Seorang teman perempuan, usianya sudah kepala 3. Jodoh tak kunjung datang. Sedikit frustasi, ia mencoba ajang chat di Yahoo Messenger agar dapat jodoh. Dua tahun lalu akhirnya dia berkenalan dengan lelaki India. Lebih muda usianya. Sejak itu mereka rajin online untuk bersua via webcam. Jalinan asmara dunia maya pun berlanjut ke arah serius.
"Dia janji mau ke Jakarta bawa ibunya, ngelamar gue." Si teman berkisah ceria. Saat itu sekitar November tahun lalu. Menjelang lebaran. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Beragam alasan dipaparkan. Susah visa, susah cari kerja dan sebagainya.
Belakangan, si India kian jarang online. Alasannya uangnya habis buat naik haji bersama ibunya. Janji melamar pun kian tersamar. Jadi ingat lagu cengeng zaman doeloe.."janji-janji bulan madu tinggal cerita..." Hahaha!
Sang teman sangat kecewa. Kuhibur dia dengan kalimat panjang menyesakkan ini.
"Pikir dong, buat apa cowok India susah-susah cari jodoh cewek Indonesia? Bisa jadi di negaranya dia nggak laku. Apa dia pikir cewek Indonesia lebih enak dijadiin istri karena dari negara miskin? Lagian lu juga blom pernah ketemua dia. Di chat sih OK, kalo ketemu blom tentu asik. Siapa tau dia psikopat?"
Sang teman pun tersadar.
Temanku itu hanya satu dari ribuan bahkan lebih perempuan Indonesia yang berupaya mendapat pasangan melalui Internet. Ada yang bernasib baik, ada yang mengenaskan. Teman lain justru berkisah tentang kawannya (duh ribetnya istilah temannya kawan, kawannya teman ini, kayak lagu Iwan Fals) yang berkirim email menyedihkan dari Amerika. Sang kawan ini curhat soal betapa perihnya hidup sendiri di AS, dan nyaris mau bunuh diri. Awalnya ia tergoda mencari jodoh cowok bule dengan harapan bisa memperbaiki nasib. Hasilnya??? Mengecewakan!
Saya tidak habis pikir. Apa yang dicari para perempuan ini. Tidak salah mencari pasangan hidup. Itu hak setiap orang. Namun berkorban sedemikian rupa sampai mempertaruhkan nasib? Wah, thanks berat deh kalau saya harus begitu.
Satu hal yang harus dicamkan baik-baik bagi para kaumku tercinta: hidup sudah sangat indah dengan atau tanpa pasangan (baca: lelaki). Untuk apa merusak keindahan itu dengan menyiksa diri. Ingat, mitos tentang soulmate atau belahan jiwa hanya diciptakan para mak comblang dan biro jodoh agar mereka terus mendapat keuntungan dari usaha para jombloer untuk mendapat pasangan.
Jadi, buang saja mitos soal soulmate itu ke tempat sampah terdekat!
Nikmati hidupmu selagi bisa tanpa peduli apakah kau sudah punya soulmate atau belum.
Friday, March 03, 2006
Wednesday, March 01, 2006
In Memoriam....

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew….
Kalau mendengar lagu More Than Words-nya Extreme itu, bukan cinta yang kupikirkan. Tapi seorang sahabat, tepatnya seorang almarhum sahabat. Entah kenapa, semalam aku bermimpi teman lama yang sudah meninggal lama sekali. Apa hubungannya dengan lirik lagu itu? Oh, almarhum ini mirip sekali dengan Nuno Bettencourt, gitaris Extreme yang duper duper ganteng dan gondrong itu.
Si gondrong nan ganteng ini menyeruak begitu saja dalam mimpi anehku semalam. Dalam mimpi itu rambutnya tidak gondrong lagi, tapi agak botak. Mungkin karena penyakitnya. Sahabat ini memang meninggal karena sakit paru-paru zaman kami masih duduk di bangku kuliah dulu.
Tahu Joey-nya serial komedi Friends di TV? Nah, seperti itulah kira-kira kelakuan almarhum sahabatku ini. Ganteng, lucu , rada-rada bloon. Dia sadar banget kalau dia ganteng dan digilai banyak cewek. Tapi dia kurang PD dengan kegantengannya itu. Malah rambutnya yang panjang sengaja digerai menutupi wajah kalau berpapasan dengan rombongan cewek. Cita-citanya hanya satu, jadi gitaris top kayak Nuno. Dan dia memang pandai memainkan cord-cord lagu metal. Termasuk More Than Words yang romantis itu.
Ada satu hal yang membuatnya tidak PD sama cewek. Hanya aku dan beberapa sahabat dekat saja yang tahu pasti alasannya. Tidak perlu kubeberkan di sini. Yang jelas aku sempat memaksanya ikut lomba Cover Boy di sebuah majalah remaja saat itu. Formulir sudah diisi. Tinggal difoto saja. “Ntar kalo lu menang, hadiahnya separo buat gue ya!” Begitu ancamku belum apa-apa. Sayang, sahabatku ini tak pernah mau difoto.
Bahkan sampai sekarang aku tidak punya fotonya!
Marcel, apa maksudnya kamu datang di mimpiku semalam dengan penampilan aneh begitu? Ingin aku menyambangi makammu? Dan meletakkan seikat bunga di atasnya?
Ya, Marcel adalah salah satu cowok ganteng dan baik hati yang pernah kukenal. Untung juga kami tidak pernah berpacaran. Jadi aku tak perlu patah hati saat ia berpulang…
Tuesday, February 28, 2006
Meneladani Mukhtar Mai

Siapa Mukhtar Mai? Tidak banyak yang tahu memang. Namun kalau mengetahui kisah hidupnya, siapapun pasti akan mengacungkan dua jempol buat perempuan Pakistan ini.
Mukhtar kelahiran 1972 adalah contoh perempuan luar biasa yang harus menjadi teladan sesama kaumnya.
Bayangkan kalau anda menjadi seorang Mukhtar. Didakwa harus menjalani hukuman atas kesalahan yang dilakukan adiknya. Tidak tanggung-tanggung, hukuman biadab itu berupa perkosaan yang dilakukan empat orang lelaki sekaligus sambil ditontoni lelaki lainnya.
Di desa Meerlawa daerah Punjab, Pakistan, satu-satunya solusi bagi perempuan korban perkosaan adalah bunuh diri. Jalan ini dianggap dapat menghapus malu diri sendiri dan aib keluarga. Maka tak banyak korban perkosaan yang berani melapor ke polisi. Selain akan mendapat malu, korban juga tidak mendapat dukungan apapun dari keluarga atau warga desa.
Tapi itu tak berlaku bagi Mukhtar Mai. Perkosaan yang terjadi pada tahun 2002 itu dilaporkan ke pihak berwajib. Sempat mendapat kecaman dari warga desa, namun ia tak gentar. Karena tak mendapat kepastian hukum, Mukhtar mengungkap kasusnya ke sejumlah aktivis perempuan sampai tingkat global. Mukhtar dimaki sebagai perempuan pembawa cemar nama bangsa.
Perjuangannya tak berhenti sampai di situ. Mukhtar terus maju sampai ke taraf internasional. Ia bersaksi semua pengalaman pahit yang dialaminya. Bukan dia seorang. Komisi Hak Azazi Manusia Pakistan mencatat setidaknya ada 151 perempuan Pakistan yang diperkosa beramai-ramai pada tahun 2004 saja. Sebanyak 176 orang bunuh diri karena menanggung malu. Tak satupun pelakuknya diadili. Terbayang betapa beraninya seorang Mukhtar Mai membeberkan semua perilaku biadab kaum lelaki di desanya.
Perjuangan Mukhtar tidak sia-sia. Para pemerkosanya dihukum penjara. Mukhtar sendiri terkenal sebagai pahlawan kaum perempuan Pakistan. Ia mendirikan sekolah khusus perempuan yang tak pernah ada di desanya.
