Tuesday, July 01, 2008

Gombalita!

"Ini dengan Mbak Merry? Hallo Mbak, masih di desk IT? Ooohh apa??? Sudah bukan jurnalis??? Ohhhh.."
*Nada kecewa lalu buru-buru pamit tutup telpon.*

Takut rugi pulsa, Neng? Lho kan biaya pulsa sudah dimasukan ke dalam management fee ke klien vendor?

Seorang teman bersaksi, sejak bukan jurnalis, "teman-teman" (ingat, teman dalam tanda kutip) PR Agency menjauh perlahan tapi pasti. Dan begitu kembali jadi jurnalis, mereka kembali menyerbu.

Public Relation (PR) ? Fake smile. Fake friends. Begitu seorang karib beropini.

Memang betul 99,99999999999999%!

Ngajak jalan, ngajak nonton, ngajak makan, hang out or whatsoever. Semua dibebankan ke management fee klien lah. Dengan pamrih akan ada tulisan bagus soal kliennya. Lomba nulis jurnalistik? Lomba foto jurnalistik? Ah, kedok tipu-tipu zaman batu! Door prize? Goody Bag? Rayuan basi!

One on one intervieu, sekian puluh juta masuk kantong dia, jurnalis cuma dikasih T-Shirt dan coffee break. Dandananmu wangi, gincumu tebal, berkat tulisan manis para jurnalis. Senyummu palsu di balik gincu bau...demi agar jurnalis meliput dan sengsara menerjang macet jalan raya demi gol komisi dan bonus proyekmu.

Gombalita!

17 comments:

orangbiasa said...

Model sistem kapitalis?

Anonymous said...

hi merry,jangan digeneralisasi lah mbak.ada juga yang engga seperti itu.lagian kalo mo main profesional2an ato bisnis2an,ya no hard feeling toh ya. yang penting sama2 bisnis lancar. bisnis media kan cari berita, bisnis mereka untuk fasilitasi narasumber supaya terekspos di media. ya simbiosis mutualisma aja.toh suka gak suka kita2 yang jurnalis sering terbantu juga ama mereka kalo lagi nyari bahan berita.

Arif Pitoyo's Journal said...

Tersinggung nih yeeeee...santai aja deh. Anonymous nih yee...takut memperlihatkan identitas. Hehehe.

Dudung said...

Buat Anonymous yg pasti PR yg tersinggung: JURNALIS NGGA BUTUH PR! KITA BISA WAWANCARA LANGSUNG KE NARASUMBER. KALIAN CUMA MAKELAR. GET LOST KALIAN SEMUA! BAHAN BERITA NGGA USAH LU JUAL! DASAR LINTAH LU!

-step- said...

yoi, kenapa musti anonymous yah? eniwei, yg merry bilang ada benernya kok, terus terang aja. ada jg yg gw gak setuju, secara gw skrg di pr.

tapi semua org berhak pny pendapat toh? :D

NotoriousBudi said...

Iya tuh orang2 PR! cuman baik kalo ada maunya!

Isabel said...

wow,menarik sekali tanggapan2 terhadap komen saya sebelumnya.baiklah,I'm back by popular demand,dan krn banyak yg mempertanyakan kenapa saya anonymous,well cause that's the fastest way saja.toh saya juga tidak punya blog dan walopun punya e-mail address,saya tidak merasa perlu share karena saya hanya blogwalking.komentar dan opini adalah hal yang biasa di dunia cyber,bukan. what matters is the opinion right.kecuali saya masuk kesini hanya untuk maki2 dan melecehkan berbagai macam pihak. sayang sekali mas dudung,konklusi anda yang cerdas dgn mengira opini yang tidak sejalan keluar dari pihak yang tampaknya dianggap musuh bersama,ternyata tidak tepat.honestly speaking,saya tidak cukup punya kesabaran untuk menjadi PR yang tampaknya harus nerimo dengan perlakuan2 beberapa media yg kadang2 suka sombong dan tidak menghargai profesi mereka juga. karena itu saya lebih memilih profesi lawyer saja,gak ribet,gak perlu basa basi,straight to the point saja. saya bukan lawyer litigasi,jadi saya tidak berhak beracara di pengadilan karenanya tidak terlatih untuk basa basi juga. saya memiliki sahabat2 wartawan di media besar di sini,termasuk bbrp koresponden media asing juga, but I also have some friends yang menjadi in house PR ato di agency,jadi saya berusaha objektif bahwa hal2 semacam ini baiknya tidak digeneralisasi.sama seperti halnya budaya amplop dikalangan media jangan dipukul rata dilakukan oleh semua jurnalis. jadi mari sebut saja orang2 yang melecehkan suatu profesi itu sebagai oknum. btw, my name is Isabel.just in case you guys want to know. =)

