Tuesday, October 14, 2008

“Orang Miskin” Tak Pusing dengan Krisis Ekonomi!

Siapa paling menderita jika krisis ekonomi mendera? Kalau versi Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick, krisis ekonomi global dapat sangat merugikan penduduk miskin di negara-negara berkembang. Bank Dunia menaksir harga pangan dan energi yang tinggi telah mendorong 100 juta orang lagi ke lembah kemiskinan tahun ini saja.

Agaknya Zoellick tak pernah turun ke lapangan seperti saya, sesama rakyat jelata Indonesia, negara yang katanya berkembang tapi kerap disandingkan dengan sejumlah negara miskin Afrika dalam sejumlah literatur yang saya baca. Sebab nyatanya, orang miskin itu tak kena dampak apapun atas krisis ekonomi global. Siapa rakyat miskin yang saya maksud? Mereka adalah gelandangan, pengemis, pengamen, anak jalanan, yang tak punya tempat tinggal, tak sekolah, dan entah bagaimana masa depannya.

Adakah artinya nilai rupiah anjlok atau bahkan terjadi devaluasi sekalipun bagi mereka? Apakah jika dolar turun maka mereka akan bisa kuliah dan berbelanja di butik mahal? Apakah jika rupiah anjlok, mereka akan mati bunuh diri? Tidak. Bagi kalangan orang seperti mereka, krisis atau tidak krisis sama sekali tak ada artinya.

Siapa Si Miskin?

Justru yang kena dampak paling heboh dalam situasi krisis adalah kalangan menengah. Kalangan yang dibilang kaya tapi masih naik turun bis kota dan tersiksa macet, terancam copet dan penodong. Tapi tak bisa disebut miskin, sebab mereka bisa mengecap pendidikan tinggi, memiliki laptop dan ponsel, sesekali menikmati Starbucks. Ini yang saya sebut sebagai kalangan “nanggung”.

“Kalau orang kaya, saat krisis begini gampang saja, tinggal alokasikan kekayaannya ke properti atau emas atau dolar, agar bisa selamat. Nah kita, tabungan cuma beberapa juta doang, boro-boro mau beli properti atau emas, diambil sekarang juga langsung habis,” keluh seorang teman yang masuk golongan nanggung itu.

Mungkin kita perlu lebih menjelaskan apa yang dimaksud dengan “orang miskin”. Pada pidato kenegaraan 18 Agustus lalu, Presiden SBY dengan bangga mengatakan bahwa populasi rakyat miskin sudah bisa ditekan. Saya kok seperti mendengar lawakan Srimulat, sebab faktanya anak-anak jalanan yang berkeliaran mengamen di jam sekolah kian membludak. Copet, preman, pengangguran, berita kriminal, kian marak menghiasi hidup keseharian.

Saya tertawa geli membaca tulisan di bawah ini.

Bank Dunia dan Bappenas mencatat, penduduk miskin turun separuh sejak 1997, sampai 2003. Pada 2003, Bappenas mencatat, jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan tinggal 17,4% dari total orang miskin sebanyak 37,3 juta orang. Survei Bappenas ini memakai standar internasional, yaitu penduduk yang mempunyai pendapatan kurang dari US$ 1 per hari, dan patokan harga-harga yang dipakai adalah saat krisis pada 1998.(Tempo).

Kenali “Musuhmu”

Jadi, siapa saja yang berpendapatan lebih dari 1 dolar AS sehari adalah orang kaya? Hei, 1 dolar AS itu kini hanya sekitar Rp. 9000-10.000. Ok, kita bulatkan saja jadi Rp.10.000. Jika dikalikan 30 hari artinya Rp.300.000. Berarti Bappenas mengategorikan mereka yang berpenghasilan Rp.301.000 per bulan adalah orang kaya? Apakah orang Bappenas tahu bahwa untuk mengontrak rumah sederhana saja paling tidak butuh Rp.250.000. Sisanya Rp.50.000 harus cukup untuk makan sebulan dan itu artinya dia sudah kaya? Apakah orang Bappenas mau digaji Rp.310.000 dan dianggap sudah kaya??? Serendah itukah kualitas hidup manusia Indonesia?

Bagaimana pemerintah bisa memperbaiki kondisi rakyat kita, jika mendefinisikan orang miskin saja tidak sanggup? Lalu bagaimana dengan gelandangan dan pengemis di kolong jembatan yang bahkan bisa jadi penghasilannya lebih dari Rp.300.000 sebulan tapi tetap tidak masuk kategori miskin versi pemerintah?

Kabarnya kemiskinan adalah musuh bersama yang layak diperangi. Tapi untuk mengenali musuh itu sendiri saja pemerintah tidak mampu. Ironis!

referensi:
www.voanews.com/indonesian/2008-10-13-voa7.cfm
www.tempointeraktif.com
Foto:arydwantara.files.wordpress.com


Artikel ini merupakan bentuk partisipasi Netsains.com dalam Blog Action Day 15 Oktober 2008 bertemakan: Stand Against Poverty. Untuk mengetahui info kegiatan ini lebih lanjut, silakan kunjungi http://www.standagainstpoverty.org/ atau http://blogactionday.org

8 comments:

Dipo said...

