Sunday, September 24, 2006

Power Puff Girls Are in Luv


Dulu, kami sempat menyetarakan diri dengan para tokoh film seri Sex and The City. Kelamaan, setelah diamati, justru bertolak belakang. Benar, kami adalah para perempuan pekerja, berusaha menjadi perempuan karir.

Hmm, ada beda ya antara perempuan pekerja dan perempuan karir? Jelas. Kalau pekerja itu sekadar mencari nafkah. Sedangkan karir, ya mengejar karir setinggi mungkin. Berkaca dari kondisi kami, saat ini kami adalah pekerja yang tengah merintis karir. Mencoba bekerja bukan sekadar mencari uang, melainkan juga mencintai, bangga, sekaligus juga mencari kesuksesan.

Ah ribet membicarakan pekerjaan. Apa mau dikata, itulah topic utama obrolan kami tiap kali bertemu. Kontras dengan empat perempuan dalam Sex and The City yang justru nyaris tak penah membicarakan karir mereka. Ya, topik utama obrolan mereka adalah seks dan cinta. Sesuai dengan judul serial itu tentunya.

Setiap acara makan siang atau makan malam bersama, Miranda, Samantha, ….dan …. Tak pernah absent dengan gelak tawa atau sedu sedan seputar kisah kencannya. Bagaimana dengan kami?

Biasanya pertemuan akan diawali dengan membicarakan “Sedang sibuk apa sekarang?”. Lantas “Ada film bagus apa? Kapan nonton bareng? (ini nyaris tak terealisasi, sebab akhirnya kami akan sibuk sendiri-sendiri). Lantas memilih menu makanan secara heboh, lama, dan akurat. Kemudian topic berlanjut ke kabar “pacar” kami. Sssttt,”pacar” yang dimaksud di sini adalah notebook alias komputer jinjing kami! Akan ada bahasan agak techie seputar “Kenapa batere gue ngga bisa pol?” atau “Dimana beliin cover keyboard Acer yang melengkung antik itu?” atau juga keluhan Ajeng tentang MacBook-nya yang pesolek, dan sejenisnya.

Lalu akan ada selingan sedikit tentang bos yang menyebalkan, pekerjaan tak kunjung habis, model baju baby doll yang in, apakah lipgloss masih dibutuhkan, sepatu ceper murahan itu bisa awetkah, dan sebagainya, dan sebagainya.
Kemudian, kembali membangkitkan obsesi lama ihwal membentuk sindikat atau konsultan, blab la bla…..

Dan ketika ada salah satu yang keceplosan bertanya tentang cowok, maka suasana mendadak…………………………hening! Seolah ada “setan” lewat,semua langsung terdiam. Itu pertanda kami tengah mengheningkan cipta bagi kisah cinta kami yang sudah lama gugur ibarat pahlawan di tapal batas.

Apa pasal? Ya, kehidupan asmara kami dapat dikatakan nol besar, bahkan minus, dalam beberapa tahun ini. Topik tentang cowok selalu mengundang hati yang luka (duh, kayak lagu cengeng jadul!).

Eh, jangan salah. Secara tak sengaja saat ini kami tengah sama-sama dirundung asmara lho. Masih belum apa-apa. Masih sebuah pre-fall-in-love. Istilah Ajeng, baru “jatuh suka”, belum jatuh sayang atau cinta. Uniknya, kami bertiga bisa mengalaminya secara bersamaan. Padahal selama ini kesibukan telah menenggelamkan aku, Eno dan Ajeng sampai sulit saling bersua. *Untung ada Yahoo Messenger dan SMS*.

“Jadi Power Puff Girls are in luv? Wah, The Luv Episode og PPGs!” Itu SMS kami akhir pecan kemarin. Blossom, Bubble dan Buttercup tengah dilanda romantika. Akankah kami kecewa dan terluka? Ah, persetan saja.

Tapi jangan salah, obrolan kami tetap tidak seheboh serial Sex and The City. Selain kisah kasih kami sangat sepi, kami juga bukan penganut seks bebas. Jadi tidak akan pernah ada ketawa heboh ala Samantha yang berkisah tentang kencan panasnya! Obrolan kami justru lebih mirip dengan curhatan anak SMP di meja kantin sekolah. Ya, mungkin kami tidak pernah merasa tua dalam hal yang satu itu 

Friday, September 22, 2006

SBY, Sang Menteri dan Gelandangan Pemakan Kulit Jeruk

Tiga hari lalu. Di dekat terminal bus Manggarai, Jakarta, aku melihat seorang gelandangan mengorek-ngorek timbunan sampah. Kebetulan aku ada di atas Metro Mini 62 yang berjalan lambat menunggu penumpang. Lekat-lekat kuamati, lelaki gelandangan itu berasyik masyuk dengan sesuatu. Ternyata ia menemukan kulit jeruk dalam tas kresek hitam. Dan ia memakannya dengan lahap!

Pemandangan yang sama pernah aku saksikan di adegan film Gie yang dibintangi Nicholas Saputra. Film yang diangkat dari catatan harian Soe Hok Gie itu bersetting tahun 1960-an. Dikisahkan bagaimana Gie muda bertemu lelaki yang memakan kulit jeruk. Lalu ia jatuh iba dan memberikan semua uangnya pada lelaki itu.

Aku buka Gie yang memberikan uangku pada gelandangan tadi. Dan hari itu adalah 20 September 2006. Sudah berapa tahun lamanya Indonesia merdeka dan membangun? Kenapa masih ada orang kelaparan sampai mengoreki sampah, memakan kulit jeruk? Lantas apa yang rakyat dapatkan dari pembangunan selama ini? Kulit jeruk dan sampah?

Malamnya, aku berkirim SMS yang berkisah tentang si pemakan kulit jeruk tadi. Fakta bahwa sejak 1960-an sampai 2006 ini, rakyat Indonesia tidak mendapat kemajuan berarti dari pembangunan. SMS pertama aku kirim ke seorang teman, kebetulan pegawai negeri di sebuah instansi bergengsi. Jawabannya: "Say that to the minister (sudah diedit) dan semua kalangan pejabat tinggi setingkat dia. Mungkin mereka lupa, abis fasilitasnya enak terus. Gimana kita bisa cinta RI?"

