Monday, December 18, 2006

Teman atau Bukan Teman



Pertemanan, hubungan antar manusia, pada dasarnya memiliki degradasi sangat kompleks. Masalahnya, di Indoenesia ini kita kerap menyebut siapa saja yang kita kenal sebagai TEMAN. Padahal tidak sesederhana itu.

Seorang teman (yang ini teman sungguhan lho) pernah bilang, di negara tempat dia tinggal sekarang, Jerman, menjalin pertemanan tidak semudah di Indonesia. Ini sudah menjadi fenomena di Eropa, dimana orang sangat menjaga privasi. Memang, ini saya alami sendiri. Setahun silam waktu ke Perancis selama nyaris dua minggu, saya merasakan atmosfer berbeda dalam menjalin relasi dengan orang sana. Awalnya saya kira karena fisik saya yang Asia ini berbeda dengan mereka yang bule, maka saya mendapat perlakuan sedikit beda. Ternyata tidak.

“Biar muka gue rada bule gini, tetap aja beda kok suasana pergaulan di sini ama di Indonesia. Di sini orang sok akrab malah dicurigai, jangan-jangan mau nipu atau nyopet. Ketemu sekali dua kali ngga berarti langsung bias ngobrol. Dapet senyum aja udah bagus. Tapi kalo emang kita sudah bisa berteman dengan mereka, maka itu bukan sekadar teman basa-basi kayak kebanyakan orang munafik di Indonesia,” komentar seorang teman yang lama menetap di Jerman.

Seorang teman lain berkata bahwa di sana, orang mengkategorikan hubungan antar manusia. Tidak semua orang yang kita kenal langsung mendapat predikat teman. Ada istilahnya “kenalan”, “rekan kerja”, “tetangga”, “patner”. Kalau di sini kita akan menyebut mereka semua sebagai “teman”. Tapi di sana tidak. Memang di sini kita juga mengenal penggolongan itu, hanya tidak terlalu ketara. Bisa jadi karena orang Indonesia masih menjaga nilai “ngga enak ati” kalau hanya menyebut seseorang sebagai “kenalan”. Jadi walau sesungguhnya tidak terlalu akrab dan kenal baik, kita dapat dengan mudah menyebut seseorang sebagai “teman”. Padahal ini agak merugikan juga.

Bayangkan saja kalau seorang kenalan yang tak terlalu kita kenal baik mendadak melakukan perbuatan tercela. Akibat dari salah presepsi, orang akan berkomentar, “temen lu tuh, udah jadi maling,”. Wuih, temen apaan? Padahal jalan bareng aja ngga pernah. Cuma tau nama dan ngobol basa-basi aja.

Rekan kerja begitu juga. Jika mendadak si rekan ini ketahuan korupsi, orang dapat saja berkomentar, “Ooo dia ya temennya koruptor itu?”. Weks, padahal cuma kebetulan satu kantor saja, tahu-tahu dapat cap “teman koruptor”. Alangkah ruginya?
Tapi begitu seorang kenalan jauh atau rekan kerja berprestasi misalnya menjadi Indonesian Idol atau peraih Nobel, mendadak saja kita jadi ikutan bangga. “Saya temennya lho dia sekantor sama saya,” itu pengumuman kita ke banyak orang.

Hahaha. Itulah manusia. Barangkali tidak semua. Tapi yang jelas saya sendiri mulai berhati-hati dalam menggunakan terminologi “teman”. Bukan apa-apa, sebab kadang orang yang kita anggap teman, belum tentu memperlakukan kita sebagai teman. Jadi saya mengkategorikan orang yang saya kenal menjadi beberapa strata.

-Kenalan
-Kenalan di Internet
-Rekan kerja
-Rekan bisnis
-Klien
-Teman di Internet
-Teman di dunia nyata
-Teman gaul
-Teman baik
-Sahabat

Definisinya jelas beda-beda. Tapi tidak menutup kemungkinan seorang kenalan dapat naik pangkat jadi teman. Atau rekan kerja juga sekaligus teman baik. Atau rekan bisnis merangkap juga jadi teman gaul atau sahabat. Hanya kategori itu memang perlu untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tak mengenakan. Jadi kalau ada seseorang yang melukai hati saya, saya tinggal mengurut dada, “Ah, dia kan hanya rekan bisnis, tak lebih. Jadi wajar kalau dia begitu,”. Atau kita dengan mudah mengganti status seseorang, “Hmm kalau teman baik, dia tak mungkin jahat begitu. Bagusnya dia saya anggap rekan kerja saja.”
Nah, silahkan berpikir, masuk kategori yang manakah anda? Hehehe.

Thursday, December 14, 2006

Nightmare Dates




Seperti apa nightmare date itu?

Seorang teman lelaki berkisah bahwa kencan mimpi buruk adalah ketika bercakap-cakap dengan seorang perempuan selama dua jam lebih tapi si perempuan tak jua tahu apa pekerjaan si lelaki. Ini akibat si cewek terus menerus bicara soal diri sendiri. “Self centered,” begitu teman saya menyebut sifat negatif itu.

Hmm, ya saya juga pernah mengalami.
Berjam-jam bersama seorang lelaki tapi sebanyak 1 jam 50 menit topik obrolan berputar-putar mengenai dirinya, obsesinya, masa lalunya, pekerjaannya, hobinya, makanan kesukaannya, dan segala tetek bengek yang berpusat pada dirinya semata. Nyaris tak pernah bertanya balik tentang diri saya. Ya, itu bisa jadi sebuah kencan mimpi buruk yang saya harap takkan terulang lagi seumur hidup.

Jangan salah ada lagi yang jauh lebih buruk. Seorang karib mengalaminya. Dan saya sangat bersedih karenanya! Seburuk apa itu?

Pernah terbayang si cewek menjadi si pihak yang mentraktir makan pada 1st date? Padahal itu sebuah kencan pertama, dan kesepakatan kedua belah pihak. Lain cerita kalau si cewek yang nguber-nguber, Sama sekali tidak. Entah si cowok memang blangsak tak tahu diri atau memang super kikir pelit menyaingi Paman Gober atau memang dia cowok matre yang hanya niat memoroti cewek…entah. Yang pasti saya masih shock dengan teman saya yang bertutur betapa ia kecewa saat ia mengeluarkan dompet untuk membayar makan, si cowok sama sekali tak bereaksi.

Oke, mungkin itu sebuah “kecelakaan”. Bisa jadi cowok itu lupa mampir ke ATM. Teman saya itu memang bukan tipe cewek perhitungan dalam hal materi. Maka kencan sial itu tak menjadi masalah yang terlalu berarti. Hubungan dengan si cowok blangsak masih terus berjalan walau sebatas SMS dan telpon.

Dan suatu ketika si karib saya berbasa-basi minta diantar ke Bandung oleh si cowok yang sudah ditraktirnya makan di kencan pertama tadi. Mau tahu apa jawaban si blangsak? “Boleh, asal lu ya yang bayar bensinnya,”. Astaganaga! Apa memang dunia ini sudah kehabisan stok lelaki gentleman? Apa semua lelaki gentleman dan tahu sopan santun sudah musnah terbang ke surga, sehingga di muka bumi ini hanya tersisa para lelaki serba perhitungan, tak tahu etika dan mau hidupnya dibiayai perempuan?

Akhirnya sang karib memutuskan ke Bandung sendiri. Lebih baik naik travel elit sekalian daripada harus menanggung biaya bensin dan semobil bersama cowok matre. Biarkan saja si cowok matre blangsak tak tahu malu itu terjungkal ke neraka bersama semua harta bendanya.

Friday, December 01, 2006

Cinta dan Seks?

Email itu dikirim seorang sobat. Subyeknya, “Love is Unseen”. Ketika aku mencoba membahas isi email itu dengan seorang teman lelaki, dia mengeluh. “Belum makan siang, lu udah ngajak diskusi soal cinta!”

Belum lama berselang, kepada seorang teman lelaki lain, aku sempat menanyakan kehidupan cintanya. Dia menjawab, “Pertanyaanmu terlalu casual,” dan dia tak mau menjawabnya.

Aneh, kenapa lelaki cenderung malas membahas soal cinta? Tidak semua memang. Sebagian kecil teman lelaki saya masih mau mendiskusikan obyek satu itu walau tidak terlalu betah berlama-lama.

Waktu saya tanyakan kepada salah satu kaum Adam, dia menjawab, “Lu mau ngomong soal seks?”
Saya terkejut. Lho kok jadi melenceng kesana? “Itu dia. Cowok males ngomongin soal cinta, sama kayak cewek males ngomongin soal seks. Jelas kan?”

Masih belum jelas. Sebab cinta dan seks adalah dua hal berbeda. Karena ingin membuka misteri satu kata itu, maka saya coba mendiskusikanya dengan teman, baik lelaki maupun perempuan. Dan hasilnya, selalu saja teman lelaki merasa enggan membahas soal satu itu. So, kalian para kaum Adam lebih suka membahas seks? Wah, misteri baru lagi.

Sunday, November 19, 2006

Hidup Tak Semudah Masak Indomie

Hidup itu susah. Yang gampang ya masak Indomie.

Kalimat kocak itu bertengger di status Yahoo Messenger (YM) seorang teman. Menandakan bahwa memang menjalani hidup itu susah. Tidak ada yang mudah. Salah satunya adalah masalah perjodohan.

Saya pribadi bukan orang yang menganut paham bahwa menikah adalah di atas segalanya. Pada perbincangan ringan dengan seorang teman lelaki di SMS tadi pagi, kami sepakat bahwa menikah bukan hal urgen dalam hidup. Argumennya segudang. Mulai dari masalah kepadatan penduduk Indonesia yang menjadi sumber krisis ekonomi sampai ke alangkah indahnya kalau orang mengkompensasikan energi hidupnya ke hal-hal kemanusiaan.

Pernah juga saya menulis bahwa menikah alias kawin mawin yang dianut orang Indonesia merupakan salah satu faktor pemicu egoistis. Masyarakat Indonesia memuja institusi pernikahan sampai menyalahgunakannya. Lihat saja bagaimana pejabat berlomba-lomba korupsi demi agar anak-anaknya yang segudang dari istri yang juga segudang bisa hidup makmur. Orang Indonesia terutama lelakinya, mengiolakan poligami. Kalau kaya raya, maka yang dipikir bukan bagaimana beramal demi kemanusiaan, tapi bagaimana agar bisa koleksi istri cantik, koleksi mobil mewah, mencetak anak sebanyaknya demi membangun dinasti keluarga yang berkuasa. Edan. Tapi fakta.

Nah, soal kawin mawin ini erat kaitannya dengan jodoh. Bagusnya, generasi sekarang makin sulit cari jodoh. Kenapa bagus? Ya, hitung-hitung mengurangi laju kepadatan penduduk. Problemnya, masyarakat kita masih menabukan hidup melajang. Lelaki atau perempuan yang sudah di atas 30 tahun akan menuai tanya sekitar : "Kapan merit neh?".
Dalam hati orang yang ditanya akan mengutuk setengah mati, "Lu kira merit sama kayak masak Indomie? Gampang?".

Hahaha. Saya pun tertawa dan makin sering menggodai teman-teman yang masih lajang.
"Kapan nyebar undangan neh?"
"So, mana calonnya?"

Nanti kalau sudah dapat istri atau suami, pertanyaannya di-upgrade menjadi:
"Kapan dapet momongan neh?"
"Juniornya belum ada?"

Dan akan dijawab dengen gerutu kesal dalam hati, "Emang gampang punya anak? Kayak masak Indomie? Lu ngga mikir biaya kuliahnya? Emangnya Indonesia itu Finlandia yang setiap bayi lahir akan dihadiahi duit beserta perlengkapan bayi sama pemerintah? Woi, Setiap bayi yang lahir di Indonesia justru langsung nanggung hutang negara, Mas!"

Hahaha! Ada yang lebih gampang dari masak Indomie. Seduh aja Popmie!

Wednesday, November 15, 2006

Cantik yang Tidak Luka






Suatu siang menjelang sore. Sogo, Plaza Senayan.
“Kok, sakit, sih?”
“Memang sakit, Mer.”
“Wah, ngga jadi ah. Semua sepatu lancip emang sakit ya? Sepatu lu itu juga sakit, Jeng?”
”Iya, pertama dulu sakit banget. Sampe lecet-lecet. Sekarang ngga.”

Percakapan tadi terjadi saat aku menjajal sepatu yang ujungnya runcing, sepatu yang lagi trend sekarang. Banyak dipakai perempuan. Kota sampai ke desa. Sepatu berujung runcing yang cantik, dengan berbagai warna. Ada yang berhak tinggi atau pendek saja.

Secara saya sedang bermetamorfosa menjadi perempuan yang ingin tampil cantik, saya terpikir untuk membeli sepasang sepatu runcing itu. Selama ini saya cukup nyaman memakai sepatu kets, sepatu fantovel ceper, atau sepatu gagah Kickers. Ternyata sepatu runcing itu menyakitkan waktu dicoba. Saya urungkan niat membelinya. Lebih baik saya beli sepatu gagah lain atau fantovel ceper kalau memang sedang ingin kelihatan ”cute”.

Tadi pagi, saya melihat beberapa perempuan dengan sepatu runcing, hak tinggi sekitar 10 cm. Roknya pendek. Ketat. Naik Metro Mini 62, Manggarai-Senen. Terlihat tersiksa sekali dengan sepatu dan roknya. Sebentar-sebentar membetulkan rok yang tersibak angin. Sepatunya tidak kalah menyiksa, menjepit dua telapaknya dengan erat, terseok-seok saat naik turun bis.

Asli, saya tak akan bisa tahan dengan kondisi seperti itu. Mampu bertahan sampai satu jam saja sudah hebat. Tapi para perempuan bersepatu runcing hak tinggi dan rok pendek ketat tadi jelas akan mengenakan benda-benda penyiksa jasmaninya itu seharian penuh.. Bisa jadi setiap hari benda-benda penyiksa itu dikenakannya setiap hari. Pagi sampai sore.

