itu kurasakan sejak masa kecil dimana aku senang berdandan ala cowok. Orang kerap mengiraku Adi Bing Slamet kecil. Hihihi. Saya justru malu kalau terpaksa harus tampil dengan rok feminim pembelian ibu saya.

Hari ini, saya sudah lengkap sebagai seorang perempuan. Sudah pernah menikah dan melahirkan, dan kini membesarkan anak seorang diri. Apakah saya masih malu menjadi perempuan? Tidak sama sekali. Saya sangat bangga karenanya.

Mengapa? Hmmm, banyak sekali alasannya. Salah satunya adalah tingkah lelaki sebelah saya di bis yang memuakkan dalam perjalanan pulang kerja kemarin sore. Lelaki itu cukup parlente, rapi dan ganteng. Khas orang berpendidikan. Kesan pertama, saya lumayan tertarik. Tapi mendadak ia memasukan jari telunjuknya ke lubang hidungnya. Mengorek-orek upil. Dilakukan tanpa segan atau malu di hadapan saya. Ih, menjijikan.

Kalau saya lelaki, bisa jadi saya akan bertingkah menjijikan seperti itu. Untunglah saya perempuan!

Itu hanya segelintir sekali hal yang membuat saya bangga jadi perempuan. Masih ada miliaran alasan lainnya. Dan gadis yang dulu malu jadi perempuan itu kini sudah menjelma menjadi wanita yang sangat bangga dengan keperempuanannya!

Terimakasih, Kartini.

Sunday, April 16, 2006

Playboy...oh Playboy...



Di sela hujatan terhadap Playboy, ada satu Playboy yang saya suka. Justru saya berlangganan Playboy yang satu itu, yakni Playboy Kabel. Ini nama acara di SCTV yang tayang setiap sabtu sore. Kenapa saya suka dengan acara itu?

Playboy kabel adalah satu acara dimana pasangan kekasih diuji kesetiaannya. Misalnya Susi mengikuti acara itu untuk mengetes kesetiaan Tono pacarnya. Dirancanglah seorang cewek penggoda untuk menjebak Tono, katakan namanya Tini. Setelah tergoda, Tono diajak bertemu di suatu tempat dimana kamera tersembunyi mengintai. Apakah Tono setia pada Susi dan tidak akan terhanyut untuk selingkuh dengan Tini? Di sinilah letak serunya acara.

Dari sekian lama saya menonton Playboy Kabel, selalu saja pihak penguji adalah cewek. Korbannya selalu cowok. Dan 99 persen, cowok itu tergoda, berminat selingkuh, bahkan menjelek-jelekkan pasangannya di depan si cewek penggoda. Bisa ditebak, ending acara selalu berakhir "panas". Ada cewek yang menampar, meludahi cowoknya, menangis, menyiram minuman ke muka cowok, ketika mereka memergoki cowoknya selingkuh di depan pemirsa televisi. Ada juga cowok yang tidak terima sampai menampar balik ceweknya, memaki panitia acara dan banyak lagi.

Anehnya, kenapa tidak ada ya cowok yang berani menguji ceweknya dalam acara ini? Mungkin karena memang disesuaikan nama acaranya, Playboy Kabel. Kalau cowok mau menjebak cewek, berarti harus diganti jadi PLaygirl Kabel. Hihihi.

Tapi dari acara jahil ini terbukti sudah memang sebagian besar cowok mudah tergoda untuk selingkuh. Jauh lebih besar dari cewek.

Jadi ingat sebuah log chat dengan teman perempuan:
A: Cowok cenderung jadi playboy ya Mer, ngga kayak cewek.
M: Mungkin sebenernya cewek juga pengen jadi playgirl, cuma mikir dulu sejuta kali. Kalaupun ada, hanya cewek bermental baja aja yang bisa jadi playgirl.
A: Iya, kalau cowok jadi playboy, orang nganggep itu wajar. Tapi kalo cewek jadi playgirl, dianggap murahan.

Monday, April 10, 2006

Mayang-Bambang dan Gusti-Nia

Bagi pehobi infotainmen Indonesia, tentu setuju kalau saya bilang ada dua hot gossip yang sedang merebak saat ini.
1. Kelahiran bayi Mayang Sari-Bambang Trihatmojo
2. Tuntutan cerai Gusti Randa kepada istrinya, Nia Paramita.

Tunggu dulu, jangan tuduh saya wartawan gosip. Saya pribadi bukan pehobi infotainmen. Kebetulan pembantu dan kakak perempuan saya yang orang rumahan adalah pecandu acara itu. Jadi mau tak mau saya sedikit terkontaminasi.

Hot gossip pertama adalah tentang hubungan gelap Mayang-Bambang yang tidak pernah ada woro-woro menikah, tahu-tahu sudah “brojol” bayi. Padahal Bambang yang anak mantan presiden Soeharto itu sudah punya istri resmi, Halimah.

Jelas bahwa pangkal masalahnya adalah: Bambang selingkuh dengan Mayang sampai Mayang hamil. Tapi sejauh ini belum terdengar berita Halimah menuntut cerai atau membeberkan kebusukan suaminya ke publik. Terkesan Halimah adalah istri yang penyabar, baik dan pasrah.

Hot gossip kedua adalah Gusti Randa yang menuntut cerai istrinya Nia Paramita karena Nia dituduh selingkuh sampai hamil dan aborsi. Semua tingkah polah Nia dibeberkan oleh Gusti ke publik. Masyarakat otomatis menuding Nia adalah istri tukang selingkuh yang tidak bermoral. Penghianat suami. Pelacur. Dan semua tudingan buruk lain.

Dalam hati saya bertanya, “Kenapa Bambang tidak dituding sebagai suami tukang selingkuh, pelacur lelaki yang tidak bermoral?”

Kalau ditilik, kedua kasus tadi punya persamaan: sama-sama tentang pasangan yang tidak setia terhadap pasangannya sampai berakibat kehamilan pada perselingkuhannya. Tapi jelas terlihat bahwa Nia lebih banyak memetik kepahitan ketimbang Bambang. Suaminya yang pengacara (agak) ganteng itu tanpa segan membuka aib rumah tangganya. Sangat kontras dengan Halimah yang diam seribu basa. Padahal keduanya sama-sama korban penghianatan pasangan.

Kembali saya bertanya-tanya. Alangkah kasihan jadi perempuan. Harus selalu tabah walau dikhianati. Giliran berkhianat, harus menanggung malu dicerca suami sendiri dan masyarakat. Sebaliknya, lelaki justru selalu dimaklumi kalau mencak-mencak mirip orang gila saat dikhianati pasangan. Tapi ketika mereka berselingkuh, tak seorang pun berani mencerca.

Betapa adilnya dunia!!!

Tuesday, April 04, 2006

Gender Thing in Gadget


Sejak pakai iPaq 6365, ada saja yang protes. Bukan karena apa, tapi karena saya perempuan. Aneh ya?

Ini sebagian perbincangan itu.

S: Belum ada cewek pake iPaq
M: Lha gue bukan cewek?
S: Bukan...hihihi

E: Baru kali ini gue liat cewek pake iPaq
M: Emang dilarang?
E: Ya ngga sih, cuma aneh aja ada cewek pake gadget segede bagong
M: Lha, Nokia 9500 lebih gede dari iPaq. Banyak cewek yang make tuh..
E: Nokia emang desain buat cewek. Tapi iPaq...hmmmm mending pake XDA Mini deh lu


Ya ampuuun...gini hari masih berpikiran sexist! Masalah gadget pula! Kalau yang dimasalahkan adalah kodrati cewek-cowok yang tak bisa diubah, mungkin masih nyambung ya. Tapi ini hanya masalah gadget. Apakah ada aturan tertulis yang menyatakan gadget tertentu diperuntukan khusus buat cowok atau cewek? Hihihi saya jadi geli sendiri.

Pengalaman serupa pernah terjadi zaman kuliah doeloe. Waktu itu tren sepatu boot Caterpillar yang lebih top dengan simbol CAT warna hitam dan kuning. Karena suka, saya memakainya. Dan saya memanen kritikan dari teman.
"Ngga pantes cewek pake CAT, jadi terlalu gagah."

Bukan saya saja yang mengalami. Seorang teman perempuan yang memakai Nokia N-Gage ikut dikiritik. Kata teman cowok, "Ngga asik aja ngeliat cewek pake N-Gage."

Saya jadi berpikir, apa iya memang barang-barang tertentu sengaja dirancang buat jenis kelamin tertentu? Kalau produk perawatan muka atau badan, mungkin masih masuk akal harus dibedakan mana buat cewek dan cowok. Hmm...rok, lipstik, mascara..memang pasnya buat cewek. Tapi kok ada ya yang mengidentifikasikan gadget dengan gender. Lucu syekaleeee...