Kuturuti sarannya, aku kirim SMS serupa ke seorang menteri yang biasanya rajin membalas SMS-ku. Sayang, si menteri tidak menjawab. Mungkin ia terusik dengan kisah duka menjijikan tentang kalangan bawah. Barangkali ia malas dengar cerita orang susah. Mungkin juga ia sedang menikmati jamuan makan malam lezat yang terganggu oleh SMS tentang gelandangan pengorek sampah.

SBY, JK, beserta gank kabinet plus semua anggota DPR yang bergaji puluhan juta mestinya menyempatkan diri berjalan-jalan ke lokasi pembuangan sampah. Biar mereka melhat, masih banyak rakyatnya yang hidup dari mengoreki sampah. Seperti anjing. Sepeti kucing. Bertahan hidup dengan mencari sesuatu untuk dimakan di antara bau busuk itu.
Oh Indonesia!

Wednesday, September 20, 2006

Hidup dan Lamaran

Malam Senin kemarin, di TV7 atau Global TV (saya lupa, maklum bukan penggila TV), ada satu adegan dalam film yang juga saya tak tahu judulnya.

Adegan itu sangat menyentuh!
Seorang nenek tua (80-an) bertemu seorang gadis cantik. Kira2 begini dialognya:

Nenek: Mana suamimu?
Gadis: Saya belum menikah.
Nenek: Ah, sayang sekali. Kamu cantik sekali padahal.
Si Gadis tersipu dan serba salah.
Nenek: Saya juga tidak pernah menikah.
Si Gadis terkejut.
Nenek: Ya, sebab tidak ada yang melamar saya...
Si Gadis masih terkejut.
Nenek: Saya dulu sangat mencintai Irvin saat usia 21. Tapi ibunya tidak setuju. Dia meninggalkan saya. Sejak itu saya tidak ada yang melamar...

Miris sekali!
Apa iya garis hidup seorang perempuan ditakdirkan oelh DILAMAR atau TIDAK DILAMAR?
Kalau tidak dilamar, maka ia akan kesepian seumur hidup seperti nenek tadi??????????????????

Dunia yang sangat tidak adil bagi kaumku tercinta!!!

Tuesday, September 19, 2006

Suatu Hari Nanti, Oriana...






“Oriana Fallaci meninggal di Florence.”



SMS itu datang dari Natalia, rekan jurnalis desk Internasional di mediaku. Singkat namun menyentak. Kebetulan aku sedang di luar kantor, belum sempat mengakses dunia maya.
Lalu kubalas, “Duh, belum sempet ketemu kok meninggal? Huhuhuhuhu!”

Siapa Oriana? Bagi orang Indonesia kebanyakan, nama perempuan Italia itu tidak banyak berarti. Buatku, amat sangat berarti!

Pertama mengenalnya melalui sebuah buku yang kupinjam dari perpustakaan SMP. “Wawancara dengan Sejarah” judulnya. Berisi kumpulan interviu perempuan kelahiran 29 Juni 1929 ini dengan sejumlah tokoh politik dunia terkemuka. Henry Kissinger, the Shah of Iran, Ayatollah Khomeini, Lech Wałęsa, Willy Brandt, Zulfikar Ali Bhutto, Walter Cronkite, Omar Khadafi, Federico Fellini, Sammy Davis Jr, Deng Xiaoping, Nguyen Cao Ky, Yasir Arafat, Indira Gandhi, Alexandros Panagoulis, Archbishop Makarios, Golda Meir. Luar biasa.

Sejak membaca buku itu, aku terinspirasi menjadi jurnalis. Sampai ketika lulus SMA aku tidak ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri ), tapi langsung mendaftar di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta yang memiliki Fakultas Jurnalistik. Target hidupku saat itu hanya satu, jadi jurnalis. Titik. Tak bisa ditawar lagi.

Hari ini, aku menjadi jurnalis. Sebuah cita-cita yang tercapai. Bukan pada media besar, melainkan media biasa saja. Yang pasti aku bangga dengan profesi dan mediaku, sebab memiliki independensi luar biasa dalam menulis. Tidak ada campur tangan siapapun. Tidak ada intimidasi. Aku bebas menulis apa yang kusuka sesuai dengan ideologiku. Kebetulan aku membidangi halaman Ilmu dan Pengetahuan, bidang yang sesungguhnya sempat kucintai waktu sekolah lewat pelajaran biologi.

Memang jauh dari bidang Oriana, politik. Hmmm…itu juga sempat jadi obsesi terpendam: menjadi jurnalis politik. Bahkan wartawan perang. Tapi ternyata takdir menentukan lain. Nevermind. Aku tetap bisa hidup dengan menulis.

Oriana meninggal 15 September 2006 kemarin di Florence, Italia, kampung halamannya. Ia menderita kanker payudara selam 15 tahun. Tidak pernah menikah. Adakah penderitaa terpancar dari sorot matanya? Tidak.

Suatu hari nanti, aku akan kutebar bunga di pusaran makammu, Oriana.
Suatu hari nanti.

Friday, September 08, 2006

Jadi Harimau di Sarang Harimau



Being a pretty tiger among the tigers



Kembali, beberapa teman perempuan menanyakan keminoritasanku sebagai perempuan. Pekan kemarin aku kembali untuk ke sekian kalinya (sudah tak terhitung) menjadi mahluk paling cantik di rombongan. Maksudnya, saya satu-satunya perempuan, wanita, kaum Hawa, cewek, ibu, dalam satu tim perjalanan jauh.

Sesungguhnya ini suatu kondisi yang biasa. Selama gender tidak menjadi masalah, menjadi satu-satunya perempuan dalam 100 batalion tentara pun sebenarnya hal biasa. Problemnya adalah bagaimana kita sebagai pemilik jenis kelamin paling berbeda dapat menyetarakan diri dengan mereka.

“Gue males, abis ngga ada ceweknya,” ungkap teman cewekku yang merasa risih harus bergaul dengan rekan seprofesinya yang lelaki semua dalam sebuah perjalanan jauh. Akhirnya ia harus menikmati kesendirian, kesepian, di suatu tempat yang sesungghnya sangat mengasyikan kalau dilewati bersama kawan-kawan.