Arif Budiman pernah menulis kira-kira begini, ”Perempuan sering terperangkap dalam standar kecantikan yang diciptakan para lelaki. Mereka berusaha memenuhi standar itu tanpa peduli apakah dirinya nyaman atau tidak.”

Arif sangat benar dalam hal ini. Untungnya saya tidak tergolong perempuan penyiksa diri yang terperangkap dalam standar kecantikan ciptaan lelaki itu. Untung sekali. Dan inilah saya dengan kenyamanan diri saya. Celana jeans. Kemeja. Sepatu fantovel. Dan tetap merasa sangat cantik. Melebihi cantiknya perempuan bersepatu runcing hak tinggi dan rok pendek ketat yang menyiksa.

Monday, November 13, 2006

Swimming on My Ability



Belakangan ini aku serasa terlontar jauh ke masa silam oleh mesin waktu. Seandainya memang mesin waktu itu ada, aku sungguh ingin mengulang semua kenangan dari awal lagi. Dari….masa SD mungkin? Masa dimana kita masih begitu cute dan innocent layaknya anak sebelum puber. Masih murni dengan segala kebersahajaannya.

Salah satu masa silam yang kembali kutemukan adalah seorang Hilman Hariwidjaya. Dia pencipta karakter Lupus yang beken saat aku SD-SMP-SMA. Pertemuanku pertama dan terakhir dengan Hilman itu lebih dari 15 tahun lampau. Saat lelaki bertubuh begeng itu bermain gitar menyanyikan Save A Prayer-nya Duran Duran. Bersama dengan Anto, Boim dan Gusur dia berbagi ilmu menulis kepada kami yang berseragam putih-biru. Dan itu manjur. Tidak lama aku menciptakan karakter Si Pion, cewek SMP lucu yang dimuat di majalah Hai sebagai cerita bersambung. Sejak itulah aku tergila-gila menulis.

“Lucky me swimming in my ability,” tulis Hilman mendekskripsikan dirinya sendiri. Berenang dalam kemampuannya. Yang dimaksud adalah menjalani hidup dengan bermodal kemampuannya, menulis. Sama seperti dia, itu juga yang kulakukan saat ini. Jelas aku belum berarti apapun dibanding seorang Hilman. Namun aku cukup bahagia dengan duniaku saat ini. Tidak semua orang dapat mencari nafkah sesuai dengan bidang yang diingininya. Dan aku menjadi bagian dari orang yang dapat menekuni bidang yang memang disukainya.

Yeah, lucky me. Lucky us.

Sekitar tiga hari silam, aku bersua lagi dengan sosok itu. Kami berkirim pesan singkat tentang masa lalu. Sedikit saja. Sama-sama menyadari bahwa waktu telah merubah segalanya. Hilman sudah tidak begeng lagi. Dia tembem. Rambutnya tidak gondrong. Justru aku yang berubah jadi begeng dan gondrong. Satu hal yang tidak berubah, kami tetap berenang dengan kemampuan kami. Di pikuk jagat yang kian gaduh ini....Lucky us...

Friday, November 10, 2006

Girls Will Be Girls


Segala yang berbau keperempuanan, pernah aku benci. Kosmetik, rok, masak memasak, obrolan tentang cowok, segala jenis pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya. Sampai berteman pun aku memilih dengan lelaki. Mendengarkan musik khas cowok, rock, heavymetal, grunge, trash, asal yang vokalisnya cowok. Aku benci kerumunan teman perempuan yang identik dengan ngerumpi. Aku benci ibu-ibu ngumpul. Aku sebal konde, sasak, kebaya, sepatu hak tinggi, selop, tas cantik, bunga-bunga.

Belum lama berselang, seorang teman lawas bersua. Teman kuliah yang dulu pernah nonton konser Metallica bareng di Lebak Bulus. Teman nongkrong di kos bareng gerombolan cowok-cowok gondrong bercelana ketat, kaus gambar tengkorak. Teman dimana jam 12 malam kami main ke rel kereta depan kampus untuk menyalakan petasan roket. Teman yang tertawa-tawa saat aku datang menangis karena dikecewakan pacar pertama di semester 1 zaman bahuela.

“Lu sekarang agak kalem, feminim, dan dandan,” komentarnya melihat tampilanku teranyar.
“Ya iyalah. Secara udah tambah tua gitu, lho,” aku mengangkat bahu sambil ngakak.
“Tapi cewek gue dulu ngga gitu. Dia udah berpenampilan dewasa sejak lama, tapi kelakuannya masih kayak anak kecil. Hura-hura, pokoknya ngga banget deh..” Teman itu berkisah soal mantan pacar yang diputuskan karena kelakuannya yang childish.
“Ya, orang kan beda-beda. Tapi seiring waktu dia akan dewasa kelak,” aku menenangkan.

Teman lain lagi baru bersua lagi setelah tiga tahun berpisah. Ini teman kerja di tempat lama dulu. “Gue tadi pangling, ini elu apa bukan,” ujarnya mengomentari aku yang sekarang. Bukan tampang atau apa elu yang berubah, tapi aura elu.”

Aku bingung. “Maksud lu?”

“Lu terkesan lebih dewasa. Lebih bias menerima hidup.”

Aku tersenyum. Apa iya perubahan itu sedemikian terlihat? Yang pasti, belakangan ini aku memang mengalami metamorfosa. Dari perempuan yang membenci keperempuanannya, perlahan menjadi perempua yang menerima keperempuanannya. Dengan segala cara. Aku memang sudah lumayan bisa masak. Bisa berdandan. Lumayan telaten merapikan rumah. Tidak benci pada kumpulan cewek-cewek. Dan yang jelas setelah kurenungkan, teman-teman terdekatku sekarang kebanyakan berjenis kelamin perempuan.

Yeah, girls will be girls.

Thursday, October 26, 2006

Confession of A Bloody Playboy Part II

Kali lain. Orang yang lain. Waktu yang lain. Di tempat lain. Dengan pembicaraan lain.
“Eh gue udah sampe nih.” SMS itu sedikit mengagetkan. Jam menunjukkan pukul 13.14. Kami janjian jam 13.30. Sedikit tergesa aku menuju ke kafe yang disebutkan.

Wajahnya masih sama dengan 15 tahun silam. Tetap tampan dengan senyum simpatik. Hanya sekarang chubby. Air muka dan sorot matanya jauh berbeda. Dulu mata itu bersinar nakal, jahil, dengan kerlingan dimana-mana. Air muka yang dulu cemerlang , kini nampak kuyu. Lalu ia memamerkan deretan giginya. ”Gigi gue ancur,” tanpa malu ia membuka mulut lebar-lebar.

Dan pengakuan seorang playboy veteran pun dimulai. Ia mengaku dulu jadi playboy, tukang tebar pesona dan cari perhatian cewek-cewek karena di rumah kurang perhatian. Ia membantah dibilang playboy, sebab tak pernah memacari lebih dari satu cewek pada waktu bersamaan. ”Kalo gue udah punya cewek, ya gue ngaku. Terserah cewek lain mau jalan ama gue apa ngga.,”.
Kemudian ia berkisah tentang kepribadiannya yang sudah berubah 180 derajad sejak bercerai 2 tahun silam. ”Gue ngga gaul. Gue diem aja di rumah. Sekarang gue berenti kerja, mau buka usaha,” ia terus-menerus mengepulkan asap rokoknya tiada henti.

Lelaki tampan itu kadang masih jahil melontarkan canda menggoda. Ia mengaku sempat suka padaku. Aku hanya melengos, sebab dia memang playboy, ex playboy tepatnya. ”Kambing dilipstikin juga lu suka kan,” selorohku.

15 tahun lebih berselang sudah. Seorang kakak kelas SD-SMP yang dulu terkenal pintar, jago basket, bintang sekolah, penggoda cewek kelas wahid. Belum lama berselang duduk tepekur di hadapanku dengan sorot mata kosong. ”Gue ngga percaya cinta lagi. Bullshit. Hati gue udah beku,” ia menyerocos. Sesekali kami mengenang masa kecil nan indah, penuh canda tawa tanpa beban. Ia masih mengingatkanku waktu kami berdarmawisata ke Yogyakarta. Ia masih ingat pernah mencuri cium pipiku. Dan saat itu perasaanku hanya kebencian luar biasa pada playboy tengil nan centil. Ia berkisah legenda cinta pertamanya dengan cewek berkepang dua.

”Elu sih ganjeng, pacaran sejak SD. Sekarang lu udah mati rasa kan ama cinta? Rasain!” Ledekan itu terluncur begitu saja dari mulutku.

Hari itu aku menjadi pendengar setia kesaksian seorang mantan playboy...

Thursday, October 19, 2006

Kali ini, tentang Soulmate



“Percaya soulmate?”
“Ngga!”
“Hmm, aku masih percaya.”
“Udah deh, ngga ada itu soulmate. Kamu mana pernah tahu siapa soulmate-mu. Kalau ternyata tukang ojek ujung gang itu adalah soulmate-mu, kamu mau nikah ama dia?”
“Ah, ya ngga lah. Soulmate itu mestinya ya sepadan sama kita. Orang yang cocok, pas sama kita, sejiwa.”
“Lho, emang kamu pernah tahu tukang ojek itu cocok ngga sama kamu, wong belum pernah ngobrol. Siapa tau kalau ngobrol dan pendekatan, cocok.”
“Ah ngga deh. Ngga mungkin.”
“Nah, berarti soulmate itu ngga ada. Yang ada adalah kecocokan, nyambung. Soulmate hanya mitos.”
“Ngga, aku masih tetap percaya soulmate.”
“Ya silakan aja nunggu soulmate-mu jatuh dari langit.”

Itu percakapan aku dan kakak perempuanku beberapa bulan lalu. Aku pihak yang kontra teori soulmate, sedangkan ia yang berkeras bahwa soulmate memang ada. Kakakku sudah 38 tahun, masih lajang. Dia cantik. Waktu kecil dulu, aku selalu berpikir bahwa ia mirip sekali dengan Melissa Gilbert dalam film Litttle House on The Praire, tepatnya peran Laura Ingalls Wilder (apa bener ya spellingnya?) kecil. Apalagi pada adegan pembukaan film dimana semua anak perempuan keluarga Ingalls berlari-lari di rerumputan.

Selain rambutnya sama-sama panjang bergelombang , kakakku dan Laura juga berkulit putih, kulit muka mulus, mata bentuk almon. Puncak kemiripan mereka terletak pada rambut panjangnya yang dikepang dua dan senyum lebarnya. Pendek kata, kalau kau berpikir bahwa ia belum menemukan pasangan hidup karena fisiknya buruk, kau salah besar. Lebih tepat barangkali karena ia terlalu independen, mandiri dan tentu saja pintar.

Dia tipikal perempuan sangat mandiri, suka petualangan dan keras hati. Sejumlah kota dan negara sudah dilintasinya. Hari ini, kakakku tetap cantik walau rambutnya dipangkas pendek. Terakhir kudengar kabar dari ponselnya ia sudah di Ubud, Bali. Bekerja di sana. Saat menelepon beberapa hari lalu, suaranya masih ceria dan renyah. Aku hanya berharap semoga ia segera menemukan soulmate-nya, kendati aku sama sekali tidak percaya mitos itu.

Friday, October 13, 2006

I Prefer Platonic Than Eros

Sampai hari ini, aku masih bingung kenapa manusia begitu mengagungkan pernikahan. Sementara dari pengalaman pribadi dan orang sekitar, sudah membuktikan bahwa pernikahan bukan hal yang teramat sangat agung…

Masih ingat betul, itu malam minggu. Aku nongkrong bersama beberapa teman cowok. Remember, I noticed that I was a tomboy girl? Sebagai para jomblo, kami melakukan apa saja mengusir malam minggu tanpa pacar. Main billiard, nonton konser musik, sampai sekadar main gaplek di kos-kosan. Malam itu kami sudah mati gaya tak tahu mau apalagi. Bana, seorang teman dari ISTN memamerkan foto cewek cantik dari dompetnya.
“Namanya Cika, lagi kuliah di Belanda. Gue cinta banget sama dia,” cowok gondrong itu mendadak sentimental.
“Oh, dia cewek lu?”
Bana menggeleng.
“Kalau dia cewek gue, gue pasti akan married sama dia. Gue malah ngga mau married sama dia.”
Aku yang masih semester pertama dan lugu soal cinta hanya menggarung kepala, bingung mendengar jawaban Bana yang sudah mau skripsi. “Aneh lu, masak ngga mau nikah sama cewek secantik itu?”
“Kalau gue married sama dia, berarti gue mesti “anuan” ama dia? Wah, ngga tega deh. Gue terlalu cinta sama dia sampe gue ngga tega begitu.”

Saat itu aku belum “ngeh” banget sama jawaban Bana yang lima tahun lebih tua dariku itu. Sampai kemudian beberapa tahun kemudian aku membaca “Catatan Seorang Demonstran” yang waktu itu masih dalam kemasan lama, belum bersampul foto Nicolas Saputra seperti sekarang. Dikisahkan Gie tidak terlalu bersemangat mengejar perempuan yang dicintainya, Maria. Ia tidak mau Maria jadi objek dalam pernikahan kelak. “Pernikahan adalah pelacuran yang dilegalkan.”. Gie tak bisa menerima terlibatnya nafsu seks dalam sebuah ikatan cinta yang suci. Baginya, jika kita mencintai seseorang maka sebaiknya kita menghormati orang itu. Menghormati berarti tidak berbuat kurang ajar, termasuk tidak menidurinya.

Ketika membaca buku itu aku masih semester dua. Masih belum sadar juga apa yang dimaksud Gie.