Ohya, ada lagi soal dompet. Saya tahu kalau dompet itu dibedakan antara dompet cewek dan cowok. Dompet cewek biasanya lebih panjang dan ramping, warnanya lebih bervariasi. Kalau dompet cowok cenderung warna hitam atau coklat saja dan lebih simple bentuknya. Kebetulan saya lebih suka yang terakhir ini. Kembali model dompet kerap jadi masalah tersendiri. Zaman sekolah dan kuliah, kalau belanja dengan teman-teman cewek, mereka protes, “Dompet bokap lu ya ,Mer?”

Weks, dilarang ya saya pakai dompet cowok?

Asal tahu saja, salah satu tokoh idola saya di masa lalu adalah Tank Girl. Tokoh kartun rekaan Jaime Hewlett dan Alan Martin yang gila, nge-punk abis, dan akrab dengan gadget-gadget maskulin. Kendaraannya saja tank. Jadi jangan heran kalau saya sedikit tergila-gila dengan benda-benda yang (kata orang) diperuntukan buat cowok.

Monday, April 03, 2006

Disney's Desperate Housewives



Lucunya..Hihihi..dari blog temen...BTW, saya ngga pernah lho nonton Desperate Housewives. Abis bukan housewife dan ngga desperate juga sih. Lagian Indosiar suka bluwek gambarnya..hihih.

Wednesday, March 29, 2006

Love is a Weird Thing


"Kadang-kadang kado valentine terindah tidak datang dengan bungkusan yang indah juga."

Ini memang bukan momen valentine. Jauh bahkan. Hanya mendadak saja teringat pada satu episode film serial televisi.
Dikisahkan Helga yang mencintai Arnold mati-matian ingin mengungkapkan cintanya yang lama terpendam. Pada hari valentine, ia menyamar sebagai sahabat pena Arnold dari Perancis. Tapi pada hari yang sama Arnold punya janji kencan dengan Ruth, cewek yang ditaksirnya.
Akhirnya Arnold menyusun rencana mengencani keduanya sekaligus di cafe yang berseberangan. Arnold harus mondar-mandir untuk menemani keduanya. Yang lucu, ternyata Helga yang di keseharian bersikap cuek jadi lebih berani terhadap Arnold karena ia menyamar sebagai orang lain. Pembicaraan mereka juga sangat nyambung. Kebalikan dari Ruth yang ternyata sama sekali tidak menarik untuk diajak ngobrol.

Helga adalah salah satu karakter dalam film kartun Arnold di Nickolodeon. Dia anak perempuan yang tomboy, selalu ingin jadi jagoan. Tidak cantik, karena memang ia tidak berusaha menjadi cantik. Arnold bahkan tidak memandangnya sebelah mata. Karena di keseharian Helga menutupi feelingnya terhadap Arnold dengan cara bersikap memusuhinya.

Faktanya, saat Helga menyamar jadi orang lain, keduanya saling cocok. Hmmm..another fact that LOVE is asomething really WEIRD!!! jadi, jangan salahkan saya kalau belum bisa mengerti apa itu LOVE sesungguhnya.

Wednesday, March 22, 2006

Banyak Anak Banyak Bencana

Pernahkah anda bertemu dengan keluarga pengemis? Pasti pernah, walau tidak mengenal. Sesekali mereka menyapa anda dengan tangan t6eracung meminta uang. Yang mengesalkan kalau kita sedang asik belanja di pasar atau menunggu bus, ada yang menoel-noel, lalu menyodorkan tangan dekil lagi bau ke muka kita. Dia memamerkan bayinya di gendongan.
Kalau diberi uang, tak lama anak-anak dekil menyusul meminta juga. Bergantian. Bersusulan. Mirip antrean beras murah.

Keluarga pengemis memang belum tentu keluarga kandung. Kadang tidak semuanya mengemis. Ada yang bapaknya preman, ibunya jualan di pasar, lantas anaknya disuruh mengemis. Tapi pernah suatu kali di emperan Sarinah saya tidak sengaja menguping pembicaraan sesama pengemis. Ternyata keduanya suami istri. Si istri sedang menanyakan dimana empat anak mereka. Sang suami menjawab, "Lagi ngemis di sebrang, yang dua lagi ngamen." Pasangan ini lalu berpisah, bagi lahan mengemis. Luar biasa.

Saya jadi ingat pepatah “banyak anak banyak rejeki”. Apa yang dimaksud adalah sepak terjang keluarga pengemis tadi? Jadi ingat juga dengan eks tetangga saya yang anaknya 12. Yang terbesar sudah menikah tanpa lulus SMA. Yang usia tanggung hobi tawuran dan jadi preman. Yang kecil-kecil jadi tukang ojek payung dan hobi nyuri jemuran. Saya pernah tanya ke sang ibu, “Ngelahirin mulu ngga capek?” Jawabnya: “Cape sih mbak, cuma ngga boleh KB sama suami saya.”

Semua kisah tadi saya bawa ke perdebatan dengan seorang teman. Menurut saya, orang yang banyak anak itu sangat sangat egois.
“Kalo kaya sih ngga apa-apa,” kata teman.
“Ngga, walau kaya raya, tetep aja egois kalo mereka punya banyak anak. Namanya maruk, serakah. Ngerebut jatah hidup orang. Ngerebut lapangan kerja dan rejeki orang,” debatku.


Saya jadi ingat lagi dengan kisah bapak yang pernah menikah 13 kali, anaknya 20 sekian. Sampai dia tak kenal kalau berpapasan dengan anaknya sendiri di jalan. Banyak anak banyak rejeki? Itu mitos yang bikin Indonesia tak kunjung sejahtera. Bikin manusia berebutan lapangan kerja. Bikin ekonomi kacau.

Fakta paling jelas adalah keluarga Cendana. Menumpouk harta bagi anak cucu sampai rakyat sengsara. Dan ini diikuti oleh konglomerat, pejabat, mulai dari yang kelas kakap sampai kelas teri. Aneh ya Indonesia ini. Tidak presiden, konglomerat sampai pengemis dan gelandangan, hobinya menumpuk harta bagi keluarga. Mencetak anak sebanyaknya. Persetan sekitar mau mati kelaparan.

Banyak anak banyak bencana.

Monday, March 20, 2006

Kebiadaban Itu Sungguh Terjadi

Kasus perkosaan massal di Indonesia hanya isu??? Berikut saya copy paste, dokumentasi Harian Bernas. Masih banyak bukti lain yang membantah bahwa tragedi kebiadaban lelaki ini hanya isu belaka.
Kenapa saya mengangkat kembali kasus ini? Sekadar mengingatkan bahwa menjadi perempuan itu sangat riskan. Di Pakistan, Bosnia, Kroasia, Irak, India, dan manapun, bahkan juga di negeri kita sendiri, perempuan selalu jadi tumbal.
Wahai para lelaki, bayangkan saja kalau ibu atau anak atau kakak perempuan anda yang menjadi korban perkosaan dan penyiksaan massal seperti ini. Apakah kalian masih bisa tersenyum sambil berkomentar, "Ah, hanya isu."


Perkosaan Masih Terjadi
* Di Jakarta, Terakhir 20 Juni dan 2 Juli 1998
Bernas - Kamis, 09 Juli 1998

Yogya, Bernas Pemerkosaan terhadap perempuan keturunan Cina tidak hanya terjadi bersamaan dengan kerusuhan 13-14 Mei di Jakarta, melainkan terus berlanjut pada masa-masa berikutnya. Kasus terakhir dengan pola sama, tercatat terjadi pada 20 Juni dan 2 Juli 1998.

Selain itu, tampak pula upaya-upaya untuk membungkam, meneror, bahkan menghilangkan korban-korban perkosaan itu, agar tidak memberi kesaksian kepada publik. Salah satu korban, bahkan sempat dicatat identitasnya dan diintimidasi agar tidak buka mulut.

Fakta ini dikemukakan Koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Romo Sandyawan Sumardi SJ, yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Sandy, dalam perbincangan terbatas di Universitas Sanata Dharma, Rabu (8/7). Kepadanya pula, para korban meminta pendam pingan, untuk meringankan beban jiwanya atas musibah itu.

"Tanggal 2 Juli lalu sekitar pukul 13.00 siang, di Sunter Hijau, ada seorang gadis mahasiswa Untar, dari suku Tionghoa diperkosa di tempat kosnya oleh serombongan lelaki berbadan tegap. Waktu itu ia sedang istirahat siang sendirian. Tapi ia berusaha berontak, dan bisa melepaskan diri," kata Romo Sandy.

Karena melawan, kawanan lelaki itu menganiayanya. Ia jatuh dari ranjang, dan perutnya disodok dengan linggis. Akhirnya linggis disodokkan kembali, sehingga rahimnya cedera. "Kabar terakhir yang kami dapat, ia mengalami operasi kedua untuk mengangkat rahimnya," papar Romo Sandy.