Bagi saya, sikap seperti itu adalah rugi besar. Kebetulan sejak kecil saya tomboy, lebih suka gaul dengan cowok. Sejak SMP sudah biasa yang namanya kemping dengan cowok-cowok. Sampai hari ini pun ketika usia sudah dewasa hal itu tak menjadi problem berarti. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perempuan yang menjadi minoritas gender di kelompoknya.

Pertama, jangan bersikap rewel dan terlalu menonjolkan kelemahan fisik serta emosi. Cowok paling sebel kalau di kelompoknya ada cewek rewel, bawel, rese. Terlalu banyak nuntut macem-macem. Yang ada kehadirannya justru akan disesali.

Kedua, jangan minta keistimewaan karena kita perempuan. Mereka sudah tahu kita perempuan, punya beberapa kelemahan dibanding mereka. Dari sisi fisik misalnya, kita tak mampu melakkan hal-hal yang setara dengan cowok. Mereka sadar betul itu tanpa harus kita mengingatkannya. Otomatis teman-teman cowok kita akan memahami kondisi itu sehingga secara sukarela akan memberi keistimewaan. Namun bukan berarti kita menuntut terlalu banyak privilege hanya karena kita perempuan.

Ketiga, karena sadar bahwa kita memiliki kelemahan fisik dan emosi yang dominan, cobalah berusaha meminimalkannya. Maksudnya, ada banyak situasi dimana mau tak mau kita harus berusaha keras mengikuti alur mereka. Contoh paling anyar saya alami saat kami berjalan kaki putar-putar KL. Akan memuakkan kalau saya merengek-rengek kecapean. Mau tak mau saya harus memiliki fisik kuat agar dapat mengikuti irama aktivitas itu. Kalau saya sudah kelelahan dan tak kuat lagi, saya akan menyampaikannya baik-baik, bukan dengan cara merengek mirip bayi. Kaum Adam akan menghargai sikap itu.

Keempat, hindari perilaku yang mengundang pelecehan seks. Ada di tengah kelompok pria dengan memakai baju sexy? Itu sama saja dengan minta diperkosa! Pakai logikamu. Berada di satu gerombolan harimau, maka sebaiknya kita ikut berperilaku dan berpenampilan seperti harimau. Itu langkah paling aman. Kalau kau berpenampilan dengan kulit domba di tengah harimau-harimau ganas, sama saja kau minta dimangsa.

Itu saja kiat yang bisa saya bagikan pada teman-teman perempuan. Jangan pernah meng-underestimate diri sendiri hanya karena perbedaan gender. Tapi juga jangan menganggap dirimu istimewa di antara mereka. Seperti saya bilang, jadilah harimau di sarang harimau.

Wednesday, September 06, 2006

Cari yang Cantik dan Ganteng? Ya Indonesia!



Ngga GR, gue yang paling cute di sini! Hahaha! Suwer!

“Sejauh mata memandang, kok ngga ada yang cakep, sih?” Pertanyaan itu kuajukan ke Rully, teman jurnalisku senasib sepenanggungan di Kuala Lumpur. Kami tengah berbaur dalam kerumunan di ajang Micosoft Tech.Ed South East Asia (SEA) 2006 di KL Convention Center (KLCC).

Bukan mau sok, tapi ini fakta. Sejak kedatangan kami di ibukota negeri jiran ini, nyaris tak pernah aku bertemu wajah-wajah cantik dan ganteng. Justru lebih banyak wajah cantik dan ganteng di Indonesia. Suatu misteri yang akhirnya terpecahkan setelah kami berpapasan dengan serombongan anak sekolah.

Mereka anak-anak usia SD dibagi atas tiga kelompok. Satu kelompok terdiri atas yang bermata sipir, kulit kuning. Kelompok lain mata besar, kulit sawo matang. Kelompok lain adalah mata lebih besar dan kulit agak kelam. Ya, mereka adalah kelompok etnis Cina, Melayu dan India. Ternyata di sini, sejak kecil ketiga etnis tersebut sudah dipisah-pisahkan pergaulannya. Maka tak heran setelah dewasa maka pergaulan mereka juga dibatasi berdasar etnis.

Jadi ingat, seorang teman dulu pernah cerita pas dia kerja di KL jadi bingung mau gaul sama siapa. Dia Indonesa keturunan Cina. Di Jakarta sih gaulannya bebas. Tapi begitu di KL, dia bingung mau gaul sama kelompok etnis mana. Secara jiwa, dia cocok sama orang Melayu. Sayangnya orang Melayu di sana tak bisa dengan mudah menerima pertemanan dekat dengan orang berwajah Cina. Jadi temanku itu mencoba bergaul dengan kelompok Cina. Masalahnya, dia tak bisa bahasa Cina, dan secara selera dan gaya hidup, ia sama sekali “ngga nyambung” sama mereka. Yang ada temanku jadi bingung mau bergaul sama siapa. Ujung-ujungnya ia harus mencari sesame orang Indonesia di sana! Duh, susah amat ya hidup??!!!

Gaya hidup “rasialis” macam itu akhirnya yang menyebabkan warga KL tidak secantik dan seganteng warga Jakarta. Apa sebab? Yah, kalau gaul aja dibatasi secara etnis, bagaimana bisa terjadi kawin campur atau asimilasi seperti di Indonesia? Orang Cina akan kawin dengan sesame Cina. Melayu dengan Melayu. India dengan India. Tidak ada perpaduan. Hasilnya adalah keturunan yang berwajah “itu-itu aja”. Yang Cina yang super sipit. Yang India ya super hitam. Yang Melayu yang tetap saja standar.
Indonesia? Wow, cantik dan ganteng semua dong! Sebab kita adalah negara yang tak mengenal rasialisme! Kawin campur Jawa-Sunda-Ambon-Batak-Padang-Cina-Arab-Makassar dan sebagainya, SUDAH BIASA! Jadilah kita bangsa yang wajahnya gunteng-guanteng dan cuantik-cuantik! Banggalah jadi orang Indonesia!

Mau cuci mata cari yang ganteng? Ngga usah ke KL! Jakarta jawabannya!