Andai saja perempuan Indonesia seberani Muhktar Mai...
Saturday, February 25, 2006
Apa yang Dicari Perempuan dari Seorang Lelaki?

Suatu pagi di Bandung. Sarapan di sebuah hotel resort daerah Ciembeleuiut (semoga ngga salah nulisnya). Ada yang melontarkan pertanyaan. "Apa yang dicari perempuan dari seorang lelaki?"
Pertanyaan sambil lalu yang tak ditanggapi serius. Lalu saya iseng nyeletuk ke seorang karib. "Apa ya? Ganteng dan hartanya aja? Kayaknya iya deh. Ngga ada hal lain yang gue cari dari seorang lelaki kecuali dua hal itu."
Padahal faktanya jauh-jauh hari sebelum ini, dua hal itu (kegantengan dan kekayaan) tak pernah saya perhatikan. Entah dikutuk oleh setan apa, sejak SMP saya selalu jatuh cinta sama lelaki yang tidak ganteng dan tidak kaya. Suatu kebodohan tiada tara yang disumpahserapahi almarhum ibu saya tercinta. Dan sekarang saya baru sadar bahwa almarhum ibu saya itu betul 100% dan saya salah 100%.
Dulu, saat dunia masih begitu indah di mata saya, saat idealisme masih melekat kuat bagai tai sapi di atas aspal, saya pikir kegantengan dan kekayaan bukan hal penting. Banyak cowok ganteng lagi kaya berseliweran di hidup saya dan tak pernah sekalipun saya pedulikan. Saya justru terpaku pada cowok-cowok "jelek" dan miskin. Saya pikir, cinta sejati tidak memandang materi. Hasilnya, saya berkali-kali mencintai cowok jelek dan miskin. Ternyata itu kesalahan besar dalam hidup.
Kini, saya meratapi kebodohan di masa lalu. Cowok jelek dan miskin memang tidak layak dicintai. "You deserve to making the selection, Mer! You are cute and sweet, smart enought and have a brilliant life and cool perfomance. You deserve to have many handsome, rich and smart guys around you!" Itu kata beberapa karib tentang aku dan selera burukku soal cowok.
So, what we're looking from a man? Kegantengan, kekayaan dan kepintaran? Wah, rasanya saya tidak mencari apapun dari lawan jenis. Saya tidak butuh mereka lagi. Saya hanya butuh ketenangan, kenyamanan, keindahan, kehangatan. Dan itu semua sudah saya dapatkan tanpa kehadiran lawan jenis.
Maybe someday. When?? Nobody know. And I don't wanna know...
Friday, February 17, 2006
Layakkah Lelaki Disebut Manusia?
Peristiwa ini terjadi sudah lama sekali. Sebuah pengalaman yang menambah kuat memori di otak saya bahwa memang setiap lelaki harus diwaspadai.
Masih ingat betul, pagi itu saya naik mikrolet menuju sekolah. Saya masih kelas 2 SMP. Sekitar pukul 6.30, mikrolet dan jalanan lumayan sepi. Dalam mikrolet hanya ada saya, kondektur (zaman itu mikrolet masih pakai kondektur lho), dan seorang anak perempuan SD. Di sebelahnya seorang bapak yang mulai tua. Gemuk, jelek, ubanan.
Saya tidak memperhatiakan kedua penumpang tadi. Sampai akhirnya saya lihat si bapak tua jelek itu menempelkan tubuhnya ke anak perempuan SD yang saya duga masih usia 10 tahun. Tubuh mereka makin menempel. Si bapak tua teesenyum senang. Si anak SD wajahnya panik, merasa tak nyaman.
Awalnya saya kira mereka itu ayah dan anak atau kakek dan cucu. Tapi ketika si bapak tua jelek sialan itu turun, si anak tidak ikut turun. Dia menangis. Saya jadi bingung. Apa dia dicopet?
"Bapak tadi mencet-mencet anu saya mbak...huhuhuhuhuhuuuuuu..." Anak berwajah manis nan innocent itu mengangkat tas ransel yang menutupi pahanya. Ternyata waktu bapak bangsat tadi menempelkan tubuhnya ke anak manis ini, tangannya menyelinap ke balik tas si anak yang dipangku. Dan tangan itu mempermainkan kemaluan si anak!!!
Waktu itu saya masih SMP. Masih naif, bodoh dan polos. Saya hanya bingung saja. sang kondektur yang tahu kejadian itu hanya tertawa. Kondektur itu laki-laki.
Sekian tahun berlalu, saya akhirnya sadar. Alangkah biadabnya bapak tua sialan itu. Anak SD tadi bisa jadi bukan korban pertamanya. Si kondektur juga tidak punya otak. Sudah tahu ada anak kecil ketimpa musibah malah diketawai.
Wahai laki-laki, apakah kalian layak disebut manusia?
Masih ingat betul, pagi itu saya naik mikrolet menuju sekolah. Saya masih kelas 2 SMP. Sekitar pukul 6.30, mikrolet dan jalanan lumayan sepi. Dalam mikrolet hanya ada saya, kondektur (zaman itu mikrolet masih pakai kondektur lho), dan seorang anak perempuan SD. Di sebelahnya seorang bapak yang mulai tua. Gemuk, jelek, ubanan.
Saya tidak memperhatiakan kedua penumpang tadi. Sampai akhirnya saya lihat si bapak tua jelek itu menempelkan tubuhnya ke anak perempuan SD yang saya duga masih usia 10 tahun. Tubuh mereka makin menempel. Si bapak tua teesenyum senang. Si anak SD wajahnya panik, merasa tak nyaman.
Awalnya saya kira mereka itu ayah dan anak atau kakek dan cucu. Tapi ketika si bapak tua jelek sialan itu turun, si anak tidak ikut turun. Dia menangis. Saya jadi bingung. Apa dia dicopet?
"Bapak tadi mencet-mencet anu saya mbak...huhuhuhuhuhuuuuuu..." Anak berwajah manis nan innocent itu mengangkat tas ransel yang menutupi pahanya. Ternyata waktu bapak bangsat tadi menempelkan tubuhnya ke anak manis ini, tangannya menyelinap ke balik tas si anak yang dipangku. Dan tangan itu mempermainkan kemaluan si anak!!!
Waktu itu saya masih SMP. Masih naif, bodoh dan polos. Saya hanya bingung saja. sang kondektur yang tahu kejadian itu hanya tertawa. Kondektur itu laki-laki.
Sekian tahun berlalu, saya akhirnya sadar. Alangkah biadabnya bapak tua sialan itu. Anak SD tadi bisa jadi bukan korban pertamanya. Si kondektur juga tidak punya otak. Sudah tahu ada anak kecil ketimpa musibah malah diketawai.
Wahai laki-laki, apakah kalian layak disebut manusia?
Tuesday, February 14, 2006
The Other Side of Me

Hai para komentator semua...Thanks berat sudah mau capek-capek membaca dan mengomentari blog saya ini.
Sekedar mau membagi informasi bahwa saya juga punya blog yang memperlihatkan The Other Side of Me, yakni http://mermagdal-feature.blogspot.com ,sebuah kumpulan tulisan saya yang pernah dipublikasikan di media. Di link bisa diklik pada panel MyFeatures. Ini juga bekum semuanya. Hanya artikel yang saya suka saja yang saya koleksi di sini.
Dengan mebacanya maka kalian akan paham bahwa kesibukan saya bukan hanya mengumpati kelakuan menjijikan para lelaki tak tahu diri. Kesibukan saya sangat padat. Mulai dari serentetan acara jumpa pers, rapat redaksi, mengantar anak ke sekolah, membantu bikin PR, membaca, menulis, belanja ke pasar, memasak, juga merampungkan proyek lainnya. Ditambah saat ini saya punya kerja sampingan yang harus saya selesaikan di rumah.