Hari ini, aku sudah bertemu begitu banyak jenis manusia dengan segudang pengalaman hidupnya. Ada yang menikah dan bahagia. Menikah dan tidak bahagia. Tidak menikah dan bahagia. Tidak menikah dan tidak bahagia. Pernah menikah dan bahagia. Pernah menikah dan tidak bahagia. Dan sebagainya. Begitu rupa-rupa. Dan yang memprihatinkan, banyak pernikahan yang tetap dipertahankan sekuat tenaga dengan alas an menjaga nama baik keluarga. Padahal banyak kasus pasangan itu sudah tidak lagi bahagia satu sama lain. Begitu majemuk.

Lalu aku kembali dihadapkan pada fakta, mecintai seseorang memang sebaiknya tetap menghormatinya. Tidak melibatkan nafsu jasmani. Jika nafsu sudah terlibat, maka cinta dapat pergi kapan saja.

Saat seorang sahabat lelaki berkata, “Gue kangen elu”, berarti dia memang kangen dengan kehadiran sahabatnya. Kangen canda tawa dan keluh kesah. Tapi ketika seorang pacar berkata, “Gue kangen elu”, dapat berarti dia kangen untuk sekadar ciuman, belaian, atau bahkan lebih.

Itu yang bikin saya lebih percaya dengan cinta platonis daripada cinta eros.

Wednesday, September 27, 2006

Man Prefers Blonde 'Cuz Blonde Is Stupid? (So The Man is Stupid Either?)


Beberapa testimoni di Friendster-ku mengatakan bahwa aku harus sedikit feminim agar dilirik lelaki. Puih!

Bukan, bukan feminim berupa penampilan atau sebangsanya. Namun dalam bersikap. Kata teman, “Kamu harus sedikit terkesan lemah, lembut dan mengalah biar cowok terkesan sama kamu.” Huek!
Sahabat lain pernah mengatakan dalam SMS : “Kita terlalu pintar, Mer. Pintar dan berani mengutarakan pendapat. Makanya cowok takut.”

Jadi ingat istilah “Man prefers blonde because blonde are stupid.”

So, para lelaki lebih memilih perempuan bodoh sebagai pasangannya daripada yang pintar? Karena takut tersaingi? Bisa jadi!!!

Kemarin habis debat dengan seorang teman . Dia bilang: “Women are strong creature.” Karena lagi kumat pengen debat ditambah PMS, aku berargumen bahwa definisi itu hanya diciptakan kaum lelaki agar pemerpuan ngga manja.

He though he is the 1st man wo said that women are strong creature. No way.
Sudah banyak yang bilang begitu. Dan beberapa cowok bilang bahwa aku superwoman. But see where are all guys who has that statement?
THEY DECIDED TO CHOOSE THE WEAK ONE AS THEIR WOMEN!

Cowok bilang: cewek itu mahluk kuat. "Kamu superwoman, hebat!" dengan menciptakan idiom itu maka dia berpikir : "Ah lu kan cewek kuat, tangguh, hebat, kagak butuh gua. Lu tanggung aja semua sendiri."

And then they walk away from their responsibility as a MAN.
Dan mereka akan mencari cewek lemah, manja dan stupid buat dinikahi atau dipacari. MENGAPA? Sebab ide women are strong creature sangat INCOMPATIBLE dengan MAN-EGO mereka.

Yeah, I've been there and I know how the feeling as a woman called SUPERWOMAN by any guys she love, but those guys just runaway to prefer the weak-spoiled-stupid woman as their couple.
So...

Ide bahwa cewek itu mahluk kuat mungkin benar. Tapi ngga semua. Pada akhirnya cowok prefer cewek lemah-manja-bodoh sebagai pasangan hidupnya agar mereka tidak merasa ditandingi.

Sunday, September 24, 2006

Power Puff Girls Are in Luv


Dulu, kami sempat menyetarakan diri dengan para tokoh film seri Sex and The City. Kelamaan, setelah diamati, justru bertolak belakang. Benar, kami adalah para perempuan pekerja, berusaha menjadi perempuan karir.

Hmm, ada beda ya antara perempuan pekerja dan perempuan karir? Jelas. Kalau pekerja itu sekadar mencari nafkah. Sedangkan karir, ya mengejar karir setinggi mungkin. Berkaca dari kondisi kami, saat ini kami adalah pekerja yang tengah merintis karir. Mencoba bekerja bukan sekadar mencari uang, melainkan juga mencintai, bangga, sekaligus juga mencari kesuksesan.

Ah ribet membicarakan pekerjaan. Apa mau dikata, itulah topic utama obrolan kami tiap kali bertemu. Kontras dengan empat perempuan dalam Sex and The City yang justru nyaris tak penah membicarakan karir mereka. Ya, topik utama obrolan mereka adalah seks dan cinta. Sesuai dengan judul serial itu tentunya.

Setiap acara makan siang atau makan malam bersama, Miranda, Samantha, ….dan …. Tak pernah absent dengan gelak tawa atau sedu sedan seputar kisah kencannya. Bagaimana dengan kami?

Biasanya pertemuan akan diawali dengan membicarakan “Sedang sibuk apa sekarang?”. Lantas “Ada film bagus apa? Kapan nonton bareng? (ini nyaris tak terealisasi, sebab akhirnya kami akan sibuk sendiri-sendiri). Lantas memilih menu makanan secara heboh, lama, dan akurat. Kemudian topic berlanjut ke kabar “pacar” kami. Sssttt,”pacar” yang dimaksud di sini adalah notebook alias komputer jinjing kami! Akan ada bahasan agak techie seputar “Kenapa batere gue ngga bisa pol?” atau “Dimana beliin cover keyboard Acer yang melengkung antik itu?” atau juga keluhan Ajeng tentang MacBook-nya yang pesolek, dan sejenisnya.

Lalu akan ada selingan sedikit tentang bos yang menyebalkan, pekerjaan tak kunjung habis, model baju baby doll yang in, apakah lipgloss masih dibutuhkan, sepatu ceper murahan itu bisa awetkah, dan sebagainya, dan sebagainya.
Kemudian, kembali membangkitkan obsesi lama ihwal membentuk sindikat atau konsultan, blab la bla…..

Dan ketika ada salah satu yang keceplosan bertanya tentang cowok, maka suasana mendadak…………………………hening! Seolah ada “setan” lewat,semua langsung terdiam. Itu pertanda kami tengah mengheningkan cipta bagi kisah cinta kami yang sudah lama gugur ibarat pahlawan di tapal batas.

Apa pasal? Ya, kehidupan asmara kami dapat dikatakan nol besar, bahkan minus, dalam beberapa tahun ini. Topik tentang cowok selalu mengundang hati yang luka (duh, kayak lagu cengeng jadul!).

Eh, jangan salah. Secara tak sengaja saat ini kami tengah sama-sama dirundung asmara lho. Masih belum apa-apa. Masih sebuah pre-fall-in-love. Istilah Ajeng, baru “jatuh suka”, belum jatuh sayang atau cinta. Uniknya, kami bertiga bisa mengalaminya secara bersamaan. Padahal selama ini kesibukan telah menenggelamkan aku, Eno dan Ajeng sampai sulit saling bersua. *Untung ada Yahoo Messenger dan SMS*.

“Jadi Power Puff Girls are in luv? Wah, The Luv Episode og PPGs!” Itu SMS kami akhir pecan kemarin. Blossom, Bubble dan Buttercup tengah dilanda romantika. Akankah kami kecewa dan terluka? Ah, persetan saja.

Tapi jangan salah, obrolan kami tetap tidak seheboh serial Sex and The City. Selain kisah kasih kami sangat sepi, kami juga bukan penganut seks bebas. Jadi tidak akan pernah ada ketawa heboh ala Samantha yang berkisah tentang kencan panasnya! Obrolan kami justru lebih mirip dengan curhatan anak SMP di meja kantin sekolah. Ya, mungkin kami tidak pernah merasa tua dalam hal yang satu itu 

Friday, September 22, 2006

SBY, Sang Menteri dan Gelandangan Pemakan Kulit Jeruk

Tiga hari lalu. Di dekat terminal bus Manggarai, Jakarta, aku melihat seorang gelandangan mengorek-ngorek timbunan sampah. Kebetulan aku ada di atas Metro Mini 62 yang berjalan lambat menunggu penumpang. Lekat-lekat kuamati, lelaki gelandangan itu berasyik masyuk dengan sesuatu. Ternyata ia menemukan kulit jeruk dalam tas kresek hitam. Dan ia memakannya dengan lahap!

Pemandangan yang sama pernah aku saksikan di adegan film Gie yang dibintangi Nicholas Saputra. Film yang diangkat dari catatan harian Soe Hok Gie itu bersetting tahun 1960-an. Dikisahkan bagaimana Gie muda bertemu lelaki yang memakan kulit jeruk. Lalu ia jatuh iba dan memberikan semua uangnya pada lelaki itu.

Aku buka Gie yang memberikan uangku pada gelandangan tadi. Dan hari itu adalah 20 September 2006. Sudah berapa tahun lamanya Indonesia merdeka dan membangun? Kenapa masih ada orang kelaparan sampai mengoreki sampah, memakan kulit jeruk? Lantas apa yang rakyat dapatkan dari pembangunan selama ini? Kulit jeruk dan sampah?

Malamnya, aku berkirim SMS yang berkisah tentang si pemakan kulit jeruk tadi. Fakta bahwa sejak 1960-an sampai 2006 ini, rakyat Indonesia tidak mendapat kemajuan berarti dari pembangunan. SMS pertama aku kirim ke seorang teman, kebetulan pegawai negeri di sebuah instansi bergengsi. Jawabannya: "Say that to the minister (sudah diedit) dan semua kalangan pejabat tinggi setingkat dia. Mungkin mereka lupa, abis fasilitasnya enak terus. Gimana kita bisa cinta RI?"

Kuturuti sarannya, aku kirim SMS serupa ke seorang menteri yang biasanya rajin membalas SMS-ku. Sayang, si menteri tidak menjawab. Mungkin ia terusik dengan kisah duka menjijikan tentang kalangan bawah. Barangkali ia malas dengar cerita orang susah. Mungkin juga ia sedang menikmati jamuan makan malam lezat yang terganggu oleh SMS tentang gelandangan pengorek sampah.

SBY, JK, beserta gank kabinet plus semua anggota DPR yang bergaji puluhan juta mestinya menyempatkan diri berjalan-jalan ke lokasi pembuangan sampah. Biar mereka melhat, masih banyak rakyatnya yang hidup dari mengoreki sampah. Seperti anjing. Sepeti kucing. Bertahan hidup dengan mencari sesuatu untuk dimakan di antara bau busuk itu.
Oh Indonesia!

Wednesday, September 20, 2006

Hidup dan Lamaran

Malam Senin kemarin, di TV7 atau Global TV (saya lupa, maklum bukan penggila TV), ada satu adegan dalam film yang juga saya tak tahu judulnya.

Adegan itu sangat menyentuh!
Seorang nenek tua (80-an) bertemu seorang gadis cantik. Kira2 begini dialognya:

Nenek: Mana suamimu?
Gadis: Saya belum menikah.
Nenek: Ah, sayang sekali. Kamu cantik sekali padahal.
Si Gadis tersipu dan serba salah.
Nenek: Saya juga tidak pernah menikah.
Si Gadis terkejut.
Nenek: Ya, sebab tidak ada yang melamar saya...
Si Gadis masih terkejut.
Nenek: Saya dulu sangat mencintai Irvin saat usia 21. Tapi ibunya tidak setuju. Dia meninggalkan saya. Sejak itu saya tidak ada yang melamar...

Miris sekali!
Apa iya garis hidup seorang perempuan ditakdirkan oelh DILAMAR atau TIDAK DILAMAR?
Kalau tidak dilamar, maka ia akan kesepian seumur hidup seperti nenek tadi??????????????????

Dunia yang sangat tidak adil bagi kaumku tercinta!!!

Tuesday, September 19, 2006

Suatu Hari Nanti, Oriana...






“Oriana Fallaci meninggal di Florence.”



SMS itu datang dari Natalia, rekan jurnalis desk Internasional di mediaku. Singkat namun menyentak. Kebetulan aku sedang di luar kantor, belum sempat mengakses dunia maya.
Lalu kubalas, “Duh, belum sempet ketemu kok meninggal? Huhuhuhuhu!”

Siapa Oriana? Bagi orang Indonesia kebanyakan, nama perempuan Italia itu tidak banyak berarti. Buatku, amat sangat berarti!

Pertama mengenalnya melalui sebuah buku yang kupinjam dari perpustakaan SMP. “Wawancara dengan Sejarah” judulnya. Berisi kumpulan interviu perempuan kelahiran 29 Juni 1929 ini dengan sejumlah tokoh politik dunia terkemuka. Henry Kissinger, the Shah of Iran, Ayatollah Khomeini, Lech Wałęsa, Willy Brandt, Zulfikar Ali Bhutto, Walter Cronkite, Omar Khadafi, Federico Fellini, Sammy Davis Jr, Deng Xiaoping, Nguyen Cao Ky, Yasir Arafat, Indira Gandhi, Alexandros Panagoulis, Archbishop Makarios, Golda Meir. Luar biasa.

Sejak membaca buku itu, aku terinspirasi menjadi jurnalis. Sampai ketika lulus SMA aku tidak ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri ), tapi langsung mendaftar di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta yang memiliki Fakultas Jurnalistik. Target hidupku saat itu hanya satu, jadi jurnalis. Titik. Tak bisa ditawar lagi.

Hari ini, aku menjadi jurnalis. Sebuah cita-cita yang tercapai. Bukan pada media besar, melainkan media biasa saja. Yang pasti aku bangga dengan profesi dan mediaku, sebab memiliki independensi luar biasa dalam menulis. Tidak ada campur tangan siapapun. Tidak ada intimidasi. Aku bebas menulis apa yang kusuka sesuai dengan ideologiku. Kebetulan aku membidangi halaman Ilmu dan Pengetahuan, bidang yang sesungguhnya sempat kucintai waktu sekolah lewat pelajaran biologi.