"Kita tak tahu siapa dan bagaimana pelakunya, tetapi cara perkosaan itu dilakukan mirip sekali dengan kesaksian korban perkosaan tanggal 13-14 Mei di Jakarta. Begitu brutal," ujarnya.

"Yang saudara baca banyak yang keluar dari internet duluan. Sebab banyak korban yang sudah dievakuasi ke luar negeri. Ada di Hongkong, Singapura, Eropa, Australia, Amerika. Mereka tersebar di mana-mana," tambah Romo Sandy.

Selasa lalu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menegas- kan, pihaknya yakin telah terjadi perkosaan secara masal, sistematis, biadab dan keji terhadap para wanita keturunan Cina di tengah kerusuhan 13-15 Mei di Jakarta. Karena itu Komnas HAM mendesak aparat keamanan mengusut tuntas dan menindak tegas para pelaku dan dalang peristiwa itu, (Bernas, 8/7).

Romo Sandy pun menyerukan, pemerintah dan pihak keamanan untuk tidak menganggap sepi kasus perkosaan masal, kebanyakan menimpa perempuan Cina itu.

Romo Sandy juga mengutarakan, pihaknya melihat ada upaya-upaya paksa dari pihak tertentu untuk menghentikan publikasi menyangkut persoalan ini. Ia mensinyalir upaya paksa dilakukan sebuah kelompok yang bekerja secara sistematis persis seperti yang terjadi dalam tragedi 13-14 Mei lalu.

"Selain ada usaha nyata untuk menghentikan munculnya berita-berita ini, ada juga usaha nyata untuk melanjutkan tindakan teror yang amat mengerikan dengan perkosaan ini. Maunya apa!" tegas Romo Sandy.

Maka, lanjut Romo Sandy, sangat bisa dipahami kalau para korban kerusuhan dan perkosaan itu membungkam mulut nya meski sudah banyak orang berseru, bahkan pemerintah pun secara resmi meminta agar pelaku kerusuhan itu diusut. Karena, seruan itu ternyata tak diikuti tindakan apa-apa.

"Tentu para korban ini belajar dari situ, untuk apa mereka bersaksi kalau tak ada tindakan apa pun. Bukan hanya malu secara publik, tapi mereka pun terancam," tutur Romo Sandyawan.

Bahkan, kata dia, tampak seperti ada usaha untuk menghilangkan secara paksa para korban itu. "Terbukti korban yang dilinggis (kasus Sunter Hijau) didatangi orang tertentu berkali-kali di rumah sakit," tandas Romo Sandyawan.

Ia juga menceritakan korban lain yang sempat didampinginya. Gadis keturunan Cina itu, kata Romo Sandy, digagahi tanggal 20 Juni lalu setelah 'diculik' dengan menggunakan taksi sebagai kendaraan.

Gadis yang baru lulus dari London Economic of School ini akan berangkat ke luar negeri untuk bekerja. Tiga hari sebelum pergi, ia sedang ada keperluan di Jalan Sudirman Jakarta. Sekitar pukul 16.00, ia naik taksi Royal City untuk pulang.

"Taksi itu seharusnya langsung masuk tol, tapi ternyata tidak. Ketika ia mencoba protes, mobil dihentikan, lalu dibuka paksa dua orang berbadan tegap yang kemudian turut masuk ke dalam taksi itu dan menyekap korban," ujar Romo Sandy menuturkan kembali kisah korban.

Masih mengutip penuturan korban, Romo Sandy menceritakan, ketiga lelaki -- termasuk sopir taksi -- itu saling bercerita mengenai pengalaman mereka di tengah kerusuhan 13-14 Mei dengan membakar dan memperkosa cewek- cewek amoy.

Malah, kata Romo Sandy mengutip pengakuan korban, satu di antara lelaki itu menceritakan pernah mengiris alat vital seorang korbannya.

"Ini adalah teror yang mendalam. Karena sesudah ia dalam taksi selama dua jam putar-putar, dan selama itu ia disuruh menunduk dengan kedua tangan di belakang. Kalau lelah dan mendongakkan kepala, ia dipukul, sampai sebelas kali pukulan," ujarnya mengutip pengakuan korban.

Wanita itu diturunkan di sebuah kawasan agak di luar pusat keramaian. Di atas rerumputan, ia digagahi secara bergiliran. "Pukul 02.00 dini hari, ia dinaikkan taksi lalu dibawa melaju, dan di suatu tempat diturunkan begitu saja," katanya.

Sebelumnya, kata Romo Sandy, ketika di bawah penguasaan para lelaki itu, seluruh dokumen korban sempat diminta dan dicatat. Bahkan ia diinterogasi dan diancam. "Kalau melapor, maka ia akan dibunuh dan keluarganya dibakar," tutur Sandyawan lagi.

"Menurut korban ini, masih ada dua temannya lagi yang kena musibah dengan modus yang sama, pakai taksi. Bahkan lebih parah, temannya ini mengalami perdarahan. Ketika ia pergi ke ginekolog, dokter itu juga sedang menangani pasien yang mengalami kasus sama," ujar Romo Sandy lagi.

Karena itu, kata Romo Sandy, kalau pemerintah tetap tak responsif atas penanganan persoalan ini, maka pihaknya akan membawanya ke tingkat internasional. Ia menilai kasus kekerasan ini sudah begitu serius, dan ini sangat menghancurkan kredibilitas bangsa Indonesia di mata internasional.

Dari Jakarta dilaporkan, pemerintah membentuk Tim Perlindungan Wanita Terhadap Kekerasan. Untuk saat ini tim tersebut memprioritaskan untuk menanggulangi wanita keturunan Cina yang mengalami kekerasan dan perkosaan pada 13 dan 14 Mei lalu. Tim ini diketuai Menteri Negara Peranan Wanita Tuty Alawiyah. (csm/ff)

Masih kurang? Silakan cari di Google Search. Apa itu hanya isu????

Friday, March 17, 2006

Satu Lagi, Bukti Kebiadaban Lelaki


Satu lagi bukti kebiadaban lelaki. Agaknya semua kaum perempuan memang harus mempersenjatai diri kemanapun mereka pergi. Ini saya dapat dari sebuah milis.

Beberapa hari lalu ketika sedang berbelanja di Tanah Abang saya didekati oleh seseorang yang berbisik-bisik menawarkan "barang istimewa." Ingin tahu, saya mengikutinya ke sebuah kios yang agak jauh dari keramaian.
Di situ ia mengaku mempunyai 3 macam VCD yang katanya laris manis, banyak dicari orang. Saya kemudian diperlihatkannya preview ketiga video itu, sangat singkat, mungkin total hanya sekitar 2-3 menit. Saya menyesal telah tergoda melihat preview itu.

Pada video pertama, terlihat seorang gadis WNI keturunan, berumur sekitar 20 tahun, sedang diperkosa bergantian oleh 5-6 orang pria yang semuanya mengenakan tutup kpala. Lokasi kejadian tampaknya di dalam sebuah gudang penyimpanan barang yang telah porak-poranda.

Ia ditelentangkan di atas meja, pakaiannya tercabik-cabik. Lokasi kedua adalah di ruang keluarga sebuah rumah yang agak mewah. Korbannya adalah seorang wanita berumur 30-an dan seorang gadis yang umurnya sekitar 17 tahun, keduanya keturunan
Cina. Mereka berdua dipegangi dan digagahi bergantian oleh 5-6 orang yang bertutup kepala. Bersandar di dinding, terikat dengan mulut tersumpal adalah seorang pria berumur 40-an dan seorang anak laki sekitar 11-12 tahun.

Rekaman terakhir adalah yang paling buas, mengambil tempat di halaman belakang sebuah rumah. Dua gadis kecil keturunan Cina, masing-masing berseragam SMP dan SD sedang dipermainkan oleh massa yang saya perkirakan berjumlah belasan orang. Gadis yang terkecil malah payudaranya belumtumbuh. Mereka dioper ke sana ke mari sambil disetubuhi bergantian oleh massa yang bersorak sorai dan tertawa riuh rendah. Para pemerkosa tidak mengenakan tutup kepala, hanya mukanya dicorat-coret dengan arang.

Dalam ketiga video, para pelaku dan korban terdengar berbahasa Indonesia. Cameraman juga terdengar memberi aba-aba dan instruksi dalam bahasa Indonesia. Selain memperkosa, para pelaku juga melakukan tindakan-tindakan biadab lain yang sangat merendahkan korban, yang rasanya tidak perlu saya paparkan di sini.