Beruntung saya terlahir sebagai perempuan, kaum yang memiliki kemampuan multitasking, menjalankan berbagai aktivitas dalam satu waktu. Lelaki tidak punya kemampuan ini. Kalaupun ada sangat lemah. Kasihan!
Sekadar membuka mata kalian yang berpandangan picik bahwa saya "sakit jiwa" dan sejenisnya. Blog Revolusi Seksual ini hanya sedikiiiiiiiit sekali dari sisi hidup saya yang sangat berwarna. Kalau isinya penuh caci maki kepada lelaki, yah memang inilah fasilitas untuk itu. Sebab di dunia nyata saya tak bisa melakukannya. Bukankah dunia maya memang sebuah komunitas dimana kita dapat bebas berekspresi?
Saya tidak pernah menyesali hidup seperti yang dibilang seorang komentator bernama Surya. Masa lalu saya memang tak terlalu baik. Tapi saya sangat mensyukuri semua yang saya dapat saat ini. Kalau dulu tidak berpisah dengan lelaki bodoh yang sempat menjadi suami saya, mungkin saya hanya akan menjadi "babu kaum lelaki" yang notabene istri yang harus tunduk pada suami (huek).
Ada obsesi kecil di sudut benak saya, yakni saya ingin semua perempuan di muka bumi ini menjadi seperti saya. Mampu mandiri, independen di atas kaki sendiri, secara jasmani dan rohani. Tidak perlu menggantungkan hidup pada lelaki. Tidak cengeng. sebab saya kerap enemui banyak cewek yang langsung lemah tak berdaya begitu ditinggal pasangannya.
Solusi dari begitu banyaknya problem yang saya kemukakan di sini? Tidak ada. Solusinya terletak pada si asal muasal pembuat masalah itu, LELAKI. Ini sama rumitnya dengan mencari solusi bagaimana menangkal maling. Kalau malingnya sendiri tidak jera-jera dan tak pernah merasa bersalah, akan sulit dicari solusinya. Jadi ya sebaiknya kita paparkan saja terus semua keburukan tingkah polah kaum lelaki. Agar mereka sadar. Kalau ngga sadar-sadar ya ke laut aja.
Hahaha!
Keep on read, guys!
Like Mother Like Daughter

“Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah puetra-puteri alam. Mereka seperti anak panah yang kaulepaskan dari busurnya.” –Kahlil Gibran--
Buku harian pertama saya ditulis pada saya duduk di kelas 5 SD, usia 11 tahun. Puteri manisku Libby, sudah punya diary sejak usia 8 tahun. Dalam tempo satu tahun, bukunya sudah berserakan tak keruan, penuh dengan tulisan tangan warna-warni curahan hati. Buku gambarnya nyaris 3 lusin, berisikan komik dan gambar yang berkisah tentang dirinya. Komputer kami di rumah sebagian besar justru didominasi oleh folder Libby. Semuanya adalah cerita karangannya sendiri. Juga opini mengenai acara televisi yang dia suka. Saya sudah harus punya komputer pribadi sendiri agaknya.
Tulisan pertama saya dipublikasikan di majalah Hai, waktu saya kelas 3 SMP, usia 15 tahun. Sebuah cerita bersambung. Libby, pada usianya yang ke-9 mau 10, sudah berkeras ingin mengirim tulisan ke Bobo. “Harus belajar menulis yang bagus dulu, sesuai aturan guru bahasa. Lalu bikin cerita yang menarik,” tegas saya kepada Libby setiap kali ia merengek minta karyanya dikirim ke Bobo.
Buku bacaan pertama saya waktu SD adalah Lima Sekawan-nya Enid Blyton. Libby kini sudah tergila-gila pada karya Morris Gleitzman, yang bahkan saya pun belum sempat tahu. Ia juga melahap majalah Rolling Stones, chiklit koleksi saya, menonton semua kartun Nickoledeon, hapal lagu Peter Pan, suka semua acara MTV kecuali MTV Dangdut. Libby tahu bahwa Green Day lagunya bagus dan berisi protes. Mengidolakan Black Eye Peas. Menurutnya mamanya secantik Madonna (ehem!). Ia sangat ingin seperti Alicia Keys yang cantik dan pandai main piano serta menulis lagu.
Di akhir pekan, tidak ada hiburan yang paling mengasyikan kecuali ke toko buku, cari makanan enak, sesekali nonton film bagus. Kalau sedang bokek kami cukup puas terpaku di depan TV untuk meraup semua video klip MTV atau O Channel. Bosan dengan itu semua, kami akan bergantian memakai komputer untuk mengetik. Tak tik tak tik. Mengetikkan apa saja yang ada di kepala kami. Saya melanjutkan proyek buku, Libby sendiri dengan obsesinya sendiri. Entah apa.
Saya tidak pernah mengajarkan Libby untuk menulis atau menggambar atau mendengar musik. Saya tak pernah mendiktenya bahwa membaca itu bagus, menonton film itu mengasyikan. Tidak pernah. Si Kecil Manisku itu mengalir begitu saja. Mungkin ia melihat selama ini mamanya sangat bahagia berkutat dengan komputer, buku, musik dan film. Maka jadilah ia ikut menekuni bidang-bidang itu.
“Libby mau jadi pelukis yang jago main basket dan nulis buku,” itu selalu jawabnya tiap kali kutanya apa cita-citanya. Sungguh jawaban berbeda dari kebanyakan anak-anak lain yang akan menjawab ingin jadi dokter, insinyur, guru, pengusaha atau presiden. Libby kecilku tidak ingin jadi presiden, dokter, insnyur dan semua jabatan mentereng itu. Cukup jadi pelukis yang hobi basket dan bisa menulis buku. Sebuah cita-cita mulia yang sulit, nak. Tapi mama yakin kau bisa mendapatkannya. Sama seperti mamamu dulu yang memang bercita-cita ingin jadi jurnalis. Sebuah cita-cita yang dilecehkan orangtua dan saudara-saudaraku.
Kini, jurnalis yang dilecehkan keluarganya itu, masih bangga dengan profesinya. Dan ia tidak akan pernah melecehkan apapun cita-cita puterinya.
Monday, February 13, 2006
Lelaki Sumber Penderitaan Bangsa...Tanya Kenapa!
Belasan anak balita di Tangerang, Jawa Barat menderita kurang gizi. Sebagian ada yang busung lapar. Satu balita berasal dari sebuah keluarga beranak empat yang ayahnya pengangguran.
Warga di sejumlah daerah mulai makan nasi aking (nasi bekas) karena tak mampu beli beras murah. Salah satunya adalah keluarga dengan seorang janda dengan enam orang anak.
Seorang perempuan terpaksa menarik becak demi menghidupi enam anak dan satu suaminya yang sakit tak berdaya.
Seorang bapak mengaku pernah menikah 13 kali. Anaknya ada sekitar 20-an, dia tidak ingat betul. Bahkan kalau bertemu anaknya di jalan, dia mengaku tidak mengenalnya.
Semua kisah tadi hanya sebagian kecil fakta yang membuktikan bahwa asal muasal penderitaan negeri ini adalah kaum lelaki. Tanya kenapa.
1. Sudah tahu pengangguran, ekonomi pas-pasan, eh si lelaki yang notabene kepala keluarga kok masih rajin mencetak anak. Semestinya sebagai kepala keluarga, lelaki punya otak logis untuk mempertimbangkan urusan selangkangan. Bagaimana caranya supaya anak tidak terus berlahiran dan hidup susah, akibatnya malah kurang gizi.
2. Ibu yang harus memberi makan anak-anaknya nasi aking adalah korban kebodohan lelaki. Kalau memang dari ekonomi pas-pasan sebaiknya berpikir untuk tidak terus bikin anak sampai enam orang. Giliran si suami mampus, si istri yang jadi korban harus kerja keras menghidupi anak-anaknya.