Tuesday, August 29, 2006

Dunia Patriarki

Kalau seorang ayah berbuat “sedikit” saja kebaikan bagi keluarganya, maka seluruh dunia akan memujanya. Padahal setiap detik, miliaran ibu di dunia mengorbankan waktu, keringat, doa dan tenaganya bagi keluarganya tanpa pamrih sedikit pun. Tak ada pujian sama sekali.

Kalau seorang lelaki meninggalkan rapat demi anak yang sakit di rumah, seisi ruangan rapat akan terpesona. “Oh, dia sungguh ayah yang sayang anak.”
Giliran seorang ibu bekerja minta izin pulang cepat sebab anaknya demam, maka seisi kantor akan mengomel, “Dasar perempuan karir ngga becus ngatur waktu.”

Kalau seorang suami berselingkuh, maka orang akan berkomentar, “Pasti istrinya ngga becus ngelayanin suami. Wajar aja dia selingkuh. Namanya aja lelaki.”
Ketika seorang istri selingkuh, orang akan mencaci, “Dasar pelacur ngga tau diri, perempuan najis, amit-amit jabang bayi! Jangan sampe laki gue diembat dia! Perek!”

Kalau seorang cowok belum menikah di usia 35, sekitarnya akan berkata, “Pasti dia sibuk mikirin karir. Belum nemu cewek yang pas buat jadi istrinya. Hebat, pandangannya jauh ke depan.”
Tapi jika perempuan masih melajang di usia 30, orang berujar, “Wah, perawan tua kagak laku. Kasian amat. Pasti karena terlalu pemilih, sok sempurna. Apa dia dikutuk ya? Dosa apa dia?”


Oh dunia patriarkis!

Wednesday, August 23, 2006

"Who are You?" or "Who Are Your Parents?"

Apakah hanya orang-orang yang berasal dari keluarga terpandang saja yang bisa memiliki kepercayaan diri (PD) tinggi?

Pertanyaan itu menggantung di benakku cukup lama. Sejak tiga-empat tahun lalu barangkali. Suatu pagi di acara bertema lingkungan di Kafe Dedaunan, Kebun Raya Bogor. Salah satu tokohnya adalah putri seorang figur publik di bidang politik, Des Alwi. Saya lupa nama putrinya. Ia tampil begitu PD, berani berhadapan dengan siapa saja, akrab dengan siapa saja. Mungkin semua yang hadir di situ mengenalnya sebagai anak seorang tokoh terkenal yang berpengaruh di zamannya.

Mas Sapto, seorang teman jurnalis senior berujar padaku, “Kadang gue mikir, sebagai bukan anak siapa-siapa, gue suka minder. Sejak jadi jurnalis sering ketemu orang-orang gedean, pejabat, orang pinter. Padahal gue dari keluarga biasa aja.”

Jurnalis yang sudah cukup kawakan itu merasakan bagaimana mengobrol dengan Habibie, Akbar Tanjung, dan beragam tokoh top negeri ini. Ia mengaku hanya sok PD saja. Padahal kalau diingat-ingat bahwa ia dari keluarga biasa, timbul rasa minder.
Hal yang sama juga terjadi padaku. Bertemu orang-orang hebat adalah keuntungan menjadi jurnalis. Namun apakah kita dapat tampil PD saat berahdapan dengan mereka? Mengobrol? Bertukar pikiran? Harus. Harus dipaksakan!

Di kantorku juga sempat ada kerabat “bos” yang bekerja seatap dengan pamannya yang bos. Ya, dia sangat PD sekali dalam pergaulan. Berani seenak hati menghadapi siapa saja di kantor, entah itu kelas reporter sampai kelas manajer. Ceplas-ceplos bahasa Inggris demi pamer ia pernah kuliah di Amrik. Tiap acara kantor selalu jadi MC. Singkatnya, ia merasa kantor itu miliknya. Yah, kerabat bos gitu loh!

Mungkin kondisi yang sama berlaku bagi anak-anak para orang terkenal di negeri ini. Mereka merasa negeri ini “milik” orangtuanya. Jadi merasa PD banget untuk tampil dimana saja dan kapan saja, berhadapan dengan siapa saja. Toh semua orang tahu siapa dia, setidaknya siapa orangtuanya.

Bagaimana dengan kami, para anak dari keluarga biasa saja? Kepercayaan diri itu harus diempos ekstra kuat. Orang tidak akan langsung respek hanya karena mendengar nama dan melihat wajah kita. Sebab kita bukan siapa-siapa dan bukan anak siapa-siapa. Maka kita harus memiliki kelebihan khusus agar dapat diperhitungkan. Kepercayaan diri ekstra kuat yang dipaksakan. Dan itu tidak mudah. Sungguh.

Saya pernah hadir di satu acara dimana pengunjungnya rata-rata orang hebat semua. Pejabat, penulis terkenal, ilmuwan, selebriti. Mungkin hanya saya dan sebagian kecil orang saja yang bukan siapa-siapa. Thanks God, obrolan saya dengan para orang hebat tadi masih bisa nyambung. Walau dengan PD yang dipaksakan. PD yang dikeluarkan dengan ekstra tenaga dan mental baja.

Kalau sudah begini, saya jadi berpikir. Saya harus menjadi “sesuatu” agar kelak anak saya punya PD alami yang tak perlu dipaksakan. Saya harus menjadi seseorang yang minimal diakui keberadaannya. Agar anak saya kelak punya kepercayaan diri tinggi untuk tampil berhadapan dengan orang-orang hebat. Tidak perlu setenar Habibie atau Akbar Tanjung atau Soeharto. Cukup menjadi diri saya sendiri.

Tapi yang lebih penting, kelak anak saya harus bangga pada dirinya sendiri, bukan karena dia anak saya. Kita harus mempertanyakan "siapa kamu dan apa yang kamu bisa", bukan "siapa ortu kamu?".

Friday, August 18, 2006

LIMITED EDITION: True Love


True love is a limited edition. Only the lucky few man and woman who found it.
Kalimat itu mencelos dari lubuk hati, sepekan silam. Ketika seorang teman yang jauh lebih tua, dan sudah kuanggap ayah sendiri, berkisah tentang love story-nya. Tahun 1972, ia mengejar seorang gadis cantik, idaman banyak lelaki, terkenal, atlit dan penyanyi. Hari ini, gadis itu menjadi ibu dari tiga anak dan dua cucunya.