Setelah menyaksikan preview itu, saya menjadi takut dan buru-buru pergi tanpa menanyakan harga lagi. Saya memang bukan malaikat, saya punya beberapa VCD porno. Tapi yang biadab seperti ini, terus terang saya tidak tertarik. Lagipula aksi pemerkosaan massal di Jakarta melibatkan politik tingkat tinggi, saya tidak mau terseret-seret di dalamnya. Punya VCD rekamannya bisa-bisa kita dituduh sebagai salah satu pelaku pemerkosaan.


BE Carefull if u r a woman or a girl!!!

Tuesday, March 14, 2006

RUU APP + Kebiri = Yes!!!

Tetap, soal gonjang-ganjing RUU Pornoaksi & Pornografi (RUU APP). Beberapa teman protes, kenapa saya tergolong yang pro dengan RUU sialan itu. Awalnya saya memang kontra, tapi capek juga jadi kaum kontra revolusioner. Jadi saya berbalik arah, pro! eh, pro ini ada syaratnya juga lho.
Syarat itu adalah:

1. Bukan cewek aja yang dilarang aneh-aneh dalam RUU itu, namun juga cowok. Cowok dilarang bertindak asusila seperti yang selama ini mereka lakukan terhadap cewek. Dalam hal ini saya setuju banget kalau hukum Islam diberlakukan. Yang mencoleki cewek, jarinya dipotong. Yang ngintip cewek mandi atau berusaha menelaah detail body cewek, matanya dicolok pakai besi panas. Nah, kalau pemerkosa? Jelas kan apanya yang dipotong??? Pikir aja sendiri. Ya, jawabannya adalah penisnya. Kata lainnya adalah dikebiri.
Bicara soal kebiri, saya jadi ingat masalah utama penyebab kemiskinan bangsa ini: kelebihan penduduk. Nah, dengan kebiri maka angka populasi bisa ditekan serendahnya. Para pemerkosa akan jadi pejantan loyo yang difungsikan sebagai kuli saja. Great idea!

2. Orang di balik peneribitan media porno jelas adalah kaum LELAKI sialan. Mereka ini harus dijatuhi hukuman 100 kali lipat lebih berat ketimbang model pornonya. Kan mereka yang membayar, lho. Mustahil ada orang mau bugil tanpa dibayar kecuali orang gila. Hukuman apa ya yang pas buat para bos media porno ini? Kebiri pelan-pelan? Bagus juga kayaknya. Kebiri dengan perlahan, disilet-silet sama persis kayak aksi (kabarnya) Gerwani PKI dulu.

3. Definisi pornoaksi diperluas ke pelaku perzinahan yang berkedok kawin siri atau yang langsung ngaku kumpul kebo. Ini banyak dilakukan selebriti, pejabat, orang kaya, dan semua yang mampu menyogok aparat keamanan sehingga tidak digrebek. Pelaku pornoaksi ini wajib menyantuni fakir miskin seumur hidup dengan kalkulasi biaya yang transparan ke publik. Misalnya: penyanyi dangdut anu yang punya istri tidak syah telah dijatuhi hukuman pembiayaan fakir miskin Rp.20 juta per bulan bagi 20 keluarga di alamat anu anu, untuk kebutuhan anu-anu dan seterusnya. Jika mangkir dari kewajiban ini maka.....KEBIRI bagi lelakinya dan kerja tanpa digaji bagi perempuannya.

Nah, kayaknya itu aja dulu soal syarat pemberlakuan RUU.

Wednesday, March 08, 2006

Wawancara Imajiner dengan Presiden Repoblek Endonesah alias Saya Sendiri

Setelah melalui perjalanan panjang dan berliku lagi berbatu dan berlubang, akhirnya Merry Magdalena menjadi presiden Repoblek Endonesah. Berikut hasil wawancara Newswek-weks Magazine dengan presiden gila tersebut.

Anda sangat setuju Syariat Islam diterapkan di Repoblek Endonesah (RE), padahal anda bukan muslim. Aneh sekaleeeee geto lhoo. Apa penjelasannya?

Gimana ya, sebenarnya ini memancig pro dan kontra dalam kabinet saya.Tapi melihat kian banyak kasus perkosaan, pelacuran perempuan dan pergigoloan lelaki, pergermoan, perkawinsirian para artis dan pejabat di era lalu, maka sudah saatnya Syariat Islam ditegakkan. Saya mengganti namanya menjadi Syariat Nasional, sebab memang berlaku bagi semua umat beragama. Jadi landasannya bukan agama, melainkan nasionalis. Negara ini sudah terlalu hancur, jadi memerlukan tangan besi untuk memperbaikinya.

Ada satu lagi hukum model baru yang saya terapkan, yakni koruptor bersama dengan germo dan pemerkosa dikumpulkan di lapangan, dijermur selama mungkin sampai sekarat. Semua orang bebas menimpukinya dengan batu. Ini hukum rajam ya kalau di Islam? Setuju banget sama hukuman ini. Tapi ini tidak berlaku pada pelacur. No no no. Hanya pemakai jasa pelacur dan germonya saja lah yang harus dihukum.

Kok begitu?

Ya sebab pelacur itu tanpa dihukum sudah dapat hukuman sendiri, berupa aneka penyakit kelamin dan disisihkan oleh keluarga dan masyarakat. Mereka harus direhabilitasi, bukan dihukum. Justru pemakai jasa pelacur lah yang harus dihukum berat.

Berkaitan dengan UU Pornoasi dan Pornografi, apa anda tidak takut dituding melanggar HAM karena melarang kebebasan berpakaian induvidu? Bagaimana dengan penerapan jam malam?

Lho, saya tidak melarang kebebasan berpakaian. Mau bugil, silakan saja asal jangan di tempat umum. Ada kamar, toilet dan ruang tertutup lain dimana setiap orang bebas telanjang, pakai bikini atau sarungan saja.Kalau penerapan jam malam kan hanya perpanjangan dari Perda Pelacuran yang diciptakan lebih dulu, dimana tidak boleh keluyuran malam-malam nanti disangka pelacur.
Untuk adilnya ya sekalian saja saya buat aturan baik lelaki maupun perempuan ngga boleh kelayapan di atas jam 12 malam. Bukan cuma pelacuran dan perzinahan yang bisa dicegah, tapi juga perampokan, permalingan, perkosaan, pencurian dan banyak lagi. Efektif kan?
Bedanya, sekarang ada patroli polisi yang keliling kota. Kalau ketahuan ada yang kelayapan malam-malam akan diinterogasi dan jika terbukti bukan maling atau germo atau gigolo atau pelacur, akan diantar pulang ke rumah. Asik kan?

Oks deh kaka. Lalu apa jurus jitu anda untuk memerangi kemiskinan rakyat negeri ini?

Yang paling penting adalah penekanan populasi penduduk. Rakyat miskin kan diakibatkan jumlah makanan yang tersedia tidak imbang dengan jumlah mulut yang diberi makan. Jadi kita usahakan agar jumlah mulut itu berkurang.
Caranya? Ya dengan meminimalis kelahiran. Saya punya program KB massal, yaitu memaksa setiap orang untuk ber-KB. Semua air minum di RE akan diberi zat penghancur sperma. Lelaki yang meminumnya akan menjadi mandul. Ini akan dilakukan dalam periode tertentu. Ada badan pemantaunya. Kalau jumlah penduduk sudah imbang dengan lapangan kerja dan suplai makanan, baru KB Massal ini dihentikan.
Seorang staf ahli saya mengusulkan agar hanya sperma berkualitas saja yang boleh membuahi ovum. Tujuannya agar kelak kita melahirkan generasi bermutu, yang cerdas, jujur, bermoral dan kalau bisa ganteng dan cantik lah.


Bagaimana dengan gelandangan, rakyat miskin yang sudah berceceran dimana-mana? Mau diapakan mereka?


Ditangkap, ditampung di sebuah pulau untuk digembleng menjadi manusia berpendidikan. Kalau perlu dicuciotak, ditanamkan keyakinan bahwa miskin itu memalukan, ngemis itu menjijikan. Mereka harus jadi manusia mandiri. Maka kita beri skill yang kelak dapat dipakai untuk modal hidup. Ini juga berlaku pada para pelacur dan gigolo yang sudah terlanjur ada.

Friday, March 03, 2006

Mitos Soulmate: Buang ke Tempat Sampah!

Seorang teman perempuan, usianya sudah kepala 3. Jodoh tak kunjung datang. Sedikit frustasi, ia mencoba ajang chat di Yahoo Messenger agar dapat jodoh. Dua tahun lalu akhirnya dia berkenalan dengan lelaki India. Lebih muda usianya. Sejak itu mereka rajin online untuk bersua via webcam. Jalinan asmara dunia maya pun berlanjut ke arah serius.

"Dia janji mau ke Jakarta bawa ibunya, ngelamar gue." Si teman berkisah ceria. Saat itu sekitar November tahun lalu. Menjelang lebaran. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Beragam alasan dipaparkan. Susah visa, susah cari kerja dan sebagainya.