Memang jauh dari bidang Oriana, politik. Hmmm…itu juga sempat jadi obsesi terpendam: menjadi jurnalis politik. Bahkan wartawan perang. Tapi ternyata takdir menentukan lain. Nevermind. Aku tetap bisa hidup dengan menulis.

Oriana meninggal 15 September 2006 kemarin di Florence, Italia, kampung halamannya. Ia menderita kanker payudara selam 15 tahun. Tidak pernah menikah. Adakah penderitaa terpancar dari sorot matanya? Tidak.

Suatu hari nanti, aku akan kutebar bunga di pusaran makammu, Oriana.
Suatu hari nanti.

Friday, September 08, 2006

Jadi Harimau di Sarang Harimau



Being a pretty tiger among the tigers



Kembali, beberapa teman perempuan menanyakan keminoritasanku sebagai perempuan. Pekan kemarin aku kembali untuk ke sekian kalinya (sudah tak terhitung) menjadi mahluk paling cantik di rombongan. Maksudnya, saya satu-satunya perempuan, wanita, kaum Hawa, cewek, ibu, dalam satu tim perjalanan jauh.

Sesungguhnya ini suatu kondisi yang biasa. Selama gender tidak menjadi masalah, menjadi satu-satunya perempuan dalam 100 batalion tentara pun sebenarnya hal biasa. Problemnya adalah bagaimana kita sebagai pemilik jenis kelamin paling berbeda dapat menyetarakan diri dengan mereka.

“Gue males, abis ngga ada ceweknya,” ungkap teman cewekku yang merasa risih harus bergaul dengan rekan seprofesinya yang lelaki semua dalam sebuah perjalanan jauh. Akhirnya ia harus menikmati kesendirian, kesepian, di suatu tempat yang sesungghnya sangat mengasyikan kalau dilewati bersama kawan-kawan.

Bagi saya, sikap seperti itu adalah rugi besar. Kebetulan sejak kecil saya tomboy, lebih suka gaul dengan cowok. Sejak SMP sudah biasa yang namanya kemping dengan cowok-cowok. Sampai hari ini pun ketika usia sudah dewasa hal itu tak menjadi problem berarti. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perempuan yang menjadi minoritas gender di kelompoknya.

Pertama, jangan bersikap rewel dan terlalu menonjolkan kelemahan fisik serta emosi. Cowok paling sebel kalau di kelompoknya ada cewek rewel, bawel, rese. Terlalu banyak nuntut macem-macem. Yang ada kehadirannya justru akan disesali.

Kedua, jangan minta keistimewaan karena kita perempuan. Mereka sudah tahu kita perempuan, punya beberapa kelemahan dibanding mereka. Dari sisi fisik misalnya, kita tak mampu melakkan hal-hal yang setara dengan cowok. Mereka sadar betul itu tanpa harus kita mengingatkannya. Otomatis teman-teman cowok kita akan memahami kondisi itu sehingga secara sukarela akan memberi keistimewaan. Namun bukan berarti kita menuntut terlalu banyak privilege hanya karena kita perempuan.

Ketiga, karena sadar bahwa kita memiliki kelemahan fisik dan emosi yang dominan, cobalah berusaha meminimalkannya. Maksudnya, ada banyak situasi dimana mau tak mau kita harus berusaha keras mengikuti alur mereka. Contoh paling anyar saya alami saat kami berjalan kaki putar-putar KL. Akan memuakkan kalau saya merengek-rengek kecapean. Mau tak mau saya harus memiliki fisik kuat agar dapat mengikuti irama aktivitas itu. Kalau saya sudah kelelahan dan tak kuat lagi, saya akan menyampaikannya baik-baik, bukan dengan cara merengek mirip bayi. Kaum Adam akan menghargai sikap itu.

Keempat, hindari perilaku yang mengundang pelecehan seks. Ada di tengah kelompok pria dengan memakai baju sexy? Itu sama saja dengan minta diperkosa! Pakai logikamu. Berada di satu gerombolan harimau, maka sebaiknya kita ikut berperilaku dan berpenampilan seperti harimau. Itu langkah paling aman. Kalau kau berpenampilan dengan kulit domba di tengah harimau-harimau ganas, sama saja kau minta dimangsa.

Itu saja kiat yang bisa saya bagikan pada teman-teman perempuan. Jangan pernah meng-underestimate diri sendiri hanya karena perbedaan gender. Tapi juga jangan menganggap dirimu istimewa di antara mereka. Seperti saya bilang, jadilah harimau di sarang harimau.

Wednesday, September 06, 2006

Cari yang Cantik dan Ganteng? Ya Indonesia!



Ngga GR, gue yang paling cute di sini! Hahaha! Suwer!

“Sejauh mata memandang, kok ngga ada yang cakep, sih?” Pertanyaan itu kuajukan ke Rully, teman jurnalisku senasib sepenanggungan di Kuala Lumpur. Kami tengah berbaur dalam kerumunan di ajang Micosoft Tech.Ed South East Asia (SEA) 2006 di KL Convention Center (KLCC).

Bukan mau sok, tapi ini fakta. Sejak kedatangan kami di ibukota negeri jiran ini, nyaris tak pernah aku bertemu wajah-wajah cantik dan ganteng. Justru lebih banyak wajah cantik dan ganteng di Indonesia. Suatu misteri yang akhirnya terpecahkan setelah kami berpapasan dengan serombongan anak sekolah.

Mereka anak-anak usia SD dibagi atas tiga kelompok. Satu kelompok terdiri atas yang bermata sipir, kulit kuning. Kelompok lain mata besar, kulit sawo matang. Kelompok lain adalah mata lebih besar dan kulit agak kelam. Ya, mereka adalah kelompok etnis Cina, Melayu dan India. Ternyata di sini, sejak kecil ketiga etnis tersebut sudah dipisah-pisahkan pergaulannya. Maka tak heran setelah dewasa maka pergaulan mereka juga dibatasi berdasar etnis.

Jadi ingat, seorang teman dulu pernah cerita pas dia kerja di KL jadi bingung mau gaul sama siapa. Dia Indonesa keturunan Cina. Di Jakarta sih gaulannya bebas. Tapi begitu di KL, dia bingung mau gaul sama kelompok etnis mana. Secara jiwa, dia cocok sama orang Melayu. Sayangnya orang Melayu di sana tak bisa dengan mudah menerima pertemanan dekat dengan orang berwajah Cina. Jadi temanku itu mencoba bergaul dengan kelompok Cina. Masalahnya, dia tak bisa bahasa Cina, dan secara selera dan gaya hidup, ia sama sekali “ngga nyambung” sama mereka. Yang ada temanku jadi bingung mau bergaul sama siapa. Ujung-ujungnya ia harus mencari sesame orang Indonesia di sana! Duh, susah amat ya hidup??!!!

Gaya hidup “rasialis” macam itu akhirnya yang menyebabkan warga KL tidak secantik dan seganteng warga Jakarta. Apa sebab? Yah, kalau gaul aja dibatasi secara etnis, bagaimana bisa terjadi kawin campur atau asimilasi seperti di Indonesia? Orang Cina akan kawin dengan sesame Cina. Melayu dengan Melayu. India dengan India. Tidak ada perpaduan. Hasilnya adalah keturunan yang berwajah “itu-itu aja”. Yang Cina yang super sipit. Yang India ya super hitam. Yang Melayu yang tetap saja standar.
Indonesia? Wow, cantik dan ganteng semua dong! Sebab kita adalah negara yang tak mengenal rasialisme! Kawin campur Jawa-Sunda-Ambon-Batak-Padang-Cina-Arab-Makassar dan sebagainya, SUDAH BIASA! Jadilah kita bangsa yang wajahnya gunteng-guanteng dan cuantik-cuantik! Banggalah jadi orang Indonesia!

Mau cuci mata cari yang ganteng? Ngga usah ke KL! Jakarta jawabannya!

Tuesday, August 29, 2006

Dunia Patriarki

Kalau seorang ayah berbuat “sedikit” saja kebaikan bagi keluarganya, maka seluruh dunia akan memujanya. Padahal setiap detik, miliaran ibu di dunia mengorbankan waktu, keringat, doa dan tenaganya bagi keluarganya tanpa pamrih sedikit pun. Tak ada pujian sama sekali.

Kalau seorang lelaki meninggalkan rapat demi anak yang sakit di rumah, seisi ruangan rapat akan terpesona. “Oh, dia sungguh ayah yang sayang anak.”
Giliran seorang ibu bekerja minta izin pulang cepat sebab anaknya demam, maka seisi kantor akan mengomel, “Dasar perempuan karir ngga becus ngatur waktu.”

Kalau seorang suami berselingkuh, maka orang akan berkomentar, “Pasti istrinya ngga becus ngelayanin suami. Wajar aja dia selingkuh. Namanya aja lelaki.”
Ketika seorang istri selingkuh, orang akan mencaci, “Dasar pelacur ngga tau diri, perempuan najis, amit-amit jabang bayi! Jangan sampe laki gue diembat dia! Perek!”

Kalau seorang cowok belum menikah di usia 35, sekitarnya akan berkata, “Pasti dia sibuk mikirin karir. Belum nemu cewek yang pas buat jadi istrinya. Hebat, pandangannya jauh ke depan.”
Tapi jika perempuan masih melajang di usia 30, orang berujar, “Wah, perawan tua kagak laku. Kasian amat. Pasti karena terlalu pemilih, sok sempurna. Apa dia dikutuk ya? Dosa apa dia?”


Oh dunia patriarkis!

Wednesday, August 23, 2006

"Who are You?" or "Who Are Your Parents?"

Apakah hanya orang-orang yang berasal dari keluarga terpandang saja yang bisa memiliki kepercayaan diri (PD) tinggi?

Pertanyaan itu menggantung di benakku cukup lama. Sejak tiga-empat tahun lalu barangkali. Suatu pagi di acara bertema lingkungan di Kafe Dedaunan, Kebun Raya Bogor. Salah satu tokohnya adalah putri seorang figur publik di bidang politik, Des Alwi. Saya lupa nama putrinya. Ia tampil begitu PD, berani berhadapan dengan siapa saja, akrab dengan siapa saja. Mungkin semua yang hadir di situ mengenalnya sebagai anak seorang tokoh terkenal yang berpengaruh di zamannya.

Mas Sapto, seorang teman jurnalis senior berujar padaku, “Kadang gue mikir, sebagai bukan anak siapa-siapa, gue suka minder. Sejak jadi jurnalis sering ketemu orang-orang gedean, pejabat, orang pinter. Padahal gue dari keluarga biasa aja.”

Jurnalis yang sudah cukup kawakan itu merasakan bagaimana mengobrol dengan Habibie, Akbar Tanjung, dan beragam tokoh top negeri ini. Ia mengaku hanya sok PD saja. Padahal kalau diingat-ingat bahwa ia dari keluarga biasa, timbul rasa minder.
Hal yang sama juga terjadi padaku. Bertemu orang-orang hebat adalah keuntungan menjadi jurnalis. Namun apakah kita dapat tampil PD saat berahdapan dengan mereka? Mengobrol? Bertukar pikiran? Harus. Harus dipaksakan!

Di kantorku juga sempat ada kerabat “bos” yang bekerja seatap dengan pamannya yang bos. Ya, dia sangat PD sekali dalam pergaulan. Berani seenak hati menghadapi siapa saja di kantor, entah itu kelas reporter sampai kelas manajer. Ceplas-ceplos bahasa Inggris demi pamer ia pernah kuliah di Amrik. Tiap acara kantor selalu jadi MC. Singkatnya, ia merasa kantor itu miliknya. Yah, kerabat bos gitu loh!

Mungkin kondisi yang sama berlaku bagi anak-anak para orang terkenal di negeri ini. Mereka merasa negeri ini “milik” orangtuanya. Jadi merasa PD banget untuk tampil dimana saja dan kapan saja, berhadapan dengan siapa saja. Toh semua orang tahu siapa dia, setidaknya siapa orangtuanya.

Bagaimana dengan kami, para anak dari keluarga biasa saja? Kepercayaan diri itu harus diempos ekstra kuat. Orang tidak akan langsung respek hanya karena mendengar nama dan melihat wajah kita. Sebab kita bukan siapa-siapa dan bukan anak siapa-siapa. Maka kita harus memiliki kelebihan khusus agar dapat diperhitungkan. Kepercayaan diri ekstra kuat yang dipaksakan. Dan itu tidak mudah. Sungguh.

Saya pernah hadir di satu acara dimana pengunjungnya rata-rata orang hebat semua. Pejabat, penulis terkenal, ilmuwan, selebriti. Mungkin hanya saya dan sebagian kecil orang saja yang bukan siapa-siapa. Thanks God, obrolan saya dengan para orang hebat tadi masih bisa nyambung. Walau dengan PD yang dipaksakan. PD yang dikeluarkan dengan ekstra tenaga dan mental baja.

Kalau sudah begini, saya jadi berpikir. Saya harus menjadi “sesuatu” agar kelak anak saya punya PD alami yang tak perlu dipaksakan. Saya harus menjadi seseorang yang minimal diakui keberadaannya. Agar anak saya kelak punya kepercayaan diri tinggi untuk tampil berhadapan dengan orang-orang hebat. Tidak perlu setenar Habibie atau Akbar Tanjung atau Soeharto. Cukup menjadi diri saya sendiri.

Tapi yang lebih penting, kelak anak saya harus bangga pada dirinya sendiri, bukan karena dia anak saya. Kita harus mempertanyakan "siapa kamu dan apa yang kamu bisa", bukan "siapa ortu kamu?".