3. Kisah ibu penarik becak juga sama saja. Korban ketololan lelaki yang hanya memikirkan nafsu syahwat saja. Kalau tidak, kok anaknya bisa enam???
4. Kasus bapak ber-anak 20-an, sudah membuktikan bahwa lelaki memang hanya pandai mencetak anak tapi tak becus mengurus dan membiayai.
Jangan salahkan saya kalau mengatakan bahwa semua penderitaan bangsa kita berasal mula dari para kepala keluarga yang tak becus memanajemen keluarganya. Memang sudah saatnya lelaki menjadi penjaga dapur saja, melayani istri dan anak. Biarlah perempuan yang mencari nafkah, memanajemen keluarga.
Tanya kenapa.
Sebab perempuan tidak akan membiarkan anak-anaknya menderita hanya demi kepuasan syahwat. Ia akan membatasi jumlah anak, sebab tahu pasti sangat sulit mengurus apalagi membiayai anak.
Dengan jumlah anak lebih dari tiga, ekonomi pas-pasan, kurang gizi, tidak sekolah, bahkan makan nasi bekas, apakah bangsa kita bisa membaik? Dan yang berekonomi mampu, eh malah kawin 13 kali.
Duh lelaki ini memang sumber malapetaka negeri! Thanks God saya tidak dilahirkan sebagai lelaki!
Warga di sejumlah daerah mulai makan nasi aking (nasi bekas) karena tak mampu beli beras murah. Salah satunya adalah keluarga dengan seorang janda dengan enam orang anak.
Seorang perempuan terpaksa menarik becak demi menghidupi enam anak dan satu suaminya yang sakit tak berdaya.
Seorang bapak mengaku pernah menikah 13 kali. Anaknya ada sekitar 20-an, dia tidak ingat betul. Bahkan kalau bertemu anaknya di jalan, dia mengaku tidak mengenalnya.
Semua kisah tadi hanya sebagian kecil fakta yang membuktikan bahwa asal muasal penderitaan negeri ini adalah kaum lelaki. Tanya kenapa.
1. Sudah tahu pengangguran, ekonomi pas-pasan, eh si lelaki yang notabene kepala keluarga kok masih rajin mencetak anak. Semestinya sebagai kepala keluarga, lelaki punya otak logis untuk mempertimbangkan urusan selangkangan. Bagaimana caranya supaya anak tidak terus berlahiran dan hidup susah, akibatnya malah kurang gizi.
2. Ibu yang harus memberi makan anak-anaknya nasi aking adalah korban kebodohan lelaki. Kalau memang dari ekonomi pas-pasan sebaiknya berpikir untuk tidak terus bikin anak sampai enam orang. Giliran si suami mampus, si istri yang jadi korban harus kerja keras menghidupi anak-anaknya.
3. Kisah ibu penarik becak juga sama saja. Korban ketololan lelaki yang hanya memikirkan nafsu syahwat saja. Kalau tidak, kok anaknya bisa enam???
4. Kasus bapak ber-anak 20-an, sudah membuktikan bahwa lelaki memang hanya pandai mencetak anak tapi tak becus mengurus dan membiayai.
Jangan salahkan saya kalau mengatakan bahwa semua penderitaan bangsa kita berasal mula dari para kepala keluarga yang tak becus memanajemen keluarganya. Memang sudah saatnya lelaki menjadi penjaga dapur saja, melayani istri dan anak. Biarlah perempuan yang mencari nafkah, memanajemen keluarga.
Tanya kenapa.
Sebab perempuan tidak akan membiarkan anak-anaknya menderita hanya demi kepuasan syahwat. Ia akan membatasi jumlah anak, sebab tahu pasti sangat sulit mengurus apalagi membiayai anak.
Dengan jumlah anak lebih dari tiga, ekonomi pas-pasan, kurang gizi, tidak sekolah, bahkan makan nasi bekas, apakah bangsa kita bisa membaik? Dan yang berekonomi mampu, eh malah kawin 13 kali.
Duh lelaki ini memang sumber malapetaka negeri! Thanks God saya tidak dilahirkan sebagai lelaki!
Sunday, February 12, 2006
Release: The Other Blog of Mine

Woro-woro...
tidak mau kalah dengan Angelina Sondakh yang mengadakan acara launching blog, saya juga ah. Cuma launching blog-nya secara online saja di sini.
Blog saya yang baru ini, http://magnolia-novel.blogspot.com ,sebenarnya hanya dokumentasi novel saya yang belum selesai, Magnolia Mencari Tuhan.
Blog saya yang lain yang juga berisi novel lumayan juga yang terbengkalai. Maka untuk menghilangkan kesan terbengkalai itu, novel saya posting per sub bab.
Magnbolia Mencari Tuhan saya tulis sekitar tiga tahun lalu. Berkisah tentang Magnolia, perempuan yang berupaya mengubah takdir hidupnya. Ada kisah flashback ke era 1990-an dimana Magnolia masih siswi SMA. Judul sub bab-nya sengaja saya adopsi dari judul-judul lagu rock 90-an yang lumayan saya gilai.
Hati-hati, novel ini sangat musikal. Bagi yang hobi dengan musik rock era 90-an, akan sangat nyambung deh.
Friday, February 10, 2006
Lelaki, Berhentilah Berlaku Seperti Binatang!

Kalau bertemu Tuhan di jalan
tolong kau tanyakah
apakah Adam diciptakan
untuk memperkosa Hawa?
-Rieke Dyah Pitaloka-
Sungguh tidak habis pikir. Kenapa ya lelaki yang kerap mengklaim dirinya adalah manusia nomor satu justru berlaku “tidak punya otak”?
Ini adalah beberapa contoh ke-“tidakpunyaotak”-an mereka itu.
Walau jelek, tidak kaya, jauh dari keren, cowok punya percaya diri begitu tinggi untuk melecehkan perempuan. Setiap hari dalam perjalanan pulang saya terpaksa melewati proyek pembangunan sebuah mall dekat rumah. Kuli-kuli proyek di situ selalu saja menyempatkan diri untuk bersiul, melontarkan godaan nakal, bahkan kadang menyoraki setiap perempuan yang lewat. Alangkah besar rasa percaya diri mereka ini.
Sebaliknya, coba kalau perempuan, tentu akan berpikir jutaan kali untuk menggodai lelaki, kendati lelaki itu gantengnya setengah mampus. Kita balik saja kondisinya, ada ngga sih perempuan jelek, tidak keren yang bekerja sebagai pembantu yang berani menggodai lelaki keren? Tidak kan? Kenapa? Sebab kami kaum Hawa masih punya apa yang namanya harga diri. Bahkan saat perempuan dalam kondisi cantik, kaya dan pintar pun masih merasa gengsi untuk menggodai lelaki. Ini tidak berlaku bagi pekerja seksual tentunya.
Bukti lain bahwa para lelaki tidak punya otak adalah, mereka itu sudah tidak punya harga diri masih tidak punya malu. Mari kita bandingkan, apa sih beda lelaki dan binatang? Nyaris tidak ada. Begitu tergiur oleh sesuatu, maka mahluk ini akan langsung mengejarnya sampai dapat. Terbukti dengan para pelaku perkosaan di muka bumi ini mayoritas adalah lelaki. Begitu tergiru oleh sesuatu yang merangsang, langsung memperkosa. Itu kan ulah para kaum Adam.
Mana ada sih cewek memperkosa cowok? Kalaupun ada kasusnya kecil sekali. Dan yang jelas pasti cowoknya yang suka.
Ditambah lagi dengan aneka fakta, kasus pelecehan seksual dimana-mana selalu dilakukan oleh lelaki. Seorang teman perempuan saya pernah jadi korban lelaki gila yang menumpahkan spermanya di tubuhnya. Kejadiannya di kereta Depok-Kota. Suasana sangat sesak, sampai si teman itu tak sadar apa yang terjadi. Baru disadari ketika turun gerbong, ternyata di bajunya sudah basah bersimbah sperma menjijikan!
