“Gilingan lu , Mer..serius tuh yang di blog lu?” Seorang teman terkaget-kaget. Dia bukan yang pertama. Teman lain tak kalah mendesak apakah isi blog itu benar. Mencari kekasih di dunia maya.
Hahaha! Mungkin saya sedikit tergoda oleh buku “I Don’t Know How She Does It” karya Allice Pearson. Buku yang berkisah tentang ibu bekerja dengan dua anak dan suami rewel. Mendadak saja menemukan lelaki penuh perhatian di email. Jadilah ia kekasih dunia maya.
Saya sempat berpikir, barangkali satu-satunya solusi bagi perempuan bekerja yang sibuk sekaligus juga ibu tunggal adalah kekasih dunia maya. Sekadar untuk selingan. Untuk hiburan di kala senggang. Untuk memberi dan diberi perhatian. Cukup melalui email, sinyal ponsel dan sebagainya. Tak lebih.
Baru satu hari, kebutuhan itu sudah kadaluarsa. Expired Date. Terimakasih. Saya sudah cukup punya begitu banyak teman yang siap membalas SMS di setiap waktu. Teman-teman yang menjadi ayah, ibu, adik, kakak, pacar, kekasih, musuh, dan apapun yang saya inginkan.
Sorry, iklan di postingan terdulu saya batalkan. Maklum, mood saya mirip rollercoaster yang menukik naik turun. Sekarang mood saya kembali normal, tidak butuh siapapun kecuali Libby, sahabat-sahabat dan teman-teman yang baik hati. Bye bye, cyber lover!
Monday, August 14, 2006
Friday, August 11, 2006
My Project
Thursday, August 10, 2006
Bukan Keledai
kemarin sore
kepada seorang kawan
berkisahlah aku
bahwa aku baru saja membunuh
satu rasa lagi
dan rasanya sukses
lalu kawan itu berkata,
"kalau semua orang seperti kamu
maka tidak akan ada roket ke bulan
bahkan tak pernah komputer ditemukan
sebab semua tak akan dilakukan
hanya karena ada ketakutan"
pulangnya aku merenung
betul juga kata kawan itu
tapi bukahkah keledai pun tidak mau terperosok
ke lubang yang sama
hingga dua kali?
seorang kawan lain bertanya
"sampai kapan kaubunuh-bunuhi perasaanmu sendiri
sampai resistan dan tak bisa mati?
bukankah akan tersiksa jadinya?
hidup segan, mati tak mau?"
sejujurnya
aku lelah membunuhinya, kawan
ingin juga membiarkan rasa itu hidup dan bertumbuh
berkembang..bermekaran menjadi bunga
lalu muncul buah-buah baru
yang menjatuhkan biji dan tumbuh lagi di tanah baru
tapi
bukankah keledai pun tak mau terperosok kedua kalinya?
dan aku bukan keledai!
kepada seorang kawan
berkisahlah aku
bahwa aku baru saja membunuh
satu rasa lagi
dan rasanya sukses
lalu kawan itu berkata,
"kalau semua orang seperti kamu
maka tidak akan ada roket ke bulan
bahkan tak pernah komputer ditemukan
sebab semua tak akan dilakukan
hanya karena ada ketakutan"
pulangnya aku merenung
betul juga kata kawan itu
tapi bukahkah keledai pun tidak mau terperosok
ke lubang yang sama
hingga dua kali?
seorang kawan lain bertanya
"sampai kapan kaubunuh-bunuhi perasaanmu sendiri
sampai resistan dan tak bisa mati?
bukankah akan tersiksa jadinya?
hidup segan, mati tak mau?"
sejujurnya
aku lelah membunuhinya, kawan
ingin juga membiarkan rasa itu hidup dan bertumbuh
berkembang..bermekaran menjadi bunga
lalu muncul buah-buah baru
yang menjatuhkan biji dan tumbuh lagi di tanah baru
tapi
bukankah keledai pun tak mau terperosok kedua kalinya?
dan aku bukan keledai!
Monday, August 07, 2006
Lagu yang Tak Pernah Membosankan

Sinead O’ Connor bukan penyanyi tren masa kini. Sudah lama perempuan Irlandia yang terkenal dengan kepala plontosnya itu tidak bernyanyi. Tiba-tiba saja suaranya melengking dari Winamp yang terdapat dalam komputer jinjing saya. Seseorang menyimpannya di situ. Sebuah lagu yang membawaku ke masa silam. Jauh sekali. “Nothing Compares 2 U”. Lagu lawas yang mungkin saja tidak dikenal oleh remaja saat ini. Entah kenapa sejak dulu sekali, setiap saat mendengar Sinead bersenandung lagu ini, ada air mata yang mendesak ingin keluar.
Lagu yang berkesan pada suatu peristiwa? Tentang seseorang yang tak dapat dibandingkan dengan siapapun? Itukah artinya kalau dikait-kaitkan dengan liriknya? Apa benar? Aku merenung. Pernahkah ada seseorang di hidupku yang sulit dibandingkan dengan siapapun karena sedemikian istimewanya? Kalau jawaban yang diinginkan adalah sosok lelaki, maka itu tidak ada. Ya, tak ada sosok lelaki istimewa dalam hidup saya. Ayah? Maaf, saya tidak mengenal dengan baik pribadi ayah saya. Kakak lelaki? Kami tidak besar bersama. Saya kenal dengan baik banyak teman lelaki, namun tak satupun dari mereka adalah kakak kandung saya. Terlebih lagi ayah saya. Dan saya sama sekali tidak merindukan kedua-duanya.
Kembali saya tercenung, apakah gerangan yang membuatku begitu terpesona oleh lengkinan vocal Sinead di lagu itu? Sampai detik ini saya belum dapat menjawabnya secara logis. Kemungkinan besar adalah vokalnya. Ya, vocal perempuan bermata indah itu belum ada duanya. Hal lain bias saja figure Sinead yang controversial. Bukan controversial karena gossip, percintaan atau gaya hidup gila-gilaan seperti kebanyakan artis lain. Bukan sama sekali. Sosok Sinead O’Connor cukup unik. Ketika perempuan lain menganggap rambut sebgai mahkota, ia justru memapas habis. Gayanya menyanyi juga beda dari penyanyi kebanyakandi zamannya. Ia tidak seperti Madonna yang tampil seronok diiringi penari latar meriah. Sinead lebih megandalkan ekspresi dan kekutan vocal yang khas.Lirik lagunya pun banyak yang bebau politis ketimbang menyek-menyek dimabuk cinta. Dan puncak dari kontroversinya adalah sewaktu perempuan cantik itu merobek foto Paus, pimpinan umat Katolik yang sangat disegani.
Orang mungkin mencaci seorang Sinead. Menganggapnya kurang ajar dan sebagainya. Saat isu tentang aksinya itu merebak di media, saya masih seorang gadi belia yang mencari-carijati diri dan figur panutan. Waktu itu, kalau tak salah di majalah Hai saya membaca tentang tingkah “kurang menyenangkan” seorang Sinead. Entah kenapa, justru saya mengaguminya.