What a great love story!

Seorang teman lain, berkisah bahwa suaminya sekarang adalah pacar pertamanya di semester pertama, sekaligus juga first love-nya. Ia sendiri juga pacar pertama dan cinta pertama sang kekasih. Reiny dan Aryo. Hari ini sudah menimang bayi mungil.

Another great love story.

Sayangnya, kisah-kisah mengagumkan seperti itu tidak banyak ditemui di sekitar kita. Jauh lebih banyak kisah cinta berakhir tragis, pahit, pilu, mengenaskan bahkan berakhir dengan kematian dan dendam.

Maka jangan salah kalau saya nyatakan: true love is limited edition!

Sudahkah anda mendapatkannya?

Wednesday, August 16, 2006

The Real Power Puff Girls



Attention! Trio Power Puff Girls, Ajeng, Merry dan Eno sekarang sudah ngga jomblo lagi. Mereka punya pacar baru: Macbook, Acer dan Compaq. Kalau malam minggu sudah ngga lonely lagi..


Itu SMS yang kukirim ke beberapa teman sejak kami bertiga sudah mendapatkan komputer jinjing idaman. (PS:Kami penulis, jadi memilk computer jinjing alias notebook adalah impian utama di atas segalanya. Agar bisa menulis dimana saja, kapan saja).

Balasan dari SMS tadi pun tidak kalah lucu. Salah satunya : Merdi juga udah ngga jomblo lagi. Udah pacaran sama Adidas dan Nike. Itu berasal dari sobat kami Merdi yang jurnalis olah raga.

Ya, kami adalah The Power Puff Girls. Tiga sobat cewek dari tiga media berbeda. Kenal di liputan, lalu keterusan jadi lengket sebab sama-sama jomblo. Sama-sama agak trauma sama yang namanya cowok. Sama-sama hobi makan, nonton dan nulis.


Tadinya mau menamakan diri sebagai Charlie’s Angels. Tapi behubung karakter The Power Puff Girls lebih imut dan sesuai dengan sifat kami yang sering kekanakan, maka kami memilih alternative kedua itu.

Dua tahun lalu, Ajeng, Eno dan saya merintis sebuah milis unik dan keren, Technomedia .Dulu membernya terbatas pada jurnalis Teknologi Informasi (TI)cewek-cewek yang kebetulan agak gaptek. Milis ini sengaja dibuat agar kami bias berkonsultasi gratis dengan seorang pakar TI yang lucu dan baik hati, I Made Wiryana, dosen Gunadarma, pakar Open Source yang sedang mengambil S3 di Bielefeld University, Jerman. Kelamaan membernya bertambah, para jurnalis cowok. Tak lama Kang Onno W Purbo juga gabung. Technomedia jadi ramai, penuh tawa, canda, juga saling berbagi informasi menarik seputar TI.

Kelamaan member membengkak. Ternyata gaung milis ini cukup seru di komunitas dunia maya. Kami terpaksa menolak calon-calon member yang tidak jelas asal muasalnya. Sampai milis kami dituduh ekslusif, menutup diri dan sebagainya. Habis bagaimana, kami ingin Technomedia berbeda dengan milis TI lain. Di sini jurnalis lebih diutamakan sebab memang para foundernya adalah jurnalis.

Dan milis pun kian ramai dari hari ke hari. Ada Mas Roy Suryo yang memancing kontroversi saat baru bergabung. Belum lagi perdebatan seru ketika ada kasus hacker KPU, kasus penyelewengan dana TI KPU, dan banyak lagi. Semua isu heboh dibahas di sini langsung oleh para pihak yang terlibat.

Sampai akhirnya sejak Mei kemarin milis kami mendapat member antik, Menristek Kusmayanto Kadiman. Hahaha! Yang ini ceritanya juga seru. Lewat SMS saya iseng menawarinya untuk gabung di milis. Eh, ternyata Pak Mentri yang akrab dipanggil KK ini langsung mau gabung. Beda dengan mentri lain yang gaptek, KK rajin posting di milis. Postingannya juga kadang lucu-lucu.

Ribetnya, Technomedia jadi tambah popular berkat promosi KK. Sejumlah vendor TI pun ingin bergabung. Kami terpaksa membatasinya sebab sesuai kesepakatan awal, milis ini tertutup bagi vendor dan PR. Sorry!

Oya, kami juga sudah beberapa kali mengadakan gathering kecil-kecilan. Kalau gathering akbar baru sekali, sekitar Mei tahun lalu. Sukses berat, sebab nyaris semua selebriti TI hadir. Mulai dari pakar-pakar TI, komunitas ISP, hacker, blogger, juga pihak yang saling berseteru.

Tahun ini kami sedang berencana untuk bikin gathering akbar. Kalau gathering kecil-kecilan sudah pernah beberapa kali dilakukan dalam bentuk diskusi bersama KK, sampai yang santai, berkaraoke di Sky Light Café-nya. Mungkin buka puasa bersama di rumah KK? Hehehe. Itu baru rencana.

Ya, kami bertiga bangga sekali dengan milis ini. Siapa sangka ide yang muncul dari ketawa-ketiwi perjalanan Jakarta-Bandung para Power Puff Girls ini bisa jadi seramai sekarang? Stt, sampai hari ini kami masih terus menolak calon member lho. Ohya, sekarang kami dibantu Wandi dan Iwan, dua anggota ModSquad yang ikut menyeleksi member baru. Dulu Merdi sempat jadi Mod juga, tapi tidak lagi karena sudah pindah ke desk oleh raga.

Itu saja sekilas kisah sepak terjang The Power Puff Girls versi Indonesia: Ajeng Bubble , Merry Blossom dan Eno Buttercup dengan Technomedia-nya. So, jangan pernah meremehkan kekuatan cewek-cewek. Ketawa-ketiwi iseng para cewek kadang mampu mengubah dunia lho. Hahaha! Bravo!

Monday, August 14, 2006

Bye Bye, Cyber Lover

“Gilingan lu , Mer..serius tuh yang di blog lu?” Seorang teman terkaget-kaget. Dia bukan yang pertama. Teman lain tak kalah mendesak apakah isi blog itu benar. Mencari kekasih di dunia maya.