Teman lain, penumpang setia Kowanbisata Depok-Pulogadung juga pernah mengalami nasib sial, dipameri barang cowok di tengah kesesakkan penumpang! Oh God, apakah para lelaki memang diciptakan untuk jadi psikopat seks?
Dan satu bukti yang kasat mata adalah, bau pesing yang sangat memualkan di terminal bis. Siapa yang membuat terminal bis jadi bau pesing??? Lelaki yang buang air sembarangan tentunya. Mustahil kan ada perempuan pipis sembarangan di terminal???
Duh, jadi mau muntah saya menulis ini semua.
Wahai para lelaki, berhentilah berlaku seperti binatang!
Tuesday, February 07, 2006
Mengapa Bad Boys Begitu Disuka?

Semalam saya menonton tayangan The Strory of Motley Crue di sebuah TV swasta. Tentu saja kelompok musik rock era 1990-an ini tak bisa lepas dari nama Tommy Lee, sang drummer. Memang sih ganteng, sexy dan terkenal. Tapi mantan suami Pamela Anderson dan Heather Locklear itu tak dapat dikatakan sebagai cowok baik-baik. Tomy yang sekarang berprofesi sebagai DJ sama saja dengan empat anggota band gila itu, liar, urakan, hobi mabuk dan merendahkan martabat perempuan. Bahkan Tommy sempat dibaptis sebagai Most Bad Boys dalam suatu program TV Kanada.
Anehnya, cowok model Tommy Lee ini banyak yang suka. Tidak sedikit teman perempuan saya yang mengatakan tanpa ragu bahwa cowok idolanya adalah yang gondrong, slengean, urakan dan nakal. Cowok tipe rapi, kantoran, alim dan sopan cenderung mendapat acungan jempol terbalik.
Memang ada sebagian cowok berpenampilan urakan yang ternyata berkelakukan manis. Tidak heran kalau yang tipe ini dijadikan idola. Tapi yang model Tommy Lee?? Wah, thanks berat deh. Selain urakan, gila, cowok model Tommy Lee juga berkelakuan minus. Ingat saja kasusnya dengan para mantan istri yang selalu meinginggalkan kenangan buruk. Belum lagi urusannya dengan pihak kepolisian.
Namun jangan salah, selalu ada saja perempuan yang suka dengan tipe ini. “Menantang, hidup jadi penuh warna berurusan sama cowokkayak gitu,” ungkap seorang teman.
Saya pribadi bukan pengagum cowok dari sisi penampilannya, melainkan dari perilaku dan sifatnya. Jadi cowok model Tommy Lee yang minus di penampilan dan kelakukan, sebaiknya stay away aja deh dari saya. Tapi yang bertato, gondrong asal berhati mulia, silakan saja mendekat. Hehehe.
By The Way, saya suka Motley Crue sebatas musiknya saja. Segala kegilaan mereka, indah juga buat dikenang sebagai hiburan.
Thursday, February 02, 2006
HOW TO STAY YOUNG
*Dari blog seorang karib. Sebab saya lagi males mikir dan nulis. Hehehe.*
1. Throw out nonessential numbers. This includes age, weight and height.
Let the doctors worry about them. That is why you pay them.
2. Keep only cheerful friends.
The grouches pull you down. Keep this in mind if you are one of those grouches.
3. Keep learning.
Learn more about the computer, crafts, gardening,
whatever. Never let the brain get idle.
"An idle mind is the devil's workshop."
And the devil's name is Alzheimer's!
4. Enjoy the simple things.
5. Laugh often, long and loud. Laugh until you gasp for breath.
And if you have a friend who makes you laugh, spend lots and lots of time with him/her.
6. The tears happen.
Endure, grieve, and move on. The only person who is with us our entire life, is ourself. LIVE while you are alive.
7. Surround yourself with what you love:
Whether it's family, pets, keepsakes, music, plants, hobbies, whatever.
Your home is your refuge.
8. Cherish your health.
If it is good, preserve it.
If it is unstable, improve it.
If it is beyond what you can improve, get help.
9. Don't take guilt trips.
Take a trip to the mall, even to the next county, to a foreign country, but NOT to where the guilt is.
10. Tell the people you love that you love them, at every opportunity.
1. Throw out nonessential numbers. This includes age, weight and height.
Let the doctors worry about them. That is why you pay them.
2. Keep only cheerful friends.
The grouches pull you down. Keep this in mind if you are one of those grouches.
3. Keep learning.
Learn more about the computer, crafts, gardening,
whatever. Never let the brain get idle.
"An idle mind is the devil's workshop."
And the devil's name is Alzheimer's!
4. Enjoy the simple things.
5. Laugh often, long and loud. Laugh until you gasp for breath.
And if you have a friend who makes you laugh, spend lots and lots of time with him/her.
6. The tears happen.
Endure, grieve, and move on. The only person who is with us our entire life, is ourself. LIVE while you are alive.
7. Surround yourself with what you love:
Whether it's family, pets, keepsakes, music, plants, hobbies, whatever.
Your home is your refuge.
8. Cherish your health.
If it is good, preserve it.
If it is unstable, improve it.
If it is beyond what you can improve, get help.
9. Don't take guilt trips.
Take a trip to the mall, even to the next county, to a foreign country, but NOT to where the guilt is.
10. Tell the people you love that you love them, at every opportunity.
Senggigi Biasa Saja

Senggigi itu indah, kata orang dan brosur pariwisata
bagiku kok biasa saja ya?
apa karena aku sudah pernah ke tempat yang jauh lebih indah?
dimana itu?
wah, lupa...ummm..Canes? Paris? Gede Pangrango? Kuta? Pantai Sedona? Apa malah Depok?
mungkin karena ke Senggigi-nya urusan dinas, jadi tempat ini berasa tak indah
mana sama rombongan menteri yang serba formal..hiks!
(padahal menterinya cengengesan mulu lho).
*lagi males serius*
Sunday, January 29, 2006
Jangan "Perek", Cukup "Pelacur" Saja

“Perek” adalah kata makian paling menjatuhkan dan menyakitkan bagi seorang perempuan . Saya (untungnya) belum pernah dimaki dengan kata itu. Justru pernah melakukan makian itu kepada seorang teman yang sudah kelewatan kelakuannya. Kalau dalam bahasa Inggris, mungkin padanan paling pas bagi “perek” adalah “bitch”. Kata teman, ini lebih rendah kelasnya dari pelacur. Kenapa?
“Perek atau bitch melakukan hubungan seks hanya demi kesenangan. Tapi pelacur demi mencari uang,” ungkap teman dari Yogyakarta tadi.
Apa benar making love (ML) demi uang lebih baik ketimbang demi kesenangan? Kata teman lain lagi,”Tidak lah. Kalau cewek ML demi kesenangan maka ia akan selektif. Tapi kalau demi uang, akan mau melakukannya dengan sembarang cowok asal dapat uang.”
Tapi teman lain berkomentar,” Tidak ada yang lebih baik. Namun kalau disuruh memilih, saya lebih respek sama pelacur daripada perek.” Ia berargumen, ML demi kesenangan adalah ciri orang yang rakus, amoral, mencari kesenangan duniawi. Kalau ML demi uang memang juga amoral, hanya motivasinya bisa jauh lebih luhur, yakni demi menghidupi anak, orang tua atau mencari penghidupan lebih layak.
Seorang pelacur bisa bertobat jika kelak ia sudah mendapat uang cukup atau pekerjaan layak sehingga tak perlu lagi jual diri. Banyak kisah dimana “ayam kampus” mencari biaya kuliah dengan jual diri. Setelah lulus dan dapat pekerjaan layak, bisnis jual dirinya stop 100 persen.
Tapi seorang bitch, yang ML demi kesenangan, bisa jadi tidak akan mengenal kata stop. Walau sudah bersuami sekalipun, pencarian “kesenangan” itu akan muncul tiap saat.