Friday, August 18, 2006

LIMITED EDITION: True Love


True love is a limited edition. Only the lucky few man and woman who found it.
Kalimat itu mencelos dari lubuk hati, sepekan silam. Ketika seorang teman yang jauh lebih tua, dan sudah kuanggap ayah sendiri, berkisah tentang love story-nya. Tahun 1972, ia mengejar seorang gadis cantik, idaman banyak lelaki, terkenal, atlit dan penyanyi. Hari ini, gadis itu menjadi ibu dari tiga anak dan dua cucunya.

What a great love story!

Seorang teman lain, berkisah bahwa suaminya sekarang adalah pacar pertamanya di semester pertama, sekaligus juga first love-nya. Ia sendiri juga pacar pertama dan cinta pertama sang kekasih. Reiny dan Aryo. Hari ini sudah menimang bayi mungil.

Another great love story.

Sayangnya, kisah-kisah mengagumkan seperti itu tidak banyak ditemui di sekitar kita. Jauh lebih banyak kisah cinta berakhir tragis, pahit, pilu, mengenaskan bahkan berakhir dengan kematian dan dendam.

Maka jangan salah kalau saya nyatakan: true love is limited edition!

Sudahkah anda mendapatkannya?

Wednesday, August 16, 2006

The Real Power Puff Girls



Attention! Trio Power Puff Girls, Ajeng, Merry dan Eno sekarang sudah ngga jomblo lagi. Mereka punya pacar baru: Macbook, Acer dan Compaq. Kalau malam minggu sudah ngga lonely lagi..


Itu SMS yang kukirim ke beberapa teman sejak kami bertiga sudah mendapatkan komputer jinjing idaman. (PS:Kami penulis, jadi memilk computer jinjing alias notebook adalah impian utama di atas segalanya. Agar bisa menulis dimana saja, kapan saja).

Balasan dari SMS tadi pun tidak kalah lucu. Salah satunya : Merdi juga udah ngga jomblo lagi. Udah pacaran sama Adidas dan Nike. Itu berasal dari sobat kami Merdi yang jurnalis olah raga.

Ya, kami adalah The Power Puff Girls. Tiga sobat cewek dari tiga media berbeda. Kenal di liputan, lalu keterusan jadi lengket sebab sama-sama jomblo. Sama-sama agak trauma sama yang namanya cowok. Sama-sama hobi makan, nonton dan nulis.


Tadinya mau menamakan diri sebagai Charlie’s Angels. Tapi behubung karakter The Power Puff Girls lebih imut dan sesuai dengan sifat kami yang sering kekanakan, maka kami memilih alternative kedua itu.

Dua tahun lalu, Ajeng, Eno dan saya merintis sebuah milis unik dan keren, Technomedia .Dulu membernya terbatas pada jurnalis Teknologi Informasi (TI)cewek-cewek yang kebetulan agak gaptek. Milis ini sengaja dibuat agar kami bias berkonsultasi gratis dengan seorang pakar TI yang lucu dan baik hati, I Made Wiryana, dosen Gunadarma, pakar Open Source yang sedang mengambil S3 di Bielefeld University, Jerman. Kelamaan membernya bertambah, para jurnalis cowok. Tak lama Kang Onno W Purbo juga gabung. Technomedia jadi ramai, penuh tawa, canda, juga saling berbagi informasi menarik seputar TI.

Kelamaan member membengkak. Ternyata gaung milis ini cukup seru di komunitas dunia maya. Kami terpaksa menolak calon-calon member yang tidak jelas asal muasalnya. Sampai milis kami dituduh ekslusif, menutup diri dan sebagainya. Habis bagaimana, kami ingin Technomedia berbeda dengan milis TI lain. Di sini jurnalis lebih diutamakan sebab memang para foundernya adalah jurnalis.

Dan milis pun kian ramai dari hari ke hari. Ada Mas Roy Suryo yang memancing kontroversi saat baru bergabung. Belum lagi perdebatan seru ketika ada kasus hacker KPU, kasus penyelewengan dana TI KPU, dan banyak lagi. Semua isu heboh dibahas di sini langsung oleh para pihak yang terlibat.

Sampai akhirnya sejak Mei kemarin milis kami mendapat member antik, Menristek Kusmayanto Kadiman. Hahaha! Yang ini ceritanya juga seru. Lewat SMS saya iseng menawarinya untuk gabung di milis. Eh, ternyata Pak Mentri yang akrab dipanggil KK ini langsung mau gabung. Beda dengan mentri lain yang gaptek, KK rajin posting di milis. Postingannya juga kadang lucu-lucu.

Ribetnya, Technomedia jadi tambah popular berkat promosi KK. Sejumlah vendor TI pun ingin bergabung. Kami terpaksa membatasinya sebab sesuai kesepakatan awal, milis ini tertutup bagi vendor dan PR. Sorry!

Oya, kami juga sudah beberapa kali mengadakan gathering kecil-kecilan. Kalau gathering akbar baru sekali, sekitar Mei tahun lalu. Sukses berat, sebab nyaris semua selebriti TI hadir. Mulai dari pakar-pakar TI, komunitas ISP, hacker, blogger, juga pihak yang saling berseteru.

Tahun ini kami sedang berencana untuk bikin gathering akbar. Kalau gathering kecil-kecilan sudah pernah beberapa kali dilakukan dalam bentuk diskusi bersama KK, sampai yang santai, berkaraoke di Sky Light Café-nya. Mungkin buka puasa bersama di rumah KK? Hehehe. Itu baru rencana.

Ya, kami bertiga bangga sekali dengan milis ini. Siapa sangka ide yang muncul dari ketawa-ketiwi perjalanan Jakarta-Bandung para Power Puff Girls ini bisa jadi seramai sekarang? Stt, sampai hari ini kami masih terus menolak calon member lho. Ohya, sekarang kami dibantu Wandi dan Iwan, dua anggota ModSquad yang ikut menyeleksi member baru. Dulu Merdi sempat jadi Mod juga, tapi tidak lagi karena sudah pindah ke desk oleh raga.

Itu saja sekilas kisah sepak terjang The Power Puff Girls versi Indonesia: Ajeng Bubble , Merry Blossom dan Eno Buttercup dengan Technomedia-nya. So, jangan pernah meremehkan kekuatan cewek-cewek. Ketawa-ketiwi iseng para cewek kadang mampu mengubah dunia lho. Hahaha! Bravo!

Monday, August 14, 2006

Bye Bye, Cyber Lover

“Gilingan lu , Mer..serius tuh yang di blog lu?” Seorang teman terkaget-kaget. Dia bukan yang pertama. Teman lain tak kalah mendesak apakah isi blog itu benar. Mencari kekasih di dunia maya.

Hahaha! Mungkin saya sedikit tergoda oleh buku “I Don’t Know How She Does It” karya Allice Pearson. Buku yang berkisah tentang ibu bekerja dengan dua anak dan suami rewel. Mendadak saja menemukan lelaki penuh perhatian di email. Jadilah ia kekasih dunia maya.

Saya sempat berpikir, barangkali satu-satunya solusi bagi perempuan bekerja yang sibuk sekaligus juga ibu tunggal adalah kekasih dunia maya. Sekadar untuk selingan. Untuk hiburan di kala senggang. Untuk memberi dan diberi perhatian. Cukup melalui email, sinyal ponsel dan sebagainya. Tak lebih.

Baru satu hari, kebutuhan itu sudah kadaluarsa. Expired Date. Terimakasih. Saya sudah cukup punya begitu banyak teman yang siap membalas SMS di setiap waktu. Teman-teman yang menjadi ayah, ibu, adik, kakak, pacar, kekasih, musuh, dan apapun yang saya inginkan.

Sorry, iklan di postingan terdulu saya batalkan. Maklum, mood saya mirip rollercoaster yang menukik naik turun. Sekarang mood saya kembali normal, tidak butuh siapapun kecuali Libby, sahabat-sahabat dan teman-teman yang baik hati. Bye bye, cyber lover!

Friday, August 11, 2006

My Project


Coba perhatikan di link kanan. Ada link "MyProject". Penasaran? silakan klik saja :).
kalau mumet silakan klik http://merry-magdalena.blogspot.com dijamin tidak ada unsur pelecehan laki-laki :)

Thursday, August 10, 2006

Bukan Keledai

kemarin sore
kepada seorang kawan
berkisahlah aku
bahwa aku baru saja membunuh
satu rasa lagi
dan rasanya sukses

lalu kawan itu berkata,
"kalau semua orang seperti kamu
maka tidak akan ada roket ke bulan
bahkan tak pernah komputer ditemukan
sebab semua tak akan dilakukan
hanya karena ada ketakutan"

pulangnya aku merenung
betul juga kata kawan itu
tapi bukahkah keledai pun tidak mau terperosok
ke lubang yang sama
hingga dua kali?

seorang kawan lain bertanya
"sampai kapan kaubunuh-bunuhi perasaanmu sendiri
sampai resistan dan tak bisa mati?
bukankah akan tersiksa jadinya?
hidup segan, mati tak mau?"

sejujurnya
aku lelah membunuhinya, kawan
ingin juga membiarkan rasa itu hidup dan bertumbuh
berkembang..bermekaran menjadi bunga
lalu muncul buah-buah baru
yang menjatuhkan biji dan tumbuh lagi di tanah baru

tapi
bukankah keledai pun tak mau terperosok kedua kalinya?
dan aku bukan keledai!

Monday, August 07, 2006

Lagu yang Tak Pernah Membosankan


Sinead O’ Connor bukan penyanyi tren masa kini. Sudah lama perempuan Irlandia yang terkenal dengan kepala plontosnya itu tidak bernyanyi. Tiba-tiba saja suaranya melengking dari Winamp yang terdapat dalam komputer jinjing saya. Seseorang menyimpannya di situ. Sebuah lagu yang membawaku ke masa silam. Jauh sekali. “Nothing Compares 2 U”. Lagu lawas yang mungkin saja tidak dikenal oleh remaja saat ini. Entah kenapa sejak dulu sekali, setiap saat mendengar Sinead bersenandung lagu ini, ada air mata yang mendesak ingin keluar.

Lagu yang berkesan pada suatu peristiwa? Tentang seseorang yang tak dapat dibandingkan dengan siapapun? Itukah artinya kalau dikait-kaitkan dengan liriknya? Apa benar? Aku merenung. Pernahkah ada seseorang di hidupku yang sulit dibandingkan dengan siapapun karena sedemikian istimewanya? Kalau jawaban yang diinginkan adalah sosok lelaki, maka itu tidak ada. Ya, tak ada sosok lelaki istimewa dalam hidup saya. Ayah? Maaf, saya tidak mengenal dengan baik pribadi ayah saya. Kakak lelaki? Kami tidak besar bersama. Saya kenal dengan baik banyak teman lelaki, namun tak satupun dari mereka adalah kakak kandung saya. Terlebih lagi ayah saya. Dan saya sama sekali tidak merindukan kedua-duanya.

Kembali saya tercenung, apakah gerangan yang membuatku begitu terpesona oleh lengkinan vocal Sinead di lagu itu? Sampai detik ini saya belum dapat menjawabnya secara logis. Kemungkinan besar adalah vokalnya. Ya, vocal perempuan bermata indah itu belum ada duanya. Hal lain bias saja figure Sinead yang controversial. Bukan controversial karena gossip, percintaan atau gaya hidup gila-gilaan seperti kebanyakan artis lain. Bukan sama sekali. Sosok Sinead O’Connor cukup unik. Ketika perempuan lain menganggap rambut sebgai mahkota, ia justru memapas habis. Gayanya menyanyi juga beda dari penyanyi kebanyakandi zamannya. Ia tidak seperti Madonna yang tampil seronok diiringi penari latar meriah. Sinead lebih megandalkan ekspresi dan kekutan vocal yang khas.Lirik lagunya pun banyak yang bebau politis ketimbang menyek-menyek dimabuk cinta. Dan puncak dari kontroversinya adalah sewaktu perempuan cantik itu merobek foto Paus, pimpinan umat Katolik yang sangat disegani.

Orang mungkin mencaci seorang Sinead. Menganggapnya kurang ajar dan sebagainya. Saat isu tentang aksinya itu merebak di media, saya masih seorang gadi belia yang mencari-carijati diri dan figur panutan. Waktu itu, kalau tak salah di majalah Hai saya membaca tentang tingkah “kurang menyenangkan” seorang Sinead. Entah kenapa, justru saya mengaguminya.

So, apa hubungannya dengan lagu “Nothing Compares 2 U?” Itu masih menjadi misteri hingga tulisan ini dibuat. Yang jelas setiap kali saya mendengar lengkingan Sinead di lagu itu, saya seperti mendengar hati saya menjerit. Seperti yang saya tulis di atas, ada air mata yang siap merebak keluar dari celah rongga mata saya.

Thursday, August 03, 2006

Aik, Asisten Saya






Masih ingat, sekitar setahun lalu, mungkin lebih. Di teras sebuah rumah sakit swasta bilangan Cikini. “Itu siapa, Mer? Tanya seorang sahabat.
“Oh, Aik, asisten gue,” jawabku.
“wah lu dapet asisten dari kantor? Keren amat.”
Aku hanya tersenyum geli.

Saat lain, menjemput Libby di tempat kursus bergengsi, EF. Aik dikira akan mendaftar kursus, padahal ia hanya mengantar Libby. Aik cerita dengan geli pada saya.

Kali lain, di sela meeting saya mendadak ingat bahwa Libby siang itu pulang sekolah lebih awal. Saya menelepon Aik dari ponsel. Teman bertanya, “Ada apa Mer?”
“Hubungi asisten gue nih, penting.”

Lain waktu lagi, dalam sebuah acara larut malam di kantor teman, saya bergegas pulang lebih dulu. “Kasihan, Libby cuma sama berdua asisten saya di rumah,” jelas saya pada teman.

Siapakah Aik?

Seorang perempuan 33 tahun dengan penampilan resik, tubuh kurus mungil, rambut keriting panjang. Tutur katanya halus, khas Sunda. Sabar. Saya tak pernah tega memarahinya walau ada kesalahan. Ia pernah menikah ketika sudah tinggal setahun lagi lulus SMA. Suaminya selingkuh, kawin lagi. Padahal Aik sudah keguguran tiga kali demi menganugerahkan anak buat suami tercinta. Akhirnya mereka bercerai.