Belakangan, si India kian jarang online. Alasannya uangnya habis buat naik haji bersama ibunya. Janji melamar pun kian tersamar. Jadi ingat lagu cengeng zaman doeloe.."janji-janji bulan madu tinggal cerita..." Hahaha!

Sang teman sangat kecewa. Kuhibur dia dengan kalimat panjang menyesakkan ini.
"Pikir dong, buat apa cowok India susah-susah cari jodoh cewek Indonesia? Bisa jadi di negaranya dia nggak laku. Apa dia pikir cewek Indonesia lebih enak dijadiin istri karena dari negara miskin? Lagian lu juga blom pernah ketemua dia. Di chat sih OK, kalo ketemu blom tentu asik. Siapa tau dia psikopat?"
Sang teman pun tersadar.

Temanku itu hanya satu dari ribuan bahkan lebih perempuan Indonesia yang berupaya mendapat pasangan melalui Internet. Ada yang bernasib baik, ada yang mengenaskan. Teman lain justru berkisah tentang kawannya (duh ribetnya istilah temannya kawan, kawannya teman ini, kayak lagu Iwan Fals) yang berkirim email menyedihkan dari Amerika. Sang kawan ini curhat soal betapa perihnya hidup sendiri di AS, dan nyaris mau bunuh diri. Awalnya ia tergoda mencari jodoh cowok bule dengan harapan bisa memperbaiki nasib. Hasilnya??? Mengecewakan!


Saya tidak habis pikir. Apa yang dicari para perempuan ini. Tidak salah mencari pasangan hidup. Itu hak setiap orang. Namun berkorban sedemikian rupa sampai mempertaruhkan nasib? Wah, thanks berat deh kalau saya harus begitu.

Satu hal yang harus dicamkan baik-baik bagi para kaumku tercinta: hidup sudah sangat indah dengan atau tanpa pasangan (baca: lelaki). Untuk apa merusak keindahan itu dengan menyiksa diri. Ingat, mitos tentang soulmate atau belahan jiwa hanya diciptakan para mak comblang dan biro jodoh agar mereka terus mendapat keuntungan dari usaha para jombloer untuk mendapat pasangan.

Jadi, buang saja mitos soal soulmate itu ke tempat sampah terdekat!
Nikmati hidupmu selagi bisa tanpa peduli apakah kau sudah punya soulmate atau belum.

Wednesday, March 01, 2006

In Memoriam....


Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew….


Kalau mendengar lagu More Than Words-nya Extreme itu, bukan cinta yang kupikirkan. Tapi seorang sahabat, tepatnya seorang almarhum sahabat. Entah kenapa, semalam aku bermimpi teman lama yang sudah meninggal lama sekali. Apa hubungannya dengan lirik lagu itu? Oh, almarhum ini mirip sekali dengan Nuno Bettencourt, gitaris Extreme yang duper duper ganteng dan gondrong itu.

Si gondrong nan ganteng ini menyeruak begitu saja dalam mimpi anehku semalam. Dalam mimpi itu rambutnya tidak gondrong lagi, tapi agak botak. Mungkin karena penyakitnya. Sahabat ini memang meninggal karena sakit paru-paru zaman kami masih duduk di bangku kuliah dulu.

Tahu Joey-nya serial komedi Friends di TV? Nah, seperti itulah kira-kira kelakuan almarhum sahabatku ini. Ganteng, lucu , rada-rada bloon. Dia sadar banget kalau dia ganteng dan digilai banyak cewek. Tapi dia kurang PD dengan kegantengannya itu. Malah rambutnya yang panjang sengaja digerai menutupi wajah kalau berpapasan dengan rombongan cewek. Cita-citanya hanya satu, jadi gitaris top kayak Nuno. Dan dia memang pandai memainkan cord-cord lagu metal. Termasuk More Than Words yang romantis itu.

Ada satu hal yang membuatnya tidak PD sama cewek. Hanya aku dan beberapa sahabat dekat saja yang tahu pasti alasannya. Tidak perlu kubeberkan di sini. Yang jelas aku sempat memaksanya ikut lomba Cover Boy di sebuah majalah remaja saat itu. Formulir sudah diisi. Tinggal difoto saja. “Ntar kalo lu menang, hadiahnya separo buat gue ya!” Begitu ancamku belum apa-apa. Sayang, sahabatku ini tak pernah mau difoto.

Bahkan sampai sekarang aku tidak punya fotonya!

Marcel, apa maksudnya kamu datang di mimpiku semalam dengan penampilan aneh begitu? Ingin aku menyambangi makammu? Dan meletakkan seikat bunga di atasnya?

Ya, Marcel adalah salah satu cowok ganteng dan baik hati yang pernah kukenal. Untung juga kami tidak pernah berpacaran. Jadi aku tak perlu patah hati saat ia berpulang…

Tuesday, February 28, 2006

Meneladani Mukhtar Mai


Siapa Mukhtar Mai? Tidak banyak yang tahu memang. Namun kalau mengetahui kisah hidupnya, siapapun pasti akan mengacungkan dua jempol buat perempuan Pakistan ini.
Mukhtar kelahiran 1972 adalah contoh perempuan luar biasa yang harus menjadi teladan sesama kaumnya.

Bayangkan kalau anda menjadi seorang Mukhtar. Didakwa harus menjalani hukuman atas kesalahan yang dilakukan adiknya. Tidak tanggung-tanggung, hukuman biadab itu berupa perkosaan yang dilakukan empat orang lelaki sekaligus sambil ditontoni lelaki lainnya.

Di desa Meerlawa daerah Punjab, Pakistan, satu-satunya solusi bagi perempuan korban perkosaan adalah bunuh diri. Jalan ini dianggap dapat menghapus malu diri sendiri dan aib keluarga. Maka tak banyak korban perkosaan yang berani melapor ke polisi. Selain akan mendapat malu, korban juga tidak mendapat dukungan apapun dari keluarga atau warga desa.

Tapi itu tak berlaku bagi Mukhtar Mai. Perkosaan yang terjadi pada tahun 2002 itu dilaporkan ke pihak berwajib. Sempat mendapat kecaman dari warga desa, namun ia tak gentar. Karena tak mendapat kepastian hukum, Mukhtar mengungkap kasusnya ke sejumlah aktivis perempuan sampai tingkat global. Mukhtar dimaki sebagai perempuan pembawa cemar nama bangsa.

Perjuangannya tak berhenti sampai di situ. Mukhtar terus maju sampai ke taraf internasional. Ia bersaksi semua pengalaman pahit yang dialaminya. Bukan dia seorang. Komisi Hak Azazi Manusia Pakistan mencatat setidaknya ada 151 perempuan Pakistan yang diperkosa beramai-ramai pada tahun 2004 saja. Sebanyak 176 orang bunuh diri karena menanggung malu. Tak satupun pelakuknya diadili. Terbayang betapa beraninya seorang Mukhtar Mai membeberkan semua perilaku biadab kaum lelaki di desanya.

Perjuangan Mukhtar tidak sia-sia. Para pemerkosanya dihukum penjara. Mukhtar sendiri terkenal sebagai pahlawan kaum perempuan Pakistan. Ia mendirikan sekolah khusus perempuan yang tak pernah ada di desanya.

Andai saja perempuan Indonesia seberani Muhktar Mai...

Saturday, February 25, 2006

Apa yang Dicari Perempuan dari Seorang Lelaki?



Suatu pagi di Bandung. Sarapan di sebuah hotel resort daerah Ciembeleuiut (semoga ngga salah nulisnya). Ada yang melontarkan pertanyaan. "Apa yang dicari perempuan dari seorang lelaki?"

Pertanyaan sambil lalu yang tak ditanggapi serius. Lalu saya iseng nyeletuk ke seorang karib. "Apa ya? Ganteng dan hartanya aja? Kayaknya iya deh. Ngga ada hal lain yang gue cari dari seorang lelaki kecuali dua hal itu."

Padahal faktanya jauh-jauh hari sebelum ini, dua hal itu (kegantengan dan kekayaan) tak pernah saya perhatikan. Entah dikutuk oleh setan apa, sejak SMP saya selalu jatuh cinta sama lelaki yang tidak ganteng dan tidak kaya. Suatu kebodohan tiada tara yang disumpahserapahi almarhum ibu saya tercinta. Dan sekarang saya baru sadar bahwa almarhum ibu saya itu betul 100% dan saya salah 100%.

Dulu, saat dunia masih begitu indah di mata saya, saat idealisme masih melekat kuat bagai tai sapi di atas aspal, saya pikir kegantengan dan kekayaan bukan hal penting. Banyak cowok ganteng lagi kaya berseliweran di hidup saya dan tak pernah sekalipun saya pedulikan. Saya justru terpaku pada cowok-cowok "jelek" dan miskin. Saya pikir, cinta sejati tidak memandang materi. Hasilnya, saya berkali-kali mencintai cowok jelek dan miskin. Ternyata itu kesalahan besar dalam hidup.