So, apa hubungannya dengan lagu “Nothing Compares 2 U?” Itu masih menjadi misteri hingga tulisan ini dibuat. Yang jelas setiap kali saya mendengar lengkingan Sinead di lagu itu, saya seperti mendengar hati saya menjerit. Seperti yang saya tulis di atas, ada air mata yang siap merebak keluar dari celah rongga mata saya.
Thursday, August 03, 2006
Aik, Asisten Saya

Masih ingat, sekitar setahun lalu, mungkin lebih. Di teras sebuah rumah sakit swasta bilangan Cikini. “Itu siapa, Mer? Tanya seorang sahabat.
“Oh, Aik, asisten gue,” jawabku.
“wah lu dapet asisten dari kantor? Keren amat.”
Aku hanya tersenyum geli.
Saat lain, menjemput Libby di tempat kursus bergengsi, EF. Aik dikira akan mendaftar kursus, padahal ia hanya mengantar Libby. Aik cerita dengan geli pada saya.
Kali lain, di sela meeting saya mendadak ingat bahwa Libby siang itu pulang sekolah lebih awal. Saya menelepon Aik dari ponsel. Teman bertanya, “Ada apa Mer?”
“Hubungi asisten gue nih, penting.”
Lain waktu lagi, dalam sebuah acara larut malam di kantor teman, saya bergegas pulang lebih dulu. “Kasihan, Libby cuma sama berdua asisten saya di rumah,” jelas saya pada teman.
Siapakah Aik?
Seorang perempuan 33 tahun dengan penampilan resik, tubuh kurus mungil, rambut keriting panjang. Tutur katanya halus, khas Sunda. Sabar. Saya tak pernah tega memarahinya walau ada kesalahan. Ia pernah menikah ketika sudah tinggal setahun lagi lulus SMA. Suaminya selingkuh, kawin lagi. Padahal Aik sudah keguguran tiga kali demi menganugerahkan anak buat suami tercinta. Akhirnya mereka bercerai.
Dan di Depok saya bertemu perempuan bersahaja itu. Aik membantu saya. Meng-asisten-i kehidupan saya yang super sibuk. Telaten menghadapi kenakalan Libby. Mencuci dan menyetrika baju-baju kami dengan rapi. Menjaga kebersihan rumah kami. Memasak hidangan lezat setiap hari. Rela berpanas-panasan menjemput Libby pulang sekolah.
“Mama Libby, saya minta dua bulan gaji. Biar deh dipotong. Bulan depan ngga usah gajian.” Saya tak pernah tega menolak permohonannya.
Aik, asisten saya yang cantik, penyabar, rajin. Saya tidak pernah tega menyebut kamu "pembantu". Kata "asisten" lebih tepat dan terdengar manusiawi.
Aik, bisa apa saya tanpa kamu?
Wednesday, August 02, 2006
Age Doesn't Matter????
Makin bertambah usia, yang namanya perbedaan umur itu kian tak kentara ya? Pertanyaan itu menggantung di benakku. Zaman kecil dulu, malas banget bergaul sama yang umurnya satu-dua tahun di atas kita. Itu zaman SD kayaknya. Lalu pas sudah SMP, masih OK deh bertemen sama yang dua-tiga tahun di atas kita. Tapi kalau sudah lima tahun ke atas, rasanya risih. Ngga level.
Kelamaan pas sudah kuliah, rasanya ngga masalah berteman dengan yang enam-tujuh tahun di atas kita. Justru bangga. Sebab membuktikan kita sudah menyamai pemikiran mereka.
Belakangan ini, bersama seorang teman, saya baru sadar. Terlalu banyak bergaul dengan orang yang usianya jauh di atas kita. Sepuluh, lima belas….oops!
“Gimana mau dapet cowok ya, gaulnya ama om-om molo! Yang ada dikira kita peliharaan om-om!”
Whoaaaaa.. tidak! Mereka adalah teman-teman yang berasal dari komunitas nara sumber. Kebetulan kami adalah jurnalis. Jadi kami banyak berhubungan dengan nara sumber atau tokoh-tokoh yang jelas saja usianya jauh di atas angkatan kami. Menyenangkan sesungguhnya berteman dengan mereka. Memperluas wawasan, menambah ilmu, memperkaya pengetahuan tentang aneka ragam karakter dan gaya hidup manusia. Dan yang jelas menambah koneksi dimana-mana.
Ya, sangat menarik memang. Tapi kembali ke problem semula, kami jadi merasa “tua” sebelum waktunya. Bukan tua di pemikiran atau gaya, melainkan jadi dianggap tua oleh sekitar. Mungkin cara bicara kami terpengaruh. Atau pola pikir kami? Nevermind sih, kami jadi merasa dewasa dan makin matang...
Kadang saya kangen juga bertemu dengan teman sebaya, seusia. Hanya sayang teman-teman saya saat ini kebanyakan sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Ditambah Jakarta adalah kota yang macet, dimana jarak yang dekat saja membutuhkan waktu cukup lama untuk dijangkau. Alhasil, pertemanan kami lebih banyak berlangsung di SMS, chatting di YM atau email dan telepon. Untuk bertatap muka langsung harus disusun jadwal yang tepat dulu, itu pun dengan risiko mendadak batal karena ada urusan lain :(.
So, teman yang selalu siap "bergaul" bersama saya justru kalangan om-om nara sumber tadi. Sebab kami bisa bikin jadwal yang lebih seirama. Mengingat saya adalah jurnalis dan mereka adalah para tokoh. Jadi kesempatan bertemu itu selalu saja ada.
Maka jadilah saya dan sahabat tadi banyak berteman dengan orang-orang yang usianya jauh di atas kami. Hmmmmm....
Jadi terbayang, saat saya sudah nenek-nenek nanti, bergaulnya sama siapa ya? Masak sama mayat??? Whoaaaa!!!!
Kelamaan pas sudah kuliah, rasanya ngga masalah berteman dengan yang enam-tujuh tahun di atas kita. Justru bangga. Sebab membuktikan kita sudah menyamai pemikiran mereka.
Belakangan ini, bersama seorang teman, saya baru sadar. Terlalu banyak bergaul dengan orang yang usianya jauh di atas kita. Sepuluh, lima belas….oops!
“Gimana mau dapet cowok ya, gaulnya ama om-om molo! Yang ada dikira kita peliharaan om-om!”
Whoaaaaa.. tidak! Mereka adalah teman-teman yang berasal dari komunitas nara sumber. Kebetulan kami adalah jurnalis. Jadi kami banyak berhubungan dengan nara sumber atau tokoh-tokoh yang jelas saja usianya jauh di atas angkatan kami. Menyenangkan sesungguhnya berteman dengan mereka. Memperluas wawasan, menambah ilmu, memperkaya pengetahuan tentang aneka ragam karakter dan gaya hidup manusia. Dan yang jelas menambah koneksi dimana-mana.
Ya, sangat menarik memang. Tapi kembali ke problem semula, kami jadi merasa “tua” sebelum waktunya. Bukan tua di pemikiran atau gaya, melainkan jadi dianggap tua oleh sekitar. Mungkin cara bicara kami terpengaruh. Atau pola pikir kami? Nevermind sih, kami jadi merasa dewasa dan makin matang...