Kesimpulannya, kalau berhadapan dengan perempuan yang belum terlalu mengesalkan, jangan maki dia dengan kata “perek”, cukup “pelacur”saja. Sebab pelacur lebih baik sedikit ketimbang perek. Hahaha!
Thursday, January 26, 2006
Tipe yang Manakah Kamu?

Saya lupa dimana pernah membaca pengelompokan ini. Tentang kategori manusia yang berkaitan dengan waktu dan uang.
"Tingkat paling rendah, manusia yang bekerja keras sampai tak punya waktu luang, tapi uang yang dihasilkan juga menguap begitu saja.
Lalu ada tingkat dimana manusia punya banyak waktu luang, tapi juga tak punya uang untuk dinikmati.
Tingkat berikut, manusia yang menghasilkan uang banyak tapi tak punya waktu untuk bersantai menikmati uangnya.
Yang paling tinggi tingkatannya adalah manusia yang memiliki banyak uang, sekaligus waktu luang untuk dinikmati."
Yang manakah saya? Hmm agak sulit memutuskan. Saat ini penghasilan saya cukup saja. Tidak besar, berlebihan, tapi cukup lumayan dan ngepas. Hehehe.
Minimal masih bisa hang out sama Libby dan teman-teman. Masih bisa membayar kontrakan rumah dan menggaji asisten rumah tangga. Masih mampu membelikan buku cerita karangan Morris Gleitzman kesukaan Libby, nonton ke bioskop dekat rumah, atau sesekali makan makanan sampah di mall.
Tapi saya merasa sangat kurang kalau dikaitkan dengan kebutuhan akan membeli rumah, membiayai pendidikan setinggi mungkin buat Libby. Itu butuh manajemen khusus. Berarti juga menghilangkan beberapa "kesenangan" tadi. Atau mencari side job. Keduanya masih dalam upaya.
Yang jelas saya tidak mau jadi budak uang. Manusia di tingkatan menghasilkan uang banyak tapi tak punya waktu untuk bersantai menikmati uangnya. Saya butuh precious time bersama Libby dan teman-teman, juga diri sendiri.
Jadi, mari kita bersama-sama menjadi manusia di tingkat paling atas. Punya banyak uang dan waktu luang untuk menikmati hidup. Dan berbuat kebajikan tentunya.
Wah, sulit lho!
Wednesday, January 25, 2006
Mari Belajar dari Anak-anak

Kemarin sore, sepulang kerja
Manis kecilku, Libby, memamerkan bandul kalung salib
"Dari Riska, Ma, Libby dikasih."
"Lho, Riska kan Islam? Kok bisa kasih kamu salib?"
"Dia nemu, trus dikasih ke Libby."
Riska adalah anak perempuan tetangga kami. Sekolah di SD Muhammadiyah. Berkerudung kalau ke sekolah. Rumahnya dijadikan markas latihan marawis. Libby sering ikut main rebana.
Esoknya, Libby mau memakai kalung salib itu ke sekolah. Lumayan besar juga. Aku jadi agak was was sebab Libby memamerkannya.
"Kalo di jalan, kalungnya jangan dipamerin, Lib. Masukin ke balik baju aja."
"Kenapa, Ma?"
"Hmmm...nanti ada yang ngga suka. Ngga semua orang suka sama orang yang pakai salib."
Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Salah-salah malah mengajarkan SARA.
"Lho, kenapa? Kan Libby dapetnya dari Riska yang bukan Kristen?"
"Nanti dijambret," begitu saja jawabanku yang sepertinya aman dan tak perlu mengajarkan SARA pada anak usia 9 tahun itu.
Dalam hati, aku berbisik, "Seandainya kamu tahu, di Poso ada siswi SMU yang lehernya digorok karena dia beragama Kristen. Seandainya kamu tahu, di Poso juga banyak gereja dibom, pasar dibom."
Itu yang bikin aku was was kalau puteriku seorang berjalan-jalan dengan kalung salib di leher. So far memang kami tidak pernah mengalami diskriminasi agama di lingkungan kediaman kami yang nyaman, mayoritas muslim itu. Tapi pakai kalung salib di jalan? Oh, nanti dulu. Aku masih belum mau ambil risiko.
Mengingat asal muasal kalung itu, aku jadi trenyuh. Benar, salib itu dari Riska yang muslim. Untuk sahabatnya yang beragama Kristen.
Aku juga ingat, dulu semasa SMP pernah mengajak sahabat muslimku ke gereja. Bukan untuk apa-apa tapi sekedar iseng. Dia cuma baca komik saja di sana, menemaniku. Sementara aku beribadah. Dia anak haji yang taat. Apa salahnya seorang muslim ke gereja? Toh dia tetap muslim, tetap rajin sholat bahkan ikut umroh beberapa tahun kemudian.
Alangkah indahnya toleransi beragama di kalangan anak-anak. Mengapa kita yang dewasa dan tua-tua ini tak bisa menghadirkan keindahan itu?
Tuesday, January 24, 2006
Tahukah Anda....

Tahukah anda…
Di negeri kita ini, praktek seks bebas diharamkan jika itu dilakukan di rumah, kos-kosan, motel murah, hotel melati, diskotik murahan, lokalisasi murahan. Mereka kalau ketahuan akan langsung digrebek, ditodong duit atau diarak bahkan disorot kamera TV.
Tapi kalau seks bebas itu berlangsung di hotel bintang lima, apartemen, kondominium atau rumah mewah kawasan real estate, maka HALAL-HALAL saja.
Mengapa?
Sebab pelaku seks bebas di kawasan elit itu sudah menyogok aparat dan oknum setempat. Jadi ya aman lah…
Kesimpulannya: kalau mau menganut seks bebas, kumpulin uang dulu yang banyak atau setidaknya jadi pejabat/anak pejabat/anak jendral/orang berpengaruh di negeri ini.
Tahukah anda…
Di Amerika Serikat, negara yang dituduh sebagai bangsa amoral, bejat, sumber kebrengsekan, presidennya sangat dikutuk rakyat kalau diketahui punya skandal seks. Bill Clinton misalnya, disumpahserapahi dan dianggap tak layak jadi presiden karena ada skandal dengan Minica Lewinsky.
Uniknya, di Indonesia, negeri yang konon katanya berbudipekerti luhur, alim, taat beribadah, memegang nilai-nilai moral dan Pancasila, presiden pertamanya justru seorang yang punya banyak istri. Itu belum termasuk istri ilegalnya. Tapi justru dianggap pahlawan, idola bangsa, tokoh kebanggaan tiada tara.
Mengapa?
Sebab memang negeri kita menganut azaz patriarki dimana masyarakatnya menganggap perempuan memang layak dijadikan objek seks semata. Skandal seks juga wajar selama itu melibatkan petinggi negara.
Kesimpulannya: Negeri yang luhur ini memang tak pernah menghargai perempuan.
Monday, January 23, 2006
Jangan Salahkan "Pengaruh Barat"!!!
Belakangan isu pornoaksi dan pornografi kembali marak. Berkaitan dengan RUU porno-pornoan yang sedang digodok di DPR. Ini juga membahas soal terbitnya majalah Playboy Indonesia yang kabarnya akan memajang pose bugil seperti Playboy luar sana. Ya jelas harus bugil, itu kan sudah trade merk majalah itu. Kalau pakai kebaya nanti disangka majalah sinden.
Yang lucu, isu pornografi selalu berujung pada masalah moral bangsa. Ikut kontes Miss World dianggap tidak mencerminkan moral bangsa karena ada adegan tampil dengan bikini. Memajang pose bugil adalah merusak moral bangsa. Ada lagi komentar tokoh sok alim, “Itu pengaruh budaya barat yang merusak nilai timur.”