Kini, saya meratapi kebodohan di masa lalu. Cowok jelek dan miskin memang tidak layak dicintai. "You deserve to making the selection, Mer! You are cute and sweet, smart enought and have a brilliant life and cool perfomance. You deserve to have many handsome, rich and smart guys around you!" Itu kata beberapa karib tentang aku dan selera burukku soal cowok.

So, what we're looking from a man? Kegantengan, kekayaan dan kepintaran? Wah, rasanya saya tidak mencari apapun dari lawan jenis. Saya tidak butuh mereka lagi. Saya hanya butuh ketenangan, kenyamanan, keindahan, kehangatan. Dan itu semua sudah saya dapatkan tanpa kehadiran lawan jenis.

Maybe someday. When?? Nobody know. And I don't wanna know...

Friday, February 17, 2006

Layakkah Lelaki Disebut Manusia?

Peristiwa ini terjadi sudah lama sekali. Sebuah pengalaman yang menambah kuat memori di otak saya bahwa memang setiap lelaki harus diwaspadai.

Masih ingat betul, pagi itu saya naik mikrolet menuju sekolah. Saya masih kelas 2 SMP. Sekitar pukul 6.30, mikrolet dan jalanan lumayan sepi. Dalam mikrolet hanya ada saya, kondektur (zaman itu mikrolet masih pakai kondektur lho), dan seorang anak perempuan SD. Di sebelahnya seorang bapak yang mulai tua. Gemuk, jelek, ubanan.

Saya tidak memperhatiakan kedua penumpang tadi. Sampai akhirnya saya lihat si bapak tua jelek itu menempelkan tubuhnya ke anak perempuan SD yang saya duga masih usia 10 tahun. Tubuh mereka makin menempel. Si bapak tua teesenyum senang. Si anak SD wajahnya panik, merasa tak nyaman.

Awalnya saya kira mereka itu ayah dan anak atau kakek dan cucu. Tapi ketika si bapak tua jelek sialan itu turun, si anak tidak ikut turun. Dia menangis. Saya jadi bingung. Apa dia dicopet?

"Bapak tadi mencet-mencet anu saya mbak...huhuhuhuhuhuuuuuu..." Anak berwajah manis nan innocent itu mengangkat tas ransel yang menutupi pahanya. Ternyata waktu bapak bangsat tadi menempelkan tubuhnya ke anak manis ini, tangannya menyelinap ke balik tas si anak yang dipangku. Dan tangan itu mempermainkan kemaluan si anak!!!

Waktu itu saya masih SMP. Masih naif, bodoh dan polos. Saya hanya bingung saja. sang kondektur yang tahu kejadian itu hanya tertawa. Kondektur itu laki-laki.

Sekian tahun berlalu, saya akhirnya sadar. Alangkah biadabnya bapak tua sialan itu. Anak SD tadi bisa jadi bukan korban pertamanya. Si kondektur juga tidak punya otak. Sudah tahu ada anak kecil ketimpa musibah malah diketawai.

Wahai laki-laki, apakah kalian layak disebut manusia?

Tuesday, February 14, 2006

The Other Side of Me



Hai para komentator semua...Thanks berat sudah mau capek-capek membaca dan mengomentari blog saya ini.

Sekedar mau membagi informasi bahwa saya juga punya blog yang memperlihatkan The Other Side of Me, yakni http://mermagdal-feature.blogspot.com ,sebuah kumpulan tulisan saya yang pernah dipublikasikan di media. Di link bisa diklik pada panel MyFeatures. Ini juga bekum semuanya. Hanya artikel yang saya suka saja yang saya koleksi di sini.

Dengan mebacanya maka kalian akan paham bahwa kesibukan saya bukan hanya mengumpati kelakuan menjijikan para lelaki tak tahu diri. Kesibukan saya sangat padat. Mulai dari serentetan acara jumpa pers, rapat redaksi, mengantar anak ke sekolah, membantu bikin PR, membaca, menulis, belanja ke pasar, memasak, juga merampungkan proyek lainnya. Ditambah saat ini saya punya kerja sampingan yang harus saya selesaikan di rumah.

Beruntung saya terlahir sebagai perempuan, kaum yang memiliki kemampuan multitasking, menjalankan berbagai aktivitas dalam satu waktu. Lelaki tidak punya kemampuan ini. Kalaupun ada sangat lemah. Kasihan!

Sekadar membuka mata kalian yang berpandangan picik bahwa saya "sakit jiwa" dan sejenisnya. Blog Revolusi Seksual ini hanya sedikiiiiiiiit sekali dari sisi hidup saya yang sangat berwarna. Kalau isinya penuh caci maki kepada lelaki, yah memang inilah fasilitas untuk itu. Sebab di dunia nyata saya tak bisa melakukannya. Bukankah dunia maya memang sebuah komunitas dimana kita dapat bebas berekspresi?

Saya tidak pernah menyesali hidup seperti yang dibilang seorang komentator bernama Surya. Masa lalu saya memang tak terlalu baik. Tapi saya sangat mensyukuri semua yang saya dapat saat ini. Kalau dulu tidak berpisah dengan lelaki bodoh yang sempat menjadi suami saya, mungkin saya hanya akan menjadi "babu kaum lelaki" yang notabene istri yang harus tunduk pada suami (huek).

Ada obsesi kecil di sudut benak saya, yakni saya ingin semua perempuan di muka bumi ini menjadi seperti saya. Mampu mandiri, independen di atas kaki sendiri, secara jasmani dan rohani. Tidak perlu menggantungkan hidup pada lelaki. Tidak cengeng. sebab saya kerap enemui banyak cewek yang langsung lemah tak berdaya begitu ditinggal pasangannya.

Solusi dari begitu banyaknya problem yang saya kemukakan di sini? Tidak ada. Solusinya terletak pada si asal muasal pembuat masalah itu, LELAKI. Ini sama rumitnya dengan mencari solusi bagaimana menangkal maling. Kalau malingnya sendiri tidak jera-jera dan tak pernah merasa bersalah, akan sulit dicari solusinya. Jadi ya sebaiknya kita paparkan saja terus semua keburukan tingkah polah kaum lelaki. Agar mereka sadar. Kalau ngga sadar-sadar ya ke laut aja.

Hahaha!
Keep on read, guys!

Like Mother Like Daughter




“Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah puetra-puteri alam. Mereka seperti anak panah yang kaulepaskan dari busurnya.” –Kahlil Gibran--

Buku harian pertama saya ditulis pada saya duduk di kelas 5 SD, usia 11 tahun. Puteri manisku Libby, sudah punya diary sejak usia 8 tahun. Dalam tempo satu tahun, bukunya sudah berserakan tak keruan, penuh dengan tulisan tangan warna-warni curahan hati. Buku gambarnya nyaris 3 lusin, berisikan komik dan gambar yang berkisah tentang dirinya. Komputer kami di rumah sebagian besar justru didominasi oleh folder Libby. Semuanya adalah cerita karangannya sendiri. Juga opini mengenai acara televisi yang dia suka. Saya sudah harus punya komputer pribadi sendiri agaknya.

Tulisan pertama saya dipublikasikan di majalah Hai, waktu saya kelas 3 SMP, usia 15 tahun. Sebuah cerita bersambung. Libby, pada usianya yang ke-9 mau 10, sudah berkeras ingin mengirim tulisan ke Bobo. “Harus belajar menulis yang bagus dulu, sesuai aturan guru bahasa. Lalu bikin cerita yang menarik,” tegas saya kepada Libby setiap kali ia merengek minta karyanya dikirim ke Bobo.

Buku bacaan pertama saya waktu SD adalah Lima Sekawan-nya Enid Blyton. Libby kini sudah tergila-gila pada karya Morris Gleitzman, yang bahkan saya pun belum sempat tahu. Ia juga melahap majalah Rolling Stones, chiklit koleksi saya, menonton semua kartun Nickoledeon, hapal lagu Peter Pan, suka semua acara MTV kecuali MTV Dangdut. Libby tahu bahwa Green Day lagunya bagus dan berisi protes. Mengidolakan Black Eye Peas. Menurutnya mamanya secantik Madonna (ehem!). Ia sangat ingin seperti Alicia Keys yang cantik dan pandai main piano serta menulis lagu.

Di akhir pekan, tidak ada hiburan yang paling mengasyikan kecuali ke toko buku, cari makanan enak, sesekali nonton film bagus. Kalau sedang bokek kami cukup puas terpaku di depan TV untuk meraup semua video klip MTV atau O Channel. Bosan dengan itu semua, kami akan bergantian memakai komputer untuk mengetik. Tak tik tak tik. Mengetikkan apa saja yang ada di kepala kami. Saya melanjutkan proyek buku, Libby sendiri dengan obsesinya sendiri. Entah apa.

