Sunday, December 09, 2007

Saya Tidak Membenci Laki-laki

Akhirnya, setelah mampu memanage kesibukan yang agak luar biasa dan sejumlah euphoria akibat mampu menelurkan ide-ide yang bercokol di kepala, saya kembali mengu-update blog ini!

Beberapa teman ternyata merasa kehilangan tulisan satir saya mengenai feminisme. Hmm, saya awalnya menolak disebut feminis, sebab nyaris semua orang yang sudah membaca blog ini langsung menuduh saya feminis. Bahkan feminis radikal.

"Kamu masih benci laki-laki?" Tanya seorang teman perempuan dari Lombok sana di Yahoo Messenger.

Tidak, saya tidak membenci mahluk laki-laki. Sebagian besar teman baik saya adalah laki-laki. Proyek terbaru saya, Netsains.Com, mampu digulirkan justru karena dukungan teman saya yang mayoritas laki-laki. Untuk apa saya membenci mereka? Saya justru berterimakasih karena laki-laki selalu mampu menempatkan posisi saya sedemikian terhormat. Temah-teman lelaki selalu membantu saya berpikir jernih dalam menghadapi persoalan. Mereka bisa menghadirkan perspektif logika penuh rasio yang kadang saya tak punya.

Lantas, kenapa arsip blog ini penuh berisi cacian terhadap laki-laki? Bukan laki-laki yang saya caci, melainkan perilaku sebagian besar laki-laki yang menjijikan, tidak adil, dan cenderung meremehkan kaum Hawa. Perilaku itu kerap terjadi di bawah alam sadar lelaki. Dan saya ingin mereka memperbaikinya.

Saya ingin mereka melihat perempuan bukan sebagai objek, melainkan subjek yang setara dengan mereka. Bukan hanya karena kami memakai gincu, berpayudara dan berpantat lebih besar, maka syah saja digodai, disiuli, dikomentari seenak jidatnya. Kami sudah terlahir begini dan harap lelaki perlakukan kami dengan hormat, sama seperti mereka menghormati perempuan yang sudah melahirkannya.

"Tapi sudah bawaan naluri, Mer. Lelaki ngga bisa kontrol diri liat cewek cantik atau sexy," kata seorang teman lelaki.

Hahaha! Perempuan juga sering terpana melihat cowok ganteng dan tubuh tegap sempurna. Tapi kami tidak pernah menyiuli, mencolek-colek, bahkan memperkosa kalian bukan?


6 comments:

Wondering Bioinformatician said...

Satu-satunya yang harus kita lawan adalah budaya patriaki, yang memang didesain secara politis untuk memarjinalkan perempuan dan menguntungkan pria. Dalam perspektif ini, gender tidak dilihat lagi semata-mata hanya dalam perspektif biologis, namun juga kultural. Bisa dilihat di parlemen kita misalnya, berapa persen perempuan yang sudah jadi anggota parlemen misalnya? Jika mayoritas mutlak parlemen dikuasai pria, bagaimana perempuan memperjuangkan aspirasi politiknya? Beberapa negara eropa menerapkan kuota bahwa anggota parlemen harus 30 persen wanita. Lalu fenomena kawin paksa, yang masih sering terjadi di Indo ini, yang jelas sangat merugikan perempuan. Sewaktu sekolah dulu, kita selalu diajarkan bahwa suami itu mencari nafkah, lalu istri itu menjadi ibu rumah tangga. Suami dalam perspektif ini menjadi kepala keluarga. Namun sekarang tidak seperti itu lagi. Sering kali perempuan yang mencari nafkah, dan pria menjadi 'bapak rumah tangga'. Siapa yang jadi kepala keluarga kalau seperti ini? Ya jelas sang istri! Jika pendapatan istri lebih lebih besar, maka akan menjadi seperti demikian. Memang pendidikan kita masih ada item2 yang bias gender, selain masalah yang disebut diatas itu. Saya sendiri awalnya kaget...karena ada teman pria saya yang terang-terangan mengaku sebagai aktivis gender. Namun sekarang saya pikir pilihan mereka masuk akal, karena mereka memperjuangkan keadilan sosial.

pataka said...

Seorang teman saya yang memang benar2 kaum sinister terhadap feminisme, berkata:

"Bagaimana kami mau mengakui kesetaraan kalian (perempuan) kalau dalam segala hal masih saja merengek dan meminta kepada kami (lelaki)?"

Padahal kaum lelaki sebenarnya juga tidak kurang rewel dan manjanya kepada kaum perempuan :)

Yah, saya pribadi selalu hanya memberi pengingat, feminisme atau maskulinitas pada akhirnya harus dan akan tetap tunduk kepada kodrat. Jadi, sebenernya yang perlu dibenahi itu adalah dalam hal interaksinya, bukan pahamnya.

Semua agama ternyata menawarkan itu sebagai solusi bagi bias yang terjadi. Perbaiki interaksinya. Kenapa kok seperti itu? Ya karena agama memandang bahwa bias itu menghalangi penyatuan kedua unsur yang seharusnya saling melengkapi yaitu perempuan dan lelaki. Dan ego keduanya kemudian meninggikan masing2 posisi tanpa masing2 mau mendekat.

Padahal, kalau mereka menyatu, maka sempurna :) Dan kalau sudah menjadi satu, maka identitas gender hilang, tak ada lagi. Yang ada hanya kemanusiaan dan cinta kasih yang demikian luasnya ...

Kreshna Iceheart said...

Merry Magdalena said: Hahaha! Perempuan juga sering terpana melihat cowok ganteng dan tubuh tegap sempurna. Tapi kami tidak pernah menyiuli, mencolek-colek, bahkan memperkosa kalian bukan?

Oh please. Women never rape men literally, but they still "rape" us high and dry with lies, paternity fraud, and cuckolding.

As for "gender-hatred", no. I don't hate all women. For example, I don't hate prostitutes, especially since they're more trustable than most wives --let alone feminists.

Feminists and feminazis, on the other hand, disgust me to the bone that everytime I noticed one I just can't help but puking my intestines out. BLAAGH!!!!

Burkass Tchaikovsky said...

"
Hahaha! Perempuan juga sering terpana melihat cowok ganteng dan tubuh tegap sempurna. Tapi kami tidak pernah menyiuli, mencolek-colek, bahkan memperkosa kalian bukan?

"

Mbak asli kena banget nih command, btw mbak sangat benar sekali salah satu sifat jelek laki2 yang suka iseng sama ce :) thx command tsb bisa jadi bahan renungan juga buat aku kekekekekek

Anonymous said...

Terima kasih atas informasi menarik

Anonymous said...

pasti mbak lesbian khan????