Sunday, December 11, 2005

Depok, Perancis, dan Bis Patas Reguler 43

Pagi ini, di atas bis patas reguler 43 Depok-Pasar Baru, mendadak ingatan saya terbawa ke Perancis. Mungkin karena saya duduk depan pintu, sehingga hawa dingin pagi Depok menggugah kenangan ke negeri nun jauh itu.

Saya hanya tersenyum geli mengingat perjalanan Nice-Cannes saat meliput GSM World Forum 2005 Februari lalu. Cornel, rekan dari Jakarta Post menebak kira-kira apakah kita masih sempat mampir ke Monaco sebelum ke airport untuk terbang ke Singapura. Ia menggunakan perkiraan waktu orang Jakarta yang terbiasa berlangganan macet. “Di Jakarta, jarak yang sama Cannes-Monaco bisa makan waktu 2 jam karena macet!” Sang supir yang asli Perancis pun bingung. Sebab dari cannes-Monaco hanya ditempuh kurang dari 30 menit saja olehnya.

Syarifah, rekan jurnalis dari Malaysia ikut tercengang. Ia bertanya, berapa lama waktu yang saya butuhkan dari rumah ke kantor setiap pagi. Saya jawab, “Dua jam dengan macet.” Ia juga tercengang. Lalu ia bertanya, “What kind of car do you have?” Saya tegaskan apa adanya bahwa saya naik bis, tidak punya mobil. Dan ia kembali tercengang. Mungkin di benaknya ia pikir jurnalis di Indonesia memiliki penghasilan cukup untuk beli mobil, bahkan rumah. Saya hanya tersenyum getir saat itu.

Pagi ini, di atas patas non AC yang penuh sesak di tengah kemacetan Pasar Minggu yang bau sampah pasar, ingatan saya melayang ke Perancis. Saya pikir, Syarifah dan supir Perancis dulu pasti akan lebih tercengang andai mereka tahu betapa rongsoknya bis yang saya tumpangi saat ini. Hohoho!

12 comments:

atta said...

belum lagi kalo mereka tahu; bis dan angkutan umum bisa naikin penumpang di sembarang tempat. hohoho

Anonymous said...

inilah indonesia...jelek dan bagus negara kita juga..hehehe. Tapi capek juga ya kalo punya negara jelek melulu. Eh tumben ngga ngomong soal gender mer?

Vendy said...

mau bilang gimana lagi.

jibigood said...

numpang tanya mbak....

ada ga sih negara yg lebih bobrok n lebih melarat dari indonesia??...negara mana aja tuh....

shinich1 said...

weo.... bis nya aja udah rongsok... apalagi pemerintahannya ... bobrok abiz(tak bisa terucapkan dengan kata kata)

@nt said...

Setidaknya ...
masih ada udara dingin di pagi hari,
yang hampir sama dengan Perancis.

Surya said...

Di Indo, bis kota bobrok karena yg ngurusin maintenance nya adalah para lelaki.
Coba kalo yg ngurusin perempuan, pasti bersih, indah, harum, dan nyaman :D

room807 said...

Pada ngiri yah ama negara2 maju...??
apa enaknya sih..?? semua serba di atur...ga bebas....
Bagi gw di Indonesia tetap lebih baik...gw bisa berlaku seenaknya..bisa turun naik bis sembarangan,kadang adu urat leher ama kenek masalah ongkos.
Bisa ngerokok seenaknya...
Pokoknya I dont want to be dispatced to abroad for long time anymore...

shinich1 said...

keren room807.... sep sep

junawardi said...

hmmm...berantakan ya indonesia.
eh nggak juga loh. Di desa aku udaranya seger banget, alamnya juga asri tetangga2 pada kenal semua, udah gitu kalo mau makan buah tinggal ambil aja di halaman dan kalo di halaman sendiri nggak ada bisa minta ama tetangga :), dan kemacetan?? kata itu cuma buat air PDAM yg jarang kami butuhkan soalnya sumur2 masih ada dan airnya juga BERSIH.

Syafrudin said...

Salut buat mer yang masih memilih naik Patas 43. Jadi ingat waktu masih tinggal di Margonda, langganan naik Patas 52. Soal kemacetan, kalau saya baca, sebetulnya semua sudah jelas, tidak mungkin tidak macet selama mobil pribadi berlebihan dan parkir sembarangan. Salah besar kalau yang disalahin angkot atau jalan yang kurang lebar atau jalan tol kurang banyak. Jumlah angkutan umum di jakarta sangat sedikit kalau dibanding mobil pribadi. Jalan di luar negeri juga nggak lebih lebar dari jalan di jakarta. Jalan tol dalam kota jakarta juga sudah lebih banyak di banding beberapa kota di luar negeri. Untuk siapa coba kalau pajak mobil dan tarif parkir murah, yang punya mobil atau yang naik angkutan umum ? Untuk siapa coba tarif jalan tol murah, yang semobil isinya satu orang atau yang satu bis isinya seratus orang ? Untuk siapa coba kalau uang rakyat dihabiskan buat memperlebar jalan raya, untuk sikaya atau simiskin ?
Solusi untuk Jakarta ya sudah jelas: Pembangunan angkutan yang berpihak pada angkutan umum 1) naikkan pajak mobil, tarif parkir, dan tarif jalan tol; yang menentang kenaikan ini bisa dipastikan orang kaya, anteknya orang kaya, atau orang miskin yang belum sadar. 2) pembangunan dan pemeliharaan jalan raya dan jalan tol seharusnya 100% ditutup dari pajak mobil, tarif parkir, dan tarif jalan tol. 3) anggaran lain yang selama dipakai untuk membangun dan memelihara jalan dan jalan tol, dialihkan untuk memperbanyak KRL, monorel, dan busway; juga untuk subsidi tarifnya agar terjangkau oleh semua kalangan. 4) Kalau ada jalan sempit, akses jalan diutamakan untuk angkutan umum, kalau perlu mobil pribadi justru dilarang masuk, bukan sebaliknya. 5) Masyarakatkan bersepeda (lebih ramah lingkungan), buat jalur khusus sepeda di semua jalan; di beberapa jalan perlu diatur: khusus kendaraan tak bermotor, bukan sebaliknya. 6) Masyarakatkan berjalan kaki (lebih menyehatkan), perbaiki pedestrian; kalau di depan pintu gerbang, trotoar mesti tetap datar, mobil yang ngalah jadi naik turun, bukan sebaliknya. Dalam hal angkutan umum, saya salut pada Sutiyoso, maju terus untuk proyek busway dan monorelnya. Kalau untuk subway, sebaiknya jangan dulu ya.

Anonymous said...

kiss me!!!!!!!!!