Dan di Depok saya bertemu perempuan bersahaja itu. Aik membantu saya. Meng-asisten-i kehidupan saya yang super sibuk. Telaten menghadapi kenakalan Libby. Mencuci dan menyetrika baju-baju kami dengan rapi. Menjaga kebersihan rumah kami. Memasak hidangan lezat setiap hari. Rela berpanas-panasan menjemput Libby pulang sekolah.

“Mama Libby, saya minta dua bulan gaji. Biar deh dipotong. Bulan depan ngga usah gajian.” Saya tak pernah tega menolak permohonannya.

Aik, asisten saya yang cantik, penyabar, rajin. Saya tidak pernah tega menyebut kamu "pembantu". Kata "asisten" lebih tepat dan terdengar manusiawi.

Aik, bisa apa saya tanpa kamu?

Wednesday, August 02, 2006

Age Doesn't Matter????

Makin bertambah usia, yang namanya perbedaan umur itu kian tak kentara ya? Pertanyaan itu menggantung di benakku. Zaman kecil dulu, malas banget bergaul sama yang umurnya satu-dua tahun di atas kita. Itu zaman SD kayaknya. Lalu pas sudah SMP, masih OK deh bertemen sama yang dua-tiga tahun di atas kita. Tapi kalau sudah lima tahun ke atas, rasanya risih. Ngga level.

Kelamaan pas sudah kuliah, rasanya ngga masalah berteman dengan yang enam-tujuh tahun di atas kita. Justru bangga. Sebab membuktikan kita sudah menyamai pemikiran mereka.

Belakangan ini, bersama seorang teman, saya baru sadar. Terlalu banyak bergaul dengan orang yang usianya jauh di atas kita. Sepuluh, lima belas….oops!

“Gimana mau dapet cowok ya, gaulnya ama om-om molo! Yang ada dikira kita peliharaan om-om!”

Whoaaaaa.. tidak! Mereka adalah teman-teman yang berasal dari komunitas nara sumber. Kebetulan kami adalah jurnalis. Jadi kami banyak berhubungan dengan nara sumber atau tokoh-tokoh yang jelas saja usianya jauh di atas angkatan kami. Menyenangkan sesungguhnya berteman dengan mereka. Memperluas wawasan, menambah ilmu, memperkaya pengetahuan tentang aneka ragam karakter dan gaya hidup manusia. Dan yang jelas menambah koneksi dimana-mana.

Ya, sangat menarik memang. Tapi kembali ke problem semula, kami jadi merasa “tua” sebelum waktunya. Bukan tua di pemikiran atau gaya, melainkan jadi dianggap tua oleh sekitar. Mungkin cara bicara kami terpengaruh. Atau pola pikir kami? Nevermind sih, kami jadi merasa dewasa dan makin matang...

Kadang saya kangen juga bertemu dengan teman sebaya, seusia. Hanya sayang teman-teman saya saat ini kebanyakan sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Ditambah Jakarta adalah kota yang macet, dimana jarak yang dekat saja membutuhkan waktu cukup lama untuk dijangkau. Alhasil, pertemanan kami lebih banyak berlangsung di SMS, chatting di YM atau email dan telepon. Untuk bertatap muka langsung harus disusun jadwal yang tepat dulu, itu pun dengan risiko mendadak batal karena ada urusan lain :(.

So, teman yang selalu siap "bergaul" bersama saya justru kalangan om-om nara sumber tadi. Sebab kami bisa bikin jadwal yang lebih seirama. Mengingat saya adalah jurnalis dan mereka adalah para tokoh. Jadi kesempatan bertemu itu selalu saja ada.

Maka jadilah saya dan sahabat tadi banyak berteman dengan orang-orang yang usianya jauh di atas kami. Hmmmmm....

Jadi terbayang, saat saya sudah nenek-nenek nanti, bergaulnya sama siapa ya? Masak sama mayat??? Whoaaaa!!!!

PS: Coba ya para Om-om nara sumber yang baik hati. Tolong kami dikenalkan dengan keponakan atau sepupu atau siapalah yang usianya sepantaran kami. Hitung-itung bonus atas pertemanan kita, gitu lhooo. Hihihi!

Tuesday, July 25, 2006

Become A Commander of My Self


A long long time a go
There was a girl who crazy about a book tittled "Interview with The History" written by Oriana Fallaci. That's a book contained by several interviews made by Fallaci with some big figures at the time as Gorbachev, Golda Meier, Yasser Arafat, Henri Kissinger...etc. That book she borrowed from the school' library. But now she never find that precious book that inspired her to become a journalist.
The girl is me :)
And Oriana Fallaci is a great great journalist woman from Italy that I admire so much!
Pitty, my boss never took me at politic post as her...
But no problem...to fight the right things for my country, my people, we always could do in many fields...science and tech just one of them..

Hmm terlalu mengada-ada ya? Klise ya? Setidaknya lebih baik daripada harus bermenyek-menyek dengan Kisah Cinta Saphira, postingan terdulu yang menjijikan itu.
Belakangan ini saya merasa sedang berdiri di atas tanah genting. Mungkin karena efek gempa di Jakarta beberapa waktu lalu. Juga berita-berita gempa sana sini , ditambah isu gempa bohongan.

Kita selalu butuh waktu untuk berpikir, merenung, berintrospeksi. Celakanya, saya terlalu banyak melakukannya belakangan ini. Bisa jadi efek PMS, kondisi tidak menguntungkan bagi kaum Hawa. Membuat emosi meletup seaktu-waktu mirip gunung Merapi.

Menjadi jurnalis adalah mimpi saya sejak lama. Mimpi dan cita-cita yang membuat saya dipojokan kerabat dan keluarga. Saya terlahir dari ayah seniman dan ibu serba bisa. Mereka berpisah sejak saya masih jadi janin. Dan beginilah saya, hidup tanpa komando siapapun kecuali diri sendiri. Hari ini, saya menjadi komandan rumah tangga saya sekaligus diri saya sendiri. Berusaha menjadi komandan revolusi seksual yang sementara masih berlaku di dunia virtual, blog ini.

“Lu mau jadi Che Guevara-nya cewek Mer?” Tanya seorang teman.
“Pengan kayak Oriana Fallaci?” Tanya yang lain.
Tidak. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri. Bukan perempuan menyek-menyek yang dikendalikan PMS dan hormon estrogen.

Actually, I very very hate and proud and love and hate and love and hate myself this time!!! Aaaarrgghh!!!

Sunday, July 23, 2006

Kisah Cinta Saphira


Romantic mode is on***

Tersebutlah seekor naga betina nan cantik, Saphira. Sisiknya berwarna biru gemerlap, kemilau saat ditimpa cahaya. Ia hidup di zaman naga sudah menjadi spesies langka di muka bumi. Sejak lahir, ia sangat jarang bertemu sesamanya.

Kemudian ia bertemu Glaedr, naga lelaki yang perkasa. Walau jauh di atas usianya, Saphira terpesona oleh Glaedr. Sayang, Glaerd tidak suka pada Saphira. Mungkin ia punya cinta lain. Mungkin ia sudah tak berminat dengan naga betina lagi.

Dan akhirnya Saphira kembali sendiri. Melanglangbuana kemana-mana. Entah kapan menemukan spesiesnya kembali. 10, 100 atau 1000 tahun lagi. Atau bahkan tidak akan pernah?

Saphira adalah naga Eragon dalam buku karya Christoper Paolini. Sudah kubaca sampai buku kedua beberapa bulan silam. Kisah epik nan unik semodel dengan Lord of The Ring. Dan peratianku justru terpusat pada kisah cinta Saphira. Sebab belakangan ini sedang mellow. Merasa aku adalah Saphira! Hiks!

Wednesday, July 19, 2006

Indahnya Persahabatan

“Indahnya persahabatan adalah: kita tidak harus menjadi sedarah untuk bisa sehati dan sepemikiran.”

Kalimat itu terngiang terus belakangan ini. Sepertinya ditulis oleh Torey Hayden dalam bukunya, Sheila, yang dipinjamkan seorang teman padaku.

Di tengah kehangatan dan kebaikan teman dan sahabat, aku merasa hidup itu dilimpahi syukur. Dan itu kuungkapkan pada dua sahabat tadi, hari ini.

Pernah buka www.rotten.com? Situs yang isinya gambar-gambar mengerikan mayat manuia atau potongan tubuh manusia. Aku membahasnya dengan seorang sahabat belum lama ini.
“Ada foto mayat membusuk di apartemen karena sakit ngga ada yang tau. Parah ya? Ada foto orang kena ranjau, mukanya tinggal separuh. Kalau sudah begitu, aku jadi mikir. Manusia itu hanya seonggok daging busuk jika nyawa sudah melayang.”
Sang sahabat tercenung mencernanya.

“Kalo udah gitu, gue jadi bersyukur banget masih dikasih napas sama Tuhan setiap bangun pagi. Dan ngga jadi daging busuk.”
“Iya Mer, kita harus bersyukur sama hidup kita. Ngga usah pengen macem-macem. Masih dikasih nyawa aja udah bagus,” jawab si sahabat.

Ada baiknya juga mengungkapkan rasa syukur itu kepada orang-orang yang kita inginkan. Simbol rasa terimakasih kita atas dukungan mereka. Ini hal yang sering kita lupakan. Ada rasa gengsi, malu, dan sebagainya. Padahal apa salahnya?

Saya tidak pernah punya figur seorang ayah sejak kecil. Dan belakangan ini saya menemukannya pada sosok seseorang. Tadi saya mengungkapkanya secara spontan. Reaksinya sungguh menakjubkan.

“Oh ya..tentu pahala bagi saya bila bermanfaat bagi orang lain. Dalam Islam disebut rahmatan lil alamin. Tuhan memerintahkan kita untuk jadi rahmat bagi sesama.” Begitu jawabnya bijak.

Saya justru tidak tahu pasti ayat dalam kitab suci agama saya tentang itu. (Plak! Merry jarang baca Injil!)
Indahnya persahabatan: kita tidak harus sedarah, seagama, untuk bisa sehati dan sepemikiran!

Sunday, July 16, 2006

Nadine dan Saya


Nadine dan saya adalah 180 derajad. Nadine 100 persen cantik. Saya 100 persen tidak. Walau nenek saya bilang saya adalah cucunya yang tercantik. Walau masih selalu digoda cowok iseng setiap melintas di jalan. Walau kata cowok pertama saya dulu saya adalah pemerpuan tercantik yang pernah dilihatnya. Yang jelas, sampai detik ini saya tidak pernah mengandalkan kecantikan saya untuk bertahan hidup.

Nadine dan saya adalah bumi dan langit. Tapi pekan kemarin kami sama-sama sial. Dan kesialan itu sama-sama kami alami di depan layar TV. Dan saya benci kamera TV! Sangat benci!

Kisahnya simple saja. Belum lama berselang menerima SMS dari seorang host. Diundang menjadi narasumber acara talkshow Teknologi Informasi (TI) di sebuah TV. Okelah, walau bukan pakarnya saya masih merasa bisa.

Hari H rekaman pun tiba. Menjelang mengudara, saya digiring ke ruang make up. Padahal saya sudah yakin wajah saya baik-baik saja tanpa tambahan coreng moreng itu. Namun demi menghormati si empunya acara.saya pasrah saja. Muka dipermak habis-habisan.

Hidung dibuat sedemikian rupa jadi mirip hidung Krisdayanti. Rambut di-hair spray. Kalau tak salah terakhir kali saya di-hair spray adalah 10 tahun lalu saat dipaksa pakai kebaya. Kulit wajah saya entah diapakan jadi rata, mulus, bak aspal arena Formula One Monte Carlo. Bagus sih, jerawat jadi tak kasat mata. Tapi kok rasanya wajah saya tambah tebal 10 cm ya??? Dan yang paling parah, alis! Ohmygoodness! Alis saya lebih mirip Jembatan Semanggi!

Begitu bercermin.Oh, no!!! Itu bukan wajah saya! Entah wajah siapa yang ditempelkan ke muka saya.

Semua kepercayaan diri yang saya himpun sekuat tenaga dari rumah, musnah sudah. Bagaimana mungkin saya tampil percaya diri dengan wajah yang bukan wajah saya? Di depan kamera TV pula. Akan disaksikan orang sekian banyak pula.

Dan terjadilah tragedy Nadine ke-2 itu! Walau tak sebodoh dan sememalukan polah kandidat Miss Universe itu, saya tetap merasa luar biasa tolol, idiot, goblok, moron , embisil dan sebagainya. Saya gugup, bicara terlalu cepat, dan ada satu kata yang sangat fatal saya ucapkan. Biarpun itu rekaman, tidak ada "cut" pada kesalahan kata. Luar biasa. Apa bedanya dengan tayangan "live"?

Nadine dan saya bagai kondominium mewah dengan kost-kostan alakadarnya. Ibarat kapal pesiar glamour dengan perahu sekoci. Tapi kami sama-sama dipermalukan di depan pesawat TV. Dan itu terjadi di pekan yang sama.

Thursday, June 29, 2006

Pelipur Lara itu Bernama Embroideries


Iya! Aku punya sepupu laki-laki yang selalu bilang dia hanya mau menikah dengan gadis yang masih perawan. Kemarin dia meneleponku, katanya dia mau berubah pikiran. Waktu aku mengucap selamat karena kupikir dia sudah sadar, dia bilang “Marji, aku berubah pikiran karena tidak ada lagi gadis-gadis yang masih perawan.”Itu petikan percakapan Marji, tokoh dalam buku Embroideries karya Marjanne Satrapi. Sebuah buku komik dewasa tentang percakapan khas perempuan. Gambarnya sederhana tapi lucu, mampu menggambarkan semua adegan secara pas.