Hahaha! Mungkin saya sedikit tergoda oleh buku “I Don’t Know How She Does It” karya Allice Pearson. Buku yang berkisah tentang ibu bekerja dengan dua anak dan suami rewel. Mendadak saja menemukan lelaki penuh perhatian di email. Jadilah ia kekasih dunia maya.

Saya sempat berpikir, barangkali satu-satunya solusi bagi perempuan bekerja yang sibuk sekaligus juga ibu tunggal adalah kekasih dunia maya. Sekadar untuk selingan. Untuk hiburan di kala senggang. Untuk memberi dan diberi perhatian. Cukup melalui email, sinyal ponsel dan sebagainya. Tak lebih.

Baru satu hari, kebutuhan itu sudah kadaluarsa. Expired Date. Terimakasih. Saya sudah cukup punya begitu banyak teman yang siap membalas SMS di setiap waktu. Teman-teman yang menjadi ayah, ibu, adik, kakak, pacar, kekasih, musuh, dan apapun yang saya inginkan.

Sorry, iklan di postingan terdulu saya batalkan. Maklum, mood saya mirip rollercoaster yang menukik naik turun. Sekarang mood saya kembali normal, tidak butuh siapapun kecuali Libby, sahabat-sahabat dan teman-teman yang baik hati. Bye bye, cyber lover!

Friday, August 11, 2006

My Project


Coba perhatikan di link kanan. Ada link "MyProject". Penasaran? silakan klik saja :).
kalau mumet silakan klik http://merry-magdalena.blogspot.com dijamin tidak ada unsur pelecehan laki-laki :)

Thursday, August 10, 2006

Bukan Keledai

kemarin sore
kepada seorang kawan
berkisahlah aku
bahwa aku baru saja membunuh
satu rasa lagi
dan rasanya sukses

lalu kawan itu berkata,
"kalau semua orang seperti kamu
maka tidak akan ada roket ke bulan
bahkan tak pernah komputer ditemukan
sebab semua tak akan dilakukan
hanya karena ada ketakutan"

pulangnya aku merenung
betul juga kata kawan itu
tapi bukahkah keledai pun tidak mau terperosok
ke lubang yang sama
hingga dua kali?

seorang kawan lain bertanya
"sampai kapan kaubunuh-bunuhi perasaanmu sendiri
sampai resistan dan tak bisa mati?
bukankah akan tersiksa jadinya?
hidup segan, mati tak mau?"

sejujurnya
aku lelah membunuhinya, kawan
ingin juga membiarkan rasa itu hidup dan bertumbuh
berkembang..bermekaran menjadi bunga
lalu muncul buah-buah baru
yang menjatuhkan biji dan tumbuh lagi di tanah baru

tapi
bukankah keledai pun tak mau terperosok kedua kalinya?
dan aku bukan keledai!

Monday, August 07, 2006

Lagu yang Tak Pernah Membosankan


Sinead O’ Connor bukan penyanyi tren masa kini. Sudah lama perempuan Irlandia yang terkenal dengan kepala plontosnya itu tidak bernyanyi. Tiba-tiba saja suaranya melengking dari Winamp yang terdapat dalam komputer jinjing saya. Seseorang menyimpannya di situ. Sebuah lagu yang membawaku ke masa silam. Jauh sekali. “Nothing Compares 2 U”. Lagu lawas yang mungkin saja tidak dikenal oleh remaja saat ini. Entah kenapa sejak dulu sekali, setiap saat mendengar Sinead bersenandung lagu ini, ada air mata yang mendesak ingin keluar.

Lagu yang berkesan pada suatu peristiwa? Tentang seseorang yang tak dapat dibandingkan dengan siapapun? Itukah artinya kalau dikait-kaitkan dengan liriknya? Apa benar? Aku merenung. Pernahkah ada seseorang di hidupku yang sulit dibandingkan dengan siapapun karena sedemikian istimewanya? Kalau jawaban yang diinginkan adalah sosok lelaki, maka itu tidak ada. Ya, tak ada sosok lelaki istimewa dalam hidup saya. Ayah? Maaf, saya tidak mengenal dengan baik pribadi ayah saya. Kakak lelaki? Kami tidak besar bersama. Saya kenal dengan baik banyak teman lelaki, namun tak satupun dari mereka adalah kakak kandung saya. Terlebih lagi ayah saya. Dan saya sama sekali tidak merindukan kedua-duanya.

Kembali saya tercenung, apakah gerangan yang membuatku begitu terpesona oleh lengkinan vocal Sinead di lagu itu? Sampai detik ini saya belum dapat menjawabnya secara logis. Kemungkinan besar adalah vokalnya. Ya, vocal perempuan bermata indah itu belum ada duanya. Hal lain bias saja figure Sinead yang controversial. Bukan controversial karena gossip, percintaan atau gaya hidup gila-gilaan seperti kebanyakan artis lain. Bukan sama sekali. Sosok Sinead O’Connor cukup unik. Ketika perempuan lain menganggap rambut sebgai mahkota, ia justru memapas habis. Gayanya menyanyi juga beda dari penyanyi kebanyakandi zamannya. Ia tidak seperti Madonna yang tampil seronok diiringi penari latar meriah. Sinead lebih megandalkan ekspresi dan kekutan vocal yang khas.Lirik lagunya pun banyak yang bebau politis ketimbang menyek-menyek dimabuk cinta. Dan puncak dari kontroversinya adalah sewaktu perempuan cantik itu merobek foto Paus, pimpinan umat Katolik yang sangat disegani.

Orang mungkin mencaci seorang Sinead. Menganggapnya kurang ajar dan sebagainya. Saat isu tentang aksinya itu merebak di media, saya masih seorang gadi belia yang mencari-carijati diri dan figur panutan. Waktu itu, kalau tak salah di majalah Hai saya membaca tentang tingkah “kurang menyenangkan” seorang Sinead. Entah kenapa, justru saya mengaguminya.

So, apa hubungannya dengan lagu “Nothing Compares 2 U?” Itu masih menjadi misteri hingga tulisan ini dibuat. Yang jelas setiap kali saya mendengar lengkingan Sinead di lagu itu, saya seperti mendengar hati saya menjerit. Seperti yang saya tulis di atas, ada air mata yang siap merebak keluar dari celah rongga mata saya.