Kadang saya kangen juga bertemu dengan teman sebaya, seusia. Hanya sayang teman-teman saya saat ini kebanyakan sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Ditambah Jakarta adalah kota yang macet, dimana jarak yang dekat saja membutuhkan waktu cukup lama untuk dijangkau. Alhasil, pertemanan kami lebih banyak berlangsung di SMS, chatting di YM atau email dan telepon. Untuk bertatap muka langsung harus disusun jadwal yang tepat dulu, itu pun dengan risiko mendadak batal karena ada urusan lain :(.
So, teman yang selalu siap "bergaul" bersama saya justru kalangan om-om nara sumber tadi. Sebab kami bisa bikin jadwal yang lebih seirama. Mengingat saya adalah jurnalis dan mereka adalah para tokoh. Jadi kesempatan bertemu itu selalu saja ada.
Maka jadilah saya dan sahabat tadi banyak berteman dengan orang-orang yang usianya jauh di atas kami. Hmmmmm....
Jadi terbayang, saat saya sudah nenek-nenek nanti, bergaulnya sama siapa ya? Masak sama mayat??? Whoaaaa!!!!
PS: Coba ya para Om-om nara sumber yang baik hati. Tolong kami dikenalkan dengan keponakan atau sepupu atau siapalah yang usianya sepantaran kami. Hitung-itung bonus atas pertemanan kita, gitu lhooo. Hihihi!
Tuesday, July 25, 2006
Become A Commander of My Self

A long long time a go
There was a girl who crazy about a book tittled "Interview with The History" written by Oriana Fallaci. That's a book contained by several interviews made by Fallaci with some big figures at the time as Gorbachev, Golda Meier, Yasser Arafat, Henri Kissinger...etc. That book she borrowed from the school' library. But now she never find that precious book that inspired her to become a journalist.
The girl is me :)
And Oriana Fallaci is a great great journalist woman from Italy that I admire so much!
Pitty, my boss never took me at politic post as her...
But no problem...to fight the right things for my country, my people, we always could do in many fields...science and tech just one of them..
Hmm terlalu mengada-ada ya? Klise ya? Setidaknya lebih baik daripada harus bermenyek-menyek dengan Kisah Cinta Saphira, postingan terdulu yang menjijikan itu.
Belakangan ini saya merasa sedang berdiri di atas tanah genting. Mungkin karena efek gempa di Jakarta beberapa waktu lalu. Juga berita-berita gempa sana sini , ditambah isu gempa bohongan.
Kita selalu butuh waktu untuk berpikir, merenung, berintrospeksi. Celakanya, saya terlalu banyak melakukannya belakangan ini. Bisa jadi efek PMS, kondisi tidak menguntungkan bagi kaum Hawa. Membuat emosi meletup seaktu-waktu mirip gunung Merapi.
Menjadi jurnalis adalah mimpi saya sejak lama. Mimpi dan cita-cita yang membuat saya dipojokan kerabat dan keluarga. Saya terlahir dari ayah seniman dan ibu serba bisa. Mereka berpisah sejak saya masih jadi janin. Dan beginilah saya, hidup tanpa komando siapapun kecuali diri sendiri. Hari ini, saya menjadi komandan rumah tangga saya sekaligus diri saya sendiri. Berusaha menjadi komandan revolusi seksual yang sementara masih berlaku di dunia virtual, blog ini.
“Lu mau jadi Che Guevara-nya cewek Mer?” Tanya seorang teman.
“Pengan kayak Oriana Fallaci?” Tanya yang lain.
Tidak. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri. Bukan perempuan menyek-menyek yang dikendalikan PMS dan hormon estrogen.
Actually, I very very hate and proud and love and hate and love and hate myself this time!!! Aaaarrgghh!!!
Sunday, July 23, 2006
Kisah Cinta Saphira

Romantic mode is on***
Tersebutlah seekor naga betina nan cantik, Saphira. Sisiknya berwarna biru gemerlap, kemilau saat ditimpa cahaya. Ia hidup di zaman naga sudah menjadi spesies langka di muka bumi. Sejak lahir, ia sangat jarang bertemu sesamanya.
Kemudian ia bertemu Glaedr, naga lelaki yang perkasa. Walau jauh di atas usianya, Saphira terpesona oleh Glaedr. Sayang, Glaerd tidak suka pada Saphira. Mungkin ia punya cinta lain. Mungkin ia sudah tak berminat dengan naga betina lagi.
Dan akhirnya Saphira kembali sendiri. Melanglangbuana kemana-mana. Entah kapan menemukan spesiesnya kembali. 10, 100 atau 1000 tahun lagi. Atau bahkan tidak akan pernah?
Saphira adalah naga Eragon dalam buku karya Christoper Paolini. Sudah kubaca sampai buku kedua beberapa bulan silam. Kisah epik nan unik semodel dengan Lord of The Ring. Dan peratianku justru terpusat pada kisah cinta Saphira. Sebab belakangan ini sedang mellow. Merasa aku adalah Saphira! Hiks!
Wednesday, July 19, 2006
Sunday, July 16, 2006
Nadine dan Saya

Nadine dan saya adalah 180 derajad. Nadine 100 persen cantik. Saya 100 persen tidak. Walau nenek saya bilang saya adalah cucunya yang tercantik. Walau masih selalu digoda cowok iseng setiap melintas di jalan. Walau kata cowok pertama saya dulu saya adalah pemerpuan tercantik yang pernah dilihatnya. Yang jelas, sampai detik ini saya tidak pernah mengandalkan kecantikan saya untuk bertahan hidup.
Nadine dan saya adalah bumi dan langit. Tapi pekan kemarin kami sama-sama sial. Dan kesialan itu sama-sama kami alami di depan layar TV. Dan saya benci kamera TV! Sangat benci!
Kisahnya simple saja. Belum lama berselang menerima SMS dari seorang host. Diundang menjadi narasumber acara talkshow Teknologi Informasi (TI) di sebuah TV. Okelah, walau bukan pakarnya saya masih merasa bisa.
Hari H rekaman pun tiba. Menjelang mengudara, saya digiring ke ruang make up. Padahal saya sudah yakin wajah saya baik-baik saja tanpa tambahan coreng moreng itu. Namun demi menghormati si empunya acara.saya pasrah saja. Muka dipermak habis-habisan.
Hidung dibuat sedemikian rupa jadi mirip hidung Krisdayanti. Rambut di-hair spray. Kalau tak salah terakhir kali saya di-hair spray adalah 10 tahun lalu saat dipaksa pakai kebaya. Kulit wajah saya entah diapakan jadi rata, mulus, bak aspal arena Formula One Monte Carlo. Bagus sih, jerawat jadi tak kasat mata. Tapi kok rasanya wajah saya tambah tebal 10 cm ya??? Dan yang paling parah, alis! Ohmygoodness! Alis saya lebih mirip Jembatan Semanggi!