Buku itu sudah menarik hati sejak pertama melihatnya di toko. Dan akhirnya seorang sahabat memberikannya sebagai kado pelipur lara setelah saya kena musibah seminggu silam. Dan manjur! Saya betul-betul terhibur karenanya!

Ada kisah tentang istri yang takut suaminya selingkuh. Ia menjalani operasi memindahkan daging di pantatnya yang besar ke payudaranya. Sang suami jadi tergila-gila padanya lagi. “Si tolol itu tidak sadar bahwa tiap kali ia mencium payudaraku sesungguhnya ia mencium pantatku!”

Tidak ketinggalan kisah sarkas perempuan-perempuan Iran yang dipaksa kawin muda dengan lelaki tua kaya raya berkedudukan tinggi. “Begitu aku melihat punggungnya yang berkerut, aku baru sadar aku tak mau menikah dengannya,”ungkap seorang tokoh tentang kisahnya yang menikah pada usia 13 tahun dengan lelaki yang 56 tahun lebih tua.

Selintas komik dewasa ini hanya hiburan pelepas stress. Tapi bagi saya, ada banyak hal tersirat dalam goresan tangan perempuan Iran yang menetap di Paris ini. Semua berkutat seputar perbincangan kaum Hawa tentang cinta, lelaki, uang dan seks. Tentang betapa hidup dan masyarakat serta tradisi seringkali tidak berpihak pada mereka.

Satu lagi adegan favorit saya: ketika sang nenek mengacungkan jari berteriak ,” BRAVO!” saat berkomentar tentang kebodohan suami yang menciumi pantat istrinya yang berpindah ke payudara tadi!

Hahaha!
Thanks berat, Ajeng!

Tuesday, June 20, 2006

Tamara sebagai Manusia

Wajah cantik yang biasanya tampil cool tersebut mendadak saja penuh ekspresi. Tidak biasanya seorang Tamara Blezinsky tampil emosionil di depan umum. Bahkan pada saat kasus perceraiannya, perempuan indo Cheko itu masih mampu “jaga image”.

“Kalau untuk urusan lain, saya masih bisa tahan. Tapi untuk urusan anak, saya tak tahan lagi,” ungkap Tamara diiringi isak tangis di sebuah acara infotainmen. Kemudian ia mengisahkan bagaimana kronologi pengusiran dirinya oleh mantan mertua saat ingin menemui anaknya Rasya.

Melihat Tamara saat itu, saya baru melihat artis sebagai manusia biasa. Tamara bukan sosok cantik nan ayu dengan peran-peran menawannya di sinetron. Ia hanya perempuan biasa. Ibu dari seorang anak yang coba dipisahkan. Saya seperti melihat diri saya sendiri beberapa tahun lalu, ketika Libby coba dipisahkan dari saya. Kisah yang saya alami mirip sekali dengan Tamara. Dilarang menemui anak kandung. Itu merupakan sisi terkelam dari hidup saya. Rasanya lebih baik mati daripada harus terpisah dari darah daging sendiri. Serasa kiamat dunia akherat.

Jadi ketika saya menyaksikan Tamara yang cantik itu tersedu sedan di layar televisi, saya amat sangat dapat paham sekali posisinya. Hal serupa terjadi ketika saya melihat Zarima yang anaknya diculik oleh lelaki yang bukan ayahnya.

Pembaca yang belum pernah memiliki anak, tentu menganggap tulisan ini terlalu mendramatisir, berlebihan, norak, kampungan, cengeng. Namun bagi para ibu sejati, tentu dapat memahami.

Memisahkan seorang ibu dari anaknya adalah perbuatan paling biadab di muka bumi. Lebih dari fitnah atau pembunuhan.

Para lelaki bisa saja dengan mudah tidak mengakui anak kandungnya. Lelaki gampang saja menelantarkan darah dagingnya. Lelaki silakan saja menyuruh pasangannya melakukan aborsi demi menjaga nama baik. Atau bahkan menjual atau membunuh bayinya. Bisa juga pelakunya perempuan.

Tapi bagi seorang ibu sejati, lebih baik mati ketimbang harus berpisah dengan anaknya!

Saturday, June 10, 2006

My "Weird" Point of View about Handsome Guy



Setiap orang mengalami perubahan cara pandang. Bahkan dalam hitungan menit dan detik. Demikian pula saya.

Cara pandang saya terhadap seseorang atau sesuatu selalu berubah dari waktu ke waktu. Berikut adalah cara pandang saya mengenai cowok ganteng, keren, kaya lagi pintar. Tipikal cowok idola sepanjang masa. Dan sayangnya, ternyata my point of view terhadap spesies ini sangat berbeda dengan mayoritas perempuan di muka bumi. Mungkin itu yang bikin saya "aneh".

Usia 10-15: Huh, Si Aji, cowok idola sekolah itu selalu cari perhatian dimana-mana. Gue juga dijadiin ajang TP (tebar pesona). Menjijikan. Memang keren sih, cuma kalo centilnya ngalahin cewek, mending gue pacaran sama tukang ojek kali!

Usia 16-20: Wow, tuh cowok keren abis. Pinter, ganteng, tajir, ngga ada matinya. Tapi malah makan hati kali ya kalo pacaran ama dia. Yang ada gue malah jadi “public relation” dia kali. Rugi!

Usia 21-25: Lumayan buat cuci mata, dijadiin temen buat dongkrak popularitas gue, sekalian bisa nebeng mobilnya, plus nyontek tugas-tugas kuliah. Sempet sih “ditembak” sama cowok model begituan, tapi kok gue malah ngeri ya. Jangan-jangan gue cuma mau dijadiin salah satu “piaraannya”.

Usia 25-30: Cowok ganteng, pinter dan tajir? Nggak penting banget deh. Yang penting sekarang adalah gimana gue dapat hidup tenang, tenteram, tanpa perlu merisaukan banyak hal, termasuk urusan cowok.

Sunday, June 04, 2006

Si Miskin Menyantuni Si Kaya?

“Saya adalah bandit. Saya hidup dari merampok orang kaya.”
“Saya seorang jentelmen, Saya hidup dari merampok orang miskin.”
(Man and Superman, A Comedy and Philosophy, Bernard Shaw)


Sadarkah anda bahwa orang kaya bisa hidup berkat orang miskin? Fakta menyakitkan itu saya alami baru-baru ini.

Akhir pekan kemarin saya mendapat SMS menyedihkan. Seorang bos side job saya menghentikan kontrak kerja. Alasannya tidak kuat lagi meng-hire saya. Telusur punya telusur, kebutuhannya membengkak karena seorang anaknya akan bersekolah di luar negeri. Hebat.

Di satu sisi saya bangga karena anak bos saya bisa sekolah di luar, sebuah kemampuan yang tak dapat dinikmati sembarang orang. Tapi di lain sisi, saya miris. Kenapa? Pendapatan yang saya dapat dari side job saya itu sangat membantu kepulan periuk nasi rumah saya. Berkat income tambahan tersebut, saya dapat sedikit menabung untuk kuliah anak saya kelak. Apa daya, income itu akan segera terputus.

Di obrolan dengan seorang teman saya mengeluh, “Demi anak bos sekolah di luar negeri, anak gue terancam ngga bisa kuliah..hiks!”
Si teman tertawa. Saya juga. Tawa sarkastis.

Orang miskin menyantuni orang kaya? Itulah yang terjadi di muka bumi ini. Rakyat kelaparan demi anak pejabat bisa belanja-belanji di Eropa. Pegawai kecil mengencangkan ikat pinggang agar istri bos besar dapat ke butik memborong gaun mahal dan emas berlian. Jadi ingat kasus Raja Louis ke berapa entah yang memaksa rakyatnya puasa agar ia selalu punya persediaan tepung buat dijadikan bedak.

Maaf, kali ini postingan saya bukan soal gender.

Friday, June 02, 2006

Proficiat, Halimah!


Saya pernah mencintai atau jatuh cinta dengan suami orang, pacar orang, kekasih orang, tunangan orang. Teman saya juga. Beberapa kawan pun demikian. Bahkan saudara saya demikian halnya. Yakin sekali, nyaris semua perempuan pernah mencintai lelaki beristri atau bertunangan.

Apakah dilarang mencintai, jatuh cinta, mengagumi lelaki yang sudah menjadi suami, kekasih, pacar, tunangan perempuan lain? Tidak. Sebab perasaan tak mampu dibendung. Cinta itu sama dengan benci. Bisa muncul tanpa alasan logis. Menghilangkan rasa cinta sama susahnya dengan menghapus rasa benci. Tidak ada perasaan yang salah.

Yang menjadi pokok masalah adalah, apakah kita akan melanjutkan perasaan itu ke tahap selanjutnya: mewujudkanya. Pada kasus Mayang Sari, ia mencintai Bambang Tri yang jelas sudah berkeluarga. Itu tidak salah. Yang salah adalah ketika Mayang tidak berusaha "tahu diri" menahan diri, menahan perasaannya dan berusaha mewujudkan rasa cinta itu. Kelamaan rasa itu berkobar, menjelma jadi rasa ingin memiliki. Muncullah niat buruk itu : merebut si lelaki dari empunya yang syah.

Sekali lagi saya ulangi, saya pernah mencintai lelaki beristri. Lucky me, saya tidak kebablasan seperti Mayang Sari. Saya tahu diri, bisa mengendalikan rasa itu dengan logika. Bayangkan saja kalau saya ada di posisi Halimah.

Kini yang menjadi masalah adalah apakah si empunya lelaki yang syah akan mempertahankan si lelaki atau tidak. Bukan tentang cemburu, otoritas dan sejenisnya, namun lebih kepada mempertahankan apa yang sudah dimiliki.

Walau saya pernah mencintai lelaki beristri, saya tetap menyerukan : PROFICIAT, HALIMAH! Pertahankan apa yang sudah kau miliki!

Thursday, May 25, 2006

Buku Bodoh dari Penulis Lelaki Bodoh



Belakangan ini saya sering menemukan buku aneh-aneh di toko buku. Saya lupa judul pastinya, yang jelas buku aneh itu misalnya berjudul "Kesalahan yang Banyak Dilakukan Perempuan dalam Berbisnis", atau "Bagaimana mengetahui Lelaki itu Tidak Benar-benar Mencintai".

Yang membuat saya geli adalah, judul-judul itu bodoh sekali. Mungkin yang bodoh memang penulisnya, atau penerbitnya, atau justru mereka sengaja ingin membuat perempuan terkesan sebagai mahluk bodoh. Sedemikian bodohnya sampai harus ada buku khusus tentang melakukan sesuatu atau menanggapi sesuatu.

Karena penasaran, saya membaca selintas salah satunya. Di satu buku dikatakan perempuan sering gagal dalam berbisnis karena jarang mengucapkan istilah-istilah ekonomi yang berkesan keren seperti "revenue", "BEP" dan sejenisnya. Dinasihatkan agar perempuan lebih banyak mempelajari istilah-istilah itu dan mengucapkannya pada even tertentu agar lawan bicara merasa terkesan.

Buku lain sangat remeh sekali isinya, yakni bagaimana perempuan mengetahui apakah seorang lelaki benar-benar mencintainya atau tidak. Hmm, kalau tak salah penulisnya adalah penulis Sex and The City. Di buku itu dibeberkan tanya jawab antara beberapa perempuan yang bingung mengartikan respon lawan jenis mengenai perasaan cintanya dengan sang penulis. Misalnya, "Mengapa dia tidak meneleponku?" atau "Mengapa dia tidak mengajakku menikah?". Yang menjengkelkan, penulis lelaki menjawab semua pertanyaan itu dengan nada yang merendahkan si penanya. Padahal jelas penanya adalah tokoh rekaan si penulis sendiri. Menggelikan!

Lalu kembali saya merenung. Kenapa para lelaki membuat buku-buku khusus untuk perempuan dan mengajari mereka bagaimana seharusnya berbuat atau bersikap. Apakah para lelaki itu sudah pernah menjadi perempuan? Atau justru mereka sesungguhnya perempuan?

Come on, tidak ada yang bisa memahami perempuan kecuali perempuan itu sendiri. Berhentilah menulis buku-buku bodoh dengan judul bodoh dan isi bodoh untuk perempuan. Kami sudah tahu apa yang harus kami perbuat tanpa harus membaca buku-buku bodoh yang dibuat oleh penulis lelaki bodoh.

Thursday, May 18, 2006

Tak Berjudul

..dan aku tak lagi mau berpuisi
tapi apa daya hidup begitu indah
sampai-sampai kunikmati debu jalanan menerpa wajah
dari jendela metro mini dan bajay
nyaris setiap hari

..dan aku pernah bersumpah, tak mau lagi bersastra
namun apa daya hari-hari teramat merdu
semerdu kaleng rombeng pengamen cilik yang dipukulkan ke tangannya yang kapalan
memekakan gendang telinga
sementara bau tengik bajunya merangsek ke lubang hidung

kurasa ini bukan puisi
sebab aku benci puisi
bukan pula sastra
sebab dunia sastra penuh pura-pura
jadi apa?
timbunan kata saja, barangkali

Thursday, May 11, 2006

The Strong Lady Behind A Man

Pagi tadi, pukul 6.15 pagi, aku melihat seorang ibu setengah baya sibuk mengangkati botol dan jirigen bensin. Banyak dan berat. Dari rumahnya menuju ke lapak penjualan bensin eceran di pinggir jalan. Itu bukan yang pertama kali, tapi setiap hari, setiap pagi.
Lapak bensin eceran itu milik suaminya. Pagi tadi aku iseng bertanya pada ibu kurus, agak tua tapi perkasa tersebut.