Thursday, August 03, 2006

Aik, Asisten Saya






Masih ingat, sekitar setahun lalu, mungkin lebih. Di teras sebuah rumah sakit swasta bilangan Cikini. “Itu siapa, Mer? Tanya seorang sahabat.
“Oh, Aik, asisten gue,” jawabku.
“wah lu dapet asisten dari kantor? Keren amat.”
Aku hanya tersenyum geli.

Saat lain, menjemput Libby di tempat kursus bergengsi, EF. Aik dikira akan mendaftar kursus, padahal ia hanya mengantar Libby. Aik cerita dengan geli pada saya.

Kali lain, di sela meeting saya mendadak ingat bahwa Libby siang itu pulang sekolah lebih awal. Saya menelepon Aik dari ponsel. Teman bertanya, “Ada apa Mer?”
“Hubungi asisten gue nih, penting.”

Lain waktu lagi, dalam sebuah acara larut malam di kantor teman, saya bergegas pulang lebih dulu. “Kasihan, Libby cuma sama berdua asisten saya di rumah,” jelas saya pada teman.

Siapakah Aik?

Seorang perempuan 33 tahun dengan penampilan resik, tubuh kurus mungil, rambut keriting panjang. Tutur katanya halus, khas Sunda. Sabar. Saya tak pernah tega memarahinya walau ada kesalahan. Ia pernah menikah ketika sudah tinggal setahun lagi lulus SMA. Suaminya selingkuh, kawin lagi. Padahal Aik sudah keguguran tiga kali demi menganugerahkan anak buat suami tercinta. Akhirnya mereka bercerai.

Dan di Depok saya bertemu perempuan bersahaja itu. Aik membantu saya. Meng-asisten-i kehidupan saya yang super sibuk. Telaten menghadapi kenakalan Libby. Mencuci dan menyetrika baju-baju kami dengan rapi. Menjaga kebersihan rumah kami. Memasak hidangan lezat setiap hari. Rela berpanas-panasan menjemput Libby pulang sekolah.

“Mama Libby, saya minta dua bulan gaji. Biar deh dipotong. Bulan depan ngga usah gajian.” Saya tak pernah tega menolak permohonannya.

Aik, asisten saya yang cantik, penyabar, rajin. Saya tidak pernah tega menyebut kamu "pembantu". Kata "asisten" lebih tepat dan terdengar manusiawi.

Aik, bisa apa saya tanpa kamu?

Wednesday, August 02, 2006

Age Doesn't Matter????

Makin bertambah usia, yang namanya perbedaan umur itu kian tak kentara ya? Pertanyaan itu menggantung di benakku. Zaman kecil dulu, malas banget bergaul sama yang umurnya satu-dua tahun di atas kita. Itu zaman SD kayaknya. Lalu pas sudah SMP, masih OK deh bertemen sama yang dua-tiga tahun di atas kita. Tapi kalau sudah lima tahun ke atas, rasanya risih. Ngga level.

Kelamaan pas sudah kuliah, rasanya ngga masalah berteman dengan yang enam-tujuh tahun di atas kita. Justru bangga. Sebab membuktikan kita sudah menyamai pemikiran mereka.

Belakangan ini, bersama seorang teman, saya baru sadar. Terlalu banyak bergaul dengan orang yang usianya jauh di atas kita. Sepuluh, lima belas….oops!

“Gimana mau dapet cowok ya, gaulnya ama om-om molo! Yang ada dikira kita peliharaan om-om!”

Whoaaaaa.. tidak! Mereka adalah teman-teman yang berasal dari komunitas nara sumber. Kebetulan kami adalah jurnalis. Jadi kami banyak berhubungan dengan nara sumber atau tokoh-tokoh yang jelas saja usianya jauh di atas angkatan kami. Menyenangkan sesungguhnya berteman dengan mereka. Memperluas wawasan, menambah ilmu, memperkaya pengetahuan tentang aneka ragam karakter dan gaya hidup manusia. Dan yang jelas menambah koneksi dimana-mana.

Ya, sangat menarik memang. Tapi kembali ke problem semula, kami jadi merasa “tua” sebelum waktunya. Bukan tua di pemikiran atau gaya, melainkan jadi dianggap tua oleh sekitar. Mungkin cara bicara kami terpengaruh. Atau pola pikir kami? Nevermind sih, kami jadi merasa dewasa dan makin matang...

Kadang saya kangen juga bertemu dengan teman sebaya, seusia. Hanya sayang teman-teman saya saat ini kebanyakan sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Ditambah Jakarta adalah kota yang macet, dimana jarak yang dekat saja membutuhkan waktu cukup lama untuk dijangkau. Alhasil, pertemanan kami lebih banyak berlangsung di SMS, chatting di YM atau email dan telepon. Untuk bertatap muka langsung harus disusun jadwal yang tepat dulu, itu pun dengan risiko mendadak batal karena ada urusan lain :(.

So, teman yang selalu siap "bergaul" bersama saya justru kalangan om-om nara sumber tadi. Sebab kami bisa bikin jadwal yang lebih seirama. Mengingat saya adalah jurnalis dan mereka adalah para tokoh. Jadi kesempatan bertemu itu selalu saja ada.

Maka jadilah saya dan sahabat tadi banyak berteman dengan orang-orang yang usianya jauh di atas kami. Hmmmmm....

Jadi terbayang, saat saya sudah nenek-nenek nanti, bergaulnya sama siapa ya? Masak sama mayat??? Whoaaaa!!!!

PS: Coba ya para Om-om nara sumber yang baik hati. Tolong kami dikenalkan dengan keponakan atau sepupu atau siapalah yang usianya sepantaran kami. Hitung-itung bonus atas pertemanan kita, gitu lhooo. Hihihi!

Tuesday, July 25, 2006

Become A Commander of My Self


A long long time a go
There was a girl who crazy about a book tittled "Interview with The History" written by Oriana Fallaci. That's a book contained by several interviews made by Fallaci with some big figures at the time as Gorbachev, Golda Meier, Yasser Arafat, Henri Kissinger...etc. That book she borrowed from the school' library. But now she never find that precious book that inspired her to become a journalist.
The girl is me :)
And Oriana Fallaci is a great great journalist woman from Italy that I admire so much!
Pitty, my boss never took me at politic post as her...
But no problem...to fight the right things for my country, my people, we always could do in many fields...science and tech just one of them..