Begitu bercermin.Oh, no!!! Itu bukan wajah saya! Entah wajah siapa yang ditempelkan ke muka saya.
Semua kepercayaan diri yang saya himpun sekuat tenaga dari rumah, musnah sudah. Bagaimana mungkin saya tampil percaya diri dengan wajah yang bukan wajah saya? Di depan kamera TV pula. Akan disaksikan orang sekian banyak pula.
Dan terjadilah tragedy Nadine ke-2 itu! Walau tak sebodoh dan sememalukan polah kandidat Miss Universe itu, saya tetap merasa luar biasa tolol, idiot, goblok, moron , embisil dan sebagainya. Saya gugup, bicara terlalu cepat, dan ada satu kata yang sangat fatal saya ucapkan. Biarpun itu rekaman, tidak ada "cut" pada kesalahan kata. Luar biasa. Apa bedanya dengan tayangan "live"?
Nadine dan saya bagai kondominium mewah dengan kost-kostan alakadarnya. Ibarat kapal pesiar glamour dengan perahu sekoci. Tapi kami sama-sama dipermalukan di depan pesawat TV. Dan itu terjadi di pekan yang sama.
Thursday, June 29, 2006
Pelipur Lara itu Bernama Embroideries

Iya! Aku punya sepupu laki-laki yang selalu bilang dia hanya mau menikah dengan gadis yang masih perawan. Kemarin dia meneleponku, katanya dia mau berubah pikiran. Waktu aku mengucap selamat karena kupikir dia sudah sadar, dia bilang “Marji, aku berubah pikiran karena tidak ada lagi gadis-gadis yang masih perawan.”Itu petikan percakapan Marji, tokoh dalam buku Embroideries karya Marjanne Satrapi. Sebuah buku komik dewasa tentang percakapan khas perempuan. Gambarnya sederhana tapi lucu, mampu menggambarkan semua adegan secara pas.
Buku itu sudah menarik hati sejak pertama melihatnya di toko. Dan akhirnya seorang sahabat memberikannya sebagai kado pelipur lara setelah saya kena musibah seminggu silam. Dan manjur! Saya betul-betul terhibur karenanya!
Ada kisah tentang istri yang takut suaminya selingkuh. Ia menjalani operasi memindahkan daging di pantatnya yang besar ke payudaranya. Sang suami jadi tergila-gila padanya lagi. “Si tolol itu tidak sadar bahwa tiap kali ia mencium payudaraku sesungguhnya ia mencium pantatku!”
Tidak ketinggalan kisah sarkas perempuan-perempuan Iran yang dipaksa kawin muda dengan lelaki tua kaya raya berkedudukan tinggi. “Begitu aku melihat punggungnya yang berkerut, aku baru sadar aku tak mau menikah dengannya,”ungkap seorang tokoh tentang kisahnya yang menikah pada usia 13 tahun dengan lelaki yang 56 tahun lebih tua.
Selintas komik dewasa ini hanya hiburan pelepas stress. Tapi bagi saya, ada banyak hal tersirat dalam goresan tangan perempuan Iran yang menetap di Paris ini. Semua berkutat seputar perbincangan kaum Hawa tentang cinta, lelaki, uang dan seks. Tentang betapa hidup dan masyarakat serta tradisi seringkali tidak berpihak pada mereka.
Satu lagi adegan favorit saya: ketika sang nenek mengacungkan jari berteriak ,” BRAVO!” saat berkomentar tentang kebodohan suami yang menciumi pantat istrinya yang berpindah ke payudara tadi!
Hahaha!
Thanks berat, Ajeng!
Tuesday, June 20, 2006
Tamara sebagai Manusia
Wajah cantik yang biasanya tampil cool tersebut mendadak saja penuh ekspresi. Tidak biasanya seorang Tamara Blezinsky tampil emosionil di depan umum. Bahkan pada saat kasus perceraiannya, perempuan indo Cheko itu masih mampu “jaga image”.
“Kalau untuk urusan lain, saya masih bisa tahan. Tapi untuk urusan anak, saya tak tahan lagi,” ungkap Tamara diiringi isak tangis di sebuah acara infotainmen. Kemudian ia mengisahkan bagaimana kronologi pengusiran dirinya oleh mantan mertua saat ingin menemui anaknya Rasya.
Melihat Tamara saat itu, saya baru melihat artis sebagai manusia biasa. Tamara bukan sosok cantik nan ayu dengan peran-peran menawannya di sinetron. Ia hanya perempuan biasa. Ibu dari seorang anak yang coba dipisahkan. Saya seperti melihat diri saya sendiri beberapa tahun lalu, ketika Libby coba dipisahkan dari saya. Kisah yang saya alami mirip sekali dengan Tamara. Dilarang menemui anak kandung. Itu merupakan sisi terkelam dari hidup saya. Rasanya lebih baik mati daripada harus terpisah dari darah daging sendiri. Serasa kiamat dunia akherat.
Jadi ketika saya menyaksikan Tamara yang cantik itu tersedu sedan di layar televisi, saya amat sangat dapat paham sekali posisinya. Hal serupa terjadi ketika saya melihat Zarima yang anaknya diculik oleh lelaki yang bukan ayahnya.
Pembaca yang belum pernah memiliki anak, tentu menganggap tulisan ini terlalu mendramatisir, berlebihan, norak, kampungan, cengeng. Namun bagi para ibu sejati, tentu dapat memahami.
Memisahkan seorang ibu dari anaknya adalah perbuatan paling biadab di muka bumi. Lebih dari fitnah atau pembunuhan.
Para lelaki bisa saja dengan mudah tidak mengakui anak kandungnya. Lelaki gampang saja menelantarkan darah dagingnya. Lelaki silakan saja menyuruh pasangannya melakukan aborsi demi menjaga nama baik. Atau bahkan menjual atau membunuh bayinya. Bisa juga pelakunya perempuan.
Tapi bagi seorang ibu sejati, lebih baik mati ketimbang harus berpisah dengan anaknya!
“Kalau untuk urusan lain, saya masih bisa tahan. Tapi untuk urusan anak, saya tak tahan lagi,” ungkap Tamara diiringi isak tangis di sebuah acara infotainmen. Kemudian ia mengisahkan bagaimana kronologi pengusiran dirinya oleh mantan mertua saat ingin menemui anaknya Rasya.
Melihat Tamara saat itu, saya baru melihat artis sebagai manusia biasa. Tamara bukan sosok cantik nan ayu dengan peran-peran menawannya di sinetron. Ia hanya perempuan biasa. Ibu dari seorang anak yang coba dipisahkan. Saya seperti melihat diri saya sendiri beberapa tahun lalu, ketika Libby coba dipisahkan dari saya. Kisah yang saya alami mirip sekali dengan Tamara. Dilarang menemui anak kandung. Itu merupakan sisi terkelam dari hidup saya. Rasanya lebih baik mati daripada harus terpisah dari darah daging sendiri. Serasa kiamat dunia akherat.