Saya tidak pernah mengajarkan Libby untuk menulis atau menggambar atau mendengar musik. Saya tak pernah mendiktenya bahwa membaca itu bagus, menonton film itu mengasyikan. Tidak pernah. Si Kecil Manisku itu mengalir begitu saja. Mungkin ia melihat selama ini mamanya sangat bahagia berkutat dengan komputer, buku, musik dan film. Maka jadilah ia ikut menekuni bidang-bidang itu.


“Libby mau jadi pelukis yang jago main basket dan nulis buku,” itu selalu jawabnya tiap kali kutanya apa cita-citanya. Sungguh jawaban berbeda dari kebanyakan anak-anak lain yang akan menjawab ingin jadi dokter, insinyur, guru, pengusaha atau presiden. Libby kecilku tidak ingin jadi presiden, dokter, insnyur dan semua jabatan mentereng itu. Cukup jadi pelukis yang hobi basket dan bisa menulis buku. Sebuah cita-cita mulia yang sulit, nak. Tapi mama yakin kau bisa mendapatkannya. Sama seperti mamamu dulu yang memang bercita-cita ingin jadi jurnalis. Sebuah cita-cita yang dilecehkan orangtua dan saudara-saudaraku.

Kini, jurnalis yang dilecehkan keluarganya itu, masih bangga dengan profesinya. Dan ia tidak akan pernah melecehkan apapun cita-cita puterinya.

Monday, February 13, 2006

Lelaki Sumber Penderitaan Bangsa...Tanya Kenapa!

Belasan anak balita di Tangerang, Jawa Barat menderita kurang gizi. Sebagian ada yang busung lapar. Satu balita berasal dari sebuah keluarga beranak empat yang ayahnya pengangguran.

Warga di sejumlah daerah mulai makan nasi aking (nasi bekas) karena tak mampu beli beras murah. Salah satunya adalah keluarga dengan seorang janda dengan enam orang anak.

Seorang perempuan terpaksa menarik becak demi menghidupi enam anak dan satu suaminya yang sakit tak berdaya.

Seorang bapak mengaku pernah menikah 13 kali. Anaknya ada sekitar 20-an, dia tidak ingat betul. Bahkan kalau bertemu anaknya di jalan, dia mengaku tidak mengenalnya.

Semua kisah tadi hanya sebagian kecil fakta yang membuktikan bahwa asal muasal penderitaan negeri ini adalah kaum lelaki. Tanya kenapa.

1. Sudah tahu pengangguran, ekonomi pas-pasan, eh si lelaki yang notabene kepala keluarga kok masih rajin mencetak anak. Semestinya sebagai kepala keluarga, lelaki punya otak logis untuk mempertimbangkan urusan selangkangan. Bagaimana caranya supaya anak tidak terus berlahiran dan hidup susah, akibatnya malah kurang gizi.
2. Ibu yang harus memberi makan anak-anaknya nasi aking adalah korban kebodohan lelaki. Kalau memang dari ekonomi pas-pasan sebaiknya berpikir untuk tidak terus bikin anak sampai enam orang. Giliran si suami mampus, si istri yang jadi korban harus kerja keras menghidupi anak-anaknya.
3. Kisah ibu penarik becak juga sama saja. Korban ketololan lelaki yang hanya memikirkan nafsu syahwat saja. Kalau tidak, kok anaknya bisa enam???
4. Kasus bapak ber-anak 20-an, sudah membuktikan bahwa lelaki memang hanya pandai mencetak anak tapi tak becus mengurus dan membiayai.

Jangan salahkan saya kalau mengatakan bahwa semua penderitaan bangsa kita berasal mula dari para kepala keluarga yang tak becus memanajemen keluarganya. Memang sudah saatnya lelaki menjadi penjaga dapur saja, melayani istri dan anak. Biarlah perempuan yang mencari nafkah, memanajemen keluarga.

Tanya kenapa.
Sebab perempuan tidak akan membiarkan anak-anaknya menderita hanya demi kepuasan syahwat. Ia akan membatasi jumlah anak, sebab tahu pasti sangat sulit mengurus apalagi membiayai anak.

Dengan jumlah anak lebih dari tiga, ekonomi pas-pasan, kurang gizi, tidak sekolah, bahkan makan nasi bekas, apakah bangsa kita bisa membaik? Dan yang berekonomi mampu, eh malah kawin 13 kali.

Duh lelaki ini memang sumber malapetaka negeri! Thanks God saya tidak dilahirkan sebagai lelaki!

Sunday, February 12, 2006

Release: The Other Blog of Mine


Woro-woro...
tidak mau kalah dengan Angelina Sondakh yang mengadakan acara launching blog, saya juga ah. Cuma launching blog-nya secara online saja di sini.
Blog saya yang baru ini, http://magnolia-novel.blogspot.com ,sebenarnya hanya dokumentasi novel saya yang belum selesai, Magnolia Mencari Tuhan.
Blog saya yang lain yang juga berisi novel lumayan juga yang terbengkalai. Maka untuk menghilangkan kesan terbengkalai itu, novel saya posting per sub bab.

Magnbolia Mencari Tuhan saya tulis sekitar tiga tahun lalu. Berkisah tentang Magnolia, perempuan yang berupaya mengubah takdir hidupnya. Ada kisah flashback ke era 1990-an dimana Magnolia masih siswi SMA. Judul sub bab-nya sengaja saya adopsi dari judul-judul lagu rock 90-an yang lumayan saya gilai.

Hati-hati, novel ini sangat musikal. Bagi yang hobi dengan musik rock era 90-an, akan sangat nyambung deh.

Friday, February 10, 2006

Lelaki, Berhentilah Berlaku Seperti Binatang!



Kalau bertemu Tuhan di jalan
tolong kau tanyakah
apakah Adam diciptakan
untuk memperkosa Hawa?
-Rieke Dyah Pitaloka-



Sungguh tidak habis pikir. Kenapa ya lelaki yang kerap mengklaim dirinya adalah manusia nomor satu justru berlaku “tidak punya otak”?
Ini adalah beberapa contoh ke-“tidakpunyaotak”-an mereka itu.

Walau jelek, tidak kaya, jauh dari keren, cowok punya percaya diri begitu tinggi untuk melecehkan perempuan. Setiap hari dalam perjalanan pulang saya terpaksa melewati proyek pembangunan sebuah mall dekat rumah. Kuli-kuli proyek di situ selalu saja menyempatkan diri untuk bersiul, melontarkan godaan nakal, bahkan kadang menyoraki setiap perempuan yang lewat. Alangkah besar rasa percaya diri mereka ini.

Sebaliknya, coba kalau perempuan, tentu akan berpikir jutaan kali untuk menggodai lelaki, kendati lelaki itu gantengnya setengah mampus. Kita balik saja kondisinya, ada ngga sih perempuan jelek, tidak keren yang bekerja sebagai pembantu yang berani menggodai lelaki keren? Tidak kan? Kenapa? Sebab kami kaum Hawa masih punya apa yang namanya harga diri. Bahkan saat perempuan dalam kondisi cantik, kaya dan pintar pun masih merasa gengsi untuk menggodai lelaki. Ini tidak berlaku bagi pekerja seksual tentunya.

Bukti lain bahwa para lelaki tidak punya otak adalah, mereka itu sudah tidak punya harga diri masih tidak punya malu. Mari kita bandingkan, apa sih beda lelaki dan binatang? Nyaris tidak ada. Begitu tergiur oleh sesuatu, maka mahluk ini akan langsung mengejarnya sampai dapat. Terbukti dengan para pelaku perkosaan di muka bumi ini mayoritas adalah lelaki. Begitu tergiru oleh sesuatu yang merangsang, langsung memperkosa. Itu kan ulah para kaum Adam.

Mana ada sih cewek memperkosa cowok? Kalaupun ada kasusnya kecil sekali. Dan yang jelas pasti cowoknya yang suka.

Ditambah lagi dengan aneka fakta, kasus pelecehan seksual dimana-mana selalu dilakukan oleh lelaki. Seorang teman perempuan saya pernah jadi korban lelaki gila yang menumpahkan spermanya di tubuhnya. Kejadiannya di kereta Depok-Kota. Suasana sangat sesak, sampai si teman itu tak sadar apa yang terjadi. Baru disadari ketika turun gerbong, ternyata di bajunya sudah basah bersimbah sperma menjijikan!

Teman lain, penumpang setia Kowanbisata Depok-Pulogadung juga pernah mengalami nasib sial, dipameri barang cowok di tengah kesesakkan penumpang! Oh God, apakah para lelaki memang diciptakan untuk jadi psikopat seks?