Gabby said...

To Isabel: Saya rasa tuliasn Merry bukan generalisir, melainkan mencerminkan apa yang dia dan nyaris 99% dialami para jurnalis. Tanya saja ke teman2 jurnalis anda apakah ada PR yg benar2 murni berteman dengan mereka bukan karena azas kepentingan? Nonsense!!!

Ishadi S.K said...

Ada yang bisda tolong saya...please saya pusing dengan masalah ini.

Salam

Ishadi S.K.
08161887900

>
> On Tue, 01 Jul 2008 04:08:17 -0700, "Retno.S.Renggana"
> said:
> > Ada yang bisa bantu?
> >
> > --- On Wed, 21/06/08, Ishadi SK wrote:
> > Dulu aku pake tapi udah aku tinggali,sekarang dipakai
> > eks-karyawan Trans TV yg udah dipecat.Tiap hari dia bikin yang
> > aneh-aneh.Kita udah biasa namun semakin hari semakin komplek
> > masalahnya.Aku sudah frustasi buanget.Tolong dong.Akhirnya kan
> > akan tahu siapa yang benar dan siapa yang bathil.Saya minta
> > bantuan Mastel untuk menyelesaikan masalah ini...tolong.
> >
> > Salam
> >
> > Ishadi S.K.
> > 08161887900
> >
> >
> > PERS Release
> > Saya seorang karyawan TransTV dipecat oleh TransTV dengan proses
> > yang melanggar Peraturan Perusahaan dan UU Ketenagakerjaan pasal 156
> > pada tanggal 3 Februari 2006 dengan cara diminta mengundurkan diri
> > dengan dakwaan menitipkan absensi ke seorang office boy.
> >
> > Saya tidak dapat memperjuangkan hak-hak PHK saya seperti
> > termaktub dalam UU Ketenagakerjaan karena terbentur dengan UU No 13 Tahun 2003
> > tentang Tenaga Kerja dan UU No 2 Tahun 2004 tentang PPHI yang hanya
> > memberi waktu (kadaluarsa) selama 1 tahun bagi kasus PHK.Undang undang
> > itu telah menyiratkan bentuk diskriminasi hukum terhadap kaum pekerja,buruh
> > dan karyawan yang merupakan salah satu pilar ekonomi bangsa..
> >
> > Pemecatan itu juga telah menghambat perkembangan organisasi
> > profesi Asosiasi Enjiner Broadcast Indonesia (AEbi) yang didirikan pada
> > 28 Oktober 2003 dengan Akta Notaris Amriyati A Supriyadi SH No
> > 232/27Mei 2005 yang mempunyai visi misi kedepan mengembangkan teknologi
> > digital broadcasting di Indonesia.Managemen TransTV telah membungkam saya
> > untuk mengembangkan organisasi profesi itu dengan cara yang tidak
> > elegan dan jauh dari nuansa intelektual.
> >
> > Saya kemudian mendapat fitnah kejam dari seorang karyawan TransTV
> > di milis AEbi (Asosiasi Enjiner Broadcast Indonesia) pada 1 Maret
> > 2007.Kemudian terjadi CYBER WAR di milis-milis yang membuka
> > jerohan TransTV terutama behind the story kasus perebutan kanal 43
> > antara TransTV dan TPI di Purwokerto.
> >
> > TransTV mulai gerah dengan perang tersebut sehingga pada tanggal
> > 4 Februari 2008 Direktur Utama TransTV Ishadi SK mengirim seorang
> > koresponden news TransTV dengan membawa seseorang yang mengaku
> > Intel Polres XXXXX bernama YOYOK ke rumah saya di Jl Mojopahit XX
> > XXXXX.
> >
> > Persoalan internal yang ingin diselesaikan oleh managemen TransTV
> > dengan cara represif dan intimidasi dengan melibatkan oknum aparat
> > sangat disayangkan apalagi yang membawa oknum aparat itu adalah seorang
> > jurnalis.Hal ini telah mencoreng citra jurnalis dan
> > professionalisme polisi di Indonesia.
> >
> > Saya kemudian mempersoalkan masalah diatas dan mendapat tanggapan
> > dari KOMNAS HAM melalui surat No 751/PMT/IV/2008.Dalam penyelidikan,
> > Polisi Resor XXXXX tidak menemukan daftar anggota intel bernama
> > YOYOK.Namun saya tetap yakin bahwa orang tersebut adalah oknum
> > aparat.Sekarang kasus ini dalam penanganan Polisi Resor XXXXX dan Polisi Sektor Kota
> > XXXXX.
> >
> > XXXXX, 1 Juni 2008
> >
> > Salam
> > Imam Wahjono
> > Sekretaris Jenderal AEbi
> >
> > Tembusan YTH:
> > • KOMNAS HAM di JAKARTA
> > • YLBHI di JAKARTA
> > • LBHS di SURABAYA
> >
> >
> >
>
>
>
> --
>
>