Jadi ketika saya menyaksikan Tamara yang cantik itu tersedu sedan di layar televisi, saya amat sangat dapat paham sekali posisinya. Hal serupa terjadi ketika saya melihat Zarima yang anaknya diculik oleh lelaki yang bukan ayahnya.
Pembaca yang belum pernah memiliki anak, tentu menganggap tulisan ini terlalu mendramatisir, berlebihan, norak, kampungan, cengeng. Namun bagi para ibu sejati, tentu dapat memahami.
Memisahkan seorang ibu dari anaknya adalah perbuatan paling biadab di muka bumi. Lebih dari fitnah atau pembunuhan.
Para lelaki bisa saja dengan mudah tidak mengakui anak kandungnya. Lelaki gampang saja menelantarkan darah dagingnya. Lelaki silakan saja menyuruh pasangannya melakukan aborsi demi menjaga nama baik. Atau bahkan menjual atau membunuh bayinya. Bisa juga pelakunya perempuan.
Tapi bagi seorang ibu sejati, lebih baik mati ketimbang harus berpisah dengan anaknya!
Saturday, June 10, 2006
My "Weird" Point of View about Handsome Guy

Setiap orang mengalami perubahan cara pandang. Bahkan dalam hitungan menit dan detik. Demikian pula saya.
Cara pandang saya terhadap seseorang atau sesuatu selalu berubah dari waktu ke waktu. Berikut adalah cara pandang saya mengenai cowok ganteng, keren, kaya lagi pintar. Tipikal cowok idola sepanjang masa. Dan sayangnya, ternyata my point of view terhadap spesies ini sangat berbeda dengan mayoritas perempuan di muka bumi. Mungkin itu yang bikin saya "aneh".
Usia 10-15: Huh, Si Aji, cowok idola sekolah itu selalu cari perhatian dimana-mana. Gue juga dijadiin ajang TP (tebar pesona). Menjijikan. Memang keren sih, cuma kalo centilnya ngalahin cewek, mending gue pacaran sama tukang ojek kali!
Usia 16-20: Wow, tuh cowok keren abis. Pinter, ganteng, tajir, ngga ada matinya. Tapi malah makan hati kali ya kalo pacaran ama dia. Yang ada gue malah jadi “public relation” dia kali. Rugi!
Usia 21-25: Lumayan buat cuci mata, dijadiin temen buat dongkrak popularitas gue, sekalian bisa nebeng mobilnya, plus nyontek tugas-tugas kuliah. Sempet sih “ditembak” sama cowok model begituan, tapi kok gue malah ngeri ya. Jangan-jangan gue cuma mau dijadiin salah satu “piaraannya”.
Usia 25-30: Cowok ganteng, pinter dan tajir? Nggak penting banget deh. Yang penting sekarang adalah gimana gue dapat hidup tenang, tenteram, tanpa perlu merisaukan banyak hal, termasuk urusan cowok.
Sunday, June 04, 2006
Si Miskin Menyantuni Si Kaya?
“Saya adalah bandit. Saya hidup dari merampok orang kaya.”
“Saya seorang jentelmen, Saya hidup dari merampok orang miskin.”
(Man and Superman, A Comedy and Philosophy, Bernard Shaw)
Sadarkah anda bahwa orang kaya bisa hidup berkat orang miskin? Fakta menyakitkan itu saya alami baru-baru ini.
Akhir pekan kemarin saya mendapat SMS menyedihkan. Seorang bos side job saya menghentikan kontrak kerja. Alasannya tidak kuat lagi meng-hire saya. Telusur punya telusur, kebutuhannya membengkak karena seorang anaknya akan bersekolah di luar negeri. Hebat.
Di satu sisi saya bangga karena anak bos saya bisa sekolah di luar, sebuah kemampuan yang tak dapat dinikmati sembarang orang. Tapi di lain sisi, saya miris. Kenapa? Pendapatan yang saya dapat dari side job saya itu sangat membantu kepulan periuk nasi rumah saya. Berkat income tambahan tersebut, saya dapat sedikit menabung untuk kuliah anak saya kelak. Apa daya, income itu akan segera terputus.
Di obrolan dengan seorang teman saya mengeluh, “Demi anak bos sekolah di luar negeri, anak gue terancam ngga bisa kuliah..hiks!”
Si teman tertawa. Saya juga. Tawa sarkastis.
Orang miskin menyantuni orang kaya? Itulah yang terjadi di muka bumi ini. Rakyat kelaparan demi anak pejabat bisa belanja-belanji di Eropa. Pegawai kecil mengencangkan ikat pinggang agar istri bos besar dapat ke butik memborong gaun mahal dan emas berlian. Jadi ingat kasus Raja Louis ke berapa entah yang memaksa rakyatnya puasa agar ia selalu punya persediaan tepung buat dijadikan bedak.
Maaf, kali ini postingan saya bukan soal gender.
“Saya seorang jentelmen, Saya hidup dari merampok orang miskin.”
(Man and Superman, A Comedy and Philosophy, Bernard Shaw)
Sadarkah anda bahwa orang kaya bisa hidup berkat orang miskin? Fakta menyakitkan itu saya alami baru-baru ini.
Akhir pekan kemarin saya mendapat SMS menyedihkan. Seorang bos side job saya menghentikan kontrak kerja. Alasannya tidak kuat lagi meng-hire saya. Telusur punya telusur, kebutuhannya membengkak karena seorang anaknya akan bersekolah di luar negeri. Hebat.
Di satu sisi saya bangga karena anak bos saya bisa sekolah di luar, sebuah kemampuan yang tak dapat dinikmati sembarang orang. Tapi di lain sisi, saya miris. Kenapa? Pendapatan yang saya dapat dari side job saya itu sangat membantu kepulan periuk nasi rumah saya. Berkat income tambahan tersebut, saya dapat sedikit menabung untuk kuliah anak saya kelak. Apa daya, income itu akan segera terputus.
Di obrolan dengan seorang teman saya mengeluh, “Demi anak bos sekolah di luar negeri, anak gue terancam ngga bisa kuliah..hiks!”
Si teman tertawa. Saya juga. Tawa sarkastis.
Orang miskin menyantuni orang kaya? Itulah yang terjadi di muka bumi ini. Rakyat kelaparan demi anak pejabat bisa belanja-belanji di Eropa. Pegawai kecil mengencangkan ikat pinggang agar istri bos besar dapat ke butik memborong gaun mahal dan emas berlian. Jadi ingat kasus Raja Louis ke berapa entah yang memaksa rakyatnya puasa agar ia selalu punya persediaan tepung buat dijadikan bedak.
Maaf, kali ini postingan saya bukan soal gender.
Friday, June 02, 2006
Proficiat, Halimah!

Saya pernah mencintai atau jatuh cinta dengan suami orang, pacar orang, kekasih orang, tunangan orang. Teman saya juga. Beberapa kawan pun demikian. Bahkan saudara saya demikian halnya. Yakin sekali, nyaris semua perempuan pernah mencintai lelaki beristri atau bertunangan.
