Thursday, January 03, 2008

Mencintai Tubuh Sendiri...

Sad but true. Sebuah eksperimen dilakukan. Anak-anak berkulit hitam dihadapkanp ada dua jenis boneka, hitam dan putih. Lantas ditanyakan: "Boneka mana yang menurut kamu cantik?"

Si anak usia 4 tahun menunjuk boneka putih. "Lalu boneka mana yang mirip denganmu?" Si anak menunjuk boneka hitam dengan ragu dan ekspresi sedih.
Semua anak yang terlibat dalam riset tersebut berpendapat bahwa boneka kulit putih itu cantik, boneka hitam itu jelek. Yang memilukan adalah anak-anak Balita itu sadar diri bahwa dirinya jelek dan harus menerima kenyataan pahit itu.

Yang menohok hati saya adalah, usia belia yang masih polos itupun sudah mampu membedakan mana cantik dan mana jelek hanya berdasarkan warna kulit. Usia yang begitu muda, baru mengenal dunia, tapi sudah bisa paham bahwa berkulit hitam adalah kutukan. Saya menangis menonton acara Oprah Show hari minggu kemarin itu. kenapa anak-anak yang begitu muda sudah menjadi rasis terhadap dirinya sendiri? Bagaiman jika sudah dewasa? Apakah mereka akan jadi Michael Jackson yang berusaha keras memutihkan kulitnya dan memancungkan hidungnya?

Saya barus sadar bahwa saya pun pernah menjadi korban rasis diri sendiri, dan sejumlah teman saya juga. Di saat SD, masih ingat betul bagaimana teman-teman saya menggesek-gesekkan ujung kerah baju seragam ke dagu mereka. Ada yang sampai luka dan berdarah. Tujuannya? Agar dagunya berbelah cantik. Buset. Untung saya ngga kena demam gila itu. Paling saya pernah berusaha keras memencet-mencet tulang hidung agar lebih mencuat mancung. Yang ada tulang hidung saya jadi sakit dan memerah. Lantas saat puber, saya dan beberapa teman dekat perempuan sempat mengutuki diri kenapa terlahir jadi orang Indonesia yang pesek, hitam, dan bermata biasa saja.

"Coba kita jadi orang bule, kan cantik. Rambut pirang menyala, kulit putih, hidup mancung, mata biru indah. Bete gue jadi orang Indonesia!"

Ditambah saat itu kalau tak salah dunia film dan sinetron sedang dilanda demam artis indo seperti Tamara Blezinsky, Sophia Lacuba, dan sejenisnya. Kalaupun ada wajah Indonesia asli, tetap dengan stereotip cantik yang berkiblat ke luar, yakni rambut panjang, hidung mancung, tubuh langsing.

Saya juga pernah mengutuki kenapa wajah saya sensitif, selalu berjerawat, dan bekas jerawatnya tak bisa hilang. Lantas rambut saya itu pernah jelek sekali, kucai, susah diatur. Saya sempat menyiksa diri dengan rol rambut, hair dryer, obat jerawat super keras, memenceti jerawat sampai berdarah, sudah mirip perilaku sado masokis saja. Intinya adalah, saya pernah membenci tubuh dan wajah saya sendiri sebab tidak dianugerahi wajah cantik, kulit mulus dan proporsi tubuh indah. Saya juga selalu cemburu pada teman-teman saya yang cantik dan memandang mereka dengan penuh kebencian seolah mereka punya salah besar telah dilahirkan sempurna.

Saya ingat juga pernah tak mau sekolah sebab rambut saya dipotong kependekan dan saya merasa diri saya adalah monster buruk rupa yang lebih baik mati saja daripada harus keluar rumah dengan rambut hancur lebur itu.

Dengan mengingat semua kegilaan di masa muda itu, saya baru sadar kenapa suntik botox laku keras, operasi plastik terus dikejar-kejar walau menghabiskan uang tak terkira.