arya said...

Kalo gitu mulai sekarang stop nerima amplop, merchandise, dll dari PR. Sesekali mereka yang kita bayarin makan, jadi kita gak disangka miskin banget sampe bisa melacurkan diri demi tshirt.

Kalo nanya dan minta bahan juga yang "lumayan pinter" lah. Sekalian menyaring PR yang kita temuin. Kalo mereka memang punya kapabilitas menjawab, kita wajib menghormatinya sebagai sumber informasi. Kalo dia keliatan bego, langsung aja minta ketemu atasan atau kliennya.

Dengan begini, dia kita bikin stres dan gak pede. Semoga aja dia tersadar, bahwa profesi itu bukan cuma modal gincu sama makan-makan.

Kalo kitanya pinter dan menguasai masalah, kita juga akan berhadapannya dengan PR yang bagus. Kalo kerjaan kita nunggu press release sama rundown acara mah, yaa ketemunya sama yang bergincu-gincu itu.

qe said...

Hi mba Merry, seneng aja baca polemik yang mba tulis ini. Saya sampe buru2 ngeliat phone book saya sekedar nge sms temen temen jurnalis yang uda ga berkecimpung di dunia jurnalisme. Ngingetin saya bahwa berteman itu bukan cuma pas butuh. Sama seperti pendapat yang saya ajarin ke mahasiswa saya, bahwa kePRan itu adalah sustainable relationship, ga putus beli. Ok mba keep writing. btw saya Wike, praktisi PR hotel yang baru kemaren sore ;P

nes said...

PR agency yah?

generalisasi spt ini jg membingungkan... Tidak semua PR adalah PR Agency tapi semua PR Agency adalah PR..

Anonymous said...

PR agency or PR or whatsoever, emang modalnya cuma senyum2 dan baju parlente kan? Trus kalo bukan PR Agency, tapi misalnya PR internal sebuah perusahaan yg gelapin pajar or jual produk gak mutu, berarti bagus gitu?

maulani said...

Hi mbak,

Sebenarnya lebih tepat di bilang oknum deh mbak, soalnya banyak juga PR perusahaan yang nilep dana dan menjadikan wartawan alasannya.

Mulai dari jatah amplop untuk wartawan sampai dana karokean wartawan. Dan hal itu terjadi di perusahaan swasta maupun milik pemerintah.

Tks

Trista said...

Nah Maulani, bagus deh semuanya sekalian saja dibuka. Jangan cuma orang ribut dgn wartawan amplop, toh PR/humas tukang tilep juga banyak. Semua profesi sama saja kok. Bedanya PR/humas bersembunyi di balik baju mahal dan make up tebal saja. Justru makin glamour penampilannya, makin layak dicurigai. Kalau wartawan kan dari dulu ya gembel2 aja penampilannya, apa adanya. Lebih jujur dan blak2an. Hehehe...

hanny said...