Apakah dilarang mencintai, jatuh cinta, mengagumi lelaki yang sudah menjadi suami, kekasih, pacar, tunangan perempuan lain? Tidak. Sebab perasaan tak mampu dibendung. Cinta itu sama dengan benci. Bisa muncul tanpa alasan logis. Menghilangkan rasa cinta sama susahnya dengan menghapus rasa benci. Tidak ada perasaan yang salah.
Yang menjadi pokok masalah adalah, apakah kita akan melanjutkan perasaan itu ke tahap selanjutnya: mewujudkanya. Pada kasus Mayang Sari, ia mencintai Bambang Tri yang jelas sudah berkeluarga. Itu tidak salah. Yang salah adalah ketika Mayang tidak berusaha "tahu diri" menahan diri, menahan perasaannya dan berusaha mewujudkan rasa cinta itu. Kelamaan rasa itu berkobar, menjelma jadi rasa ingin memiliki. Muncullah niat buruk itu : merebut si lelaki dari empunya yang syah.
Sekali lagi saya ulangi, saya pernah mencintai lelaki beristri. Lucky me, saya tidak kebablasan seperti Mayang Sari. Saya tahu diri, bisa mengendalikan rasa itu dengan logika. Bayangkan saja kalau saya ada di posisi Halimah.
Kini yang menjadi masalah adalah apakah si empunya lelaki yang syah akan mempertahankan si lelaki atau tidak. Bukan tentang cemburu, otoritas dan sejenisnya, namun lebih kepada mempertahankan apa yang sudah dimiliki.
Walau saya pernah mencintai lelaki beristri, saya tetap menyerukan : PROFICIAT, HALIMAH! Pertahankan apa yang sudah kau miliki!
Thursday, May 25, 2006
Buku Bodoh dari Penulis Lelaki Bodoh

Belakangan ini saya sering menemukan buku aneh-aneh di toko buku. Saya lupa judul pastinya, yang jelas buku aneh itu misalnya berjudul "Kesalahan yang Banyak Dilakukan Perempuan dalam Berbisnis", atau "Bagaimana mengetahui Lelaki itu Tidak Benar-benar Mencintai".
Yang membuat saya geli adalah, judul-judul itu bodoh sekali. Mungkin yang bodoh memang penulisnya, atau penerbitnya, atau justru mereka sengaja ingin membuat perempuan terkesan sebagai mahluk bodoh. Sedemikian bodohnya sampai harus ada buku khusus tentang melakukan sesuatu atau menanggapi sesuatu.
Karena penasaran, saya membaca selintas salah satunya. Di satu buku dikatakan perempuan sering gagal dalam berbisnis karena jarang mengucapkan istilah-istilah ekonomi yang berkesan keren seperti "revenue", "BEP" dan sejenisnya. Dinasihatkan agar perempuan lebih banyak mempelajari istilah-istilah itu dan mengucapkannya pada even tertentu agar lawan bicara merasa terkesan.
Buku lain sangat remeh sekali isinya, yakni bagaimana perempuan mengetahui apakah seorang lelaki benar-benar mencintainya atau tidak. Hmm, kalau tak salah penulisnya adalah penulis Sex and The City. Di buku itu dibeberkan tanya jawab antara beberapa perempuan yang bingung mengartikan respon lawan jenis mengenai perasaan cintanya dengan sang penulis. Misalnya, "Mengapa dia tidak meneleponku?" atau "Mengapa dia tidak mengajakku menikah?". Yang menjengkelkan, penulis lelaki menjawab semua pertanyaan itu dengan nada yang merendahkan si penanya. Padahal jelas penanya adalah tokoh rekaan si penulis sendiri. Menggelikan!
Lalu kembali saya merenung. Kenapa para lelaki membuat buku-buku khusus untuk perempuan dan mengajari mereka bagaimana seharusnya berbuat atau bersikap. Apakah para lelaki itu sudah pernah menjadi perempuan? Atau justru mereka sesungguhnya perempuan?
Come on, tidak ada yang bisa memahami perempuan kecuali perempuan itu sendiri. Berhentilah menulis buku-buku bodoh dengan judul bodoh dan isi bodoh untuk perempuan. Kami sudah tahu apa yang harus kami perbuat tanpa harus membaca buku-buku bodoh yang dibuat oleh penulis lelaki bodoh.
Thursday, May 18, 2006
Tak Berjudul
..dan aku tak lagi mau berpuisi
tapi apa daya hidup begitu indah
sampai-sampai kunikmati debu jalanan menerpa wajah
dari jendela metro mini dan bajay
nyaris setiap hari
..dan aku pernah bersumpah, tak mau lagi bersastra
namun apa daya hari-hari teramat merdu
semerdu kaleng rombeng pengamen cilik yang dipukulkan ke tangannya yang kapalan
memekakan gendang telinga
sementara bau tengik bajunya merangsek ke lubang hidung
kurasa ini bukan puisi
sebab aku benci puisi
bukan pula sastra
sebab dunia sastra penuh pura-pura
jadi apa?
timbunan kata saja, barangkali
tapi apa daya hidup begitu indah
sampai-sampai kunikmati debu jalanan menerpa wajah
dari jendela metro mini dan bajay
nyaris setiap hari
..dan aku pernah bersumpah, tak mau lagi bersastra
namun apa daya hari-hari teramat merdu
semerdu kaleng rombeng pengamen cilik yang dipukulkan ke tangannya yang kapalan
memekakan gendang telinga
sementara bau tengik bajunya merangsek ke lubang hidung
kurasa ini bukan puisi
sebab aku benci puisi
bukan pula sastra
sebab dunia sastra penuh pura-pura
jadi apa?
timbunan kata saja, barangkali
Thursday, May 11, 2006
The Strong Lady Behind A Man
Pagi tadi, pukul 6.15 pagi, aku melihat seorang ibu setengah baya sibuk mengangkati botol dan jirigen bensin. Banyak dan berat. Dari rumahnya menuju ke lapak penjualan bensin eceran di pinggir jalan. Itu bukan yang pertama kali, tapi setiap hari, setiap pagi.
Lapak bensin eceran itu milik suaminya. Pagi tadi aku iseng bertanya pada ibu kurus, agak tua tapi perkasa tersebut.
“Kok ibu yang ngangkuti bensin-bensinnya? Suami ibu kemana?”
“Masih tidur, neng. Jadi saya yang ngisiin jirigen, sekalian ngangkatin kesini. Ntar agak siang dia baru yang jualan.”
“Ibu bangun jam brapa tadi?”
“Wah, jam 3 juga udah bangun, neng. Masak, ngisiin bensin, bebenah. Bentar lagi mau nyuci ama ke pasar,” ia menjawab dengan senyum sumringah.
“Suami ibu kerjanya hanya jualan bensin aja kan? Ngga ada kerjaan lain?”
“Ngga neng. Itu juga cuma sampe siang. Udahnya ngaso di rumah. Saya jadi tukang cuci di tempat kos mahasiswa.”
Perbincangan sederhana itu membuat saya berpikir rumit sekali. Kalau saya tidak salah, penjaga lapak bensin itu seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Saya hapal karena tiap hari melalui jalan itu. Alangkah mirisnya, lelaki tinggi besar gagah kerjanya hanya jaga bensin eceran dan ngaso di rumah. Sementara istrinya yang kurus kering kerja keras mengurus rumah, mengangkuti jirigen berat, bangun jam 3 pagi. Belum urusan anak-anak.