“Kok ibu yang ngangkuti bensin-bensinnya? Suami ibu kemana?”
“Masih tidur, neng. Jadi saya yang ngisiin jirigen, sekalian ngangkatin kesini. Ntar agak siang dia baru yang jualan.”
“Ibu bangun jam brapa tadi?”
“Wah, jam 3 juga udah bangun, neng. Masak, ngisiin bensin, bebenah. Bentar lagi mau nyuci ama ke pasar,” ia menjawab dengan senyum sumringah.
“Suami ibu kerjanya hanya jualan bensin aja kan? Ngga ada kerjaan lain?”
“Ngga neng. Itu juga cuma sampe siang. Udahnya ngaso di rumah. Saya jadi tukang cuci di tempat kos mahasiswa.”


Perbincangan sederhana itu membuat saya berpikir rumit sekali. Kalau saya tidak salah, penjaga lapak bensin itu seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Saya hapal karena tiap hari melalui jalan itu. Alangkah mirisnya, lelaki tinggi besar gagah kerjanya hanya jaga bensin eceran dan ngaso di rumah. Sementara istrinya yang kurus kering kerja keras mengurus rumah, mengangkuti jirigen berat, bangun jam 3 pagi. Belum urusan anak-anak.

Saya sangat salut pada ibu kurus itu. Betapa semangat dan tenaga luar biasa tersimpan di tubuhnya yang renta. Dan suaminya di mata saya tak lebih dari MONYET TOLOL PEMALAS TAK PUNYA OTAK DAN PERASAAN.

Jadi ingat kisah seorang teman lelaki yang berprestasi di kantornya. Dipuji atasan sebagai orang pintar membuat surat perjanjian dalam bahasa Inggris. Usut punya usut ternyata istrinya di rumah yang membuatkan surat itu. Istrinya waktu kuliah jurusan sastra Inggris dan langganan dapat IP 3,8. Si suami yang dulu hanya mahasiswa tolol jadi naik pangkat berkat jasa sang istri membantu pekerjaannya.

Hmmm mau tak mau ingat almarhumah Bu Tien, ex ibu negara kita. Setelah beliau wafat, karir politik suaminya, ex presiden Soeharto, terus merosot. Sudah banyak yang tahu bahwa di balik kejayaan Soeharto dulu, ada jasa Bu Tien yang sangat luar biasa membantu. Ibu manis berlesung pipit itulah yang sesungguhnya The Strong Lady Behind a Man. Tabik buat para perempuan luar biasa di seluruh dunia!

Thursday, May 04, 2006

Don't Hate Me Because I am Pretty!


Seorang teman menulis dalam blognya, “Apakah cantik itu menguntungkan?” Hmmm. Jadi ingat cerita nenek saya almarhum. Nenek yang saya panggil “mama” sejak kecil itu bertutur begini kira-kira: “Kalau ada dua gadis yang sama-sama pintar, satu cantik dan satu jelek maka yang akan sukses justru yang jelek.”

Saya yang waktu itu masih sangat belia nengerutkan kening karena heran. “Kenapa bisa begitu?”

Beliau menjawab, “Sebab yang cantik akan banyak mengalami godaan dari lelaki dan terganggu perjalanan karirnya. Sementara yang bermuka jelek tidak akan mengalami banyak godaan, sehingga pelajaran sekolah dan pekerjaannya akan berhasil.”

Saat itu saya mungkin masih berusia 10 atau 11 tahun. Tidak tahu apa yang dimaksud dengan “godaan lelaki”. Jadi saya hanya terdiam dalam kebodohan. Mengiyakan saja tanpa tahu pasti apa maknanya.

Selang beberapa tahun kemudian, ketika menginjak masa remaja, saya mengalami juga yang namanya “godaan lelaki”. Mulai banyak teman lelaki yang menawarkan jadi teman dekat. Melihat lelaki tampan pun saya terpesona. Konsentrasi ke pelajaran mulai terganggu. Itu terus berlangsung berulang-ulang sampai kuliah. Sebaliknya, teman perempuan saya yang tidak terlalu banyak “dilirik” lelaki tidak sebegitu terganggu seperti saya. Sekolah dan kuliahnya berjalan lancar tanpa banyak gangguan lawan jenis.

Bukan saya mengkategorikan bahwa saya cantik dan teman saya itu jelek. Sama sekali bukan. Mungkin saya beruntung mewarisi senyum manis mendiang nenek dan ibu saya. Mungkin itu yang membuat saya mengalami banyak “godaan lelaki” seperti yang dikatakan nenek saya tercinta dulu.

Hari ini, saya sudah berhasil melalui saat-saat sulit dimana “godaan lelaki” begitu berat rasanya. Sudah bisa bangkit dari keterpurukan akibat “godaan lelaki”. Thanks God!
Tapi kadang saya masih mengalaminya juga. Namun berkat kedewasaan dan kebijakan yang tumbuh seiring usia, godaan itu dapat saya netralisir sendiri.

So, apakah cantik itu menguntungkan? Kadang ya, kadang tidak. Tak heran kalau Eka Kurniawan menulis buku “Cantik Itu Luka”. Dan ada juga T-shirt bertulis, “Don’t hate me because I am Pretty!”.

Saya bilang cantik lho, bukan sexy. Hmm para penentang pornoaksi dan pornografi tidak membenci perempuan cantik kan? Hehehe.

Thursday, April 27, 2006

Pelecehan Seks Model Baru?

Kisah ini didapat dari seorang teman. Sebuah pengalaman memilukan . Kadang membuat saya menyesal dilahirkan sebagai perempuan.

Kemarin, 27 Maret 2006, seperti biasa saya pulang dari kerja di RSCM naik bus patas pulang ke kota. Kebetulan duduk agak depan kanan. Kira2 di dekat Kwitang, saya yang lagi ngantuk2 kaget mendengar kegaduhan di baris belakang. Semua penumpang
menengok ke belakang. Ternyata ada 2 orang bapak2 yang sedang
marah2 dan ngamuk terhadap 3 orang wanita yang duduk bersama di belakang.

Ketiga wanita ini masih muda, sekitar 25 tahun, duduk bertiga dengan dandanan mahasiswi, berkaus lengan pendek dengan celana jeans. Kedua orang yang ngamuk ini berusia sekitar 40 dan 50 tahun, berbaju jubah putih panjang bercelana kain longgar, berkumis dan berjenggot lebat dan menggunakan pici dan surban.

Mereka marah besar dan menuduh ketiga wanita yang duduk ini melakukan pornoaksi dan membuka aurat mereka, menyebabkan banyak pria melakukan dosa, dll. Sambil memarah mereka dengan campuran bahasa Indonesia, Arab dll dengan amat kasar
dan tak pantas. Terus menerus mengatakan murtad muted dan pujian pada Yang Di Atas.

Mereka akhirnya mengusir ketiga wanita ini di sekitar tugu tani ke luar bus. Sampai mereka turun di gang Petasan ke arah Mesjid Kebun Jeruk , mereka terus marah2 berdua, saling berdiskusi dengan suara garang dan keras sehingga terdengar ke seluruh bis, betapa sudah murtad dan tak bermoralnya Indonesia, betapa bangsa ini harus dicuci bersih, betapa semua orang sudah tak bermoral dan harus dikembalikan pada hakikatnya, dll.

Saya dan penumpang lain terus terang ketakutanjuga melihat kegarangan dua pendekar moral ini. Sesudah mereka turun, ramai kita bicara, rupanya kata penumpang ibu2 di
sekitarnya, 3 wanita tadi tak melakukan apa2, hanya masuk di Salemba dari
depan , melewati kedua bapak itu dan duduk ngobrol bersama, seperti biasa yang dilakukan orang2 di bus bersama rekan2nya. Tiba2 kedua bapak ini dari duduk di
depan bergegas ke belakang marah2.

Ibu2 di bis hampir semua merasa aneh, mereka semua rata2 berdandan sama, kaos lengan pendek, rok atau celana jeans namun mungkin karena sudah tua dan tak menggugah lagi, shingga dilepaskan oleh kedua bapak ini. Ini hanya kesaksian saya yang kebetulan
menyaksikan saja Bayangkan seperti biasa di Patas ke kota ini, yang naik bisa ber 5- 15 orang yang akan ke mesjid kebun jeruk itu, bagaimana bila mereka terus melakukan hal ini terhadap setiap perempuan yang menggugah mereka dan dianggap mereka membuka aurat dan tak bermoral. Tak lama pasti akan terjadi tindakan main hakim
sendiri
Kemarin itu ke3 wanita itu diusir dari bis, kalau para penegak moral itu, katakanlah ber 5-10, yang dimarahi itu sendiri atau berdua, dianggap sengaja merangsang siapa yang dapat menjamin tak terjadi tindakan kekerasan atau malah pelecehan seksual misalnya. Toh logika saya, para wanita itu sudah dipersepsikan sebagai perempuan bukan baik2, pasti tak ada salahnya dong di"apa apa kan"

Friday, April 21, 2006

Saya Perempuan dan Saya Bangga Karenanya!!!



A long long time a go, there's a girl who felt so shy to be a female. But nowadays, that girl became a lady who feel so proud for being a female.


Sore itu merambat malam. Baru aku melangkahkan kaki dari terminal Blok M yang semerawut, ke arah sebuah metro mini. Hari yang lelah setelah nonngkrong bareng teman-teman pengamen berambut gondrong. Aku bersepatu nike junggle, celana jeans ketat, kaos gombrong bergambar daun ganja dan tengkorak pemberian seorang teman. Rambut cepak dan gaya jalan sangat gagah.
Baru saja mendudukan pantat di bangku bis paling belakang, seorang cowok mencolek.
"Ada rokok?" Ia sok akrab.
Aku melengos ke arah jendela, berusaha tak peduli.
"Woi, ada rokok ngga?" Ia penasaran.
Aku masih cuek.
Kelamaan ia dongkol dan berujar, "Belagu amat, preman mana sih lu?"
Kehilangan kesabaran, aku berteriak dengan suara cempreng khas cewek, "Apa lu, beraninya lawan cewek?!"
Seisi bis menengok ke arah kami. Si cowok jelek tadi kaget karena tak menyangka aku perempuan. Dan ia langsung cabut menahan malu.

Itu kisahku beberapa tahun lampau, saat masih kuliah. Dan aku bangga kalau orang mengiraku sebagai cowok. Itu kurasakan sejak masa kecil dimana aku senang berdandan ala cowok. Orang kerap mengiraku Adi Bing Slamet kecil. Hihihi. Saya justru malu kalau terpaksa harus tampil dengan rok feminim pembelian ibu saya.

Hari ini, saya sudah lengkap sebagai seorang perempuan. Sudah pernah menikah dan melahirkan, dan kini membesarkan anak seorang diri. Apakah saya masih malu menjadi perempuan? Tidak sama sekali. Saya sangat bangga karenanya.

Mengapa? Hmmm, banyak sekali alasannya. Salah satunya adalah tingkah lelaki sebelah saya di bis yang memuakkan dalam perjalanan pulang kerja kemarin sore. Lelaki itu cukup parlente, rapi dan ganteng. Khas orang berpendidikan. Kesan pertama, saya lumayan tertarik. Tapi mendadak ia memasukan jari telunjuknya ke lubang hidungnya. Mengorek-orek upil. Dilakukan tanpa segan atau malu di hadapan saya. Ih, menjijikan.

Kalau saya lelaki, bisa jadi saya akan bertingkah menjijikan seperti itu. Untunglah saya perempuan!

Itu hanya segelintir sekali hal yang membuat saya bangga jadi perempuan. Masih ada miliaran alasan lainnya. Dan gadis yang dulu malu jadi perempuan itu kini sudah menjelma menjadi wanita yang sangat bangga dengan keperempuanannya!

Terimakasih, Kartini.

Sunday, April 16, 2006

Playboy...oh Playboy...



Di sela hujatan terhadap Playboy, ada satu Playboy yang saya suka. Justru saya berlangganan Playboy yang satu itu, yakni Playboy Kabel. Ini nama acara di SCTV yang tayang setiap sabtu sore. Kenapa saya suka dengan acara itu?

Playboy kabel adalah satu acara dimana pasangan kekasih diuji kesetiaannya. Misalnya Susi mengikuti acara itu untuk mengetes kesetiaan Tono pacarnya. Dirancanglah seorang cewek penggoda untuk menjebak Tono, katakan namanya Tini. Setelah tergoda, Tono diajak bertemu di suatu tempat dimana kamera tersembunyi mengintai. Apakah Tono setia pada Susi dan tidak akan terhanyut untuk selingkuh dengan Tini? Di sinilah letak serunya acara.

Dari sekian lama saya menonton Playboy Kabel, selalu saja pihak penguji adalah cewek. Korbannya selalu cowok. Dan 99 persen, cowok itu tergoda, berminat selingkuh, bahkan menjelek-jelekkan pasangannya di depan si cewek penggoda. Bisa ditebak, ending acara selalu berakhir "panas". Ada cewek yang menampar, meludahi cowoknya, menangis, menyiram minuman ke muka cowok, ketika mereka memergoki cowoknya selingkuh di depan pemirsa televisi. Ada juga cowok yang tidak terima sampai menampar balik ceweknya, memaki panitia acara dan banyak lagi.

Anehnya, kenapa tidak ada ya cowok yang berani menguji ceweknya dalam acara ini? Mungkin karena memang disesuaikan nama acaranya, Playboy Kabel. Kalau cowok mau menjebak cewek, berarti harus diganti jadi PLaygirl Kabel. Hihihi.

Tapi dari acara jahil ini terbukti sudah memang sebagian besar cowok mudah tergoda untuk selingkuh. Jauh lebih besar dari cewek.

Jadi ingat sebuah log chat dengan teman perempuan:
A: Cowok cenderung jadi playboy ya Mer, ngga kayak cewek.
M: Mungkin sebenernya cewek juga pengen jadi playgirl, cuma mikir dulu sejuta kali. Kalaupun ada, hanya cewek bermental baja aja yang bisa jadi playgirl.
A: Iya, kalau cowok jadi playboy, orang nganggep itu wajar. Tapi kalo cewek jadi playgirl, dianggap murahan.