Hi, Mbak Merry :)

Kebetulan saya juga bekerja di sebuah konsultan PR, dan punya cukup banyak teman-teman wartawan. Dalam arti teman "betulan" lho, ya ;)

Ada yang berteman dengan saya karena dia ternyata juga suka menulis fiksi, sama seperti saya, jadi kita sering bertukar pikiran dan bertukar cerpen seraya ngopi-ngopi. Ada juga yang berteman karena sama-sama blogger, dan sering kopdar bareng. Atau karena pernah travelling bareng; kemudian dari situ jadi merasa dekat.

Saya pikir, mungkin apa yang Mbak Merry tulis di sini adalah berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi, tak apa juga, karena tentunya pengalaman setiap orang tak selalu sama :) Dan saya harap Mbak Merry akan mendapatkan pengalaman yang lebih baik di waktu mendatang...

Akhir kata, apapun profesi yang kita jalani, semoga kita dapat menjalaninya secara jujur dan profesional. Amin! :)

uxy said...

Hi mer pak kabar?
dah luamaa yak gw ga maen ke blog ini...

untuk profesi PR yg lo sebut sbg fake smile fake friend, kerjaan gw lebih parah lagi... sales and marketing... untuk lobying gw rasa PR and marketer ga ada beda nya, sama2 coba membangun hub baik untuk tujuan2 tertentu (baca keuntungan perusaahaan) dalam bisnis.
kebayang ga betapa fake nya muka gw di depan client and customer...
senyum manis, ngobrol asyik di dalem hati penuh target2...

buat gw itu bukan sekedar fake, tapi professional.

lobying berupa hang out, candaan dan obrolan asyik, hadiah2 kecil, dinner etc itu adalah bentuk usaha dan perjuangan kita untuk mencapai target yg di bebankan perusahaan yg emang harus kita capai. demi fee dan bonus.

Pas lagi entertaint, buat orang yg gw entertaint mungkin itu adalah hal rileks untuk pelepasan stress, tapi buat gw, itu adalah murni KERJA yg menambah stress...

fake smile? iya banget


tapi fake friend???... wait..
tergantung definisi friend buat tiap orang...
yg jelas, keramah tamahan n senyum gw emang ada tujuan nya, bisnis.

kalo urusan lobying, seyum and keramah tamahan gw di artikan sebagai usaha untuk jadi teman boleh aja... tapi yah itu emang udah template kalee, masa ngelobi pake muka asem?

udah hmpr 9 tahun gw di sales n marketing, seorang teman (atau rekan bisnis?) pernah bilang, ibu uxy mah kalo mau roject ngajak maen. gw sih jawabnya gini : kalo saya maen doang ga dapet Project saya bisa di pecat pak.
Realistis aja lah..
kalo yg di entertaint berharap lebih (misal jd temen or whatsoever) yah usaha juga donk, mungkin perlu mengentertaint balik?

maksud nya gini, kalo emang di luar urusan bisnis emang asyik buat hubungan asyik itu di lanjutkan, yah tanggung jawab nya kedua belah pihak donk, kalo tadi cuma satu pihak yg mati matian jungkir balik untuk menjaga hubungan baik (bisnis). so kalo jd hub temen berarti yg harus jaga ke dua belah pihak, kalo putus yg salah dua dua nya donk.. kan hub teman itu keuntungan berdua kan?

urusah lobying buat gw adalah jug bentuk usaha yg berdarah2, iya kalo key person yg kudu di deketin n entertaint orang nya asyik?..
kebayang kalo orangnya nyebelin?.. huek, makan ati!

tapi yah profesional aja, seperti halnya jurnalis yg nguber berita, sopir angkot nguber penumpang, dokter nguber kesembuhan pasien nya, guru nguber murid (???) yah gw as sales, nguber project.
apa pun bentuk usaha penguberan itu yah tinggal di sesuaikan tohk?


cheers,
uxy