Sunday, March 30, 2008

Membunuh Emosi

Membunuh emosi. Itulah yang harus sering dilakukan oleh perempuan bekerja. Idiom yang mengatakan bahwa perempuan lebih dikendalikan emosi daripada lelaki memperkuat tekad kami untuk membunuh emosi. Sebab dalam bekerja, seringkali kami harus menekan emosi sebisa mungkin agar tidak terkesan menyek-menyek atau cengeng.

Bagi seorang perempuan bekerja yang sudah berkeluarga, ini perjuangan tersendiri. Tidak tega meninggalkan anak di rumah, harus jadi Si Ratu Tega untuk absen dalam acara keluarga, mengabaikan rasa rindu saat dinas ke luar kota, sensitivitas memuncak kala PMS, dan sejenisnya.

Untuk perempuan yang single parent, perlu ekstra perjuangan sebab tak ada orang berbagi feeling mengenai itu semua. Thanks God, kadang teman dan oran terdekat masih bisa diandalkan untuk urusan satu ini. Tapi kadang gengsi lebih mengalahkan sebab takut dicap sebagai perempuan lemah nan cengeng.

Akhir pekan harus membenahi urusan teknis pekerjaan yang amburadul. Terpaksa bawa-bawa si Kecil berburu akses Internet akibat akses di rumah sedang dodol. Kill your feeling or just stay hungry with you child, jobless.

9 comments:

Wondering Bioinformatician said...

Sering kali lelaki itu lebih cengeng daripada perempuan. Justru lelaki public figure yang suka memamerkan kecengengannya. Contohnya, seorang petinggi republik ini menangis dihadapan pers sewaktu melihat korban pengungsi Lapindo. Ini sering disebut pengamat sebagai 'air mata politik'. Contoh yang terkenal tapi jarang orang tahu adalah menangisnya Adolf Hitler didepan kuburannya Erwin Rommel. Hitler sangat menyesal telah mengeksekusi jendral kesayangannya itu, yang ia tuduh melakukan makar terhadapnya. Perempuan justru sering dianggap lebih tegar dan lebih mampu mengendalikan emosi daripada lelaki. Masih segar diingatan kita dengan Margaret Thatcer, sang 'Iron Lady' bukan? :-). Thatcer dikenal sering membuat rapat Uni Eropa 'dead lock', karena ideologi politiknya yang memang kurang suka dengan konsep persatuan eropa..:-).

antown said...

air mata politik? wah saya suka kata-kata itu.


salam

Djalmo said...

Ada letupan-letupan amarah di beberapa postingan anda, namun sangat berguna bagi perempuan indonesia lainnya!

Maju terus wanita indonesia, gulirkan revolusi secepatnya!

Salam

Penunggu Mawar Ungu said...

Sebegitu kerasnya kah perjuangan mencari nafkah ? bagi seorang wanita ?

Jika memang orientasi bahwa kedudukan dan pekerjaan, bahkan harta menjadi tolak ukur persamaan gender atau apalah namanya, justru disitulah buktinya bahwa wanita lemah dan hanya melihat dari persepsi perasaan semata.

Penunggu Mawar Ungu said...

Sekedar informasi, tentang your ongoing project. Dapet salam dari Luka Cvrk (http://www.solucija.com/) katanya kalo mo ngambil designnya kamu harus memasukkan link dia di webmu.

apriany said...

mbak,, kok gag posting lagi???
saya menunggu info-info terbaru mbak lagi

Jafar said...

"Kill your feeling or just stay hungry with you child, jobless."

Buat para pria sih gampang aja ngebunuh emosi.

Sementara buat para wanita... yah, mereka harus menekan sifat2 alamiahnya... yaitu emosionil

Bener tuh tulisan di "Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps" kalo cowo itu bermental "pemburu", sementara cewe bermental "penjaga gua"... sehingga kalo mereka ditukar perannya, maka mereka harus menekan kecenderungan2 alamiah yg sudah ada sejak ribuan tahun...

Bisakah? Tentu saja bisa... tapiii ya bertentangan dengan sifat alami masing2 :P

Fitri said...

Blog anda unik. saya menyukainya..
revolusi seksual,, gmn gitu bayanginnya?!?!?

salam kenal, fitri
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/

Kica-Kica said...

"Kill your feelings or stay hungry." Love it. Mbak, saya pernah terbawa oleh semangat feminisme liberal yang mengejar persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam pekerjaan, dan melihat bagaimana mereka justru terkooptasi oleh ranah kerja (publik) yang maskulin, contohnya ya mungkin Thatcher dan Meier, atau perempuan-perempuan yang harus membunuh keperempuanannya untuk menggapai puncak dalam ranah korporat. Saya tidak mau membunuh keperempuanan saya yang sangat berharga untuk sebuah puncak.

Kalimat terakhir di tulisan Mbak ini saya rasa sangat tepat untuk menunjukkan ranah publik kita yang masih sangat maskulin. Bukan salah perempuan kalau sedikit perempuan yang jadi CEO, kepala negara, atau semacamnya. Bukan berarti mereka tidak kompeten akibat elemen-elemen "kodrati" (compassionate, memilih self-in relation daripada isolated autonomy dll) yang mereka miliki, yang sering dituduhkan kaum misoginis, tapi mungkin karena mereka menganggap keperempuanan mereka terlalu berharga untuk dikorbankan.

Tapi tidak ada yang bisa me-refute argumen Mbak dalam kalimat terakhir itu. Di ranah publik yang maskulin, perempuan yang bekerja harus membunuh perasaannya untuk tetap hidup dan menghidupi orang lain! Tentunya akan berbeda kalau ranah publik, tatanan negara, dan bahkan tatanan dunia tidak lagi dikonstruksi dan diidentikkan dengan nilai-nilai machisme. Saat itu, saya yakin perempuan akan bekerja dengan penuh senyum tanpa harus membunuh perasaannya.