Pengaruh barat?? Saya jadi bertanya. Tradisi tayuban dimana penari bisa pamer payudara setengah melalui kemben yang melorot dan bebas dicoleki lelaki itu pengaruh baratkah? Budaya selir, istri simpanan, piaraan, kawin kontrak di banyak daerah pelosok Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun sejak jaman Gajah Mada, pengaruh baratkah?
Memakai kemben yang mempertontonkan setengah buah dada, tradisi mandi bareng cewek-cowok di pedalaman Bali, bahkan tradisi bugil saudara kita di Papua. Pengaruh baratkah?
Saya berpikir. Kalau mencermati budaya, maka budaya paling maju dan beradab justru budaya barat. Ingat, di era 1800-an, di saat bangsa kita masih bertelanjang dada dengan payudara kemana-mana, orang di benua Eropa para perempuannya sudah pakai gaun panjang ala Cinderella yang menyapu tanah. Bagian atasnya pun kerah rapat.
Lucu kalau menyalahkan pengaruh barat. Apa para pejabat, tokoh alim ulama dan kaum cerdik cendekia negeri ini tidak berkaca diri. Kawin mawin, peselingkuhan, pergumulan seks sok alim dengan dalih kawin siri, dianggap biasa. Eh giliran foto bugil malah dianggap merusak moral bangsa.
Kesimpulannya adalah: praktek seks munafik lebih dihalalkan di negeri ini ketimbang sekadar berfoto bugil. Luarrrrr biasssaaa!!!
Mestinya mereka para tokoh negeri ini memajang spanduk besar bertuliskan: "Ayo rame-rame menganut seks bebas dengan wajah sok alim!"
Yang lucu, isu pornografi selalu berujung pada masalah moral bangsa. Ikut kontes Miss World dianggap tidak mencerminkan moral bangsa karena ada adegan tampil dengan bikini. Memajang pose bugil adalah merusak moral bangsa. Ada lagi komentar tokoh sok alim, “Itu pengaruh budaya barat yang merusak nilai timur.”
Pengaruh barat?? Saya jadi bertanya. Tradisi tayuban dimana penari bisa pamer payudara setengah melalui kemben yang melorot dan bebas dicoleki lelaki itu pengaruh baratkah? Budaya selir, istri simpanan, piaraan, kawin kontrak di banyak daerah pelosok Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun sejak jaman Gajah Mada, pengaruh baratkah?
Memakai kemben yang mempertontonkan setengah buah dada, tradisi mandi bareng cewek-cowok di pedalaman Bali, bahkan tradisi bugil saudara kita di Papua. Pengaruh baratkah?
Saya berpikir. Kalau mencermati budaya, maka budaya paling maju dan beradab justru budaya barat. Ingat, di era 1800-an, di saat bangsa kita masih bertelanjang dada dengan payudara kemana-mana, orang di benua Eropa para perempuannya sudah pakai gaun panjang ala Cinderella yang menyapu tanah. Bagian atasnya pun kerah rapat.
Lucu kalau menyalahkan pengaruh barat. Apa para pejabat, tokoh alim ulama dan kaum cerdik cendekia negeri ini tidak berkaca diri. Kawin mawin, peselingkuhan, pergumulan seks sok alim dengan dalih kawin siri, dianggap biasa. Eh giliran foto bugil malah dianggap merusak moral bangsa.
Kesimpulannya adalah: praktek seks munafik lebih dihalalkan di negeri ini ketimbang sekadar berfoto bugil. Luarrrrr biasssaaa!!!
Mestinya mereka para tokoh negeri ini memajang spanduk besar bertuliskan: "Ayo rame-rame menganut seks bebas dengan wajah sok alim!"
Friday, January 20, 2006
Confessions of A Bloody Playboy

Kenapa seseorang bisa dijuluki playboy atau playgirl? Karena mereka identik dengan perilaku gonta ganti pasangan. Lalu apa salahnya dengan gonta ganti pasangan? Bukankah hidup memang mencari yang terbaik?
Pagi ini secara tidak sengaja saya mendapatkan pengakuan dari seorang lelaki yang populer sebagai playboy. Dia bukan "playboy" pertama yang saya kenal. Sudah ke-10 atau entah ke-20, mengingat sejak sekolah teman saya mayoritas adalah cowok. Prestasinya pun masih biasa saja, sebab masih banyak playboy lain dengan jam terbang jauh lebih tinggi.
Ternyata nyaris sama dengan playboy lain, si teman ini menyimpan satu misteri. Kenapa ia jadi playboy? Sebab ia punya satu obsesi yang belum jua terwujudkan, yakni menggapai hati si perempuan pujaan. Jadi kisahnya, ada satu perempuan yang membuatnya luluh lantak berdarah-darah sampai hari ini sejak lebih dari 10 tahun lampau. Karena tak berhasil menggapai hatinya, maka ia pun mencetak aneka petualangan dengan banyak perempuan. Tujuannya? Berusaha melupakan si pujaan hati itu.
Tapi tak satupun perempuan yang digandengnya bisa membuat sang playboy bertekuk lutut. Dan cinta terpendam pada sang pujaan hati kian membara saja.
"Mungkin dia males liat kelakuan playboy elu," kataku.
"Iya, tapi kan dia semestinya melihat gue dari dua sisi berbeda," ujar si playboy.
Sisi berbeda? Apakah seorang perempuan untuk menilai lelaki harus menggunakan indera ke-6? Apakah ada sisi lain dari seorang lelaki playboy? Kegombalannya? Kenarsisannya?
Tapi asli, sebagai teman saya selalu bisa menilai lelaki dari banyak sisi. Beda dengan terhadap seseorang yang kita suka atau cintai. Hanya ada satu sisi dari dirinya, yaitu yang tampak dan yang ingin kita lihat darinya.
Kalau saya ada di posisi satu dari korban ke-playboy-an teman tadi, tentu saja akan membencinya. Menyumpahinya. Mengutuki setengah mati. Tapi untung tidak. Saya adalah temannya, maka saya bisa menilai secara arif.
Bagaimana kalau posisi saya ada pada si perempuan pujaan yang dicintainya selama 10 tahun lebih? Mungkin saya akan muak. Atau mungkin sebenarnya saya cinta juga sama playboy ini. Hanya terlalu gengsi atau jaga image untuk mengakuinya. Jadi lebih baik cari cowok lain saja dengan "curriculum vitae" yang lebih meyakinkan.
Mungkin...mungkin....
Thursday, January 19, 2006
Kenapa Lebih Banyak Politisi Cowok Daripada Cewek?
Ternyata bukan hanya saya. Tapi teman-teman, sahabat, saudara, kenalan, teman dari teman saya, saudaranya teman, temannya saudara, juga mengalami. Bahkan seorang teman chating yang baru kukenal juga mengalami. Kita semua para perempuan memang punya banyak kesamaan dalam hal satu ini.
Apakah itu???
Dikecewakan mahluk-mahluk lelaki kalau terlibat dalam suatu janji. Bukan janji sehidup semati atau apa. Hanya janji sepele untuk makan bareng, nonton bareng atau sekedar cari buku bareng. Mereka ini bukan saja pacar atau kekasih atau selingkuhan , tapi sekedar teman saja.
Pengalaman yang berulangkali terjadi ini sederhana memang. Jadi kita berjanji untuk makan siang bareng misalnya. Saya sudah stand by di tempat pertemuan. Menunggu dengan sabar. Satu menit, dua , tiga empat menit...setengah jam...si cowok tak kunjung muncul. Saya SMS, tak dibalas. Pas ditelepon, jawaban di sana "Hah??? Janjian sama elu??? Kok, gue lupa ya?? Hari ini ya?? Bukan besok???" Begitu suara cowok idiot di seberang sana.
Lalu satu jam kemudian dia pun muncul. Dan satu kata yang saya tunggu keluar dari mulutnya tak kunjung keluar. Apa itu??? Kata MAAF.
Para cowok ini walau salah, sangat gengsi untuk mengucap kata maaf.