Salam kenal...
Makin lama, makin gigit...
bersyukur bgt aq jd orang ga nanggung2 amat, sekaligus ga miskin2 skl...

planetmiring said...

Jadi inget salah satu petuah Rasulullah SAW: Jika kemiskinan itu bernyawa, maka akan segera aku bunuh dia. Coba pemerintah memiliki semangat seperti ini, bukan malah memberantas kemiskinan dengan cara berantas orang miskinnya. Cape dweh...

Wondering Bioinformatician said...

Ya susah lah kalau bicara kemiskinan itu apa atau gimana. Jika kriteria materi yang digunakan, lalu apa parameternya..dsb..dsb. Gila bener memang Indonesia, benar2 kapitalis tulen! Orang harus jadi sangat kaya, atau sangat miskin, jika mau hidup di Indonesia. Hal yang sama juga terjadi di Amrik, dimana untuk ukuran negara maju, kesenjangan sosialnya sangat tinggi. Kasus yang berbeda terjadi di eropa, dimana gap antara kaya dan miskin cenderung sempit. Justru jika orang semakin kaya di Eropa, akan dipajaki habis-habisan sampe melintir. Masih segar diingatan, ketika artis Johnny Hallyday dari Perancis, akhirnya memilih pindah ke Swiss, dan model Laetitia Casta akhirnya pindah ke Inggris, karena tidak tahan dengan pajak di Perancis. Nah...pajak itu lah yang digunakan untuk mensubsidi yang miskin atau pengangguran. Di Jerman, dikenal adanya 'arbeitlosgeld', yaitu allowance bulanan bagi orang yang di PHK oleh kantornya. Jadi sampe dapat pekerjaan baru, dia masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal demikian tidak terlalu menjadi penekanan di Amrik. Lihat saja kota New York yang borjuis, namun ada daerah slumnya, misalnya di Bronx. Indonesia...lebih parah...Dengan dana seadanya, meniru amrik yang kapitalis..Jadinya kacau balau....Jadinya Indonesia lebih kapitalis dari Amrik. Sebenarnya, kalau mau mengikuti garis kebijakan seperti eropa, itu bisa saja. Itulah ideal yang diinginkan Founding father kita, terutama Bung Hatta, yang belajar dari ekonomi koperasi di Skandinavia..Hanya mungkin orang Indo merasa lebih keren kalo jadi 'American Calboy' mungkin.....hax1000 dasar Indo! :P

AnaKJaLaNaN said...

Kehidupan itu adalah suatu kenikmatan bagi orang yang menghargai dan menyadarinya.Dinamika hidup tak ada bedanya dengan perjalanan hidup itu sendiri, siang menuju malam atau sebaliknya tergantung dari mana kita memulainya. Kedewasaan hidup adalah proses seperti halnya kehadiran kita di bumi ini, dari bayi hingga mati, tergantung keberuntungan takdir kita, apakah melewati kesempurnaan proses tersebut. Kedewasaan diri untuk terus belajar memahami arti hidup dan kehidupan adalah mutlak seperti halnya kita ingin makan makan nangka nggak afdol kalau kita kena getahnya, karena disitulah nikmatnya yang utuh. Sebuah kejayaan atau kemerdekaan akan lebih utuh bila kita melalui proses keterjajahan, juga bila kita ingin menikmati kekayaan dari sisi materi, lebih afdol bila kita juga menikmati kemiskinan, karena kekayaan dan kemiskinan tidak beda seperti siang dan malam, panas dan dingin, laki-laki dan perempuan yang menjadikan dinamika hidup ini lebih berarti.

Rama Sejati said...

Artikel yang bagus !

Barangkali artikel "orang pusing" berikut juga berguna bagi rekan rekan lainnya. Klik -> Orang Pusing ?

Anonymous said...

Intercombase - Business translation Documentation any subject more than 140 languages. Agricultural Translation, Energy Translation, Pharmaceutical Translation, Scientific Translation - Summit professional work at a reasonable cost .

Malay Translation - [url=http://www.intercombase.com]Turkish[/url]

Ahmad Wahyudin said...

Info penting harap disebar luaskan. Solusi tepat membangun rumah untuk daerah yang rawan gempa bumi. Sudah terbukti saat gempa 5,6 SR mengguncang jogja ketika rumah-rumah tembok banyak yang hancur rumah jawa yang terbuat dari kayu model
RUMAH JOGLO,
RUMAH LIMASAN,
RUMAH KAMPUNG, tetap berdiri kokoh dan tidak mengalami kerusakan yang berarti. Kami menjual dan membangun kembali rumah jawa knock down dari kayu jati lawas, melayani bongkar pasang dan paket pengiriman luar kota serta melayani paket pembangunan rumah jawa siap huni

Ahmad Wahyudin said...

toko online, online shop, gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, pemutih tubuh, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
crystal x obat keputihan, obat asam urat, obat diabetes,

daun binahong
gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
gluco x, gluta drink, glutagen, glutacola, glucogen, moment, pemutih wajah, cara memutihkan wajah
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual,
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual,
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual.
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual
rumah jawa, rumah joglo, rumah dijual,