Tuesday, September 27, 2005

Jadi Minoritas, Siapa Takut?


Bayangkan dalam satu rombongan anda adalah satu-satunya perempuan. Lainnya adalah lelaki separuh baya yang sudah berkeluarga. Mereka melontarkan lelucon-lelucon esek-esek yang bikin telinga kita sebagai perempuan jadi panas. Tidak tanggung-tanggung, mereka kadang menyodorkan pada kita beberapa canda yang berkaitan dengan gender. Pelecehan perempuan. Tentang “jajan” pada PSK bertarif murah sampai obrolan perselingkuhan. Itu semua saya alami. Sering bahkan. Dan saya menghadapinya hanya dengan senyum tersungging, sesekali ikut tertawa lepas. Aneh?

Sebagai jurnalis perempuan, bukan sekali dua kali saya menjadi satu-satunya perempuan di rombongan sesama jurnalis. Menjadi minoritas. Yang terakhir saya alami di Cibodas, pekan silam. Menginap bersama di vila berhawa sejuk dengan tujuh laki-laki usia separuh baya yang sudah menikah semua. Saya paling muda dan cantik. Tercantik karena saya satu-satunya perempuan. Sepanjang waktu dari saat di perjalanan hingga tiba di vila san kembali pulang, mereka tak kehabisan bahan lelucon. Dari mulai yang paling intelek sampai paling jorok. Apakah saya harus tersinggung dan merasa dilecehkan? Tidak sama sekali. Saya justru ikut menimpali, berbaur, tanpa harus terbawa arus. Tanpa terkesan bahwa kita senang dilecehkan. Hasilnya lumayan, mereka merasa saya bukan tipe perempuan yang pantas dilecehkan seperti tokoh di guyonan mereka. Para lelaki yang jauh dari istri dan terpaksa berkumpul dengan sesama jenis di luar kota itu tetap respek pada saya.

“Ada kode etik yang aku jaga, Mer. Tidak boleh memangsa teman seprofesi,” ujar seorang teman jurnalis senior di kamar hotel Concorde de Lafayette, Paris, beberapa waktu lalu. Dia ayah empat anak, sudah berusia 50-an. Sangat kebapakan. Aku mengaggapnya abang. Di acara peliputan GSM World Forum yang jauhnya ribuan mil dari tanah air itu, aku satu-satunya jurnalis perempuan dari Indonesia. Persis seperti acara Cibodas kemarin, yang lain adalah para lelaki usia paruh baya. Apakah saya harus merasa tersisih, risih dan tersudut hanya karena perbedaan gender? Sama sekali tidak.

Bepergian dengan rombongan yang mayoritas lelaki bukan hal baru bagi saya. Sejak sebelum menjadi jurnalis saya sudah kerap mengalami. Masa SMA dan kuliah saya kerap kemping dan naik gunung dengan teman-teman lelaki. Tidak ada pelecehan seksual, tidak ada perilaku tidak senonoh. Semua baik-baik saja. Apa pasal? Sebab saya tidak pernah berlaku beda dari mereka. Tak perlu merasa minder atau justru lebih hebat sehingga memasang gap sedemikian rupa. Dengan begitu mereka juga akan respek pada kita.

Hal serupa juga berlaku pada minoritas bidang apapun. Kalau ditelaah, saya adalah minoritas dalam banyak hal. Minoritas sebagai pemeluk Nasrani di Indonesia. Minoritas sebagai single parent. Minoritas sebagai keturunan Cina. Minoritas sebagai jurnalis perempuan. Minoritas sebagai jurnalis dalam keluarga yang dominan pedagang dan wirastawan. Astaga, saya baru sadar betapa super duper minoritasnya saya. Namun itu semua tidak setitikpun membuat langkah terhambat. Tak ada alasan keminoritasan itu menjadi tekanan di lingkungan sekitar.

Lingkungan saya adalah Betawi dan Sunda muslim yang fanatik, taat beragama. Namun sampai hari ini saya tidak merasa diperlakukan beda hanya karena saya Nasrani, Jawa keturunan Cina, ditambah lagi single parent. Anak saya, Libby, belakangan senang bermain marawis (sejenis qasidah dengan rebana) dengan Riska, anak tetangga, sahabatnya. Semua tahu kami Nasrani, pergi ke gereja setiap hari Minggu. Yang sudah-sudah, tiap bulan puasa saya kerap menerima pemberian kolak dari tetangga. Tidak ada perlakuan khusus dari mereka. Mengapa?

Jawabannya sama dengan paragraph sebelumnya, yakni karena saya sendiri juga berperilaku seolah sama dengan mereka. Tak perlu merasa tersisih. Jadilah sebagai bagian dari mereka. Maka mereka pun akan menganggap kita serupa. Ada celah dimana sesama manusia akan selalu merasa sama dengan sesamanya kendati beda suku, agama atau kelamin. Apakah itu? Senyum, keramahan dan keakraban. Cukup dengan tiga hal itu maka seluruh umat manusia merasa senasib sepenanggungan. Maka, jangan takut menjadi minoritas.

7 comments:

Anonymous said...

butuh keberanian tersendiri untuk melakukan hal seperti itu. Dan kalau itu berhasil, patut diacungi jempol. Merry is da best!

Anonymous said...

Makasih mer sharingnya, sangat membangun, memotivasi dan mengajarkan cara aku harus bergaul. Berbaur tapi tetep pegang prinsip, tidak merasa lebih tinggi atau pun lebih rendah ;-).

Robi said...

mer..
tulisanmu memberi banyak inspirasi..
ijinkan aku untuk melink-kannya dalam situsku ya. thanks

vio - chan said...

alo..met kenal mbak mer...
blogs nya bagus, nambah inspirasiku untuk tetap "go ahead"

chateaux said...

Amin dah apa yang kamu bilang, Mer! Ngomong-ngomong, maaf belum pernah memperkenalkan diri setelah beberapa kali memberi tanggapan. Tapi biar tulisanku yang berkenalan denganmu. Terhitung ke dalam jumlah yang sedikit bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah kalau kita tidak bisa memberikan kontribusi apa-apa kepada orang sekitar. Yang penting adalah PD! Tul gak? Tokh sesuai dengan grafik distribusi normal, yang super dan minus itu emang cuma sedikit. Yang banyak itu adalah yang biasa-biasa saja. Tinggal sekarang, mau menempatkan diri ke dalam sisi yang mana? Setuju??? * Semua bilang "Amin" dong!!!!!

cinderella man said...

Mer...

untuk #1 gue pernah ngalamin jd minoritas bahkan dalam kluarga gue sendiri....
lebaran kemarin. selama ini seluruh kluarga gue menganut NU, n untuk pertama kalinya gue 'nyebrang' ke Muhammadiyah.

but thx GOD, mereka memahami gue...
bukankah hidup adalah pilihan kan, Mer?

erensdh said...

Wah, jempol buat anda Merry, semoga generasi mendatang akan lebih banyak pada anda, tentu saja anda mesti berbagi pengalaman. Tanks.