Saya kira kejadian sial yang menimpa bertahun-tahun silam itu takkan terulang. Tapi tidak. Pada cowok yang berbeda, peristiwa itu berulang lagi dengan berbagai versi berbeda.
Saya kira hanya saya seorang yang mengalaminya. Oh, tidak. Hampir semua teman perempuan mengalaminya juga. Sepertinya semua kaum Hawa di muka bumi juga bernasib serupa. Tidak percaya? Tanya saja teman perempuan anda. Apa pernah kecewa karena janji gombal cowok?? Jawabnya pasti pernah. Apa pernah ada cowok yang super gengsi minta maaf walau sudah salah. Pasti jawabnya YA.
Ada apa ya dengan kaum Adam sedunia? Memori otak yang sangat terbatas? Tingkat intelejensia yang begitu rendah?? Atau moral dan etika yang sangat minim?? Please, tell me!!!
Sekarang saya tahu kenapa politisi cowok lebih banyak ketimbang cewek. Sebab cowok lebih pintar umbar janji lalu melupakannya.
Ini petikan chat saya dengan seorang teman. Tentang gombalnya cowok.
platypus_aora: soal kebiasaan cowok yg hobi lupa ama janji
platypus_aora: eh lu sering ngalamin ngga seh
platypus_aora: janjian ama temen cowok, eh dia lupa
just_lucee: ngalamin apa?
platypus_aora: pdhal kita udah stand by
platypus_aora: gw sering banget
platypus_aora: temen2 gw yg cewek juga
just_lucee: sering...
platypus_aora: kata mereka, cowok itu kayak menderita serangan lupa mendadak
platypus_aora: alias pikun alias bego
platypus_aora: jadi kalo janjian
platypus_aora: kita ngga ngingetin
platypus_aora: pasti mereka lupa
platypus_aora: jadi suka ngga nepatin ato telat parah abis2an
platypus_aora: n yg nyakitin, sukagengsi minta maaf
just_lucee: tapi sekarang kalo gw janjian ma cowo... ga akan gw peduliin kalo dia ga ngingetin... biarpun gw inget gw ga akan ngingetin mreka
just_lucee: makanya... sekarang kita balik aja
platypus_aora: ngga semua cowok seh
platypus_aora: ada juga beberapa yg on time
platypus_aora: banyak cowok yg gengsi minta maap ya
platypus_aora: gw paling seneng maksa mereka minta maap
platypus_aora: kalo akhirnya kluar kata maap, rasanya puasssss
platypus_aora: hehehe
just_lucee: sama!
platypus_aora:
just_lucee: tapi sekarang, kalo ke cowo gw seneng bersikap kaya mreka rata rata!
platypus_aora: emang kudu gitu
just_lucee: kalo janjian kudu mreka yang ngingetin...
platypus_aora: masalahnya mereka jangankan mau ngingetin, inget aja kagak
platypus_aora: memori otaknya minim banget
platypus_aora: kayak HP zaman doeloe
just_lucee: kalo janjian ma cowo.. kita kudu punya plan b, c, d, e etc
just_lucee: hehehe
platypus_aora: memorinya cuma bisa nyimpen 50 phone book
platypus_aora: ember
platypus_aora: jadi kalo janjian ama co, kudu bikin janji serep
platypus_aora: kalo perlu janjian ama 10 cowok sekaligus
platypus_aora: 5 idiot, masih ada 5 lainnya
Apakah itu???
Dikecewakan mahluk-mahluk lelaki kalau terlibat dalam suatu janji. Bukan janji sehidup semati atau apa. Hanya janji sepele untuk makan bareng, nonton bareng atau sekedar cari buku bareng. Mereka ini bukan saja pacar atau kekasih atau selingkuhan , tapi sekedar teman saja.
Pengalaman yang berulangkali terjadi ini sederhana memang. Jadi kita berjanji untuk makan siang bareng misalnya. Saya sudah stand by di tempat pertemuan. Menunggu dengan sabar. Satu menit, dua , tiga empat menit...setengah jam...si cowok tak kunjung muncul. Saya SMS, tak dibalas. Pas ditelepon, jawaban di sana "Hah??? Janjian sama elu??? Kok, gue lupa ya?? Hari ini ya?? Bukan besok???" Begitu suara cowok idiot di seberang sana.
Lalu satu jam kemudian dia pun muncul. Dan satu kata yang saya tunggu keluar dari mulutnya tak kunjung keluar. Apa itu??? Kata MAAF.
Para cowok ini walau salah, sangat gengsi untuk mengucap kata maaf.
Saya kira kejadian sial yang menimpa bertahun-tahun silam itu takkan terulang. Tapi tidak. Pada cowok yang berbeda, peristiwa itu berulang lagi dengan berbagai versi berbeda.
Saya kira hanya saya seorang yang mengalaminya. Oh, tidak. Hampir semua teman perempuan mengalaminya juga. Sepertinya semua kaum Hawa di muka bumi juga bernasib serupa. Tidak percaya? Tanya saja teman perempuan anda. Apa pernah kecewa karena janji gombal cowok?? Jawabnya pasti pernah. Apa pernah ada cowok yang super gengsi minta maaf walau sudah salah. Pasti jawabnya YA.
Ada apa ya dengan kaum Adam sedunia? Memori otak yang sangat terbatas? Tingkat intelejensia yang begitu rendah?? Atau moral dan etika yang sangat minim?? Please, tell me!!!
Sekarang saya tahu kenapa politisi cowok lebih banyak ketimbang cewek. Sebab cowok lebih pintar umbar janji lalu melupakannya.
Ini petikan chat saya dengan seorang teman. Tentang gombalnya cowok.
platypus_aora: soal kebiasaan cowok yg hobi lupa ama janji
platypus_aora: eh lu sering ngalamin ngga seh
platypus_aora: janjian ama temen cowok, eh dia lupa
just_lucee: ngalamin apa?
platypus_aora: pdhal kita udah stand by
platypus_aora: gw sering banget
platypus_aora: temen2 gw yg cewek juga
just_lucee: sering...
platypus_aora: kata mereka, cowok itu kayak menderita serangan lupa mendadak
platypus_aora: alias pikun alias bego
platypus_aora: jadi kalo janjian
platypus_aora: kita ngga ngingetin
platypus_aora: pasti mereka lupa
platypus_aora: jadi suka ngga nepatin ato telat parah abis2an
platypus_aora: n yg nyakitin, sukagengsi minta maaf
just_lucee: tapi sekarang kalo gw janjian ma cowo... ga akan gw peduliin kalo dia ga ngingetin... biarpun gw inget gw ga akan ngingetin mreka
just_lucee: makanya... sekarang kita balik aja
platypus_aora: ngga semua cowok seh
platypus_aora: ada juga beberapa yg on time
platypus_aora: banyak cowok yg gengsi minta maap ya
platypus_aora: gw paling seneng maksa mereka minta maap
platypus_aora: kalo akhirnya kluar kata maap, rasanya puasssss
platypus_aora: hehehe
just_lucee: sama!
platypus_aora:
just_lucee: tapi sekarang, kalo ke cowo gw seneng bersikap kaya mreka rata rata!
platypus_aora: emang kudu gitu
just_lucee: kalo janjian kudu mreka yang ngingetin...
platypus_aora: masalahnya mereka jangankan mau ngingetin, inget aja kagak
platypus_aora: memori otaknya minim banget
platypus_aora: kayak HP zaman doeloe
just_lucee: kalo janjian ma cowo.. kita kudu punya plan b, c, d, e etc
just_lucee: hehehe
platypus_aora: memorinya cuma bisa nyimpen 50 phone book
platypus_aora: ember
platypus_aora: jadi kalo janjian ama co, kudu bikin janji serep
platypus_aora: kalo perlu janjian ama 10 cowok sekaligus
platypus_aora: 5 idiot, masih ada 5 lainnya
Subscribe to:
Posts (Atom)
