Tuesday, September 19, 2006

Suatu Hari Nanti, Oriana...






“Oriana Fallaci meninggal di Florence.”



SMS itu datang dari Natalia, rekan jurnalis desk Internasional di mediaku. Singkat namun menyentak. Kebetulan aku sedang di luar kantor, belum sempat mengakses dunia maya.
Lalu kubalas, “Duh, belum sempet ketemu kok meninggal? Huhuhuhuhu!”

Siapa Oriana? Bagi orang Indonesia kebanyakan, nama perempuan Italia itu tidak banyak berarti. Buatku, amat sangat berarti!

Pertama mengenalnya melalui sebuah buku yang kupinjam dari perpustakaan SMP. “Wawancara dengan Sejarah” judulnya. Berisi kumpulan interviu perempuan kelahiran 29 Juni 1929 ini dengan sejumlah tokoh politik dunia terkemuka. Henry Kissinger, the Shah of Iran, Ayatollah Khomeini, Lech Wałęsa, Willy Brandt, Zulfikar Ali Bhutto, Walter Cronkite, Omar Khadafi, Federico Fellini, Sammy Davis Jr, Deng Xiaoping, Nguyen Cao Ky, Yasir Arafat, Indira Gandhi, Alexandros Panagoulis, Archbishop Makarios, Golda Meir. Luar biasa.

Sejak membaca buku itu, aku terinspirasi menjadi jurnalis. Sampai ketika lulus SMA aku tidak ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri ), tapi langsung mendaftar di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta yang memiliki Fakultas Jurnalistik. Target hidupku saat itu hanya satu, jadi jurnalis. Titik. Tak bisa ditawar lagi.

Hari ini, aku menjadi jurnalis. Sebuah cita-cita yang tercapai. Bukan pada media besar, melainkan media biasa saja. Yang pasti aku bangga dengan profesi dan mediaku, sebab memiliki independensi luar biasa dalam menulis. Tidak ada campur tangan siapapun. Tidak ada intimidasi. Aku bebas menulis apa yang kusuka sesuai dengan ideologiku. Kebetulan aku membidangi halaman Ilmu dan Pengetahuan, bidang yang sesungguhnya sempat kucintai waktu sekolah lewat pelajaran biologi.

Memang jauh dari bidang Oriana, politik. Hmmm…itu juga sempat jadi obsesi terpendam: menjadi jurnalis politik. Bahkan wartawan perang. Tapi ternyata takdir menentukan lain. Nevermind. Aku tetap bisa hidup dengan menulis.

Oriana meninggal 15 September 2006 kemarin di Florence, Italia, kampung halamannya. Ia menderita kanker payudara selam 15 tahun. Tidak pernah menikah. Adakah penderitaa terpancar dari sorot matanya? Tidak.

Suatu hari nanti, aku akan kutebar bunga di pusaran makammu, Oriana.
Suatu hari nanti.

3 comments:

alay said...

hebat

'nadia' is nadia said...

salut sama orang2 yang sukses karena usaha dan kerja keras sendiri. bener2 role model!

Anonymous said...

May she rot in hell...