Hmm terlalu mengada-ada ya? Klise ya? Setidaknya lebih baik daripada harus bermenyek-menyek dengan Kisah Cinta Saphira, postingan terdulu yang menjijikan itu.
Belakangan ini saya merasa sedang berdiri di atas tanah genting. Mungkin karena efek gempa di Jakarta beberapa waktu lalu. Juga berita-berita gempa sana sini , ditambah isu gempa bohongan.

Kita selalu butuh waktu untuk berpikir, merenung, berintrospeksi. Celakanya, saya terlalu banyak melakukannya belakangan ini. Bisa jadi efek PMS, kondisi tidak menguntungkan bagi kaum Hawa. Membuat emosi meletup seaktu-waktu mirip gunung Merapi.

Menjadi jurnalis adalah mimpi saya sejak lama. Mimpi dan cita-cita yang membuat saya dipojokan kerabat dan keluarga. Saya terlahir dari ayah seniman dan ibu serba bisa. Mereka berpisah sejak saya masih jadi janin. Dan beginilah saya, hidup tanpa komando siapapun kecuali diri sendiri. Hari ini, saya menjadi komandan rumah tangga saya sekaligus diri saya sendiri. Berusaha menjadi komandan revolusi seksual yang sementara masih berlaku di dunia virtual, blog ini.

“Lu mau jadi Che Guevara-nya cewek Mer?” Tanya seorang teman.
“Pengan kayak Oriana Fallaci?” Tanya yang lain.
Tidak. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri. Bukan perempuan menyek-menyek yang dikendalikan PMS dan hormon estrogen.

Actually, I very very hate and proud and love and hate and love and hate myself this time!!! Aaaarrgghh!!!

Sunday, July 23, 2006

Kisah Cinta Saphira


Romantic mode is on***

Tersebutlah seekor naga betina nan cantik, Saphira. Sisiknya berwarna biru gemerlap, kemilau saat ditimpa cahaya. Ia hidup di zaman naga sudah menjadi spesies langka di muka bumi. Sejak lahir, ia sangat jarang bertemu sesamanya.

Kemudian ia bertemu Glaedr, naga lelaki yang perkasa. Walau jauh di atas usianya, Saphira terpesona oleh Glaedr. Sayang, Glaerd tidak suka pada Saphira. Mungkin ia punya cinta lain. Mungkin ia sudah tak berminat dengan naga betina lagi.

Dan akhirnya Saphira kembali sendiri. Melanglangbuana kemana-mana. Entah kapan menemukan spesiesnya kembali. 10, 100 atau 1000 tahun lagi. Atau bahkan tidak akan pernah?

Saphira adalah naga Eragon dalam buku karya Christoper Paolini. Sudah kubaca sampai buku kedua beberapa bulan silam. Kisah epik nan unik semodel dengan Lord of The Ring. Dan peratianku justru terpusat pada kisah cinta Saphira. Sebab belakangan ini sedang mellow. Merasa aku adalah Saphira! Hiks!

Wednesday, July 19, 2006

Indahnya Persahabatan

This summary is not available. Please click here to view the post.

Sunday, July 16, 2006

Nadine dan Saya


Nadine dan saya adalah 180 derajad. Nadine 100 persen cantik. Saya 100 persen tidak. Walau nenek saya bilang saya adalah cucunya yang tercantik. Walau masih selalu digoda cowok iseng setiap melintas di jalan. Walau kata cowok pertama saya dulu saya adalah pemerpuan tercantik yang pernah dilihatnya. Yang jelas, sampai detik ini saya tidak pernah mengandalkan kecantikan saya untuk bertahan hidup.

Nadine dan saya adalah bumi dan langit. Tapi pekan kemarin kami sama-sama sial. Dan kesialan itu sama-sama kami alami di depan layar TV. Dan saya benci kamera TV! Sangat benci!

Kisahnya simple saja. Belum lama berselang menerima SMS dari seorang host. Diundang menjadi narasumber acara talkshow Teknologi Informasi (TI) di sebuah TV. Okelah, walau bukan pakarnya saya masih merasa bisa.

Hari H rekaman pun tiba. Menjelang mengudara, saya digiring ke ruang make up. Padahal saya sudah yakin wajah saya baik-baik saja tanpa tambahan coreng moreng itu. Namun demi menghormati si empunya acara.saya pasrah saja. Muka dipermak habis-habisan.

Hidung dibuat sedemikian rupa jadi mirip hidung Krisdayanti. Rambut di-hair spray. Kalau tak salah terakhir kali saya di-hair spray adalah 10 tahun lalu saat dipaksa pakai kebaya. Kulit wajah saya entah diapakan jadi rata, mulus, bak aspal arena Formula One Monte Carlo. Bagus sih, jerawat jadi tak kasat mata. Tapi kok rasanya wajah saya tambah tebal 10 cm ya??? Dan yang paling parah, alis! Ohmygoodness! Alis saya lebih mirip Jembatan Semanggi!

Begitu bercermin.Oh, no!!! Itu bukan wajah saya! Entah wajah siapa yang ditempelkan ke muka saya.

Semua kepercayaan diri yang saya himpun sekuat tenaga dari rumah, musnah sudah. Bagaimana mungkin saya tampil percaya diri dengan wajah yang bukan wajah saya? Di depan kamera TV pula. Akan disaksikan orang sekian banyak pula.

Dan terjadilah tragedy Nadine ke-2 itu! Walau tak sebodoh dan sememalukan polah kandidat Miss Universe itu, saya tetap merasa luar biasa tolol, idiot, goblok, moron , embisil dan sebagainya. Saya gugup, bicara terlalu cepat, dan ada satu kata yang sangat fatal saya ucapkan. Biarpun itu rekaman, tidak ada "cut" pada kesalahan kata. Luar biasa. Apa bedanya dengan tayangan "live"?

Nadine dan saya bagai kondominium mewah dengan kost-kostan alakadarnya. Ibarat kapal pesiar glamour dengan perahu sekoci. Tapi kami sama-sama dipermalukan di depan pesawat TV. Dan itu terjadi di pekan yang sama.