Saya sangat salut pada ibu kurus itu. Betapa semangat dan tenaga luar biasa tersimpan di tubuhnya yang renta. Dan suaminya di mata saya tak lebih dari MONYET TOLOL PEMALAS TAK PUNYA OTAK DAN PERASAAN.
Jadi ingat kisah seorang teman lelaki yang berprestasi di kantornya. Dipuji atasan sebagai orang pintar membuat surat perjanjian dalam bahasa Inggris. Usut punya usut ternyata istrinya di rumah yang membuatkan surat itu. Istrinya waktu kuliah jurusan sastra Inggris dan langganan dapat IP 3,8. Si suami yang dulu hanya mahasiswa tolol jadi naik pangkat berkat jasa sang istri membantu pekerjaannya.
Hmmm mau tak mau ingat almarhumah Bu Tien, ex ibu negara kita. Setelah beliau wafat, karir politik suaminya, ex presiden Soeharto, terus merosot. Sudah banyak yang tahu bahwa di balik kejayaan Soeharto dulu, ada jasa Bu Tien yang sangat luar biasa membantu. Ibu manis berlesung pipit itulah yang sesungguhnya The Strong Lady Behind a Man. Tabik buat para perempuan luar biasa di seluruh dunia!
Lapak bensin eceran itu milik suaminya. Pagi tadi aku iseng bertanya pada ibu kurus, agak tua tapi perkasa tersebut.
“Kok ibu yang ngangkuti bensin-bensinnya? Suami ibu kemana?”
“Masih tidur, neng. Jadi saya yang ngisiin jirigen, sekalian ngangkatin kesini. Ntar agak siang dia baru yang jualan.”
“Ibu bangun jam brapa tadi?”
“Wah, jam 3 juga udah bangun, neng. Masak, ngisiin bensin, bebenah. Bentar lagi mau nyuci ama ke pasar,” ia menjawab dengan senyum sumringah.
“Suami ibu kerjanya hanya jualan bensin aja kan? Ngga ada kerjaan lain?”
“Ngga neng. Itu juga cuma sampe siang. Udahnya ngaso di rumah. Saya jadi tukang cuci di tempat kos mahasiswa.”
Perbincangan sederhana itu membuat saya berpikir rumit sekali. Kalau saya tidak salah, penjaga lapak bensin itu seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Saya hapal karena tiap hari melalui jalan itu. Alangkah mirisnya, lelaki tinggi besar gagah kerjanya hanya jaga bensin eceran dan ngaso di rumah. Sementara istrinya yang kurus kering kerja keras mengurus rumah, mengangkuti jirigen berat, bangun jam 3 pagi. Belum urusan anak-anak.
Saya sangat salut pada ibu kurus itu. Betapa semangat dan tenaga luar biasa tersimpan di tubuhnya yang renta. Dan suaminya di mata saya tak lebih dari MONYET TOLOL PEMALAS TAK PUNYA OTAK DAN PERASAAN.
Jadi ingat kisah seorang teman lelaki yang berprestasi di kantornya. Dipuji atasan sebagai orang pintar membuat surat perjanjian dalam bahasa Inggris. Usut punya usut ternyata istrinya di rumah yang membuatkan surat itu. Istrinya waktu kuliah jurusan sastra Inggris dan langganan dapat IP 3,8. Si suami yang dulu hanya mahasiswa tolol jadi naik pangkat berkat jasa sang istri membantu pekerjaannya.
Hmmm mau tak mau ingat almarhumah Bu Tien, ex ibu negara kita. Setelah beliau wafat, karir politik suaminya, ex presiden Soeharto, terus merosot. Sudah banyak yang tahu bahwa di balik kejayaan Soeharto dulu, ada jasa Bu Tien yang sangat luar biasa membantu. Ibu manis berlesung pipit itulah yang sesungguhnya The Strong Lady Behind a Man. Tabik buat para perempuan luar biasa di seluruh dunia!
Thursday, May 04, 2006
Don't Hate Me Because I am Pretty!

Seorang teman menulis dalam blognya, “Apakah cantik itu menguntungkan?” Hmmm. Jadi ingat cerita nenek saya almarhum. Nenek yang saya panggil “mama” sejak kecil itu bertutur begini kira-kira: “Kalau ada dua gadis yang sama-sama pintar, satu cantik dan satu jelek maka yang akan sukses justru yang jelek.”
Saya yang waktu itu masih sangat belia nengerutkan kening karena heran. “Kenapa bisa begitu?”
Beliau menjawab, “Sebab yang cantik akan banyak mengalami godaan dari lelaki dan terganggu perjalanan karirnya. Sementara yang bermuka jelek tidak akan mengalami banyak godaan, sehingga pelajaran sekolah dan pekerjaannya akan berhasil.”
Saat itu saya mungkin masih berusia 10 atau 11 tahun. Tidak tahu apa yang dimaksud dengan “godaan lelaki”. Jadi saya hanya terdiam dalam kebodohan. Mengiyakan saja tanpa tahu pasti apa maknanya.
Selang beberapa tahun kemudian, ketika menginjak masa remaja, saya mengalami juga yang namanya “godaan lelaki”. Mulai banyak teman lelaki yang menawarkan jadi teman dekat. Melihat lelaki tampan pun saya terpesona. Konsentrasi ke pelajaran mulai terganggu. Itu terus berlangsung berulang-ulang sampai kuliah. Sebaliknya, teman perempuan saya yang tidak terlalu banyak “dilirik” lelaki tidak sebegitu terganggu seperti saya. Sekolah dan kuliahnya berjalan lancar tanpa banyak gangguan lawan jenis.
Bukan saya mengkategorikan bahwa saya cantik dan teman saya itu jelek. Sama sekali bukan. Mungkin saya beruntung mewarisi senyum manis mendiang nenek dan ibu saya. Mungkin itu yang membuat saya mengalami banyak “godaan lelaki” seperti yang dikatakan nenek saya tercinta dulu.
Hari ini, saya sudah berhasil melalui saat-saat sulit dimana “godaan lelaki” begitu berat rasanya. Sudah bisa bangkit dari keterpurukan akibat “godaan lelaki”. Thanks God!
Tapi kadang saya masih mengalaminya juga. Namun berkat kedewasaan dan kebijakan yang tumbuh seiring usia, godaan itu dapat saya netralisir sendiri.
So, apakah cantik itu menguntungkan? Kadang ya, kadang tidak. Tak heran kalau Eka Kurniawan menulis buku “Cantik Itu Luka”. Dan ada juga T-shirt bertulis, “Don’t hate me because I am Pretty!”.
Saya bilang cantik lho, bukan sexy. Hmm para penentang pornoaksi dan pornografi tidak membenci perempuan cantik kan? Hehehe.
Thursday, April 27, 2006
Pelecehan Seks Model Baru?
