Sunday, March 30, 2008

Membunuh Emosi

Membunuh emosi. Itulah yang harus sering dilakukan oleh perempuan bekerja. Idiom yang mengatakan bahwa perempuan lebih dikendalikan emosi daripada lelaki memperkuat tekad kami untuk membunuh emosi. Sebab dalam bekerja, seringkali kami harus menekan emosi sebisa mungkin agar tidak terkesan menyek-menyek atau cengeng.

Bagi seorang perempuan bekerja yang sudah berkeluarga, ini perjuangan tersendiri. Tidak tega meninggalkan anak di rumah, harus jadi Si Ratu Tega untuk absen dalam acara keluarga, mengabaikan rasa rindu saat dinas ke luar kota, sensitivitas memuncak kala PMS, dan sejenisnya.

Untuk perempuan yang single parent, perlu ekstra perjuangan sebab tak ada orang berbagi feeling mengenai itu semua. Thanks God, kadang teman dan oran terdekat masih bisa diandalkan untuk urusan satu ini. Tapi kadang gengsi lebih mengalahkan sebab takut dicap sebagai perempuan lemah nan cengeng.

Akhir pekan harus membenahi urusan teknis pekerjaan yang amburadul. Terpaksa bawa-bawa si Kecil berburu akses Internet akibat akses di rumah sedang dodol. Kill your feeling or just stay hungry with you child, jobless.

Tuesday, March 04, 2008

Do You Need....Brondong?














Bukan hanya 1-2, tapi banyak teman perempuan saya yang usianya mulai kepala 3 mengeluhkan sulitnya membina hubungan dengan lawan jenis. Rata-rata lawan jenis itu juga berusia kepala 3. Secara logika, perempuan usia kepala 3 sudah memikirkan pernikahan. Mereka berharap cowok usia 30-an pun demikian, mengingat pekerjaan dan karir sudah mulai mapan, mental tambah dewasa, usia terus merambat.

Tapi jangan salah, dari pengamatan dan pengalaman beberapa teman dan pribadi, cowok usia kepala 3 mayoritas justru dalam kondisi tidak siap menikah atau berkomitmen. Apa pasal?

Usia 30-an artinya adalah:
  • Dalam posisi karir menjelang mapan, sehingga butuh konsentrasi khusus untuk meraih kemapanan itu. Tantangannya lebih berat dibanding saat merintis karir.
  • Bahkan ada yangs udah mapan, jadi berusaha mati-matian mempertahankan kemapanan itu, sebab kompetisi makin keras. Kalau perlu kuliah lagi, berjuangn dapat promosi lagi, dan seterusnya.
  • Sudah mengalami lika liku percintaan di masa lalu yang rumit, gagal, dan enggan mengulanginya sebab hanya mengganggu karir.
  • Karena dalam posisi mapan dan dianggap siap menikah, mayoritas menganggap dirinya sebagai piala bergilir di mata cewek-cewek. Jadi untuk apa berkomitmen dengan 1 cewek sementara di luar sana banyak cewek memuja dan siap diajak jalan kapan saja?
  • Makin mapan dan sukses dia, makin selektif dan menggunakan logika dalam memilih pasangan. Makin perfeksionis. Justru makin sulit menentukan pilihan.

Itu baru sedikit poin saja dari banyak alasan kenapa cowok 30-an lebih suka melajang lama-lama daripada menikah atau berkomitmen.

Sementara cowok berusia di bawah 30 tahun yang lajang justru kebalikannya. Mereka masih dalam momen optimistis, penuh semangat, gegap gempita menyambut masa depan. Karir pun belum terlalu ribet, masih baru tahap merintis. Masih pada momen dimana perencanaan masa depan bisa dibuat dengan ideal. Cowok dalam usia di bawah 30 banyak yang siap sedia berkomitmen sebab pernikahan juga dimasukan ke dalam rencana masa depan mereka. Pola berpikir mereka juga tidak se-complicated cowok 30-an.

Jadi, usul saya pada teman-teman perempuan usia 30-an yang masih lajang adalah: carilah brondong. Selama jarak usia tidak terpaut terlalu jauh dan memiliki kesamaan visi, mengapa tidak? Hehehe.