Thanks God, kegilaan saya sudah berakhir. Hari ini saya sangat bersyukur dilahirkan sempurna sebagai perempuan sehat jasmani rohani, dengan organ tubuh yang bisa berfungsi baik. Terima kasih saya sudah dianugerasi senyum manis, wajah ekspresif, mata yang tak perlu memakai kaca mata atau lensa kontak, bibir yang tak butuh disuntik agar lebih sexy, kulit yang membalut daging dengan baik sehingga tidak kena infeksi, kaki yang kuat untuk mengejar bis kota, dan otak lumayan berisi sehinngga hidup saya bisa terus berjalan baik.

Saya memang bukan Barbie atau Miss Universe, tapi saya cinta pada tubuh dan wajah saya sendiri. Semoga semua perempuan di dunia juga merasa begitu. Amin!

11 comments:

Wondering Bioinformatician said...

Saya pernah nonton sebuah acara di TV, yang bercerita tentang kisah seorang presenter terkenal di Amerika (saya lupa namanya siapa). Alhasil, sang presenter dan istrinya merasa dirinya sudah kurang ganteng dan cantik, karena umurnya sudah diatas 50 tahun keatas. Wajah mereka sudah mulai digerogoti oleh keriput. Apa yang harus dilakukan? Mereka menghubungi dokter untuk mengatasi masalah kriput ini. Alhasil, dokter memberikan suntikan botox pada mereka berdua. Namun, beberapa hari kemudian, sang pasutri ini menjadi lumpuh dari leher kebawah. Langsung dibawa ke dokter lain, ternyata dosis botoxnya terlalu pekat/banyak. Mereka menjadi korban malpraktek. Sementara apa yang terjadi dengan sang dokter? Dia menjadi lumpuh juga, karena menyuntik dirinya sendiri dengan botox yang over dosis. Tragis. Untungnya pasutri itu sudah melewati terapi, sekarang sudah bisa berjalan. Namun sang istri belum bisa berbicara, si suami sudah.
Kasus serupa yang pernah dibahas di Larry King Show adalah mengenai kematian ibunya Kanye West. seorang rapper terkenal di US. Ibunya mengikuti operasi plastik (liposuction). Namun terjadi malpraktek, dan meninggal.

Bune Laras said...

I love my body. Terutama kalau lagi sehat. Tp kalau lagi pusing berat kayak sekarang, pengennya, kepala bisa dicopot dan ditinggal di rumah.

parzidbreakz said...

gw cinta diri gw...dan gw nggak peduli gw nggak putih, kurus dan sebagainya. gw adalah gw, hargai gw begini, kalo nggak sono deh ke laut aja!

Ilma said...

..Usia yang begitu muda, baru mengenal dunia, tapi sudah bisa paham bahwa berkulit hitam adalah kutukan. ..

..Ibunya mengikuti operasi plastik (liposuction). Namun terjadi malpraktek, dan meninggal.

==>Ckckck kasian.

Kunderemp said...

bujangan, gendut, jerawatan, dan tidak merasa perlu operasi kecantikan apapun.. :p

byprast said...

"Coba kita jadi orang bule, kan cantik. Rambut pirang menyala, kulit putih, hidup mancung, mata biru indah. Bete gue jadi orang Indonesia!"


Orang bule sendiri penginnya kayak orang Asia yang kulitnya agak gelap. Eksotis katanya. :D

goestaf said...

Hehehe....tapi tetap aja ada sentuhan artistik kan? (bedak, dan kawan2nya)... hehehe.... But its a nice story, anyway

chandra said...

untung gue dilahirkan sebagai lelaki. jadi gak perlu repot2 hehehe...tapi memang sih, sekarang ini dunia sudah terdoktrin bahwa kulit putih itu lebih cantik (terlepas dari isu rasial). Gue sempet cekikikan sendiri waktu ngeliat iklan pemutih kulit. Di situ di seorang cewek cantik seolah curhat, bahwa dia gak pernah dapat cowok. Tapi setelah memakai produk itu, dalam dua minggu dia bisa dapat banyak cowok. Wah...kalo bener2 efek produknya seperti itu, kita para cowok mesti berjibaku dong berebutan cewek. Gak seru ah...

'nadia' is nadia said...

i dont care bout looks, yg penting performance ;)

daus said...

peneliti dimaksud pernah muncul (lupa kapan) di Oprah. Hmm, parah ya keadaannya.

site said...

It can't work as a matter of fact, that is what I consider.