Kisah ini didapat dari seorang teman. Sebuah pengalaman memilukan . Kadang membuat saya menyesal dilahirkan sebagai perempuan.
Kemarin, 27 Maret 2006, seperti biasa saya pulang dari kerja di RSCM naik bus patas pulang ke kota. Kebetulan duduk agak depan kanan. Kira2 di dekat Kwitang, saya yang lagi ngantuk2 kaget mendengar kegaduhan di baris belakang. Semua penumpang
menengok ke belakang. Ternyata ada 2 orang bapak2 yang sedang
marah2 dan ngamuk terhadap 3 orang wanita yang duduk bersama di belakang.
Ketiga wanita ini masih muda, sekitar 25 tahun, duduk bertiga dengan dandanan mahasiswi, berkaus lengan pendek dengan celana jeans. Kedua orang yang ngamuk ini berusia sekitar 40 dan 50 tahun, berbaju jubah putih panjang bercelana kain longgar, berkumis dan berjenggot lebat dan menggunakan pici dan surban.
Mereka marah besar dan menuduh ketiga wanita yang duduk ini melakukan pornoaksi dan membuka aurat mereka, menyebabkan banyak pria melakukan dosa, dll. Sambil memarah mereka dengan campuran bahasa Indonesia, Arab dll dengan amat kasar
dan tak pantas. Terus menerus mengatakan murtad muted dan pujian pada Yang Di Atas.
Mereka akhirnya mengusir ketiga wanita ini di sekitar tugu tani ke luar bus. Sampai mereka turun di gang Petasan ke arah Mesjid Kebun Jeruk , mereka terus marah2 berdua, saling berdiskusi dengan suara garang dan keras sehingga terdengar ke seluruh bis, betapa sudah murtad dan tak bermoralnya Indonesia, betapa bangsa ini harus dicuci bersih, betapa semua orang sudah tak bermoral dan harus dikembalikan pada hakikatnya, dll.
Saya dan penumpang lain terus terang ketakutanjuga melihat kegarangan dua pendekar moral ini. Sesudah mereka turun, ramai kita bicara, rupanya kata penumpang ibu2 di
sekitarnya, 3 wanita tadi tak melakukan apa2, hanya masuk di Salemba dari
depan , melewati kedua bapak itu dan duduk ngobrol bersama, seperti biasa yang dilakukan orang2 di bus bersama rekan2nya. Tiba2 kedua bapak ini dari duduk di
depan bergegas ke belakang marah2.
Ibu2 di bis hampir semua merasa aneh, mereka semua rata2 berdandan sama, kaos lengan pendek, rok atau celana jeans namun mungkin karena sudah tua dan tak menggugah lagi, shingga dilepaskan oleh kedua bapak ini. Ini hanya kesaksian saya yang kebetulan
menyaksikan saja Bayangkan seperti biasa di Patas ke kota ini, yang naik bisa ber 5- 15 orang yang akan ke mesjid kebun jeruk itu, bagaimana bila mereka terus melakukan hal ini terhadap setiap perempuan yang menggugah mereka dan dianggap mereka membuka aurat dan tak bermoral. Tak lama pasti akan terjadi tindakan main hakim
sendiri
Kemarin itu ke3 wanita itu diusir dari bis, kalau para penegak moral itu, katakanlah ber 5-10, yang dimarahi itu sendiri atau berdua, dianggap sengaja merangsang siapa yang dapat menjamin tak terjadi tindakan kekerasan atau malah pelecehan seksual misalnya. Toh logika saya, para wanita itu sudah dipersepsikan sebagai perempuan bukan baik2, pasti tak ada salahnya dong di"apa apa kan"
Kemarin, 27 Maret 2006, seperti biasa saya pulang dari kerja di RSCM naik bus patas pulang ke kota. Kebetulan duduk agak depan kanan. Kira2 di dekat Kwitang, saya yang lagi ngantuk2 kaget mendengar kegaduhan di baris belakang. Semua penumpang
menengok ke belakang. Ternyata ada 2 orang bapak2 yang sedang
marah2 dan ngamuk terhadap 3 orang wanita yang duduk bersama di belakang.
Ketiga wanita ini masih muda, sekitar 25 tahun, duduk bertiga dengan dandanan mahasiswi, berkaus lengan pendek dengan celana jeans. Kedua orang yang ngamuk ini berusia sekitar 40 dan 50 tahun, berbaju jubah putih panjang bercelana kain longgar, berkumis dan berjenggot lebat dan menggunakan pici dan surban.
Mereka marah besar dan menuduh ketiga wanita yang duduk ini melakukan pornoaksi dan membuka aurat mereka, menyebabkan banyak pria melakukan dosa, dll. Sambil memarah mereka dengan campuran bahasa Indonesia, Arab dll dengan amat kasar
dan tak pantas. Terus menerus mengatakan murtad muted dan pujian pada Yang Di Atas.
Mereka akhirnya mengusir ketiga wanita ini di sekitar tugu tani ke luar bus. Sampai mereka turun di gang Petasan ke arah Mesjid Kebun Jeruk , mereka terus marah2 berdua, saling berdiskusi dengan suara garang dan keras sehingga terdengar ke seluruh bis, betapa sudah murtad dan tak bermoralnya Indonesia, betapa bangsa ini harus dicuci bersih, betapa semua orang sudah tak bermoral dan harus dikembalikan pada hakikatnya, dll.
Saya dan penumpang lain terus terang ketakutanjuga melihat kegarangan dua pendekar moral ini. Sesudah mereka turun, ramai kita bicara, rupanya kata penumpang ibu2 di
sekitarnya, 3 wanita tadi tak melakukan apa2, hanya masuk di Salemba dari
depan , melewati kedua bapak itu dan duduk ngobrol bersama, seperti biasa yang dilakukan orang2 di bus bersama rekan2nya. Tiba2 kedua bapak ini dari duduk di
depan bergegas ke belakang marah2.
Ibu2 di bis hampir semua merasa aneh, mereka semua rata2 berdandan sama, kaos lengan pendek, rok atau celana jeans namun mungkin karena sudah tua dan tak menggugah lagi, shingga dilepaskan oleh kedua bapak ini. Ini hanya kesaksian saya yang kebetulan
menyaksikan saja Bayangkan seperti biasa di Patas ke kota ini, yang naik bisa ber 5- 15 orang yang akan ke mesjid kebun jeruk itu, bagaimana bila mereka terus melakukan hal ini terhadap setiap perempuan yang menggugah mereka dan dianggap mereka membuka aurat dan tak bermoral. Tak lama pasti akan terjadi tindakan main hakim
sendiri
Kemarin itu ke3 wanita itu diusir dari bis, kalau para penegak moral itu, katakanlah ber 5-10, yang dimarahi itu sendiri atau berdua, dianggap sengaja merangsang siapa yang dapat menjamin tak terjadi tindakan kekerasan atau malah pelecehan seksual misalnya. Toh logika saya, para wanita itu sudah dipersepsikan sebagai perempuan bukan baik2, pasti tak ada salahnya dong di"apa apa kan"
Subscribe to:
Posts (Atom)

