Thursday, September 08, 2005

Maaf, Saya Tidak Berbakat Jadi Istri

Seorang teman memajang statusnya di Yahoo Messenger (YM), "My wife, my manager". Kutanya, "what's up?" Dia dengan bangga menjawab, "Istriku siapin semua keperluanku dalam rangka aku mau ke Ausiie. Pakaian, bekal makanan, semuanya deh, repot sekali dia, hehehe." Dengan tukas kujawab: "Istri apa babu tuh??". Dia diam, sepertinya tersinggung.
Tipikal egoistis suami. Mau serba dilayani, bangga kalau dilayani, tapi tidak sudi menerima fakta bahwa mereka memperlakukan istri seperti "babu". Bahkan babu alias pembantu rumah tangga masih lebih terhormat ketimbang istri, karena mereka tak perlu melayani kebutuhan seksual, masih digaji, bebas pacaran, dan masih punya jam kerja. Istri?? Jam 2 malam pun kalau suami ingin dilayani, harus pasrah. Menjijikan? Itulah faktanya. Bob Dylan pernah berujar dalam satu lirik lagunya: “Kita tidak bisa menjadi bijaksana dan jatuh cinta dalam waktu bersamaan.” Agaknya memang cocok sekali ujaran Paman Bob itu dengan keadaan para istri.
Dengan dalih cinta, kasih sayang, kadang perempuan rela diperlakukan sehina apapun oleh lelaki. Bahkan banyak kasus dimana istri dianiaya suami namun masih tetap terus ingin mempertahankan perkawinannya. Diselingkuhi ratusan kali, tetap berkeras mencintai suami. Dalihnya cinta atau "kasihan anak-anak". Sesederhana itukah? No way. Para istri terjajah sesungguhnya tidak mencintai suaminya. Mereka hanya terlanjur mengalami ketergantungan mental dan materi, tidak lebih. Kalau ada setitik saja keinginan untuk menjadi mendiri, indipenden, maka untuk keluardari lingkaran setan itu tidaklah teramat sulit.
Yang unik, di zaman dimana perempuan sudah bisa mencari nafkah sendiri, fanatisme terhadap pernikahan tiada habis-habisnya. Sinetron, film, novel, majalah, TV, koran, dan tentu manusia, selalu melukiskan bahwa pernikahan merupakan HAPPY ENDING. Kisah Cinderella dianggap mencapai klimaks kebahagiaan saat Cinderella menikah dengan sang pangeran. Hal serupa berlaku pada Snow White, Beauty and The Beast, Sleeping Beauty, Arok-Dedes, sampai sebagian besar sinetron cengeng di TV swasta kita.
Come on, guys...let’s see the all these facts! Dunia sudah kian padat dengan penduduk. Banyak anak kelaparan, tidak sekolah dan sebagainya. Angka kriminalitas juga kian melonjak. Belum lagi bencana yang tak ada habisnya. Akankah kita melahirkan manusia-manusia baru ke dunia yang tidak menyenangkan ini? Akankah kita tambah aneka kerumitan hidup itu dengan pernikahan yang hanya memperkaya konflik baru?
Saya tidak melarang orang untuk menikah. Sekadar menyadarkan bahwa menikah itu bukan suatu puncak kebahagian. Ada banyak kebahagiaan lain yang bisa direguk sebagai manusia. Berbagi dengan mereka yang kekurangan, membagi materi atau perhatian pada anak-anak yang tak diinginkan orangtuanya atau korban bencana. Itu jauh lebih membahagiakan daripada harus berkeras menjadi istri yang bernasib lebih buruk dari babu.

7 comments:

ira said...

stujuuuuuuu.. :D

makanya gue heran sama yg nikah muda.. "apa udah seyakin itu sama pasangan yg dipilih beserta segala konsekuensi yang nyata & belum keliatan?" :-|

edgonzo64491382 said...

i thought your blog was cool and i think you may like this cool Website. now just Click Here

Wicak said...

hmm.. mer, tulsan lo bikin gw mikir.

gw kayaknya harus lebih hati-hati dan konsisten menempatkan istri gw sebagai partner dan bukan manajer/babu seperti yang lo bilang.

eric said...

Tidak semua suami seperti itu..
Saya bangun jam 5 pagi, masak air panas buat bayi, cuci piring dan gelas, buat susu dan nyiapin sereal buat anak ..
Kami berbagi tugas...dia ngurusin bayi semalaman,popoknya, serta rumah tangga. Saya ngurusi 2 anak lainnya yang satu SD,satunya Tk. Anter jemput mereka sekolah, setelah itu kekantor, terkadang kepasar sendiri belanja dapur kalo istri lagi sakit.

Jadi bagi saya tergantung orangnya apakah mandiri atau anak mami...

Anonymous said...

Jadi Istri ataupun Suami bukan cuma mengandalkan bakat. Butuh kerja keras dan ketekunan untuk itu. Hasilnya bukan orang lain yang menentukan, tapi pasangannyalah yang memberikan penilaian berhasil atau tidaknya...

vio - chan said...

dibutuhkan "pengertian yang mendalam" dalam suatu pernikahan.....

Anonymous said...

menikah itu ada pilihan hidup seseorang. sharing keburukan dari pernikahan anda adalah masalah anda yg tdk bisa digeneralisasikan thd arti perkawinan.

saya yakin masalah yg keluarga anda bukan berarti 100% kesalahan san suami. diamana ada sebab dan akibat.

"dunia yang tidak menyenangkan ini"? tergantung dari perspective mana.

merr....., saya melihat anger dan disappointment dalam hidup anda sehingga menjadi pesimis dalam hidup. anda melihat sesuatu itu menjdai subjektif dan negatif.

pengalaman burk yang kita alami itu adalah palajaran hidup dan harus nya kita tanggapi dgn positif.
kalau anda berpikir seperti ini terus, anda akan jalan ditempat. no way out

namanya juga hidup pasti ada masalah baru. kalau gak mau ada masalah, ya...ke laut aja

saya bicara seperti ini karena saya telah melewati masa yg tersulit dalam hidup saya. istri berkhianat dan abuse anak saya. jadi tidak hanya pria maupun wanita yg berprilaku seperti hewan. tergantung tiap individu manusia. rajin berdoa atau shalat tdk menjamin org itu beriman