Monday, August 04, 2008

Komitmen dengan Akses Internet? No, Thanks!


Banyak teman bertanya, saya mengakses Internet pakai apa? Saya selalu jawab: kalau tidak wifi kantor, wifi gratisan, kalau kepepet ya EDGE (setingkat di atas GPRS dan di bawah 3G, sebab memang ponsel saya yang terkoneksi dengan bluetooth ke Macbook baru memungkinkan itu), atau yah paling praktis ya warnet.

Lalu ditanya lagi, "Kok ngga langganan aja? Indosat IM2 bagus lho," atau "Flash aja Mer, lumayan," atau "XL 3G yang unlimited murah," atau "Indosat kan udah ada yang 3,5G," atau "Mau coba Wimode?" atau "Speedy kayaknya OK," dan seterusnya.

Maaf, sama halnya dengan urusan cinta, urusan berkomitmen dengan salah satu provider Internet ini harus saya pikir masak-masak dulu. Untuk tahu sebuah makanan itu enak atau tidak, kita tidak selalu harus memakannya. Tanya-tanya saja dulu ke orang-orang yang pernah memakannya lebih dulu. Itu yang saya lakukan pada sejumlah provider dunia maya itu.

Yang jelas seorang sahabat pernah kecewa dengan XL 3G yang katanya was wus was wus ternyata pas dibawa ke rumah tidak dapat sinyal. Atau TelkomFlash yang kabarnya secepat kilat namun suka eror dan sinyalnya timbul tenggelam. Bahkan dua teman sekerja walau waktu daftar sampai ngantuk2 menanti, eh sudah lebih seminggu belum dikabari nasibnya. Wimode dari Esia juga makin langka lagi penggunanya, mengokohkan anggapan produknya ngga laku dan mengecewakan.

Lantas kalaupun ada yang konon kabarnya sudah 3,5G, tetap saja saya ragu sebab rumah saya masuk gang. Sinyal Indosat yang mengacung tegak seperti hasil karya Mak Erot di pinggir jalan raya, begitu masuk gang dimana rumah saya bersemayam, dijamin langsung letoy. Itu kan artinya saya harus beli rumah di pinggir jalan raya dulu atau kompleks elit sebelum daftar entah itu 3,5G atau 4G atau bahkan 10G sekalipun???? Duit buat beli rumahnya apa minta dari bapak moyangnya pemilik provider? Gundulmu!

Jadi buat apa saya berlangganan Internet? Wong warnet dekat rumah bertaburan bagai jerawat anak pubertas. Wong wifi gratisan juga tersedia di sana-sini. Wong kalau mau online dari laptop dan EDGE tetap saja ngga bisa dari rumah (sebab sinyal EDGE atau GPRS-nya impoten), jadi saya harus cari posisi PEWE dulu.

Selama kondisi dodol itu masih eksis, maaf saja, saya belum berminat mendaftar ke salah satu provider dodol itu juga. Kecuali kalau ada yang rela mendaftarkan dan gratis, lain cerita. Saya benci segala jenis birokrasi, sebab serba ngga jelas, ngga ada kepastian dan jaminan (eh ada sih kepastiannya: DUIT PASTI MELAYANG). Pantas saja bisnis percaloan dan korupsi marak di negeri ini, wong layanan publiknya masih dodol mardodol.

Nanti deh kalo sudah jadi konglomerat, saya sogok salah satu provider Internetnya agar saya dikasih keistimewaan dalam hal layanan. Kalau perlu saya beli sahamnya semua, biar Internet saya monopoli seorang diri sampe muntah2 bandwidth. Viva korupsi! Viva suap!

5 comments:

Michel S. said...

Salah satu masalah dengan berlangganan apa pun di Indonesia: permintaan atas dokumen-dokumen yang tidak ada hubungan sama sekali dengan layanan yang diminta.

Nomor KTP, itu masih layak diminta. Tapi kartu keluarga? tsk. Invasi privasi, dan tanpa manfaat sama sekali, mengingat adanya ponsel prabayar dan wifi hotspot gratis.

PS nice Warhol picture!

Didik Wicaksono said...

Heee... saya aja mesti bela-belain ke kantor di hari Minggu buat bisa buka email :D Secara jarak ke kantor bisa ditempuh dengan jalan kaki 5 menit.

Wondering Bioinformatician said...

Marburg adalah kota yang sangat 'ndeso' di Jerman. Dengan penduduk kurang dari 100.000, bisa dibayangkan betapa 'kurang gemerlapnya' Marburg dibanding kota lain di Jerman, misalnya Frankfurt, Hannover, apalagi Munchen dan Berlin yang metropolis. However, di desa seperti ini, akses internet yang kami gunakan, yaitu T-mobile, berjalan sangat mulus..lus..lusss....Kami hanya perlu paspor dan nomor rekening bank untuk pendaftaran. Dalam satu atau dua hari, webstick langsung dikirim. Sekarang kontrak 2 bulan kami dengan T-mobile mau diputus, karena O2 memiliki tawaran harga dan fitur yang lebih menarik...Gimana nih Telkom, XL, Esia, dkk? Modal kalian saya yakin mungkin lebih besar dari T-mobil, O2, atau Vodafone. Tapi kok di desa seperti di tempat saya, akses internetnya mulus, sementara kalian gagal memberikan akses internet di kota besar seperti Jakarta......Saya tidak yakin kalo karena masalah SDM, orang Indo terkenal sangat jago untuk IT. Mungkin orang Jerman bisa jadi kalah kalau soal skill IT. Soal infrastruktur, saya percaya mestinya vendor besar Indonesia bisa membangun hal itu, dengan modal yang cukup. Apa masalahnya? Sederhana...karena paradigma Indonesia adalah: 'Kalau bisa dipersulit dan mendapatkan uang, mengapa harus dipermudah? Kalo dipermudah kan kita ndak dapat fulus'. Paradigma ini yang membuat daya saing kita di tingkat global, jangankan itu, tingkat asia jadi hancur lebur. Bandingkan dengan Singapur, Malaysia, dan Thailand yang kondisinya lebih baik dari kita..Quo vadis Indonesia? hehehehe

viky said...

walah mbah ini. Ceritanya pajang baget, but not bad ceritanya.

Ahmad Wahyudin said...

Info penting harap disebar luaskan. Solusi tepat membangun rumah untuk daerah yang rawan gempa bumi. Sudah terbukti saat gempa 5,6 SR mengguncang jogja ketika rumah-rumah tembok banyak yang hancur rumah jawa yang terbuat dari kayu model
RUMAH JOGLO,
RUMAH LIMASAN,
RUMAH KAMPUNG, tetap berdiri kokoh dan tidak mengalami kerusakan yang berarti. Kami menjual dan membangun kembali rumah jawa knock down dari kayu jati lawas, melayani bongkar pasang dan paket pengiriman luar kota serta melayani paket pembangunan rumah jawa siap huni