Dan satu bukti yang kasat mata adalah, bau pesing yang sangat memualkan di terminal bis. Siapa yang membuat terminal bis jadi bau pesing??? Lelaki yang buang air sembarangan tentunya. Mustahil kan ada perempuan pipis sembarangan di terminal???

Duh, jadi mau muntah saya menulis ini semua.

Wahai para lelaki, berhentilah berlaku seperti binatang!

Tuesday, February 07, 2006

Mengapa Bad Boys Begitu Disuka?


Semalam saya menonton tayangan The Strory of Motley Crue di sebuah TV swasta. Tentu saja kelompok musik rock era 1990-an ini tak bisa lepas dari nama Tommy Lee, sang drummer. Memang sih ganteng, sexy dan terkenal. Tapi mantan suami Pamela Anderson dan Heather Locklear itu tak dapat dikatakan sebagai cowok baik-baik. Tomy yang sekarang berprofesi sebagai DJ sama saja dengan empat anggota band gila itu, liar, urakan, hobi mabuk dan merendahkan martabat perempuan. Bahkan Tommy sempat dibaptis sebagai Most Bad Boys dalam suatu program TV Kanada.

Anehnya, cowok model Tommy Lee ini banyak yang suka. Tidak sedikit teman perempuan saya yang mengatakan tanpa ragu bahwa cowok idolanya adalah yang gondrong, slengean, urakan dan nakal. Cowok tipe rapi, kantoran, alim dan sopan cenderung mendapat acungan jempol terbalik.

Memang ada sebagian cowok berpenampilan urakan yang ternyata berkelakukan manis. Tidak heran kalau yang tipe ini dijadikan idola. Tapi yang model Tommy Lee?? Wah, thanks berat deh. Selain urakan, gila, cowok model Tommy Lee juga berkelakuan minus. Ingat saja kasusnya dengan para mantan istri yang selalu meinginggalkan kenangan buruk. Belum lagi urusannya dengan pihak kepolisian.

Namun jangan salah, selalu ada saja perempuan yang suka dengan tipe ini. “Menantang, hidup jadi penuh warna berurusan sama cowokkayak gitu,” ungkap seorang teman.
Saya pribadi bukan pengagum cowok dari sisi penampilannya, melainkan dari perilaku dan sifatnya. Jadi cowok model Tommy Lee yang minus di penampilan dan kelakukan, sebaiknya stay away aja deh dari saya. Tapi yang bertato, gondrong asal berhati mulia, silakan saja mendekat. Hehehe.

By The Way, saya suka Motley Crue sebatas musiknya saja. Segala kegilaan mereka, indah juga buat dikenang sebagai hiburan.

Thursday, February 02, 2006

HOW TO STAY YOUNG

*Dari blog seorang karib. Sebab saya lagi males mikir dan nulis. Hehehe.*


1. Throw out nonessential numbers. This includes age, weight and height.
Let the doctors worry about them. That is why you pay them.

2. Keep only cheerful friends.
The grouches pull you down. Keep this in mind if you are one of those grouches.

3. Keep learning.
Learn more about the computer, crafts, gardening,
whatever. Never let the brain get idle.
"An idle mind is the devil's workshop."
And the devil's name is Alzheimer's!

4. Enjoy the simple things.

5. Laugh often, long and loud. Laugh until you gasp for breath.
And if you have a friend who makes you laugh, spend lots and lots of time with him/her.

6. The tears happen.
Endure, grieve, and move on. The only person who is with us our entire life, is ourself. LIVE while you are alive.

7. Surround yourself with what you love:
Whether it's family, pets, keepsakes, music, plants, hobbies, whatever.
Your home is your refuge.

8. Cherish your health.
If it is good, preserve it.
If it is unstable, improve it.
If it is beyond what you can improve, get help.

9. Don't take guilt trips.
Take a trip to the mall, even to the next county, to a foreign country, but NOT to where the guilt is.

10. Tell the people you love that you love them, at every opportunity.

Senggigi Biasa Saja



Senggigi itu indah, kata orang dan brosur pariwisata
bagiku kok biasa saja ya?
apa karena aku sudah pernah ke tempat yang jauh lebih indah?
dimana itu?
wah, lupa...ummm..Canes? Paris? Gede Pangrango? Kuta? Pantai Sedona? Apa malah Depok?
mungkin karena ke Senggigi-nya urusan dinas, jadi tempat ini berasa tak indah
mana sama rombongan menteri yang serba formal..hiks!
(padahal menterinya cengengesan mulu lho).

*lagi males serius*

Sunday, January 29, 2006

Jangan "Perek", Cukup "Pelacur" Saja



“Perek” adalah kata makian paling menjatuhkan dan menyakitkan bagi seorang perempuan . Saya (untungnya) belum pernah dimaki dengan kata itu. Justru pernah melakukan makian itu kepada seorang teman yang sudah kelewatan kelakuannya. Kalau dalam bahasa Inggris, mungkin padanan paling pas bagi “perek” adalah “bitch”. Kata teman, ini lebih rendah kelasnya dari pelacur. Kenapa?

“Perek atau bitch melakukan hubungan seks hanya demi kesenangan. Tapi pelacur demi mencari uang,” ungkap teman dari Yogyakarta tadi.

Apa benar making love (ML) demi uang lebih baik ketimbang demi kesenangan? Kata teman lain lagi,”Tidak lah. Kalau cewek ML demi kesenangan maka ia akan selektif. Tapi kalau demi uang, akan mau melakukannya dengan sembarang cowok asal dapat uang.”

Tapi teman lain berkomentar,” Tidak ada yang lebih baik. Namun kalau disuruh memilih, saya lebih respek sama pelacur daripada perek.” Ia berargumen, ML demi kesenangan adalah ciri orang yang rakus, amoral, mencari kesenangan duniawi. Kalau ML demi uang memang juga amoral, hanya motivasinya bisa jauh lebih luhur, yakni demi menghidupi anak, orang tua atau mencari penghidupan lebih layak.

Seorang pelacur bisa bertobat jika kelak ia sudah mendapat uang cukup atau pekerjaan layak sehingga tak perlu lagi jual diri. Banyak kisah dimana “ayam kampus” mencari biaya kuliah dengan jual diri. Setelah lulus dan dapat pekerjaan layak, bisnis jual dirinya stop 100 persen.

Tapi seorang bitch, yang ML demi kesenangan, bisa jadi tidak akan mengenal kata stop. Walau sudah bersuami sekalipun, pencarian “kesenangan” itu akan muncul tiap saat.
Kesimpulannya, kalau berhadapan dengan perempuan yang belum terlalu mengesalkan, jangan maki dia dengan kata “perek”, cukup “pelacur”saja. Sebab pelacur lebih baik sedikit ketimbang perek. Hahaha!

Thursday, January 26, 2006

Tipe yang Manakah Kamu?



Saya lupa dimana pernah membaca pengelompokan ini. Tentang kategori manusia yang berkaitan dengan waktu dan uang.

"Tingkat paling rendah, manusia yang bekerja keras sampai tak punya waktu luang, tapi uang yang dihasilkan juga menguap begitu saja.

Lalu ada tingkat dimana manusia punya banyak waktu luang, tapi juga tak punya uang untuk dinikmati.

Tingkat berikut, manusia yang menghasilkan uang banyak tapi tak punya waktu untuk bersantai menikmati uangnya.

Yang paling tinggi tingkatannya adalah manusia yang memiliki banyak uang, sekaligus waktu luang untuk dinikmati."

Yang manakah saya? Hmm agak sulit memutuskan. Saat ini penghasilan saya cukup saja. Tidak besar, berlebihan, tapi cukup lumayan dan ngepas. Hehehe.
Minimal masih bisa hang out sama Libby dan teman-teman. Masih bisa membayar kontrakan rumah dan menggaji asisten rumah tangga. Masih mampu membelikan buku cerita karangan Morris Gleitzman kesukaan Libby, nonton ke bioskop dekat rumah, atau sesekali makan makanan sampah di mall.

Tapi saya merasa sangat kurang kalau dikaitkan dengan kebutuhan akan membeli rumah, membiayai pendidikan setinggi mungkin buat Libby. Itu butuh manajemen khusus. Berarti juga menghilangkan beberapa "kesenangan" tadi. Atau mencari side job. Keduanya masih dalam upaya.

Yang jelas saya tidak mau jadi budak uang. Manusia di tingkatan menghasilkan uang banyak tapi tak punya waktu untuk bersantai menikmati uangnya. Saya butuh precious time bersama Libby dan teman-teman, juga diri sendiri.

Jadi, mari kita bersama-sama menjadi manusia di tingkat paling atas. Punya banyak uang dan waktu luang untuk menikmati hidup. Dan berbuat kebajikan tentunya.

Wah, sulit lho!